ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(198)


__ADS_3

Sepergi ibunya, Ney kembali sendirian. Dia sudah tidak menangis lagi tapi memang dalam hati dan pikirannya masih tidak percaya soal Rita yang menjaga jarak darinya begitu juga Arnila.


"Tidak tidak. Aku tidak percaya, mama hanya berlebihan saja. Mana mungkin Rita jaga jarak, dia masih butuh aku kok. Lihat saja aku dekati dia, dia pasti masih butuh aku. Aku hanya harus minta maaf saja tanpa perlu tulus, sudah pasti dimaafkan," katanya berbicara sendiri.


Ney lalu menchat di grup dan meminta maaf. Lamaa sekali tidak ada balasan membuat Ney kemudian bosan. Mereka chat di grup sosialita mulai menyalahkan keadaan.


"Lu kenapa juga sih mau chat sama mereka berdua? Bukan kelas lu kali," kata A yang merupakan 'Teman' semasa kuliahnya dulu. Arnila juga kenal hanya tidak suka karena A ini sangat suka memamerkan barang mewah.


"Iya ih, kalau aku sih sudah tidak berhubungan lagi. Mereka berbuat begitu sama kamu ya bukan temanlah," kata B.


"Bagus sih menurut gue mereka nolak jadi teman lu," kata C dengan senang.


"Lho kenapa?" Tanya Ney kesal juga ada, tapi senang juga ada.


"Tidak selevel kamu dong. Kamu tuh selevel sama kita - kita. Buat apa juga masih mau punya teman miskin seperti mereka," kata A lagi.


"Tapi salah satu dari mereka kenalan dengan lelaki super ganteng dan tajirnya kebangetan lho!" Kata Ney dengan antusias. Dia apa bodoh ya kok malah membuka kartu Rita sih?


"Serius!? Yang kata kamu dia itu Nerd bukan?" Tanya Fanya ketua dari grup sosialita.


"Iya serius. Makanya aku tuh mau deketin dia memang sih dia itu awalnya Nerd, aku juga heran makanya tidak punya teman kemanapun. Jadinya aku dekat sama dia. Eh sewaktu dia cerita kenal sama lelaki super ganteng, itu aku kaget banget!" Kata Ney yang kemudian memperlihatkan foto Alex pada mereka. Sontaklaaah pada histeris. Bodoh!


"Wah! Gila! Fanya, kita tarik saja bagaimana?" Tanya Sisca antusias.


"Tapi kalau tipenya Nerd sih dia paling anti deh masuk grup seperti ini," kata B meragukan.


Alhasil semuanya malah membicarakan mengenai Rita dan Ney hanya menyimak. Awalnya dia bangga dengan ceritanya mengenai Rita dan Alex tapi kelamaan...


"Kita coba saja. Siapa tahu kan ternyata dia cocok dengan kita! Lumayan nambah lagi nih anggota super tajirnya. Lagipula, kalau dekat grup kita juga bisa dapat pamor tinggi!" Kata Sisca sangat tertarik.


Semuanya setuju, perlahan Ney merasa, 'Kok mereka jadi malah membicarakan Rita sih? Gue yang kasih opini kenapa...' akhirnya Ney menyadari kalau dirinya telah salah membongkar perihal Rita.


"Sepertinya jangan diundang masuk deh," kata Ney yang berusaha mengalihkan topik.


"Benar juga. Lihat deh pasangannya juga gila diatas level banget ini sih. Wah, kalau kata aku sih kamu sebenarnya kurang pantas jadi teman dia sih, Ney. Levelnya beda banget, tapi kalau dia masuk ke grup kita wah derajat kita pasti naik. Ya aku sih hanya kasihan saja sama kamu nanti," kata B yang langsung menonjok Ney saat itu juga.


"Aduh, jangan bilang begitu deh. Kamu masih kita terima kok, Ney. Bagaimanapun juga kan kamu sudah berusaha dari awal ya buat menyeimbangkan level kamu dengan kita," kata Fanya.


Ney merasa agak tersingkirkan, dia menangkap ada firasat kalau mereka mau menyepaknya keluar dari grup kalau Rita mau masuk ke grup mereka. Dia melakukan kesalahan besar dan itu ulahnya dia sendiri. Benar saja sih kalau Ney memang sering berbuat ulah. Ney memikirkan banyak cara agar mereka tidak mengingat Rita lagi dengan bertanya soal tas merk Victoria. Benar saja mereka teralihkan dan Ney merasa menang.


Malam harinya salah satu anggota bertanya pada Ney.


"Kamu kenal dekat banget dengan teman kamu itu?" Tanya Sisca. Dia adalah wakil grup sosialita.


"Dekat banget dong. Dia itu sahabat aku dari SMP. Kenapa?" Tanya Ney yang menggigiti kukunya.

