
Rita hanya membalas sedikit saja isinya,
'Waktu kamu bilang ke dia bisa duplikat soal tugas kuliah juga, dia tidak ada pembelaan. Sudah banget sih jujur?'
Lalu dia kirim ke Arnila. Rita mengetikkan itu dengan berani di hadapan Ney masalahnya kalau dia sembunyi - sembunyi ketik pasti lebih mencurigakan. Begitu juga dengan Arnila, Ney juga curiga tapi dalam pikirannya sudah tentu kalau Rita sedang chat dengan Alex dan Arnila dengan Imron.
"Kalian enak banget ya bisa chat sama orang lain," celetuk Ney setelah sadar kalau Arnila sudah tidak tertawa lagi.
"Masa? Bukannya kamu juga seringnya chat dengan orang lain kalau kita lagi ngobrol? Masa hanya kamu saja yang boleh seperti itu?" Tanya Rita yang tidak peduli. Ney terdiam karena sadar kalau dia memang selalu seperti itu. Arnila lalu melihat ke arah jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang ditambah terdengar suara Adzan.
"Okey, kita buka saja yuk bekalnya. Oh iya paketnya mau aku kirim sekarang, jadi aku sudah bawa tempatnya. Bagaimana kalau kita sama - sama saja mengaturnya? Aku bawa gunting dan perlengkapan lainnya untuk keperluan mengajar. Makanan kamu, yang tiga itu kamu sendiri kan yang buat?" Tanya Rita ke arah Ney. Karena dia tahu seperti apa pola makanan yang Ney buat dan rasanya.
"Iya dong ini buatan aku sendiri!" Tegas Ney. Memang pasti buatan dia Rita merasakan itu tapi apakah menunya diluar prediksi dia ataukah ... plagiat menu Rita?
"Oh ya sudah. Semoga ada kemajuan ya sama rasanya, aku tidak mau sampai alergi garamnya naik lagi," kata Rita.
Ney membeku dalam duduknya, mendengar apa yang diucapkan Rita agak menyesal dalam hatinya sewaktu ibunya menyarankan ganti ulang menunya, dia menolak. Padahal mungkin ini maksudnya dari perkataan ibunya hari kemarin. Ibunya tahu kalau Rita menghindari makan yang mengandung garam berlebih. Sama juga dengan Arnila untungnya dia memakai takaran.
"Lho? Kamu alergi garam? Kamu tahu hal kritis itu, Ney? Kamu kan bilang sahabat dia," kata Arnila yang melirik pada Ney. Wajahnya tampak syok sekali tapi Ney tidak mampu menjawab apapun.
"Mana ada Ney tahu. Dia lebih peduli sama dirinya sendiri. Iya aku memang punya alergi tapi bukan berarti tidak bisa makan yang asin. Tapi kalau berlebihan, itu pasti kambuh efeknya jadi kalau makan yang asin harus setara kadarnya. Misalkan aku makan punya Ney ternyata keasinan banget, sudahnya gampang kok tinggal aku makan yang agak manis atau yang agak asam yang penting kadarnya sama,"
Arnila dan Ney mematung mendengarnya dan Arnila merasa sedih mengenai sesuatu yang baru dia dengar itu. Berbeda lagi dengan Ney yang menyadari dia sama sekali tidak tahu menahu banget mengenai alergi yang diderita Rita. Menurutnya Rita selalu memakan apa saja yang dia suka dari makanan yang harganya murahan sampai yang termahal. Harga Rp 1000 sampai Rp 100.000 ternyata di sisi lain, Rita harus selalu menyeimbangkan rasa makanan.
"Aku tidak tahu kamu punya alergi separah itu. Aku pikir kamu baik - baik saja makanya banyak makan kan. Jangan - jangan itu juga karena kamu mengukur kadarnya? Sejak kapan kamu mulai merasa alergi garam?" Tanya Arnila. Ney hanya terdiam menganga dan masih belum bisa percaya.
"Sejak kecil. Asalkan aku tahu diri saja, tahun kemarin kan alerginya parah tuh karena aku makan Pringles 2 botol," kata Rita sambil terkekeh - kekeh sendirian.
__ADS_1
Arnila dan Ney kaget setengah mati mendengarnya. "HAH!? SENDIRIAN?!" Ucap mereka secara bersamaan. Ya pastilaaah alerginya parah dihabiskan 2 botol.
"HAHAHAHA!!" Tawa Rita yang meledak sendirian. Beberapa orang menepuk jidatnya berpikir hebat bisa habiskan Pringles 2 botol sendirian.
"Pringles kan garamnya parah. kamu makan sampai 2 botol? Ya pantas saja alergi kamu kambuh!" Kata Ney yang serius menyimak ditambah kaget juga. Rita hanya tertawa mengingat kebodohannya yang dulu dia lakukan itu.
"Gejalanya apa?" Tanya Arnila yang penasaran. Dia saja makan Pringles itu dirempuk sama semua anggota keluarganya. Lah ini sendirian mana berani banget nantangin alergi.
