
Ney lalu menelepon secara pribadi pada Arnila dia setengah takut ditinggal tapi setengah ingin pergi dari Rita.
"Terus aku bagaimana, Arnila?" Tanya Ney dalam teleponnya.
"Ya lu tidak kenapa-kenapa. Maksudnya apa sih?" Tanya Arnila yang malas.
"Ya kan masa kita tidak ada aksi? Atau bertemu juga begitu bareng Rita sama Alex kan kita berdua ada episodenya juga," kata Ney merajuk.
"Tidak ada. Yang aku lihat memang kita tidak akan ada lagi sih. Episode kita hanya sampai mereka bisa saling bertemu. Paling kita cuma mendengar berita saja sih," kata Arnila menerawang.
"Hah!? Serius hanya berita!? Kita tidak dia undang? Kan dia sudah janji mau menikah sama Alex atau apapun pasti aku diundang," kata Ney.
"Perasaan Rita tidak pernah deh bilang begitu. Itu kamu yang memaksa, dia mau undang kita atau tidak ya bukan masalah. Coba kamu dari awal kenal dia sikapnya baik tidak seenaknya, tidak membela kelakuan Alex yang minus hanya karena dia anak milyuner," kata Arnila membuat Ney agak sedih.
"Tapi... masa sih... kan aku yang membantu dia kenal dengan Alex. AKU!" Kata Ney membanggakan dirinya.
"Yang kenal Alex, Rita sendiri kok sebelum kamu masuk juga Rita sudah tahu banyak. Kamunya saja yang kepo sendiri padahal Alex tidak ada rasa sama kamu," kata Arnila dengan polosnya.
Ney diam dia apa ya menyesal tidak, ingin kembali terpaksa. Tapi kalau dengan Rita otomatis dia juga akan ikut dikenal banyak orang tapi kini... kata-kata Arnila langsung menonjok hatinya yang memang menyukai Alex hanya karena materi dan fisik.
"Sudah, kalau nanti Rita bahagia kita bahagia juga. Jangan iri dengan rejeki orang, Ney tandanya kamu tidak bersyukur. Rejeki itu sesuai dengan amalan kita," kata Arnila lagi.
"Iya sih. Tapi aku tidak rela kalau Rita melupakan kita. Aku kan sudah membantu dia," kata Ney.
"Iya kamu membantu tapi caranya salah. Kepo hidup orang dari latar sampai kekayaan kamu cari, Rita tidak suka bukan itu maksudnya. Tapi memang sih kalian ini tidak cocok, tidak ada yang sama," kata Arnila melihat kepribadian mereka berdua.
"Oh ya? Terus Rita tahu?" Tanya Ney.
"Tahulah dia. Anaknya sensitif begitu, hanya kamu yang tidak peka," kata Arnila.
"Kalau sudah tahu kenapa masih mau dekat?" Tanya Ney.
"Karena dia sangat baik seharusnya kamu bisa lebih menghargainya bukan banyak menuntut. Lalu cokelat dari Alex masih ada?" Tanya Arnila mengganti topik.
"Ya sudah habislah! Kecil tahu ukurannya sekali lahap habis," katanya Ney memandangi bungkusan berceceran di lantai kamar.
"Yeee mengomel tapi sampai habis," kata Arnila menggelengkan kepala lalu tertawa.
Lalu pembicaraan itu terhenti karena Arnila ada perlu akhirnya hanya ada Ney dan Rita.
"Cokelat dari Alex masih ada, Rita? Kalau ada..." kata Ney.
"Sudah habis lah sebagian aku bagi ke teman-teman. Kamu lupa ya? Sisanya aku habiskan sendiri," balas Rita.
"Hah sudah habis? Katanya kamu tidak bisa makan cokelat? Tadinya mau aku tawarin buat aku saja," kata Ney terus terang.
"Itu yang paling banyak makan keponakan laki-laki dan adikku. Aku hanya bisa makan 5 tiap masing-masing jenisnya. Sudah dulu ya," kata Rita yang memegang ramyun.