__ADS_1


"Undang dia dong ke grup kita. Meskipun Nerd tapi kalau calon orang kaya sih bolehlah. Lagi pula sepertinya dia pure baik juga," kata Sisca benar saja dugaan Ney. Mereka masih tetap ingin mengundang masuk Rita ke grupnya.


Ney ingin sekali menolaknya tapi berhubung yang bicaranya wakil grup, jadi akhirnya dia masukkan Rita dengan keterpaksaan. Kemudian Rita mendengar notif yang tidak biasa, karena penasaran Rita melihatnya. Dia kaget karena melihat dirinya masuk ke grup yang dia sama sekali tidak kenal terutama ada Ney.


"Arnila, ini grup kamu bukan?" Tanya Rita mengirimkan info grup itu. Rita melihat member didalamnya dia sama sekali tidak kenal tapi fotonya anggota menggunakan barang bermerk.


"Loh, kamu masuk grup Ney. Kok bisa?" Tanya Arnila kebingungan.


"Mana kutahu. Tiba - tiba, aku saja bingung," kata Rita. Lalu ada yang chat dengannya.


"Hai, ini Rita ya. Kenalkan aku Fanya ketua grup ini, kamu dimasukkan kesini sama Ney, sahabat kamu," katanya.


Rita membacanya dan tertawa sekeras mungkin dan mengirimkannya pada Arnila dengan tambahan emoji tertawa keras.


"HAHAHAHA terus bagaimana? Aku juga ketawa keras bacanya," kata Arnila.


"Aduh malas bangeeeet masuk grup dia yang tidak ada manfaatnya. Aku keluar ah!" Kata Rita.


"Ya sudah. Lagian kok Ney masukkin kamu gitu saja sih? Ada dia ijin?" Tanya Arnila.


"Hahaha mana ada. Dia kan orangnya ga punya otak! Kelakuan juga lebih banyak minus," Kata Rita terus terang.


'Waduh! Ampun deh si Rita. Tapi memang iya juga sih harusnya Ney tidak begitu saja memasukkan Rita dalam grupnya. Ada apa ya?' Pikir Arnila lalu dia mencoba menghubungi Ney.


"Aku tidak tahu apa yang Ney katakan pada kamu soal saya. Tapi saya jauh dari pemikiran dia. Maaf ya saya tidak berminat gabung grup tidak berfaedah seperti ini. Ini grup adalah grup tiket menuju Neraka. I'm out!" Kata Rita. Dan dia keluar dari grup sendiri dan screenshot ke WA Arnila.


"Iya. Grup itu bukan tipe akulah, aku pikir grup kosidah hahahaha!" Kata Rita.


Kembali ke grup, mereka semua terdiam dengan kiriman chat dari Rita.


"Grup tidak berfaedah? Kan? Kan? Gue bilang juga apa, gue yakin dia itu beda dengan kita!" Kata B meyakinkan semuanya.


"Kok lo tahu sih? Dia bilang ini grup menuju Neraka. Wah!" Kata Feb yang memang tahu sih kalau Rita memang berbeda.


"Yahhh tadinya kali saja dia bisa beda melihat grup kita. Ternyata benar apa kata B, penasaran tidak sih nanti dia masuk grup mana? Bagaimana kalau begini saja, nanti kalau dia menikah sama lelaki tadi, kita coba undang lagi saja. Bagaimana?" Tanya Fanya.


"Jangan deh. Masalahnya setelah dia menikah, yang grup seperti ini bukan dia juga lho yang ngurus. Aku bertanya - tanya lu yakin Sahabatnya tuh orang? Kok sepertinya dia menampik ya?" Tanya B agak curiga.


"Oh iya benar juga. Kalau benar sahabat sih seharusnya ya lu tahu dia itu seperti apa," tambah C.


"Apa jangan - jangan lu hanya mengada - ada ya?" Tanya Sisca.


"Tidak, dia memang Sahabat aku kok. Dia selalu ada untuk aku, aku juga begitu. Yah kalau dia tidak menganggap aku Sahabatnya karena dia punya teman yang lain. Aku sahabat dia yang keberapa begitu," kata Ney. Dia sama sekali tidak menyangka Rita akan menjawab dengan kalimat yang membuat semuanya curiga.


"Oooh... jadi memang kamu Sahabatnya dia nih ya," kata Fanya yang dia tahu banget mana ada yang mau menganggap dia sebagai Sahabat. Tapi apa yang jadi pemikiran Fanya karena Ney levelnya dibawah Rita. Padahal bukan itu.

__ADS_1


"Iya," jawab Ney yang sudah sedikit panas dingin.


