ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
478


__ADS_3

Ney semakin tidak bisa menerima bila kemungkinannya Alex berasal dari keluarga paling berkuasa di negaranya. Orang paling penting dan memiliki kekuatan besar ( maksudnya bukan kekuatan ghaib ya. Seperti contoh anaknya presiden kita, semacam itu ).


Ney mengusap kepalanya dan berpikir bahkan bicara sendiri dalam kamarnya. Membuat suaminya keheranan dan mendengarkan komat kamit nya.


"Kalau benar perasaan aku, Alex itu kemungkinan memiliki kekayaan yang tidak terbatas alias unlimited! Kalau... dia sampai jadi dengan Rita? Gilaaa si Rita hidupnya bergelimpangan harta dong," kata Ney sendirian memegang kepalanya.


Dins terus mendengarkan dengan wajah yang kesal karena Ney terus saja membicarakan keuntungan.


"Dan hidupnya akan lebih makmur semakin berjaya!? Sial! Tahu begini, aku akan lebih banyak membela dia bukan ikut merundung," kata Ney menyesal yang paling dalam.


Dengan nafas yang tertahan, suaminya lalu masuk dan menatap istrinya. "Gelimpangan apaan sih? Kamu dari tadi bicara sendiri," kata suaminya duduk di atas kasur.


"Eh, sejak kapan kamu di situ? Tidak. Aku... hanya sedang berpikir soal Rita," kata Ney merendahkan suaranya.


Dins menghela nafas. "Rita lagi Rita lagi kamu maunya apa sih? Mengganggu dia terus. Yank, dia tidak pernah lho kepo sama kehidupan kamu bahkan saat kamu pacaran sama aku," kata Dins menatap istrinya.


"Iya tahu kok, dia mana ada mikirin aku," kata Ney cemberut.


"Iya lalu? Sampai kapan sih kamu bisa puas mengganggu Rita?" Tanya suaminya.


"Ya..." kata Ney yang skak mat kalau suaminya ikut masuk ke pikirannya.


"Ya sudah stop lah, kamu nih gemar sekali kepo sama kehidupan orang. Lalu maksud kamu tadi apa aku dengar Rita bergelimpangan harta segala," kata suaminya ingin tahu.


Pada akhirnya Ney menceritakan semuanya pada Dins. Dengan penuh kobaran Ney tidak setuju bika Rita dengan Alex.


"Lho, kok kamu malah tidak setuju? Teman sejati itu selalu mendukung bukan menjatuhkan deh," kata Dins mengerutkan alis matanya.


"Ya karena si Alex itu bukan laki-laki yang baik untuk Rita, say. Aku tahu betul bagaimana Rita selama kenal dia, Alex itu sama sekali tidak cocok," kata Ney.


"Masa sih? Kalau tidak cocok tidak mungkin sampai 2 tahun lho mereka ada kontak. Kamu kali yang cemburu karena dia kaya kan," tebak suaminya menancap ke jantungnya.


"Ih, bukan kook," kata Ney membela diri.


"Halaaah jujur saja. Kamu kan matre kalau Rita lihat orang tuh ke hatinya bukan luar. Status bukan hal yang penting Ney. Apa masalahnya kalau Alex ini lebih memilih Rita. Apa urusan kamu?" Tanya suaminya.


"Kok kamu begitu sih, say?" Tanya Ney cemberut.

__ADS_1


"Dari cerita kamu, aku audah bisa menebak. Kamu merundung dia karena iri hati sejak awal kenal kamu sudah mencap Rita sebagai budak. Aku tuh heran sama kamu, Rita baik anaknya malah kamu sering injak," kata Dins.


"Bukan begitu... aku... hanya..." kata Ney sulit menemukan kata lain.


"Soal Rita dan Alex ini, kamu lepas tangan deh. Menurut aku ya kamu dengan siapapun tidak bisa mengangkat mereka lebih baik. Yank, kamu terlalu penuh dengan iri hati dan dengki. Teman aku saja kamu kata-katai padahal dia niatnya membantu kamu soal pekerjaan. Dia sampai sakit hati sama kamu," jelas Dins.


"Erin? Sakit hati sama gue. Serius?" Tanya Ney yang kaget.


"Iya. Dan... yah, jangan berharap deh kamu bisa melamar di cabang PT. Teko dimana pun berada. Karena... kamu sudah mengatai dia," kata Dins menghela nafas.


Ney terdiam, dia sudah siap dengan banyak lamaran ke sana ternyata Erin adalah anak dari Direktur di sana. Betapa bodohnya kamu, Ney! Hadeuh!


"Masa sih aku sama sekali tidak bisa melamar ke sana," kata Ney.


"Ya coba saja datang nanti. Tapi kamu pasti akan dipermalukan karena kamu mempermalukan dia di hadapan orang banyak Ney," kata Dins.


Ney pun kemudian lemas tidak bertenaga dia pikir Dins akan selingkuh tapi ternyata dia sedang dipanggil untuk mencarikan posisi yang kosong.


"Dari sekian banyaknya pengalaman yang aku lihat soal kamu dengan orang lain, kamu harus lebih bisa mengendalikan mulut dan pikiran kamu. Coba lebih bisa menyesuaikan diri bukan menduplikasi kan kamu sebagai orang lain," kata suaminya memberikan saran.


"Kamu kok tahu semua sih?" Tanya Ney akhirnya bertanya.


