ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
438


__ADS_3

"Yang mana? Temannya Teh Rita kan banyak," kata Tyas.


"Kamu ada fotonya kan? Coba deh kasih ke Tyas, dia juga bisa baca orang lewat foto dan lebih detail," kata Koko ke Rita.


"Serius bisa?" Tanya Rita baru tahu.


"Bisa dong. Lah Teteh tidak tahu?" Tanya Tyas sama-sama bengong.


"Kapan Tyas bilang coba," kata Rita lalu mencari foto Ney dalam WA.


"Nih, coba Teteh ingin tahu pendapat kamu," kata Rita memberikan foto Ney dan Arnila pada Tyas.


Tyas kemudian diam sejenak lalu menatap sesuatu dan wajahnya super bete lalu memberikan ponsel Rita kembali.


"Ih, Teh kok mau sih berteman sama dia? Parah itu orangnya," kata Tyas tidak suka dan seperti melihat sesuatu yang kesannya tidak enak sekali.


"Tuh Tyas saja bilang begitu. Koko saja heran," kata Koko setuju.


"Memangnya kenapa sih? Kelihatan apa?" Tanya Rita tidak mengerti. Yang dia tahu Ney hanya tertutup kepada dirinya.


"Aduh Teh, masa tidak merasa sih kalau dia sejak awal tidak ada kesan minat berteman sama Teteh. Kalau pun ada mau berteman, itu niatnya jelek. Chemistry Teteh sama dia tidak ada sama sekali, pokoknya tidak cocok deh auranya juga. Itu siapa sih Teh? Auranya semrawut sekali," kata Tyas.


"Orang yang merundung Teteh," kata Rita dengan jujur.


Koko mengepalkan kedua tangannya sedangkan Tyas kaget. "HAH!? Teh sudah jauhi deh. Orangnya itu tidak bersahabat sama siapapun, yang dekat sama dia pastiiiii saja kena masalah. Di ruqyah juga... setannya banyak lho Ko," lirik Tyas sambil tertawa.


"Idih! Ogah! Koko tidak mau ketemu sama dia meski Teh Rita memohon. No way!" Kata Koko menolak.


Tyas tertawa.


"Kenapa sih Ko? Pemilih sekali," kata Rita.


"Bukan begitu Teh, Koko tidak pemilih untuk pasien tapi. Bagaimana ya? Kalau Teteh bisa lihat aura dia, warnanya seperti tahu kan cairan yang ada di got atau selokan?" Tanya Koko agak nyelekit.


"Tahu," jawab Rita.


"Ya begitu Teh warnanya aura dia. Sudah mah semrawut, warnanya ya begitu. Siapapun yang menyentuh dia akan kena sial," kata Tyas.


"Untung itu foto," kata Koko mengelus dadanya.


"Oh, begitu ya Teteh kan tidak bisa lihat. Kalau memang jelek ya sudah sekarang juga memang agak merenggang sih. Teman dekat dan sahabat Teteh juga tidak ada yang suka," kata Rita.


"Ya eyyalaaah apalagi setelah mereka tahu Teteh kena rundung, siap-siap saja kalau mereka bertemu nih orang pasti dihajar tuh. Rasain!" Kata Tyas mengepalkan tangannya.


"Teh Rita tidak peka sih Tyas yakin awal kenal Teteh pasti banyak merepotkan. Saran Tyas sudahi deh kalau dia datang lagi, blok saja," kata Tyas kesal.


"Nih minum dulu. Masalah apa sih Tyas? Sepertinya seru lalu Teh Rita juga katanya kenalan sama orang Malaysia?" Tanya Ratih datang dengan kakaknya, Wean.


"Hehehe iya tapi teman saja kok," kata Rita.


"Wah, keren Teh bisa kenal sama orang Malaysia," kata Wean yang dengan nada biasa. Tidak seperti adiknya,Ratih yang agak bete mungkin kesal iya.


Banyak yang mengira Rita tidak akan pernah berkenalan dengan orang luar apalagi Malaysia.


