
Ney kemudian keluar sambil membanting pintu kantor semua yang ada disana kaget dan mengacungkan jari tengah kepadanya.
"Aku tidak tahu kalau dia sampai begitu dalam kelompok," kata teman yang laki-laki.
"Idih, dia itu parah sekali kak. Makanya aku heran kesambet apa kakak nerima dia disini," kata Ketua kelompok.
Bos Bengkel keluar dan mendengar semuanya, kemudian memberikan tugas sendiri bukan kelompok untuk memenuhi kehadiran untuk bagian Ney, ditaruhnya lembaran itu di meja kerjanya. Mereka tidak ada yang mau menghubunginya.
Di sisi lain beralih pada Rita karena kuliahnya yang sudah tidak terlalu padat serta praktek mengajarnya yang semakin senggang karena mereka semua tinggal membuat laporan, memutuskan untuk berjalan-jalan. Namun hanya Komariah yang tidak bisa ikut karena sudah ada rencana dengan keluarganya untuk mengenalkan pacarnya.
Hanya Diana yang ikut dengan Rita untuk jalan-jalan sedangkan anggota yang lainnya lebih memilih rebahan di rumah masing-masing. Ketua kelompok menugaskan 2 hari setelahnya akan kembali berkumpul untuk membahas laporan.
"Kita mau kemana?" Tanya Diana yang senang bisa bersenang-senang selama 2 hari.
"Beli film yuk! Nanti kita jalan-jalan di sekitarnya," ajak Rita yang antusias.
"Kota Kembang!" Seru mereka berdua lalu menaiki angkot menuju kesana.
Tempat itu adalah tempat yang paling keren banyak dagangan, kebun dan taman yang indah benar-benar sangat menyegarkan. Apalagi banyaknya toko yang menjual film dari Anime sampai India.
Saat sampai mereka menuju tempat penjualan film sambil melihat-lihat yang menjual aksesoris cantik dan imut. Tanpa mereka ketahui Ney juga baru sampai dan berjalan dengan cepat seolah tahu mereka berdua sedang berada dimana.
Mereka lalu masuk ke toko film dan mencari yang seru. Mereka berdua sama-sama penyuka Jepang dan juga Anime, dari bros sampai film juga mereka berdua sangat menikmati.
Selesai membeli beberapa film, mereka berencana jalan di sekitar Mall. Ney lalu melihat dengan tepat Rita dan Diana yang baru keluar dari toko lalu menghampiri mereka dengan tingkah yang tenang.
"Hei, kalian! Sedang apa disini? Sudah lama ya tidak bertemu lagi," kata Ney menepuk bahu Rita dan Diana.
Diana mendengar suara itu otomatis langsung sebal. Rita kaget dan memandang ke belakang. "Ney!" Kata Rita kaget. Tentu Rita tampak senang yah memang sudah lama juga.
"Apa kabar Diana?" Tanya Ney dengan senang melihatnya.
Diana senyum singkat. "Baik," katanya.
"Kamu apa kabarnya Ney? Sekarang sibuk apa?" Tanya Rita yang tersenyum kepadanya.
Ney menatapnya dan mengalihkan pandangan pada Diana, seketika Rita pun menurunkan senyumnya dan kemudian melirik Diana.
"Rita nanya kamu tidak jawab?" Tanya Diana.
"Oh iya maaf ya aku lupa. Iya aku baik-baik saja kok, oh ya kalian mau kemana? Aku ikut ya," kata Ney yang membalas pertanyaan Rita tapi memandang ke arah Diana.
"Wow, setelah kena tampar dia masih tertarik sama kamu tuh," bisik Rita pada Diana.
Diana balas dengan wajah super datar dan jutek. Memukul pinggang Rita yang kemudian tertawa. Ney melihat itu dan berusaha memisahkan mereka.
"Eh, Diana kamu sekarang sibuk apa nih?" Tanya Ney yang agak menggeser Rita dari samping Diana.
Rita yang menatap Ney dengan sebal, berjalan duluan didepan. Diana juga sebal harus jalan dengan Ney.
"Mengajar," kata Diana singkat.
"Oh, aku juga sekarang masuk ke praktek lapangan. Wah kita samaan nih pertanda baik itu," kata Ney yang tertawa senang tapi tidak dengan Diana.
__ADS_1
Diana hanya senyum kecut mendengarnya.
"Diana, kita masuk sini ya," kata Rita menunjuk ke arah toko kain.
Diana mengangguk senyum tidak dengan Ney yang keheranan buat apa mereka masuk kesana? Tapi yah asalkan bisa bicara dekat dengan Diana, Ney juga setuju. Lalu mereka berjalan dan Rita melihat-lihat kain sutra berwarna keemasan.
Kemudian memandang Diana yang sudah mengeluarkan kode "Menyebalkan" membuat Rita bergabung dan berusaha mencoba mengobrol lagi dengan Ney.