"Mimisan parah sampai pendarahan total. Jadi aku pernah mengalami itu awalnya tidak sadar sih kalau itu pengaruh dari aku yang terlalu sering makan makanan bergaram lebih. Kita sebut saja micin ya karena kan Pringles juga ada micinnya pasti. Bangun tidur itu biasanya kan segar ya kerasanya tapi itu tidak, aku pusing banget seperti habis selesai menstruasi. Waktu adikku masuk kamar, mau membangunkan dia histeris," kata Rita yang sambil memeluk tasnya.
"Kenapa tuh?" Tanya Ney yang penasaran. Dia aslinya sama sekali tidak tahu apa yang setelah itu terjadi karena memang tidak bisa menebak dan wajahnya tidak ada guratan sinis atau apapun.
"Bantalku ternyata bersimbah darah, hidungku mengeluarkan banyak darah. Dari mulut juga keluar dan itu membasahi wajahku lalu baju dan selimut. Ibuku datang kan setelah mendengar jeritan adikku dan histeris juga. Katanya, 'Kamu seperti zombie saja yang habis berburu mangsa di malam hari' maksudnya sih seperti vampir atau drakula,"
Mereka berdua melongo mendengar cerita Rita yang memang ternyata parah banget.
"Ayah kamu bagaimana reaksinya?" Tanya Arnila.
"Mengalir banget sampai bawah?" Tanya Ney.
"Iya, Ney. Bayangkan ya dari hidung mengalir ke leher terus ke bawah sampai selimut dan seprai juga seperti pulau. Itu pertama kalinya efeknya sangat parah mana masih kuliah semester awal pula untungnya di hari libur,"
"Aduh, aku tidak tahu kalau kamu bisa sampai parah begitu," kata Arnila yang kedua matanya berkaca - kaca.
"Aduuuh, Nil. Jangan menangis dong. Aku juga kaget dan syok banget setelah itu ya dilarikan ke rumah sakit karena aku merasa darahku sisa setengah," kata Rita yang menggoyangkan bahu Arnila agar berhenti menangis. Ney juga sempat mengeluarkan air mata tumbenan sekali dia merasa menyesal ya.
"Kamu masa sih sama sekali tidak tahu, Ney?" Tanya Arnila.
__ADS_1
"Iya masa kamu lupa kan aku juga pernah kejadian di rumah kamu. Dulu aku juga mimisan setelah makan makanan buatan kamu Ney karena super parah itu garamnya berbatu - batu. Ibumu juga sampai panik kan tapi sudahnya aku minta 1 sendok gula putih dan memakannya. Sudahnya ya berhenti,"
Arnila memandangi Ney yang salah tingkah dan gugup, dia benar - benar tidak ingat jelaslah bukan pengingat yang handal untuk urusan kritis. "Kamu aneh deh kalau sampai tidak tahu ternyata ada kejadian seperti itu ya,"
"Eh? Oh! Iya maaf aku lupa. Iya ya kamu kan punya alergi garam. Jadi kamu tidak akan makan buatan aku dong," kata Ney jelaslah langsung kalau buatan dia pasti bergaram - garam ria isinya dan Rita sudah tahu persis.
"Ya tetap dimakan. Kamu kan sudah susah - susah buatnya mana mungkin aku tidak memakannya?" Tanya Rita yang membuka tupperware miliknya.
Ney terdiam lagi mendengar apa yang dijawab oleh Rita, dia agak menyesal dengan kejadian terdahulu saat masih SMP memang Rita pernah ditawari makanan buatan Ney. Dan itu tidak berjalan baik, Rita mimisan sesuai ceritanya tapi dia juga memaksa makan lagi karena tidak enak dengan Ney, yang sudah berusaha memasaknya. Tapi yah mimisan lagi akhirnya dihentikan dan ibunya membawa pergi hasil masakan Ney ke dapur dan membuangnya.
"Kalau asinnya dari keju aman?" Tanya Arnila.
"Keju kan dari susu, seasin apapun per-keju-an sih aman. Yang parah itu hanya asinnya garam itu juga yang membuat kelenjar getah bening aku membengkak di betis dan leher," terang Rita yang lagi - lagi membuat mereka tercengang setengah mati.
"Kamu gila itu efek alerginya banyak banget!" Kata Ney yang setengah menjerit tapi Rita masih saja memakan garam yang berlebihan.
"Garam itu kan bisa terhindari dari kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi," kata Rita.
"Iyaaa tapi yang kamu makan itu berlebihan, neng!" Balas Arnila yang gemas.
"Hahahaha iya sih jadi aku tuh lelah banget menghadapi alergi aku. Apalagi banyak bukan hanya alergi garam berlebih saja, kita sudah kenal lama seharusnya tanpa perlu aku beritahu kamu bisa otomatis tahu tapi ternyata... kalau satu per satu muncul, pusing lebih baik semuanya kambuh bersamaan!"
"Tapi kan pasti obatnya berat di badan, Ri makanya keluarnya sesuai kadar tahannya kamu," kata Arnila yang merasa sangat kasihan dengan keadaan alerginya Rita. Tapi Arnila tahu kalau Rita tidak suka dikasihani menurutnya, dia masih kuat dan bisa menghadapi semuanya.
"Iya juga sih," jawab Rita sambil menggaruk pipinya.
"Terlalu banyak minum obat kan bisa jadi racun juga ke tubuh kita," kata Ney mengingatkan.
__ADS_1
"Tumben kamu bicaranya bagus," kata Rita yang merasa heran.
BERSAMBUNG ...