
Fernando pernah mencari tahu tapi Alex menutup semua akses. Semua penjaganya keheranan kenapa Alex begitu tertutup mengenai perempuan yang sedang didekatinya. Mereka meminta Fernando untuk menyelidikinya tapi gagal.
Sistem yang Alex punya sudah dibuat rumit oleh pekerja lainnya, tentu saja dengan sebuah ancaman mereka akan dipecat.
"Apa Anda akan membuat hamil?" Tanya Fernando membuat Alex memuntahkan makanannya ke sisi meja lain.
Alex memandang marah pada penjaganya itu, kobaran api ter tampak jelas di belakang punggungnya.
Kedua pelayan yang ada disana berusaha menahan tawa. Fernando terlalu polos bila bicara, agak mirip Rita.
"Anda tidak dengar? Tampaknya perempuan yang dikenal Tuan sangat galak jadi tidak mungkin bisa semudah itu hamil," kata salah satu pelayan membuat Alex mengangguk.
"Ah," kata Fernando mengerti lalu dengan wajahnya yang datar menuangkan minuman jus mangga untuk Alex.
Pelayan lalu membersihkan bekas muntahan makanan yang tidak sengaja Alex keluarkan.
"Kamu itu kalau bicara pikir dulu. Aku kenal dengannya bukan untuk niat jelek. Ya kalau bisa hamil sih aku lebih senang lagi tapi tidak! Aku ingin berhubungan dengannya secara normal dan tanpa ada sejenis itu," jelas Alex dengan tenang lagi.
"Syukurlah, Tuan. Saya yakin perempuan itu dari keluarga yang mengerti aturan agama," kata Fernando.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Alex menatap penjaganya.
"Saya sudah disini sejak Anda masih usia balita. Kalau perempuan itu tidak baik Anda pasti sudah terbang ke tempatnya dan bawa pulang bayi kan," kata Fernando.
Yah, kelakuan buruk Alex tentulah penjaga besinya itu sudah tahu. Namun Fernando selalu berdoa bila suatu hari nanti Alex bisa sadar kalau semua perbuatannya sudah melenceng.
"Ah, benar juga hehehe," kata Alex tertawa lalu makan. Tiba-tiba dia terdiam. "Memangnya kamu pikir aku ini penebar bibit apa!?" Tanya Alex dengan banyaknya makanan dalam mulutnya.
"Tidak, Tuan. Kalau makan jangan sambil bicara," katanya menundukkan kepalanya.
Kedua pelayan pun menahan tawa mendengar pembicaraan aneh mereka.
"Oh iya bukankah ada pelayan yang muda? Kemana dia?" Tanya Alex.
"Anda tertarik padanya? Menurut saya lebih baik Anda dengan perempuan yang sekarang meskipun galak sampai Anda koma, tapi tahu tata krama," saran Fernando.
Alex menghela nafas. "Aku tidak tertarik dengan dia hanya pemasaran biasanya dia terlihat mencari alasan untuk mengantarkan makanan," kata Alex.
"Oh Tuan dan Nyonya menyuruhnya bekerja di rumah belakang, Tuan," kata pelayan menjelaskan.
Alex mengangguk. "Baguslah. Dia pernah menghapus nama perempuan itu dari ponselku. Untung aku sudah simpan datanya," kata Alex menghabiskan minumannya.
Fernando melongo juga kedua pelayannya. Mungkin saja Ibunya Alex juga mengetahui itu makanya dia dipindah kerja.
Setelah selesai, mereka kemudian meninggalkan Alex agar bisa bebas. Fernando menghela nafas pelayan muda itu ternyata berusaha mencari tahu soal perempuan kesayangan Alex. Lagi-lagi gagal juga, agak aneh!
Alex sudah kenyang dan senang membaca notif dari Rita.
"Lagi apa, wei?" Tanya Rita.
Alex tersenyum lebar hanya dengannya, dia merasa bisa bebas berekspresi. Alex lalu mengirimkan foto tadi saat dirinya sarapan. Rita mupeng melihatnya.