Lalu Ney membalas japri Arnila dengan marah - marah. "Si Rita ya bisa - bisanya dia bicara begitu di grup. Sumpah! Gue nyesel masukkin dia!"


"Lu minta ijin ga ke Rita kalau lu mau masukkin ke grup?" Tanya Arnila dikiranya Ney, Arnila tidak tahu.


"Ya gue lupa," jawab Ney.


"Jangan nyalahin Rita. Kamu saja tidak bertanya dulu sama dia tahu - tahu dia sudah masuk. Dia laporan ke aku juga, bingung grup apaan. Sepertinya Lu cerita soal Rita melebihkan ya," kata Arnila menebak.


"Ya gue keceplosan. Maksudnya sih bukan supaya Rita masuk ke grup," Ney membela diri.


"Ya memang lu yang salah. Bisa - bisanya bawa Rita ya sudah jadi heboh kan. Gue yakin lu pasti kirim fotonya Alex kan. Kalau Alex sampai terganggu mereka cari tahu, lu habis!" Kata Arnila memperingatkan.


Tahulah bagaimana galaknya Alex kalau sudah menyangkutkan dia sendiri. Ney menepuk dahinya tidak kepikiran sampai ke situ. Dia dengan bangganya memperlihatkan foto Alex pada teman - teman ilusinya.


"Aduh! Bagaimana dong?" Tanya Ney yang panik.


"Mana gue tahu. Mikir dulu sebelum bertindak, lu bolongnya banyak banget! Siap - siap aja deh lu disumpahin parah sama Alex," kata Arnila yang enggan memberikan solusi.


"Bantu gue dong. Alex pasti tahu kejadiannya nih, dia kan sensi banget kekuatannya. Arnila, bantuin gue!" Kata Ney yang mulai panik banget. Tangannya dia kibas - kibaskan seperti bebek yang mau terbang.


"Lu mau tidak kena sentakan Alex? Gue punya solusi tapi ragu sih lu mau ngelakuinnya," Arnila menyengir. Tentu lah solusinya Rita!


"Apaan? Buruan deh! Gue sudah takut nih! Gue bakalan lakuin apapun supaya Alex ga nyentak gue!" Jantungnya sudah berdebar merasa firasat jelek.


"Minta maaf sama Rita dan lu harus HARUS ya jelasin semuanya!" Kata Arnila membuat Ney menganga. Iya juga kan Alex cuma bisa ditaklukkan oleh Rita. Tapi itu berarti... tapi sudahlah daripada Alex menyentak dia dengan parah lebih baik cerita jujur pada Rita.


Kemudian dengan secepat kilat, Ney meminta maaf pada Rita dan menceritakan semuanya. Ney sudah siap dengan balasan kata sadis dari Rita.


"Oh begitu. Ya nanti kalau Alex ngomel - ngomel aku bilang kalau kamu tidak sengaja kirim foto orang. Gitu saja ya?" Tanya Rita dengan kalem.


"Oh... iya gitu saja deh," kata Ney yang bengong dia sudah berpikiran jelek pada Rita. Ternyata balasannya hanya segitu saja. Ney memang terlalu parno dengan pikiran buruknya sendiri terhadap irang - orang.


"Lu katanya ada masalah? Sama si Syakieb? Mau ketemuan?" Tanya Rita. Dia sudah malas dan tahu kalau Ney memang Anti Maaf orangnya meski sudah banyak salah.


Ney bengong membaca chat itu dari Rita. Dia tidak banget menyangka kalau Rita masih mengingat tentang masalahnya. Dan lagi Rita sama sekali tidak menyindirnya sama sekali. Rita hanya perlu waktu untuk mendinginkan kepala dan pikirannya, seharusnya kebiasaan Rita yang mudah ini bisa ditangkap oleh Ney.


"Oh ya kalau kamu ada waktu sih. Mau kapan?" Tanya Ney berhati - hati.


"Minggu depan ya, soalnya besok aku kuliah pagi sampai sore. Mengajar aku titip ke guru lain tidak bisa sekaligus karena sudah mau sidang juga," kata Rita.


"Oh, kamu benaran sibuk ya?" Tanya Ney yang kalem.


"Memangnya kapan aku berbohong? Berprasangka buruk itulah kamu. Ya sudah, minggu depan ya nanti kamu kasih tahu saja mau janjian dimananya. Aku lagi sibuk tugas,"

__ADS_1


Selesailah mereka chat, saat itu Ney hanya manggut - manggut saja setelah berbicara dengan Rita. Dia lalu melaporkan untuk yang terakhir kalinya berkata bahwa dia baru saja berbicara dengan Rita. Tanpa sepengetahuannya, Fanya membentuk grup lain dan membicarakan mengenai Ney.


BERSAMBUNG...


__ADS_2