"Oh iya kamu juga kalau tidak salah sedang praktek lapangan kan ya. Kapan kamu datang ke Bandungnya?" Tanya Rita dengan ceria meski tahu Ney sama sekali tidak minat. Tapi tahu dia akan dimarahi oleh Diana kalau tidak menjawabnya.
"Minggu kemarin. Aku ikut kuliah susulan untuk semuanya," jawab Ney tanpa melihat Rita dan lebih memepet kepada Diana.
Sesekali memang Ney dan Rita mengobrol tapi hanya sebentar karena terlihat jelas Ney lebih ingin mengobrol dengan Diana dan seringkali, Ney memotong pertanyaan Rita. Tampak sekali Ney berusaha memperbaiki hubungan dengan Diana bukan dengan Rita. Alex juga hadir disana dan menghela nafas melihat wajah Rita yang tampak sedih.
Alex tahu Rita sangat senang melihat kehadiran Ney tapi tidak dengan Ney sendiri. Awal memang ada maksud melihat Rita sedang berjalan-jalan tapi
visinya berubah saat ada Diana juga. Sayangnya Diana enggan punya hubungan akrab dengan Ney setelah apa yang dia lihat saat Rita bertanya.
Diana seringkali berpindah posisi di sisi Rita setelahnya Ney juga menggeser Rita. Sedangkan Rita juga bete melihat usaha Ney yang ternyata dia datang bukan untuk bertemu dengannya.
"Oh iya bagaimana kalau kita ke rumah aku saja? Mengobrol disana daripada jalan-jalan tidak jelas, masuk ke toko beginian," kata Ney memberi ide sambil memandang rendah ke arah Rita yabg sedang bertanya harga kain.
"Hmmm tidak. Kita sedang sibuk setelah ini mau pergi kerja kelompok menyelesaikan laporan. Memangnya kamu tidak?" Tanya Diana yang malas memandangnya.
"Oh... kalian juga sedang mengerjakan laporan. Aku juga tapi tidak ada yang mau membantu jadinya aku sendirian," kata Ney yang merajuk pada Diana.
Diana hanya senyum tipis mendengarnya. "Oh," jawab Diana yang juga melihat-lihat kain.
"Keterlaluan tidak sih Diana masa aku dirundung lho sama anggota kelompok lain. Mereka keterlaluan sekali, padahal aku sudah bekerja lebih keras dari mereka tapi mereka iri sama aku. Jadinya tugas laporan aku disuruh buat sendiri," kata Ney melaporkan duduk perkaranya.
"Rita kita pergi yuk ke tempat lain ngapain sih kamu masuk ke toko kain segala? Kan tidak ada keperluan juga," kata Ney dengan wajah jutek padanya.
"Ya kalau kamu bosan, pergi saja. Kan kamu sendiri yang mau ikut. Lagian Diana juga senang kok masuk ke sini," kata Rita kembali sibuk dengan chat grupnya.
Diana lalu menghampiri Rita yang sedang duduk. Fan Ney yang sedang cemberut karena harus mengikuti mereka.
"Ibu kamu bukan?" Tanya Diana.
"Iya. Disuruh beli kain buat bikin seragam," kata Rita kemudian berdiri lagi.
"Yakin itu ibu kamu jangan-jangan kamu hanya bilang begitu supaya lebih lama," kata Ney menyilangkan tangannya dan dengan tingkah sok tahu.
"Tanyakan saja dulu jenis kainnya yang seperti apa, seragam kerja?" Tanya Diana tidak memperdulikan Ney.
"Kalau aku sih tidak akan percaya begitu saja apa kata Rita. Kali saja dia bohong," kata Ney dengan sikap angkuh.
Rita memandangi sebal kearah Ney dan Ney tahu itu. Tapi Dianya menarik Rita. Mereka berdua memasuki toko khusus kain seragam dan menanyakan jenisnya, pelayan toko mengerti dan mengambilkan bahan tersebut.
Ney kaget ternyata memang benar ibunya Rita menitip kain pesanan kemudian mereka melihat-lihat aksesoris lucu dalam toko tersebut. "Oh ternyata benar ibu kamu pesan kain," kata Ney tapi Rita tidak membalas perkataannya.
Ney yang kesal tidak digubris, kemudian marah dan meninggalkan Rita yang sedang melihat kain yang lainnya.
"Diana, kita saja yuk yang keluar biarkan saja Rita disini sendirian. Dia jahat sekali masa aku tidak dipedulikan," kata Ney menarik tangan Diana.
__ADS_1
Pelayan toko itu bersikap sinis pada Ney yang mereka mendengar apa kata Ney tadi sangat keterlaluan. Bukannya keluar tapi Diana melangkah masuk ke dalam toko dan menemani Rita sampai selesai. Dan juga bercanda soal kain kebaya, membuat Ney sebal kemudian keluar dari toko tersebut sendirian sambil menundukkan kepalanya.
"Ney keluar tuh," kata Rita berbisik melihat sedikit kearah dia pergi.