"Bagaimana? Kamu sarapan apa?" Tanya Alex tertawa kesenangan memikirkan wajah Rita yang ingin.
Melihat dirinya sarapan biasa, Rita tidak mau memfotonya cukup jelaskan saja. "Biasa saja. Sarapan kamu kelihatannya lebih enak," kata Rita.
"Ayo kesini, kamu bebas mencicipi sarapan dan makanan yang ada di rumah," kata Alex.
Rita yakin pasti Alex sedang berpikiran negatif nih. "Tidak usah," katanya membuat Alex terjungkal.
"Kenapaaa sih?" Tanyanya yang naik ke kasurnya.
"Bahaya kalau berkunjung ke rumah kamu. Harus banyak orang jangan sampai sendirian," kata Rita.
Alex tertawa keras. "Mikirnya negatif terus ya," katanya.
"Daripada kecolongan. Tidak perlu aku kan tinggal buat sendiri saja," kata Rita senang.
"Curaaaaang," kata Alex manyun. Dia ingin dimasakin lagi makanan oleh Rita jadi ingat yang di episode sebelumnya. Meski akhirnya semua makanan diminta kakaknya dan saudaranya.
"Aku kan bisa masaaaak," kata Rita tertawa puas.
"Sebaaaaaal!! Masakin lagi dong," kata Alex manyun.
__ADS_1
"Ayo sini ke Bandung, nanti aku masakin," kata Rita sengaja agar Alex mau.
"Huh! Hari ini kamu datang lagi ke sana untuk ruqyah?" Tanya Alex. Dalam hatinya ingin dataaaaang tapiiii banyak kerjaaaaaan.
"Iya nanti siang," kata Rita menghabiskan sarapannya.
"Kalau bisa..." kata Alex yang masih tidak setuju Rita di ruqyah oleh laki-laki.
"Koko yang ruqyah. Aku pasiennya, bukan kamu!" Balas Rita bodo amat.
"........." Alex tidak bisa berkata apapun, Rita tidak mengerti maksud dari keberatannya. Baru kali ini Alex mendapati berkenalan dengan perempuan yang sama sekali sulit dibuat mengerti.
Rita juga sarapan sampai perutnya kenyang lalu mengerjakan pekerjaannya sebagai admin sekolah.
"Lalu apa yang terjadi saat kemarin kamu chat dengan Ney?" Tanya Alex iseng.
"Apalaaaaaa seperti kamu tidak tahu saja. Jangan pura-pura pasti kamu ngintip kan. Buat apa iseng tanya?" Tanya Rita langsung ke sasaran.
"Duuuh, kenapa dia bisa tahu sih? Aku kan tidak memencet apapun. Apa orang kalau diawasi memang jadi sensitif ya?" Pikir Alex menggaruk kepalanya.
"Aku sudah tidak begitu lagi kooo," kata Alex.
"Bohooong," balas Rita cepat lalu mengerjakan tugasnya.
"Sedikit," kata Alex.
"Tuuuuuh kaaaaan," balas Rita lagi, mulaaaai bohong lagi.
"Terus kamu sendiri ada chat dengan Ney?" Tanya Rita.
Alex lalu menceritakannya semua tanpa ada yang dirahasiakan. Rita menyimak dan kaget juga bahwa Alex menghubungi Ney lewat akun Pacebuk nya.
"Kamu serius nanya begitu ke dia?" Tanya Rita yang mengacungkan jempol.
"Iyalah, aku kan ingin tahu kebenarannya apakah benar yang diucapkan laki-laki itu dan oleh yang ibu-ibu. Jadi aku hubungi saja kelihatannya dia terkejut deh," kata Alex.
"Wah! Dia pasti senang tuh kan dia fans berat kamu," kata Rita.
"Lah iya, kamu yang dibela sama dia orang yang BARU DIKENAL. Daripada yang sudah jelas kenal sama dia, aku yang DIRUNDUNG gara-gara dia PERCAYA sama orang asing. Kan sarap," kata Rita sengaja.