"Lho? Mau kemana? Masih ada cokelat ya?" Tanya Ney terus bertanya.
"Kalau masih ada juga tidak akan aku beri. Spesial sih. Mau buat Rabokki dulu. Daaah." Kata Rita mengakhiri chat meski Ney membalas pun dia tidak membalasnya.
"Rita!" Teriak Ney dalam chat tapi ponselnya dia tinggal begitu saja dalan kamar.
Selain Rabokki Rita juga memasak sukiyaki serta dumpling yang dimakan bersama dengan keluarganya. Dalam lemarinya semakin banyak persediaan banyak mie korea, topokki dan odeng yang harus direbus dahulu.
Rita juga berkomunikasi seru dengan Alex sesekali Rita bertanya apa yang akan Alex kirimkan untuknya.
"Itu masih rahasia aku harap kamu mau menerimanya," kata Alex waktu itu.
Ney juga tahu dan betapa kesalnya dia sekaligus sangat iri. Rita tidak tahu anak sekaya Alex sudah tentu pasti barangnya akan bermerk dan harga selangit. Dirinya mengibaskan dirinya dan kepanasan sendiri, Rita saja tidak berpikir apa-apa.
"Nik, si Rita mau dikasih hadiah kelulusan sama Alex," chatnya ke nomor Arnila.
Arnila yang sudah bersiap mau tidur dengan suaminya membuka chat dan dia mendengus sebal.
"Ney?" Tanya Imron melihat jam.
__ADS_1
"Siapa lagi coba," kata istrinya.
"Dia itu repot sekali sih? Hidup seperti itu justru akan membuatnya semakin tidak tentram," kata Imron yang menyalakan televisi.
"Jangan tanya deh. Dia kepo sekali soal takdir Rita dengan anak milyuner," kata Arnila lalu membalas chatnya.
"Ya baguslah," jawab Arnila singkat.
"Tapi kenapa aku hanya cokelat murah?" Tanya Ney.
"Ya kamu siapa dia? Penting apa untuk dia?" Tanya Arnila.
"Setidaknya dia tahu kan aku ini temannya yang kenal Rita sudah lama. Kirim semacam bingkisan mahal kek," kata Ney kesal.
"Hahaha kenapa kamu kesal? Rita banyak menderita pantaslah Alex memperlakukan dia spesial. Tidurlah sudah malam," kata Arnila menguap.
"Kan begitu hukumnya," kata Ney yang memang bersiap tidur.
"Dengar ya, Ney. Pertemanan itu tidak dilihat dari barang bermerk, uang banyak, mau kaya atau miskin tidak akan ada. Kalau kamu yakin sudah banyak membantu, lalu mengharap diberi barang ya itu palsu dong? Sudah aku mau tidur. Bye!" Kata Arnila mematikan ponselnya.
Ney kesal Arnila tidak bisa diajak mengobrol. Dia memikirkan apa kata Arnila, dalam hatinya dia ingin diberi barang mewah atas penghargaannya yang mencari banyak informasi. Tapi pertemanan antara Rita dan dirinya memang sangat berbeda jauh.
Beberapa minggu, bulan terlewati. Hubungan Rita dan Alex kembali lancar meski selalu juga mereka bertengkar sampai membuat Rita menangis karena Alex temperamental. Sekali lagi pula Rita berhenti mengobrol dengannya dan Alex selalu meminta maaf. Kadang Rita jawab kadang kalau memang sudah lelah, bisa sebulan tidak ada kabar.
Tiga bulan Rita bekerja sebagai pelatihan di tempat kerjanya kemudian dia dan ketiga yang lain akhirnya diterima. Rita curahkan semua kesedihan menghadapi Alex dengan bekerja, lambat laun dia mulai melupakannya.
Alex yang merasa Rita lupa pada dirinya kembali berusaha mendapatkannya lagi. Dan dia tersadar karena sikapnya yang tidak bisa menahan amarah, membuat Rita banyak sakit. Sekaligus sedih.
