ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(245)


__ADS_3

Di tempat lain, Ney merasa ada yang membicarakannya tapi tidak tahu siapa karena dia tidak bisa melihatnya dan itu bukan Rita. Rencananya tepat seperti dugaan Rita, dia sudah bersiap mau pergi ke rumahnya hany untuk berbasa basi lalu meminta cokelat padahal dia sudah mendapatkan bagiannya. Tapi merasa masih kurang dan mengklaim dirinya sudah banyak membantu Rita jadi wajar meminta lebih. Dia dapatkan banyak dari Syakieb tapi tidak setara harganya yang diberi oleh Alex. Dirasa sudah rapih dengan tampilan dandanannya yang tidak oke, dengan penuh super pede.


"Kamu tidak telepon dulu? Siapa tahu dia tidak ada dirumah," kata ibunya yang berlalu menuju dapur.


"Ada kok dirumah aku kan tahu hari ini dia libur," katanya sambil memakai sepatunya yang baru.


"Tetap saja lebih baik kamu telepon dulu deh! Mama tidak yakin Rita hari ini diam di rumah," kata ibunya tanpa melihat Ney dibelakang.


Ney mendengarkan lalu pergi keluar rumah, di jalan dia memang memikirkan apa yang dikatakan ibunya karena tumben juga ibunya tiba - tiba mengatakan itu.


Kembali ke rumah Rita, sekitar jam 9 dia sudah siap hendak pergi bersama teman - temannya. Sedikit merias diri yang dimana Komariah dan Diana juga ikut berhias dengan menggunakan kosmetiknya. Rita tidak pernah pelit kalau teman - temannya meminta sesuatu, kalau dia punya sesuatu yang mereka inginkan hanya cukup bicara saja. Rita akan senang hati memberikannya tidak hanya pada mereka tapi kepada adik dan kakaknya.


Jadi kalau yang seperti dikatakan oleh Ney soal dia pelit, itu keluar jalur banget karena Rita tidak seperti itu. Kemudian Rita mendengar ponselnya berbunyi dan melihat Ney yang meneleponnya. Rita nyengir melihatnya dan menunjukkannya pada mereka.


"Jangan diangkat deh biar dia yang menelepon ke rumah dan bertanya pada ibu kamu. Sebel banget! Atau aku saja yang angkat?" Tanya Kokom. Diana dan Rita berpandangan lalu boleh juga..


Komariah lalu mengangkat ponsel Rita sambil berkacak pinggang dan wajah yang jutek. Tapi akhirnya keluar suara yang biasa๐Ÿ˜€.


"Assalamualaikum," kata Komariah.


"Eh, walaikumsalam. Lho ini nomornya Rita kan?" Tanya Ney. Dia melihat nomor Rita ya memang dia fotonya, foto anime.


"Iya ini ponselnya Rita. Rita lagi diluar kamar, ini sama siapa? Ada pesan?" Tanyanya. Saat itu dia pasang Speaker supaya terdengar. Sebenarnya Rita sibuk memakai kosmetik.


"Oh, ini sama siapa? Kan saya duluan yang menelepon masa harus saya yang jawab?" Tanya Ney dengan suara juteknya.


"Lho, kan saya yang angkat. Kalau tidak mau beritahu, ya saya tutup," kata Kokom yang tidak mau kalah. Diana dan Rita tertawa tanpa suara.


Akhirnya ditutup dan mereka tertawa keras. "Ya ampun," kata Rita memasang lipstik ke bibirnya.


"Ih, memang seperti itu Rita, orangnya? Ya kalau tidak mau bilang siapa dia, ya jangan menelepon," kata Kokom yang membetulkan kerudungnya.


Diana tertawa juga Rita. Kocak! "Kalau dia menelepon, giliran aku. Aku mau tahu seperti apa suaranya," kata Diana. Lalu Komariah menyerahkan ponselnya dan menunggu.


"Iya begitulah. Kalian baru dengar suara ya belum kejadian jalan bareng sama dia beberapa hari. Tidak secapeknya aku tapi untung aku masih punya teman - teman yang lebih lebih lebih dari dia," kata Rita tertawa.


"Lipstiknya bagus uy," kata Kokom yang membenturkan tangannya.


"Neh neh neh, Diana mau juga? Pakai lah! Bertiga dapat payung tar," kata Rita. Diana tertawa tapi juga memakai lipstiknya.


"Orangnya sama dengan kamu tidak? Suka berdandan?" Tanya Komariah yang bergantian duduk di kursi meja rias.