Diana juga melihat sebentar. "Biarkan sajalah seenaknya sekali dia. Lebih baik kita berdua daripada ada dia mengganggu," kata Diana yang cemberut.
Rita tertawa dan memeluk sahabatnya itu lalu duduk bersama.
"Teman kalian yang satu itu kok terkesan tidak sopan ya, teteh bertanya ajak mengobrol juga malah dicuekin lalu bilang kalau teteh yang jahat. Aneh," kata ibu pemilik kain itu.
"Iya bu, saya juga heran. Dia yang mah ikut malah dia juga yang protes," kata Rita.
"Kita juga tidak ajak dia untuk jalan bersama ya, Rita?" Tanya Diana.
"Kalian tahu, ada jalan keluar tersembunyi kalau kalian mau menghindari teman yang tadi. Tuh jalan lurus nanti ada tanda panah Merah, masuk kesana," jelas ibunya menunjukkan arah.
Mereka berdua saling setuju untuk menggunakan jalan itu dan keluar toko sambil melihat keadaan. Tampak Ney tidak ada depan toko, mereka melanjutkan jalan ke atas sampai menemukan tanda panah dan membeli beberapa cemilan.
Beberapa jam kemudian Ney datang dengan wajah yang marah. Rita dan Diana lemas ternyata Ney tidak pulang tapi menunggu mereka di depan gang dan memeriksa ke dalam toko ternyata mereka sudah tidak ada.
"Kalian kok tidak beritahu aku sih kalau mau ke mall? Aku kan sudah tunggu lama di depan toko," kata Ney yang kesal sekali.
"Dih kenapa juga kamu marah? Aku kira sudah pulang makanya kita ke mall," kata Rita.
"Ya setidaknya kamu telepon aku kek atau sms atau WA. Kan aku mau ikut sama kalian tapi kalau seperti ini caranya ya sudah lebih baik aku pulang saja!" Kata Ney dengan kesal.
"Ya mau pulang mah pulang saja. Tidak rugi kita kalau kamu tidak ada juga," kata Rita yang sudah kesal.
"Ya bukan begitu caranya," kata Ney kesal.
"Dari awal siapa juga yang undang kamu jalan sama kita? Tiba-tiba menyapa okelah tapi setelah itu kamu juga tidak ada sopannya. Rita nanya atau bicara sama sekali tidak kamu gubris, soal laporan juga sepertinya kamu yang bermasalah," kata Diana yang tidak bisa diam saja melihat Rita disalahkan.
Rita lalu menarik Diana dan menenangkannya, Diana lebih mengerikan dari Rita kalau sudah meledak. Bahasa Palembang nya akan keluar mendadak itu pernah dilakukan saat di kampus.
Ney kemudian mengibaskan wajahnya yang panas dan melihat apa yang Rita pegang yaitu kentang goreng. Ney tahu itu adalah makanan kesukaannya Rita yang dimana dia juga menyukainya.
"Minta dong kentangnya enak sekali kamu makan sendiri di saat aku menunggu diluar. Kamu ini tidak setia kawan sekali ya. Sengaja ya," kata Ney yang langsung mengambil bungkusan kentang dari tangan Rita.
Rita tidak berkata apapun memberikan apa yang Ney inginkan dan dia memakannya dengan nada tidak sopan. Diana yang melihatnya sangat geram.
"Ya ampun! Kok ada ya orang tidak sopan, Rita. Kok kamu mau sih diikuti orang macam dia? Kalau aku sih sudah ta buang dia," kata Diana dengan nada tinggi.
"Dia yang mengekor bukan aku lagipula aku tidak minta dia buat ikut. Kamu juga tahu," balas Rita.
Ney mendengarnya dan tidak terima apa yang Diana katakan. "Kamu tuh ya yang tidak sopan, Rita itu teman saya. Kamu mau rebut dia ya, ngaku deh," kata Ney sambil menunjuk ke arah Diana.
"Wah wah bukannya kamu yang berusaha menyikut Rita supaya kamu bisa dekat sama saya? Haduh maaf ya, saya tidak minat jadi teman Anda. Saya senang hati deh merebut Rita dari kamu soalnya kamu tidak ada kualitas," balas Diana dengan jutek juga.
"Sudah sudah yuk kita pergi saja, tinggalkan saja dia yang sedang kelaparan. Aku ikhlas kok lagian kentangnya juga sudah tinggal sedikit," kata Rita menarik bahu Diana.
"Kok aku ditinggalin sih?" Tanya Ney yang langsung kaget mereka berdua pergi tanpa dirinya.
Diana sudah kesal kepalang dan bilang dengan logat Palembangnya. "Jangan begitu Rita, aku itu gemas sekali lihat perlakuan dia seenaknya ke kamu. Sudah merundung kamu tanpa jelas, melempar kesalahan lalu sekarang seenaknya dia minta makanan kamu, dipalak pula. Miskin sekali sih!" Seru Diana.
__ADS_1
Bersambung ...