
Seperti itulah obrolan itu berakhir, ibunya masih memiliki foto Rita di hpnya. Ibunya banyak memandangi foto Rita dan tersenyum. Anaknya kini mau membuka hatinya kalau itu karena kehadiran Rita, ibunya tidak bisa meremehkan begitu saja foto orang yang ada di hpnya. Semoga Rita tidak seperti kebanyakan perempuan Indonesia yang hanya memanfaatkan hati tulus anaknya untuk menggali uangnya. Ibunya berharap Rita bisa melihat hati anaknya dengan lebih dalam, ada kesedihan dan kesepian yang dirasakan oleh anaknya selama ini. Yups! Itulah bagian dari ibunya sekarang kita kembali ke Rita yang bersiap pergi mengajar.
"Bu, pergi dulu ya. Assalamualaikum!" Teriak Rita sambil berjalan keluar gerbang.
"Walaikumsalam!" Jawab Ibunya sambil menyapu teras rumah.
Kali ini hari itu, hari dimana kata Ney dia akan mengalami kecelakaan. Rita menghentikan sebuah angkot kuning depan rumahnya dan masuk duduk di depan biasanya. Sambil berdoa, angkot itu melaju lancar sampai tempat Rita mengajar. Malah saat Rita turun ban angkot itu meletus. Rita sangat terkejut dan beberapa penumpang pun kaget dan histeris lalu berhamburan keluar.
"Kenapa, bang?" Tanya salah satu penumpang.
"Bannya meletus nih menginjak kaca," jelas Abang angkotnya sambil memperlihatkan kaca dari jalan.
"Bagaimana dong?" Perempuan berambut pendek putus asa karena pagi itu angkot yang ada hanya sedikit.
"Kalem, neng. Saya ganti dulu ya, setelahnya kita lanjut," kata abangnya yang kemudian mengambil alat untuk menaikkan angkotnya. Lalu mengganti ban, tidak lama hanya menunggu 5 detik saja.
Semua penumpang yang keluar berdecak kagum melihat keterampilan abangnya yang begitu cepat ganti ban. Kemudian angkot itu siap untuk melaksanakan tugasnya dan melanjutkan perjalanan. Rita memikirkan apa kata Alex, jangan percaya apa yang Ney katakan! Benar juga manusia tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi keesokan harinya. Lalu Rita mengajar seperti biasa.
Saat Rita istirahat, dia melihat ada notifikasi di hpnya pasti Ney atau Arnila. Ternyata...
"Ri, kamu tidak apa - apa?" Tanya Arnila yang cemas pasti dia juga ingat apa kata Ney.
"Iya alhamdulillah baik - baik saja. Soal dugaan Ney ya?" Tanya Rita menebak, ya soal apalagi sih.
"Iya. Dia maksa itu akan terjadi. Lalu?" Tanya Arnila lagi ingin tahu apakah Rita benar - benar tidak mengalami sesuatu yang parah.
"Tidak ada apa - apa kok. Justru kecelakaan itu terjadi waktu aku turun dari angkot," kata Rita dengan santai sambil membuka ruang kelasnya dan meletakkan tasnya.
"Hah!? Kecelakaan apa? Kamu luka?" Tanya Arnila dengan panik.
__ADS_1
"Bukan aku yang luka," Rita tertawa.
"Terus?" Arnila bingung kalau bukan Rita lalu siapa?
"Angkotnya," Rita tertawa keras membuat Arnila pasti menepuk dahinya.
"Haaaaah?"
"Bannya meletus karena menginjak pecahan kaca. Cuma butuh 5 detik dengan keterampilan abangnya yang super cepat mengganti ban saja," jelas Rita yang membuka jendela kelas dan mengatur tempat sepatu anak - anak.
"Oalah jadi itu saja?" Tanya Arnila bernafas lega.
"Iya. Ternyata benar apa kata Alex," Rita kemudian memeriksa lemari anak - anak dan memeriksa isi di dalamnya. Kadang beberapa anak suka menaruh surat untuk Rita. Ada - ada saja kan.
"Apa katanya?" Arnila tahu Alex pasti selalu memberi Rita saran dan peringatan. Arnila berharap semua kesalahpahaman ini terselesaikan begitu juga dengan Ney.
"Begitu? Iya juga sih Ney terlalu jelek penglihatannya. Aku juga setuju apa kata Alex, jadi bisa buat aku juga ya, Ri?" Kata Arnila. Dia juga selalu kena perintah seenaknya Ney dan bahkan Ney tidak pernah mempedulikan Arnila kalau mungkin saja Ney tidak kenal Rita, pasti beda lagi kasusnya.
Kalau saja Ney tidak kenal dengan Rita, Rita mungkin akan bahagia dengan Alex. Dan Ney bisa lebih menghargai keberadaan Arnila yang selalu ikhlas bersamanya. Tapi semenjak Rita apalagi Alex muncul, Arnila selalu seperti di anak tiri kan. Padahal kalau menurut pandangan Rita, Arnila seharusnya lebih dihormati karena dialah satu - satunya yang selalu ada di sisi Ney. Rita sendiri lebih baik mencari yang lain karena Ney kurang tepat dijadikan teman. Dan mulai tidak peduli apa yang Ney kerjakan, lakukan bahkan bagaimana kabarnya.