"Jauh! Lihat saja nanti kalau dia benar datang ya. Demi ini!" Tunjuk Rita ke cokelatnya. Diana dan Komariah menggelengkan kepalanya. Benar saja Ney kembali menelepon. Lalu Diana berdehem dan mengangkatnya.


"Assalamualaikum," kata Diana dengan ramah.


"Ini siapa lagi sih? Dari tadi susah banget ke Rita?" Tanya Ney yang tidak sabaran.

__ADS_1


"Ini temannya Rita. Kamu siapa ya? Ada pesan? Rita sibuk moles wajahnya," kata Diana sambil melihat Rita yang makan keripik.


"Oh, beda ya sama yang tadi. Suaranya jutek banget, kalau kamu ramah banget!" kata Ney yang disusul Diana menahan tertawa. Kokom mau maju tapi dicegah oleh Rita dan menaruh jari telunjuknya di mulut dan mengkodekan Kokom untuk tenang.


"Iya karena kamu tidak mau memberitahukan siapa. Kan teman saya yang mengangkat dimana - mana juga yang menelepon yang menyebutkan identitas. Ada pesan?" Tanya Diana tanpa tidak mau mendengar panjang lebar.


"Oh, aku hanya mau tahu Rita hari ini ada rencana keluar? Soalnya aku mau datang ke rumah," kata Ney dengan suara manisnya.


"Kita mau keluar tadinya Rita mau diam di rumah tapi karena kita banyak tugas jadi saya dengan teman satu lagi, mendatangi rumahnya," kata Diana dengan mulutnya yang mengukir kata, 'Ngomong terus,' Mereka berdua menahan tawa tanpa suara.


"Tugas apa sih? Penting banget ya. Lama tidak? Soalnya aku ada urusan sama Rita nih kalau bisa jangan lama - lama," kata Ney yang sadar kalau Rita ternyata punya rencana lain.


"Maaf ya kita mau pergi. Walaikumsalam!" Kata Diana lalu menutup ponselnya, mereka tertawa bersamaan. "Dengar kan? Suara kamu jutek katanya hahahaha,"


"Ya bagaimana tidak jutek? Nadanya dia saja seperti itu. Maksa banget ya suruh kita jangan lama - lama," kata Komariah.


"Melelahkan sama dia tuh. Niatnya jelas kan? Untung Alex juga tidak suka," kata Rita selesai berhias. Natural saja tidak perlu menor seperti badut.


"Ada - ada saja kamu teh. Punya teman diluar jalur, hadeuuuh! Yuk sudah?" Ajak Komariah melihat semuanya sudah siap.



"Nyok!" Balas Rita dan mereka keluar kamar.


"Itu makanan tidak dimasukkan?" Tanya Diana.


Diana dan Komariah tertawa dan saat mereka keluar kamar, Ney meneleponnya lagi tapi masih belum mau Rita angkat. Tapi tidak lupa Rita juga sudah meng-off-kan ponselnya tanpa suara.


"Beli baso tahu dulu kan? Aku sengaja belum makan hehehe," kata Rita sambil memakai sepatunya.


Tas Komariah lumayan penuh karena membawa beberapa makanan Rita untuk dimakan bersama. Komariah memang yang paling suka bawa makanan kalau Rita malas๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Diana juga tasnya penuh tapi kebanyakan air kemasan dan permen. Tas Rita penuh dengan buku mereka berdua๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


"Siti Nurhalimah mau ikut katanya," kata Komariah melihat ponselnya.


"Ikut sajalah banyak lebih seru kan," kata Rita tersenyum. Memeriksa ponselnya dan sudah ada 8x Ney menelepon, rajin banget! "Bu, kita berangkat dulu ya! Pri, mau bertemu lagi tidak?" Tanya Rita.


Prita kemudian melirik dengan senang lalu memberi tahu kedua temannya. "Wah, boleh! Kamar bersih?"


Rita menampakkan ekspresi datar ke arah adiknya. "Keripik masih ada, sisanya aku sudah kunci brankasnya," Rita mengeluarkan kuncinya. "Apa yang ada di luar lemari, ambil deh. Tekwan jangan dihabiskan!"


"Korea lagi?" Tanya Karla antusias. Prita lalu mencubit pipinya temannya itu.


"Korea?" Tanya ibunya yang muncul dari belakang.


"Maksudnya teh Rita mau cari film Korea lagi?" Kata Karla membenarkan kalimatnya yang berbahaya.