Lagi-lagi masalahnya dengan Ney dan Arnila, ternyata mereka berdua menghubunginya dan mengatakan kalau selama ini Rita memang tidak menyukai mereka berdua. Betapa sakitnya saat Alex lebih mempercayai mereka.
Kebohongan yang mereka katakan benar-benar sudah menyakitinya. Dan Rita menghapus dan memblokir mereka sampai Alex menghinanya segalanya. Akhirnya saat itu benar-benar tidak ada kabar mereka bertiga lagi. Rita memutuskan untuk pergi.
Saat Rita memutuskan untuk benar-benar pergi, Alex menghubungi mereka lagi dan menyampaikan kalau mereka sudah salah paham. Karena dalam dasar hatinya ternyata Rita peduli dengan mereka. Arnila dan Ney hanya terdiam.
"Gays, saya dan kalian berdua salah. Kita bertiga salah! Dia selalu senang sebagai teman kalian sama sekali tidak ada rasa kesal atau bahkan benci. Kalaupun ada kecewa yang besar dan sakit. Coba kalian ingat apa ada perkataan Rita yang membuat kalian menangis?" Tanya Alex yang menghubungi mereka.
Ney hanya diam seribu bahasa, kini dia juga memang sudah sangat salah.
"Ney, kamu juga salah paham. Cobalah lihat Rita dari sisi baiknya. Dia sangat pengertian tapi entah kenapa kamu malah berpikiran buruk. Kamu iri sekali kan sama dia makanya banyak berpikiran negatif," kata Alex.
"Iya Ney, kita juga salah. Kita semua salah, kita tahu dia sensitif tapi kita tidak mau mengerti. Kamu sadar tidak sih Ney? Kita sudah berada di ujung dari kesabaran dia," kata Arnila saat itu yang juga ingin semuanya selesai.
Dia tahu Rita sangat sedih sekali, Arnila tidak mau lagi mengganggunya.
"Dan aku sangat menyesali dari tahun lalu yang kita lakukan kepadanya. Aku juga minta maaf sama kalian. Plis sebisa mungkin kalian bisa menghubunginya," kata Alex.
"Iya Alex, kita maafkan kamu tapi apa Rita mau memaafkan ya? Karena kita sudah berkali-kali minta maaf tapi ya begitu lagi," kata Arnila.
"Yaa.. tapi kan Alex, aku selalu bilang begitu agar dia kuat nanti ke depannya," kata Ney berbicara.
"Bukan, berbeda dengan yang saya tangkap apalagi sori ya banyak kamu membuat kebohongan. Saya tidak tahu untuk apa, menyalahkan Rita juga padahal masalah itu kan masalah diri kamu," kata Alex yang akhirnya dia melihat semua chat mereka.
"Ya kamu mana tahu kenal sama Rita saja 3 tahun. Aku ini sudah 30 tahun sama dia," kata Ney membela diri.
"Kamu bangga teman kenal sejak lama tapi kamu tak pernah Melihat karakter dia. Kamu tahu dia sensitif tapi kamu malah sering sengaja membuatnya sakit. Apa kamu pikir itu baik? Dia selalu menaruh saran karena peduli sama kamu tapi kamu tidak ada penghargaan untuknya," kata Alex menjelaskan.
"Iya oke Alex. Aku memang tidak kenal terlalu dalam dengan Rita. Ney, Rita itu tulus mengerti? Mau kita bertiga buruk dia sama sekali tidak peduli," kata Arnila.
"Kamu baca apa sih di dasar hatinya? Yang aku tangkap tuh dia memang benci aku," kata Ney.
"Iya karena kamu tidak pernah mengungkapkan diri kamu sendiri sama dia. Kamu tahu kebenarannya tapi selalu diputar balikkan. Awal aku pikir kamu mau melakukannya untuk Rita tapi bukan. Rita itu menunggu kalau kamu punya masalah, bisa saling tukar pikiran. Tapi nothing," kata Alex.
Saat itu Ney sudah bertunangan dengan Dins dan akan menikah di akhir tahun. "Memangnya dia bisa apa?" Tanya Ney yang agak mulai menyesali segalanya.