Kenapa dia malah lebih memikirkan yang jauh daripada yang selalu ada? Rita sudah punya teman dan sahabat dekat yang paling sering ada daripada Ney.
"Oh iya kamu kan kelihatannya seperti percaya banget sama Ney, sekarang harus berhati - hati," kata Rita karena menurut perasaannya Arnila juga lebih sering dipermainkan. Sayang Rita tidak bisa terlalu dekat dengannya karena takut Ney pasti akan bertindak lebih diluar dugaan. Toh Rita sudah punya banyak teman yang lebih bisa dipercaya.
"Aku bertanya begitu jangan - jangan dibilang percaya ya?" Tanya Arnila lagi. Kalau tentang Arnila, Rita tidak tahu aslinya bagaimana tapi dia memang sangat lembut. Aneh sekali orang lembut diperlakukan seenaknya, padahal hanya dia seorang yang lebih mengerti Ney.
"Iya. Kalau tidak percaya, ya biarkan saja tapi kamu itu kan sama seperti aku. Jangan dikasih tahu ya biar aku saja yang kasih tahu Ney. Kalau aku kenapa - kenapa pastinya aku kirim kabar kan,"
"Ok! Kalau begitu sampai minggu depan ya. Kita piknik," ajak Arnila yang antusias dari chatnya.
__ADS_1
"Iya nanti sore kita chat lagi deh buat jadwal pikniknya," setelah itu berakhirlah chat dengan Arnila. Rita kembali ke depan kelasnya dan menyambut beberapa muridnya yang mulai berdatangan. Beberapa orang tua mengajaknya mengobrol dan menceritakan hari ini di pagi hari bagaimana anak - anaknya bangun dengan senang.
Selesainya, Rita kembali ke kelasnya dan minum air yang dia sengaja bawa dari rumah. Setelahnya memeriksa hpnya, Alex hanya mengirimkan kecupan siang yang dibalas oleh Rita dengan gambar bola dan pemukul lalu tertawa. Kemudian dari WA, Ney mengirimkan pesan. Huh! Malas banget wajah Rita seketika berubah menjadi lebih kesal.
"Bagaimana kabar lu hari ini? Kejadian kan kata aku?" Rita hanya memandangi pesan dari Ney dengan wajah datar dan menghela nafas.
"Iya kejadian," katanya datar. Ingin tahu seperti apa responnya, pasti dia bangga.
"Tuh kaaan apa kata aku juga. Penglihatan aku tuh tidak salah, Rita. Percaya deh sama aku," tuh kaaan benar bangga dia sama hal Ghaib nya. Aku saja ingin menjadi normal daripada punya kemampuan ghaib.
"Iya kejadian ban angkotnya meletus untungnya aku sudah turun, abangnya mengganti ban sekitar 5 detik dan jalan lagi deh. Aku selamat sampai sekolah dengan lancar, alhamdulillah. Hanya ban kempes karena terkena pecahan kaca," Jelas Rita supaya Ney tidak banyak bertanya. Istirahatnya hanya 15 menit dan Rita juga harus mengawasi murid - muridnya bermain.
"Hah? Bukan itu kok," kata Ney pastinya kaget karena kejadiannya berbeda.
"Kamu kan bilang dalam perjalanan aku mengajar kan?" Tanya Rita.
"Iya," jawab Ney yang tampak bingung. Atau sengaja bingung?
" Ya itu kecelakaan yang terjadi. Aku luka? Justru angkotnya yang luka untung meletus bukan meledak," kata Rita. Makan tuh!
"Tapi yang aku lihat angkotnya menabrak terus kamu sampai luka," kata Ney yang tidak percaya penglihatannya ternyata buram! Hahahaha...
"Sudahlah! Doa jahat tidak akan pernah terkabul! Kamu harus berdoa yang baik - baik buat keamanan teman kamu sendiri! Masa kamu mendoakan yang jelek sih supaya aku kecelakaan? Jahat banget!" seloroh Rita dengan sebal dan hampir saja dia memblokir lagi nomor Ney.
"Selanjutnya kamu pasti jatuh ke selokan!" Kata Ney yang masih saja tidak puas mencelakakan Rita. Usaha banget ya benar tampak sekali dia tidak suka Rita baik - baik saja.
"Tidak akan ada! Berhentilah mendoakan seseorang yang tidak kamu sukai dengan doa jelek. Menurut aku, tidak akan ada kecelakaan apapun dan kalaupun ada yang jatuh, itu bukan aku bisa saja orang lain. Sudah ya aku mau beres tugas anak - anak. Sore deh kita lanjut ngobrol untuk acara piknik dengan Arnila." Rita lalu mematikan hpnya terserah Ney mau balas atau tidak. Pasti dia kecewa berat dan sangat bingung kenapa tidak sesuai yang dia lihat. Kenapa dia dengan begitu mudah menjadikan doa sebagai penglihatannya?
BERSAMBUNG ...
__ADS_1