Setelah itu Alex mengirimkan chat pada Rita. Melihat Ratih dan yabg lainnya sedang mengobrol lalu makan martabak.


"Ini kakakku, Alex Safwan Alfarizki. Yah, karena sudah ketahuan aku cerita deh," kata Alex dengan terpaksa.


"Ko, kembaran dia itu meninggal karena apa? Aku mau menyamakan infonya takutnya dia bohong lagi," kata Rita.


"Karena sakit, Rita. Bronkhitis sama seperti kamu tapi dia tidak keburu di selamatkan karena super nakal. Kalau kamu kan sudah sembuh ya," kata Koko.


"Padahal aku nakal juga Ko, disuruh minum obat yang segunung aku buangin ke mana-mana," kata Rita cengengesan.


"Ya ampun tapi kamu kuat sekali. Hebat," kata Koko mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Belum waktunya mati mah susah ai Koko," kata Rita membuat Koko tertawa keras.


"Hahaha iya juga ya. Kalau kembarannya super nakal dia tahu sakit paru-paru tapi masih suka minum arak seperti itulah. Penyakitnya sudah parah semakin parah, dia mah beda. Tidak minum obat ya pasti mati tapi kalau kamu mah kuat. Usianya sama dengan kamu," kata Koko lagi.


"Hmmmm," kata Rita sambil berpikir.


Kemudian Alex menceritakan segalanya daripada dia harus melihat ruqyah itu yang memberitahukannya.


"Kalau kamu bohong, aku bisa tanya Koko nih," ancam Rita.


Alex kesal sekali. Karena Koko itu memang ganteng setara dengannya dan dia hanya ingin yang terganteng bagi Rita.


"Iya iya 😤 aku jujur nih daripada kamu tahu dari orang itu," kata Alex. Lalu dia mulai menceritakan segalanya saat dirinya sedang bekerja.


Tak lama, datanglah chat dari orang yang tak diinginkan. Ney!


"Ruta, kamu sudah selesai di ruqyahnya? Terus apa kata ruqyah kamu? Benar kan kata aku juga kamu memang ada yang menempel," kata Ney dengan kemampuan "penerawangan" khayalannya.


Rita nyengir malas. "Belum. Ini sedang konsultasi," katanya.


Ney langsung terdiam, dia memang sok tahu. "Oh. Lagi konsultasi. Cerita apa saja?" Tanya Ney. Anehnya dia tidak bisa mengirimkan apapun ke tempat Rita selalu saja seperti ada sesuatu yang menghempaskan.


"Lho, kenapa kamu bertanya segala? Kan kamu punya kemampuan lebih. Ya tebak saja," kata Rita ingin tahu.


Ney mencoba lagi tapi tidak bisa dan kali ini para pembantu mistisnya seakan-akan dihanguskan. Dia kaget sekali dan bukan hanya satu tapi hampir beberapa.


"Sudah tapi kok tidak sampai ya?" Tanya Ney tidak sadar.


"Oh, benar ya memang kamu punya makhluk halus untuk disuruh-suruh. Heran kok kamu melihara begituan sih?" Tanya Rita.


Ney langsung menghapusnya tapi sudah tanggung tertangkap basah. "Cerita apa saja sih?" Tanyanya berusaha mengalihkan topik.


"Makanya jadi orang jangan sombong lo. Ilmu kamu tuh dasar di hadapan mereka senang sekali sih membanggakan kemampuan? Mereka saja tidak pernah tuh pamer kekuatan kalau punya. Aku cerita semuanya," kata Rita.


"Iyalah kan kamu berdua bermasalah sama aku. Mereka bisa tahu lho tanpa aku cerita soal kamu, Arnila dan Alex," kata Rita tertawa kecil.


Ney mengepalkan kedua tangannya. "Apa tuh kata peruqyahnya tentang aku? Kamu percaya sama dia kan dia tidak bisa lihat aku. Coba aku lihat fotonya dia," kata Ney kesal sekali.


