ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(201)


__ADS_3

15 menit kemudian mereka semua sudah ada di sebuah taman Cipaganti dan tumben juga Ney datang tepat waktu. Tentu saja yang datang duluan adalah Rita lalu Arnila kemudian Ney.


"Wih, tumben kamu bisa datang tepat waktu?" Tanya Arnila dan Rita bersamaan.


"Kenapa sih? Sepertinya langka banget aku datang tepat waktu," balas Ney dengan cemberut.


"Ya kamu kan dari dulu kalau janjian suka ngaret jadi aneh banget sekarang kamu pas datangnya," kata Arnila dengan tampilan baju yang santai.


"Biasanya kamu datang 1 jam kemudian, sekarang sih aku tidak akan ngomel - ngomel kalau kamu datang terlambat. Sambil nunggu ya jalan - jalan saja duluan," kata Rita sambil memegang jaketnya.


"Tepat salah, terlambat salah. Aku juga sama sekali tidak tahu kalau tepat waktu. Kamu kok tidak bela aku sih si Alex chat gue," kata Ney menatap Rita yang keheranan.


"Terus? Memang kenapa? Yakin dia marah - marah?" Tanya Arnila.


"Sambil duduk di sana yuk. Kalau berdiri begini, pegal kakiku," tunjuk Rita di hamparan lantai berbatu.


Mereka lalu berjalan menuju kesana, tumben juga penampilan Ney rapi dengan wajah juga yang bersih hehehe.


"Memangnya Alex tidak cerita? Aku kan sudah bilang kalau kamu salah kirim," kata Rita menegaskan kembali.


"Ya dia cerita tapi tidak percaya. Kamu bilang apa saja sih? Sampai bisa dia tidak percaya sama aku? Coba aku lihat chat kamu sama Alex, takutnya malah kamu memfitnah aku," kata Ney. Pagi - pagi sudah cari debat saja dengan Rita.


"Kamu tuh ya memang tidak sopan. Bersyukur dong kalau Rita sudah capek - capek membela kamu! Tahu gitu Ri, kamu jangan bertindak lagi deh kalau Ney berbuat ulah, lebih baik kamu tolak. Dibantuin malah balik suudzon!" Kata Arnila kesal banget.


"Nih buktinya. Aku getok kamu ya kalau apa yang kamu pikirkan salah!" Rita memperlihatkan chat dirinya yang menjelaskan dia bilang salah kirim pada Alex.


"Kirim saja sini ke ponsel aku!" Pinta Ney sambil memegang ponselnya.


"Tidak mau! Pasti kamu akan simpan chat dia kan entah nanti kamu pakai buat apa. Mungkin balik fitnah aku kalau kamu cerita ke orang - orang dengan cerita kebalikan dari ulah kamu sendiri. Baca saja deh!" Kata Rita yang mulai mewaspadai keinginan Ney.


"Benar tuh dugaan Rita, Ney?" Tanya Arnila.


"Ya pastilah sampai dia simpan foto - foto Alex. Aku kan lihat di grup," kata Rita membuat Ney kaget.


"Hah? Kamu itu baru masuk mana mungkin bisa lihat foto yang aku kirim. Ngarang!" Kata Ney sambil sedikit panik.


"Gimana caranya kamu bisa lihat?" Tanya Arnila aneh.

__ADS_1


"Ya Allah, kalian pakai WA sudah berapa tahun sih? Kan bisa lihat foto yang sudah kalian kirim, buka beranda grup terus roll ke bawah kan ada riwayat foto - foto atau ss chat sebelumnya. Nih seperti ini," Rita tunjukkan caranya dan mereka berdua melihat. Rita melihat Ney menghentakkan tangannya dia lupa banget kalau memang bisa melihat story sebelumnya lewat itu.


"Oh iya! Gue juga lupa!" Arnila menepuk dahinya dengan keras.


"Jadi?" Tanya Rita ke arah Ney.


Ney terdiam melihat cerita sebelumnya dan memang benar Rita sudah bilang pada Alex, lalu Rita menjitak kepala Ney tanpa dendam.


"OW! Beneran lu jitak gue?!" Ney mengusap - usapkan kepalanya.