"Oh..." kata ibunya.

__ADS_1


"Bu, tekwannya jangan dihabiskan ya. Pergi dulu! Assalamualaikum!" Kata Rita yang menyalami tangan ibunya, begitu juga dengan kedua sahabatnya. Lalu setelahnya keluar pintu dan Rita memeluk mereka dari belakang, alhasil mereka berjalan miring - miring bersama.


Teringat soal Ney, Rita menurunkan kedua tangannya dan kembali ke rumah. "Ada yang kelupaan?" Tanya Prita yang sudah biasa.


"Haish! Bukan. Bu, nanti kalau ada telepon dari Ney bilang saja kalau aku pergi ke Ciwalk ya bersama teman - teman," kata Rita sambil menyengir.


"Iya! Nanti dia pasti mau datang," kata ibunya yang memakan tekwan.


"Supaya dia datang hehehe!" Sudahnya Rita menutup pintu dan pergi keluar.


"Sudah?" Tanya Diana sambil berdiri.


"Yuk!" Kata Rita sambil cengengesan. Mereka lalu mampir dulu ke warung baso tahu dan memang harganya murah banget. Mereka makan juga disana, hanya melihat sahabatnya senang ditraktir olehnya sudah cukup dan mereka juga sama sekali tidak keberatan ditraktir baso tahu yang murah. Mereka lalu menaiki angkot dan masih mengobrol dengan seru, Ney sudah tidak menelepon lagi pada Rita. Ternyata dia memang menelepon ke rumahnya dan Prita lah yang mengangkat teleponnya dan menjawab sesuai yang kakaknya beri tahu.


"Beritahu ke Rita kalau Ney tadi menelepon. Kenapa anak itu bisa tahu ya? Mungkin sudah diperkirakan paling juga ke sini mau minta cokelat lagi," kata ibunya tertawa.


Di angkot Rita menerima chat dari adiknya dan memperlihatkannya pada mereka. Ney menelepon lagi, "Ri, kamu kemana sih? Aku telepon susah banget nyambungnya! Dari tadi diterimanya sama teman - teman kamu!" Katanya yang lega akhirnya Rita mengangkatnya.


Diana dan Komariah berpindah tempat duduk dan mendengarkan apa yang dikatakan Ney. Meskipun tidak memakai speaker, tapi suaranya jernih.


"Oh, maaf suaranya tidak terdengar karena aku tadi lagi ada perlu di luar kamar dan sedang berdandan. Kalau diganggu, suka beda sebelah. Kenapa?" Tanya Rita menahan tawa.


"Oh, itu benar teman kamu, aku kira bohongan. Aku rencana mau main ke rumah kamu," kata Ney yang memang sudah di angkot.


"Masa bohongan? Memangnya kamu. Aku lagi di jalan nih mau main sama mereka terus mengerjakan tugas kuliah. Lain kali saja ya kamu main ke rumahku," kata Rita mengedipkan sebelah matanya.


(Bahasa mulut)


"Maksa banget sih," kata Diana yang tidak suka.


"Memang begitu," kata Rita yang masih mendengar ponselnya.


"Yaaahhh kok begitu? Aku sudah di angkot nih! Aku main sama siapa dong?" Tanya Ney dengan suara yang agak merajuk. Rita memperagakan wajahnya yang jutek.


"Ya kamu main sama teman kamu saja yang lain katanya punya banyak teman. Ya sudah sama mereka saja, aku juga main sama teman - teman aku," kata Rita sambil memakan permen yang Diana kasih.


"Kamu lama tidak? Aku tunggu ya dirumah," kata Ney yang tidak mempedulikan apa yang Rita katakan.


"Aku kalau main sama mereka jarang lihat jam. Ya silakan saja kalau kamu mau menunggu di rumah, disana ada Prita dengan kedua sahabatnya jadi kamu paling mengobrolnya sama mereka sih," kata Rita.


"Hah?! Ah malas! Kamu mau kerjain tugas di mana sih? Berisik banget suara belakang!" Kata Ney yang masih tetap agak memaksa agar Rita kembali pulang.


"Iyalah berisik orang ini didalam angkot bukan pesawat," Rita dan yang lainnya menertawakan.


"Tiasa neng janteun pesawat," kata supirnya yang mendengar omongan Rita.


"Enya tiasa. Tapi ngapungkan 20 taun deui pan," balas Komariah. Lalu mereka semua tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2