"Dia bisa membuat nyaman seseorang tapi kamu menolak. Jangan salahkan dia dong. Dasar hatinya dia peduli sama siapapun yang kenal dia, dekat dengannya saling memahami. That's all. Apa sih yang membuat kamu sulit memahami dia?" Tanya Alex.
"Dia iri sama hubungan kalian, Alex," ungkap Arnila.
__ADS_1
"Karena aku anak kaya dan menyukai Rita yang tidak? Ya Allah, kamu ini beragama Islam apa bukan? Diajarkan ilmu agama kan oleh orang tua? Buat apa iri segala? Kamu sudah tunangan dapat calon sesuai kriteria. So what?!" Tanya Alex keheranan.
"Dia takut Rita akan sombong pada kami. Makanya... dia sengaja melakukan seperti tahun lalu," kata Arnila mewakilkan.
"Seriously!? Kamu melakukan itu sama dia. Astagfirullah. Pantas Rita kecewa berat sama kamu dan ya dia membenci kamu sekarang. Itu salah kamu. Aku heran ya sama pemikiran kamu, aku yakin kamu melihat Rita akan bahagia kan tapi kenapa... WHY??" Tanya Alex kesal.
"Begini saja Alex, kami berdua benar-benar sadar memang salah. Tapi kamu mau kan membantu kita bicara sama Rita. Cukup buka blokir kami. Aku tahu dia pasti blokir kita kan. Sekarang saatnya kamu sadar Ney. Kita salah berpikir Rita egois," kata Arnila.
"Ya memang dia egois," kata Ney.
"Dia yang ingat tanggal lahir kita, menyiapkan pesta kecilan, senang membuat masakan, senang saat kamu memujinya. Dia beri kita hadiah banyak kejutan, aku sedih sekali kita malah berbuat sejahat itu sama dia, Ney. Kamu tidak punya rasa bersalah?" Tanya Arnila yang memang menangis saat itu.
"Ya aku sadari ingatannya. You know what, ingatan itu dia peluk erat sebagai kenangan terindah. Aku juga kaget ternyata dia selama ini sejak dulu kenal kamu, Ney tidak ada rasa keberatan mengenal kamu," kata Alex.
Ney menangis saat itu juga. Dia ingat Rita memang selalu begitu, yang dia ingat hadiah yang diberikan Rita dia buang begitu saja. Saat dicari barang itu ada tapi sudah tidak berbentuk. Ney ingat betul wajah Rita yang sedih setelah itu, dia tidak pernah lagi ingat apapun.
Dirinya takut karena keterbatasannya membuat Rita menjelekkannya tapi setiap dia berusaha membaca isi pikirannya, tidak ada satupun mengenai dirinya. Banyaknya pilihan makanan yang harus dia beli, atau belanjakan.
Seharusnya dari sana dia lebih percaya diri, lebih percaya kalau Rita tidak sama dengan temannya yang dulu. Seharusnya saat itu dia katakan bahwa hadiahnya selalu dia simpan dengan baik. Soal tas yang dia berikan dulu sebagai oleh-oleh juga.
Seharusnya tidak dia pakai begitu saja, seharusnya dia lebih mengerti barang itu untuk diberi. Hasilnya hanya dipakai sehari sudah rusak dan dia malah tertawa keras. Dia tahu raut wajahnya saat itu juga kecewa untuk kesekian kalinya.
Sedih ya, menangis dalam hati. Akhirnya dia puas dengan membakar tasnya dan memberikan foto pada Ney. Setelah itu pula bagi Rita Ney tidak pernah dia sambut ada. Hanya sekedar ada.
"Kamu ingat soal tas yang kamu beri ke dia? Kamu seharusnya tidak menertawakannya karena tas yang baru kamu beli itu sebenarnya yang kamu bawa ke kampus. Kamu keterlaluan!" Kata Arnila yang sangat tahu.
"Tas?" Tanya Alex.