"Aku percaya karena dalam perkataannya jujur tidak seperti seseorang ya. Ingin dilihat orang lain sebagai orang baik eh malah jadi perundung. Maaf ya rahasia penampakan orangnya, jangan salah aku tahu kamu orangnya seperti apa," kata Rita tidak mau dia membuat onar.


"Ih, kamu kok begitu sih sama aku? Memangnya aku salah apa sama kamu?" Tanya Ney yang pura-pura bersalah. Dia sudah bersiap akan memfoto apa jawaban Rita dan menyimpannya agar nanti dia bisa beberkan kebusukan Rita.


Rita lalu mengirimkan perkataannya yang merundungnya. Bukannya membela dirinya malah bersikap membela Alex.Saat Arnila dan Alex meminta maaf, hanya dia seorang yang tidak.


Ney yang akan menyimpan tidak jadi karena Rita tahu apa maksud dari pertanyaannya. "Jangan coba-coba mengancam ku dengan info yang mau kamu dapatkan. Aku juga punya banyak bukti yang bisa menjatuhkan kamu dalam hitungan detik," kata Rita.


Akhirnya Ney menyerah. Rita memberitahukan hasil konsultasi di grup supaya Arnila juga bisa membacanya.


"Hasil konsultasi ku berhubungan dengan permasalahan kita berempat yang menurutku kesannya aneh. Ternyata kamu ya Ney khususnya dan aku sama sekali tidak ada kecocokan," kata Rita.


Arnila tentulah membacanya. Ney juga sama dia marah sekali ternyata mereka semua dapat menangkap niatnya dari awal mengenal Rita.


"Dalam hal apa?" Tanya Arnila penasaran.


"Kamu mengerti kan? Dalam semua hal kita berdua sama sekali tidak cocok. Dalam dunia pertemanan, persahabatan, kesukaan tidak ada yang cocok. Aku sudah terbuka lebar meski baru sekarang di saat usiaku menginjak 30 tahun," kata Rita.


Terbongkar semua niat Ney selama ini, berpikir Rita terlalu bodoh untuk menyadarinya. Dan usahanya harus berakhir saat semua orang menyadari kebenarannya tentang dia.


Ney berusaha mendapatkan kembali kepercayaan Rita namun tidak semudah itu, Ferguso. Apalagi setelah menyakiti kepercayaan yang selalu Rita percayakan kepadanya.


"Aku tidak percaya ya kamu lebih mempercayai perkataan orang asing daripada aku sebagai teman..." kata Ney yang merasa terluka padahal Pretttt.


"Sudahlah, Ney. Tidak perlu pura-pura lagi. Aku capek sama kamu. Selama kenal kamu ya, aku bela-belain pendapat orang yang berpendapat soal kamu yang jelek! TOLONG YA HARGAI KEK! TEGA SEKALI KAMU MERUNDUNG AKU," kata Rita membuat Ney terdiam.


"Iya sudah deh Ney. Jangan selalu menyangkut pautkan kesalahan kamu yang jelas dengan Rita harus percaya kamu. Sudah!" Kata Arnila menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Dasar hanya akademik saja yang pintar tapi isi otak kamu tuh ZERO! Pantas selalu sendirian," kata Rita yang datar.


Ney diam sama sekali dia tidak membalas. Apa yang dia baca membuatnya yahhh seperti biasanya meneteskan air mata yang tidak murni.


"Bisa-bisanyaaaa orang lain membaca diri kamu seperti apa malah bilang "Kita kan sudah berteman lama" Bulshit!! Bisa-bisanya... sebelum ruqyah apa kabarnya?" Tanya Rita lalu ikut makan cemilan.


"Kamu bertanya soal aku juga?" Tanya Arnila untuk menjauhkan Rita dari Ney.


"Tidak karena masalahku yang fatal sama teman kamu yang kamvret dan si kulex. Tapi karena kamu dan Ney sudah sepaket mereka semua sudah bisa tahu tanpa foto ya," kata Rita menghembuskan nafasnya agar tenang lagi.


"Hmmm yang meruqyah kamu ilmunya tinggi sih ya. Apalagi yang perempuan bisa menebak kamu mikir apa kan ya," kata Arnila.