"Iyalah. Makanya jangan suudzon jadi orang, kok aneh ya kamu senang banget punya hobi jelek! Heran gue, gue mah amit - amit deh. Pikiran negatif kan bisa mengurangi pahala. Kamu tidak takut apa pahala banyak berkurang? Kalau mati, mau bawa apa nanti?" Tanya Rita dengan senang setelah menjitak Ney.


"Iya ih kamu nih, berhenti deh berpikiran aneh - aneh sama kita atau siapapun yang rugi nanti ya kamu sendiri.Tapi kok bisa sih Alex tahu?" Tanya Arnila menatap Rita.


"Iya juga ya. Kok tahu sih?" Tanya Ney.


"Yahhhh... si bodoh itu ternyata hack semua medsos yang aku punya😑," kata Rita sambil menyilangkan kedua tangannya.


Rita dan Arnila kaget bersamaan. Sampai segitunya banget!


"Termasuk WA?" Tanya Ney dan Arnila lagi bersamaan. Mereka saling pandang dan kembali menatap Rita yang menghela nafas. Rita mengangguk.


"Gila dia! Kamu tahunya bagaimana?" Tanya Ney. Rita kemudian membuka email dan menunjukkan pada mereka.


"Nih, ini aku curiga. Aku kan sering dapat email tapi jarang dibuka karena isinya tawaran kerja sama seminar. Nah ada seminar yang mau aku ikuti minggu depan soal buku literasi gitu. Memang aku sudah daftar, dan aku dapat notif di ponsel, balasan untuk kodenya ada di email. Nih kelihatan banget ya bedanya, email yang hitam itu yang belum aku buka tapi... ini, email dari seminar itu sudah bertuliskan warna abu - abu. Menurut kalian?" Tanya Rita pada mereka berdua.


Mereka mematung dan melihat semuanya memang benar banyaknya email yang belum terbuka berwarna hitam. "Dan seingat aku, aku tuh baru dapat kabarnya kemarin jadi memang belum sempat aku buka, nah ini bukti email ini tuh sudah ada yang buka,"


Rita memperlihatkan bukti keterangan dalam emailnya sudah dibuka pada pukul 12.00 siang hari. Mereka sangat terpana dan sekaligus kagum tapi juga marah karena artinya Alex tidak tahu privasi orang. Dia membuka dengan seenaknya siapapun yang kontak dengannya tidak pernah ada yang bisa lolos dan itulah yang membuat Rita kesal banget.


"Iya sih dia orangnya memang kelihatan tidak punya sopan santun. Aneh juga ya," kata Arnila.


"Iya aku setuju kalau soal ini. Kalau begitu, kita bicara apa dia WA, dia tahu?" Tanya Ney kaget.


"Iya pastinya. Jadi aku tidak perlu cerita, dan kamu juga menurut aku sia - sia juga kalau kejadian kemarin sore itu. Dia sudah tahu pasti. Kata aku sih dari kamu mengatakan soal aku atau Alex, sampai kirim fotonya semua, dia tahu," kata Rita yang menutup lagi emailnya.


Lalu Arnila memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengambil ponselnya. Ada yang masuk ke dalam chat inbox Paceboknya yaitu Alex. Yang mengomel kepadanya mengenai kelakuan Ney. Dengan bahasa Indonesia :

__ADS_1


"Bisakah kamu ajarkan teman kamu untuk sopan dalam bertindak? Dia seenaknya menyebarkan foto aku ke grup temannya!" Kata Alex. Arnila yang membacanya sebal karena bukti yang Rita perlihatkan tadi.


"Kamu sendiri? Menurut saya kamu juga tidak punya sopan santun. Jadi buat apa kamu mengomel soal kesalahan Ney?" Tanya Arnila.


Rita dan Ney masih mengobrol jadi tidak memperhatikan Arnila yang sibuk chat.


"Maksudnya?" Tanya Alex kebingungan.


"Kamu melanggar privasi orang termasuk Rita, hack semua akunnya bahkan sampai email. Menurut saya, seperti apa sih didikan orang tua kamu sama anaknya sendiri? Jangan banyak mengoceh deh padahal kamu juga sama saja!" Kata Arnila. Setelah itu Alex tidak membalas. "Rita setahu aku tidak pernah sampai hack akun siapapun, tapi kok kamu kurang ajar ya? Pacarnya juga bukan baru sekedar teman, tapi kelakuan sudah berlebihan. Mau orang nyebar kamu yang privat, lihat dulu kelakuan kamu seperti apa pada orang lain!"