"Tahu. Dari ini," kata Dins mengambil sesuatu dari lacinya. Yang ternyata gigi Ney yang parah atau copot mendadak.


"HWAAAAA!!" Teriak Ney lalu bercermin benar saja gigi belakangnya copot secara mendadak.


"Aku tahu kalau kamu berbohong atau selingkuh, suka dengan orang, gigi kamu pasti copot atau patah. Nih sudah ada 6," tunjuk Dins.


Ney terdiam lalu terduduk.


"Kamu masih muda kita belum punya anak, masa sudah jadi nenek-nenek?" Tanya Dins mencubit pipi kanannya.


"Gigikuuuuuu," kata Ney agak miris. Eyyy ternyata ada efek menyeramkan bila Ney berbohong atau sampai membuat cerita tidak sesuai kenyataan. Sampai selingkuh? Ya giginya bisa goyang dan copot sendiri. Hukuman instan tampaknya.


Giginya secara acak copot dan tidak terasa sakit. Entah di waktu kapan Dins menemukannya. Sejak itulah dia selalu mencari gigi Ney yang copot bila mengatakan sesuatu. Kebanyakan bohong sih.


"Intinya ya kamu asli iri hati tingkat dewa sama Rita. Lalu sekarang kamu berusaha menghalangi perjalanan cintanya, Ney itu tidak baik. Kalau kamu memang benar sahabatnya, dukung dia. Teman sejati itu tidak pernah ada status, uang atau bahkan kedudukan, semuanya datar. Kalau kamu masih berpikir soal ketiga itu, kamu memang bukan teman yang tepat untuk Rita," kata Dins memberikan obat untuk giginya.

__ADS_1


Ney diam dia tidak menangis atau bahkan sedih, dia hanya sesekali mengoleskan krim untuk lubang giginya. Lalu memainkan jarinya.


"Ya aku merasa dia banyak menyembunyikan sesuatu," kata Ney.


"Yang aku lihat tidak tuh. Itu kan kamu yank waktu aku jalan sama kamu, kamu sama sekali tidak pernah ada cerita soal Rita deh hanya Arnila. Makanya aku heran apa arti Rita bagi kamu," kata Dins.


Ney tidak menjawab. Sulit dikatakan karena memang dari hatinya tidak ada tempat untuk Rita. Tapi sebaliknya dia ingin Rita menempatkannya dengan istimewa. Yare yare.


"Wajar ya kata aku karena perlakuan kamu yang dulu begitu sampai sekarang. Allah beri dia kebahagiaan dan cinta yang mewah, karena dia sangat sabar menghadapi kejelekan kamu," kata Dins.


"Tapi kan tetap aku ini..." kata Ney yang tidak mau kalah.


"Kalau kamu mau dihargai orang, cobalah hargai mereka dulu bukan kamu. Kalau kamu mau diterima, lihat dulu apa kamu bisa menerima mereka juga? Bila jauh dari status kamu, atau setara atau paling atas sekalipun. Pikir!" Kata Dins menekan dahinya.


"Apaan sih," kata Ney menghempaskan tangan suaminya lalu merapihkan rambutnya.


"Kamu yang sampai sekarang ya tidak ada perubahan. Dan Rita ataupun Arnila yang sekarang kamu lihat, itu adalah hasil dari perlakuan kamu yang meremehkan, menjelekkan bahkan mencemooh. Aduh Ney, kamu itu miris tahu tidak sih," kata Dins dengan jujur.


"Aku bisa kok terima Rita," kata Ney meyakinkan Dins.


Dins menggeleng. "Karena dia dengan Alex kan? Dulu bagaimana? Ada kamu terima? Sekarang saja kamu rundung dia berkata jahat, sakit Ney dia. Sama dengan Erin tuh ucapan kamu itu bikin orang sakit, aku juga sama," kata Dins.


"Rita saja yang tidak mengerti soal aku," kata Ney.


"Ada kamu buka diri sama dia? Kalau kamu terima Rita apa adanya perundungan itu tidak akan pernah ada Ney. Harusnya kamu bela dia kok malah bela orang asing hanya karena dia banyak uang?" Tanya Dins.


"Kepribadiannya Rita itu tidak akan diterima sama keluarga Alex," kata Ney menjelaskan.


"Kamu ini siapa sih? Ibunya? Pembantunya? Adik atau kakak juga bukan. Jangan sok tahu Yank. Kamu yang rugi nanti. Urusan dia diterima keluarga Alex atau tidak, bukan urusan kamu. Itu biar Rita yang hadapi. Tidak heran ya yank dia sampai berkali-kali blokir kamu," kata Dins menunjukkan akun Pacebuk Ney tidak ada dalam daftar Rita.


"HAH!?" Teriak Ney memeriksa semua media sosialnya. Rita memblokir semua sampai email Ney juga.


Sudah kena blokir semua! Ney memukulkan kepalanya ke kasur berkali-kali. Kegemaran Rita adalah blokir orang tentu yang toxic dan sangat mengganggu. Dins menghela nafas sedikit demi sedikit teman-temannya pun keluar dari akunnya.


Bukan hanya dengan Rita, dengan semua orang di tempat kerja dulu, kuliah, bahkan tempat kegiatan. Selaluuuu saja ada yang bermasalah dengannya. Dia bisa se sompral banyak teman orang asing. Ya memang ada tapi jarang bicara, orang warga Indonesia saja banyak yang minggat dari akunnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2