Arnila lalu menceritakannya pada Alex. "WHAAAT!?! HOW DARE YOU DID THAT!? WHAT'S YOUR PROBLEM!?" Teriak Alex sangat marah.
"Ya aku pikir dia tidak akan tahu. Memang itu aku beli baru waktu itu belanjaannya banyak jadi aku pikir tidak masalah kalau tasnya aku pakai sebentar," kata Ney yang mengusap air matanya.
"SEBENTAR!? KAMU PAKAI SEDETIK JUGA ITU SUDAH JADI TAS BEKAS!!!" Teriak Alex sudah kesal sekali.
"Sabar Alex, aku juga marah besar kok setelah tahu. Makanya tidak salah juga kan Rita membalasnya dengan membakar tas yang kamu kasih," kata Arnila.
"Dibakar!?" Tanya Alex bengong. "Wah, seram sekali dia kalau sudah kecewa apalagi marah," pikir Alex merinding.
"Ini fotonya," kata Arnila. Foto tahun lalu pun dia masih simpan.
Alex kaget sekali jelas sekali keadaan tas itu seperti apa. Dan Rita berdiri di sebelahnya melemparkan bensin. Alex memegang rambutnya dan kesaaaal.
"YOU....!!! Fine, aku bantu membuka kunci. Tapi ini terakhir kalinya aku bicara dengan kalian. Seterusnya hadapi sendiri. AND YOU! YOU MUST APOLOGIZE!! Kamu keterlaluan sekali Ya Allah aku menyesal membuatnya banyak menyakiti," kata Alex yang bertekuk kepala di mejanya.
Tanpa tahu kebenarannya Alex terus saja membela mereka berdua tanpa memikirkan apa yang dirasakan oleh Rita sebenarnya.
"Kamu akan terus berhubungan dengan Rita?" Tanya Arnila.
"Not your business keep away from me and her," kata Alex yang sudah lelah.
"Iya Alex. Tentu. Tapi kalau Ney masih punya masalah kalian berdua harus membicarakannya. Aku tidak bisa membantu lagi daripada harus melihat Rita terus menangis karena kita," jelas Arnila merasa tidak enak. Alex pasti kecewa juga.
"Kamu harus tahu Ney, saya selalu SELALU membela kamu didepan dia, yang membuat saya sakit saat mengetahui dia menangis sedih saya tidak peduli! Saya terus membela kamu!! Dan saya menyesaaal sedalamnya. Benar apa kata Rita," kata Alex.
"Apa?" Tanya Ney yang masih menangis.
"Kamu sedang mengenal saya ( Rita ) apa Ney? Itu aku langsung terdiam. Selama ini saking saya bela kamu, saya tidak memperhatikan perasaannya yang menangis keras. Saya membuatnya sakit dan menderita juga, saya banyak menghina dia yang menendang kamu dan salah menyangka kamu selalu ada untuknya ternyata... itu sahabatnya yang lain. Aku tertipu dengan penampilan kamu, dan menelantarkan Rita yang tulus," kata Alex menangis juga.
Ney menangis dengan keras juga. Dia terlalu menikmati semua rencananya sehingga terlupakan arti hati Rita yang sebenarnya. Banyak membuatnya panas, banyak membuatnya melawan agar dia bisa melaporkan pada Alex.
Arnila juga menangis.
"Sorry guys, aku akan menghilang dari hadapan kalian. Kedepannya jangan mengenal aku lagi, kasihan Rita. Ney, kamu jangan bawa-bawa nama aku lagi hanya untuk melaporkan kejelekannya Rita. Itu bukan urusanku, berdoa saja dia masih mau menerima kalian. Bye." Ucap Alex untuk yang terakhir kalinya.
Selama beberapa bulan mereka berbincang, mereka bertiga sudah salah mengerti Rita. Ney juga sangat menyesali semua iseng yang berubah menjadi fatal. Musibah yang dihadapi Rita memang ada kesalahannya yaitu terlalu mempercayai Ney dan Arnila.
Bersambung ...
__ADS_1