Di sisi lain Alex merasa sangat bersalah ternyata Rita menceritakan seperti apa kelakuannya. Dan dia menghukum tangan dan rasa ketidakpercayaannya dengan menyumpahi dirinya sendiri. Tentu, dia sedang bekerja dan pemandangan dirinya yang tiba - tiba marah dan menyumpahi sudah jadi makanan sehari - hari pegawainya. Setelah dirasa cukup, Alex bermaksud meneruskan pekerjaan dan mendapati beberapa pegawainya memandanginya.


"WHAT DO YOU SEE? BACK TO WORK!!!" Teriaknya menggema sambil menggebrak mejanya. Dan semua pegawai langsung kabur begitu saja meninggalkan Alex sendirian dalam kantornya. WUSH... tidak ada seorang pun dalam ruangan kerjanya. Mereka memilih kerja di lapangan daripada satu ruangan dengan Alex.😂😂😂


Kembali ke tempat mereka bertiga, Arnila mengirimkan chat kepada Rita yang masih mengobrol dengan Ney. Debat pastinya dan bercerita tentang hal lain. Arnila lalu menyimpan ponselnya dan menunggu Rita memeriksanya. Tapi Rita tidak memeriksa ponselnya dan itu membuat Arnila untuk memberikan kode.


"Tidak ada chat lagi dengan Alex? Kali saja dia bertanya lagi," kata Arnila.


"Tunggu sebentar," kata Rita lalu mengambil ponselnya dan melihat Arnila menchatnya. Ney memperhatikan siapa yang masuk lewat pantulan kaca mata Rita, dia bisa tahu. Rita tahu makanya langsung memasukkan lagi ponselnya.


"Tidak ada," jawab Rita tanpa memperlihatkan perilaku mencurigakan.


"Tapi aku lihat itu ada yg masuk di chat lain deh. Siapa?" Tanya Ney penasaran.


"Chat keluarga paling ibu. Nanti saja bacanya paling suruh beli roti," kata Rita dengan santai.


"Oh." Kata Ney dia memang selalu kepo banget siapa yang chat Rita. Dulu tidak begitu tapi semenjak Rita mulai sibuk kuliah dan dia menyadari Rita juga jadi jarang mengajaknya bermain bersama, apalagi kakaknya sering melihat Rita jalan dengan temannya yang lain, membuat Ney agak merasa kurang dibutuhkan.


Waktu Ney membuka ponselnya, Rita melirik ke Arnila dan memberitahunya dia akan membacanya kalau Ney tidak ada di dekatnya. Arnila mengangguk tanda mengerti. Ada yang harus Tita ketahui dan mewaspadai kelakuan Ney yang lain. Agar ke depannya Rita bisa lebih berhati - hati.


"Intinya, mulai hati - hati kalau mengobrol di WA soal Alex. Aku juga sudah marah sama dia sekaligus aku minta untuk berhenti chat saja kalau dia masih terus begitu," kata Rita.


"Yakin? Kamu bilang begitu? Terus dia bilang apa?" Tanya Ney. Daripada Arnila memang Ney yang paling agresif kalau sudah tentang Alex. Masih ada rasa tapi sayangnya tidak tercapai.


"Ya dia katanya karena takut kan punya trauma dulu. Mantannya sih kata aku semuanya dia begitu, tapi aku bilang kita masih teman, buat apa kamu sampai hack sana sini? Saya bukan istri kamu, pacar juga saya sudah tidak mau. Pacaran sama kamu ribet dan saya menyesal. Kamu bilang saya langgar privasi kamu, kapan? Yang ada kamu yang sudah melanggar undang - undang privasi orang. Aku tidak mau lagi punya hubungan lebih sama kamu, soalnya masih berteman saja sudah seribet ini. Kalau kamu hack apapun yang aku punya, itu artinya kamu tidak punya rasa kepercayaan sama orang lain. Kalau begitu, buat apa kamu chat atau punya hubungan sama orang?" Kata Rita menjelaskan rasa ketidaksukaannya.


"Iyalah. Kalau dia sampai hack akun email kamu, berarti ada rasa ketakutan yang besar. Kepo banget ya seperti seseorang, sepertinya takut itu email dari orang lain makanya dibuka," kata Arnila yang memberi kode matanya ke arah Ney.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2