"Yup! Tepat sekali. Kamu bisa lihat? Kok tahu ada yang perempuan?" Tanya Rita.


"Oh ya? Kok kamu tidak beritahu aku sih, Ar?" Tanya Ney yang mulai berlagak tidak ada apa-apa.


"Khodamnya datang ke sini sih hanya mengobrol," kata Arnila.


Rita dan Ney kaget bersamaan.


"Lalu? Ada serangan?" Tanya Rita. Entah khodam yang siapa.


"Tidak ada. Mereka hanya cemas sama kamu saja sih," kata Arnila.


"Wow! Benar kan dugaanku kamu kekuatannya setara dengan Alex hihihi tapi dibawah Koko. Apalagi Ua," kata Rita.


"Aku juga khodamnya hebat lho," kata Ney tidak mau kalah. "Dia bisa menerawang masa depan," katanya.


"Hahahaha newbie! Ramalan itu tidak ada kaitannya dengan khodam. Lagian juga ramalan kamu bukan berasal dari Allah, itu mah doa. Yang jelek pula. Kamu tidak punya khodam," kata Rita membeberkan.


Arnila yang membacanya kaget.


Ney juga terkejut, dia meremas jemari-jemarinya. "Kata siapa sih? Sok tahu sekali,"


"Hahahaha ya tahu dong kalau memang ada pasti khodam Ua atau Koko datang tapi tidak kan. Kalau Arnila memang punya tapi khodamnya ada yang baiiiik sekali. Sepertinya bukan milik kamu deh," kata Rita.


"Sok tahu kamu, Rita! Kamu itu yang tidak punya khodam tapi soknya minta ampun," kata Ney.


"Sok? Aku? Kapan? Itu mah karena kamu punya penyakit iri dengki yang sudah menebal hahaha semua orang dalam pandangan mata kamu ya minus semua. Tidak bisa lihat kalau kamu sendiri lebih parah. Capek deh," kata Rita menonjok ulu hati Ney.


Arnila tertawa membacanya. Rita kalau bercanda sangat sarkasme sekali sedangkan Ney yang kalau berkata nyablak dan nyelekit hati orang. Yah, memang hancur kalau Rita dan Ney disatukan, memang benar tidak bisa cocok.


"Jadi kamu belum beritahu soal Ney?" Tanya Arnila yang masih tertawa.


"Belumlah tapi sudah ketebak saja. Aku sedang bertanya soal Alex. Foto sama eh namanya berbeda," kata Rita yang berhasil menjebak Ney.


"Kalau aku tidak punya khodam lalu apa yang menjaga aku coba?" Tanya Ney.


"Itu mah setan. Khodam kan jin ya tidak bisa seenaknya dimiliki. Kalau mau yang tertinggi hati kamu harus bersih, rajin sholat, berbuat kebaikan. Makanya aku aneh kamu punya khodam tapi kelakuan bagaikan perempuan murah lebih tertarik uang daripada agama," kata Rita.


Ney semakin marah dan kesal tapi dia tidak bisa melakukan apapun seakan-akan ada yang menahannya.


"Khodam apaan kamu? Khodam setan ya," kata Rita lagi.


"Ney, ruqyah sana! Aku juga selalu merasa kamu semakin hari agak error. Coba sama Koko atau Ua saudara kamu," kata Arnila.


"Jangan sama mereka," kata Rita.


"Lho, kenapa?" Tanya Arnila.


"Kalau Koko mah tidak mau bantu kamu karena kamu sudah jahat merundung teman yang selalu menganggap kamu baik. Kalau Ua, sepertinya sangat istimewa. Pokoe aura kamu semrawutlah terus auranya hitam, kalau mau sembuh dari diri kamu sendiri tapi sepertinya sih tidak mungkin. Ada yang salah dari masa kecil kamu," kata Rita memberitahu.


Ney memegangi kepalanya, sudah sejauh itu apalagi Rita juga tahu masalahnya. Arnila menghela nafas, berpendapat lambat laun Rita akan tahu penyakit yang diderita oleh Ney.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2