Alex tahu Rita masih ingat bagaimana sakitnya dikhianati teman sendiri yang sudah lama dia percayai. "Maaf," ketik Alex.
"Kamu senang kan? Iyalah. Berhasil tuh tipu muslihat orang kaya. Dia tahu kamu kaya, dia takut sama UANG kamu. Apanya yang demi teman! Pretttt," kata Rita mengomel lagi.
Alex memainkan jari tangannya, dia merasa sangat tidak enak. Seharusnya dia memakai cara lain untuk memperlihatkan Ney seperti apa. Malah jadinya Ney juga terus mendorong Rita sampai jatuh.
"Aku juga tidak enak. Sudahlaaaaa aku kan sudah minta maaf. Aku juga sudah sok tahu menuduh kamu macam-macam," kata Alex.
"Nanti juga begitu lagi. Karena kamu orang kaya dengan mudahnya membeli orang lain kan," kata Rita.
"Tidak. Aku tidak bermaksud begitu, Rita. Sungguh! Aku juga tidak tahu kalau Ney sampai berbuat begitu. Aku kira tadinya kamulah sebagai teman yang jahat menganggap dia begitu lalu kamu tendang seenaknya," kata Alex.
"Orang-orang toxic macam you dan mereka berdua itu patut ditendang. Mengerti? Kalian cocok jadi temenan bertiga, saling memberi racun mati saja semuanya!" Kata Rita.
Alex diam.
"Aku heran ya seberapa kerasnya aku memperingati kamu soal Ney, tetap sajaaaa aku yang jahat. Heran. Aku tidak mau kamu jatuh ke lubang yang sama, Alex. Aku tidak berharap apapun sama kamu. Aku hanya ingin kamu hati-hati sama dengan tujuan kamu, memperingati aku soal Ney," kata Rita.
Rita kemudian mandi dan ganti baju karena nanti siang dia akan berjanjian di rumah Ratih lagi.
"Iya. Jangan marah lagi. Aku tidak akan ikut campur atau ingin tahu urusan kamu dengan Ney," kata Alex.
"Tidak. Kamu tukang bohong, aku tahu itu. Jangan berjanji lagi, aku tidak percaya sama kamu. Aku sudah lelah, berkata benar pun kamu anggap jelek," kata Rita yang sudah berganti baju lalu melanjutkan tugasnya. Sedikit lagi.
"Oke.. Jadi, beritahu aku soal Ney yang kamu tahu," kata Alex untuk mencari tahu ada celah yang bisa memperbaiki semuanya.
Rita menyelesaikan dulu tugasnya lalu membalas Alex. Alex tidak keberatan karena Rita memang tengah sibuk. Alex enggan posesif lagi, sikapnya itu malah membuat hubungan dengan Rita semakin buruk apalagi Rita memblokirnya berkali-kali.
Rita ceritakan segalanya dia sudah tidak peduli bila Alex masih saja membela Ney karena dalam hidupnya pun, tidak ada yang membelanya. Dia memutuskan dan berjalan sendiri.
Dari awal bagaimana dia kenal dengan Ney sampai dia berulang kali dikecewakan. Soal curhatan keluarganya, teman, atau bahkan dirinya sama sekali tidak pernah digubris oleh Ney. Dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri, benar apa kata Ua bahwa Ney tidak memerlukan orang lain.
Alex paham sekarang yang dia pikirkan sangat jauh dengan yang dipikirkan oleh Rita. Dirinya memijat kepalanya, dia sudah sadari dan selalu ingat bahwa kemampuan berpikir Rita dan dirinya selalu berbeda.
__ADS_1
Sekarang, Alex hanya diperlukan untuk pemikirannya bukan memihak manapun. Dia sadar sejak kenal itulah yang Rita ingin sampaikan tapi pikirannya yang terbalik justru telah membuat Rita banyak sakit hati kepadanya.
"Aku sudah sering dibegitukan sama dia, heran kamu masih ingin aku berhubungan baik sama dia? Kamu tidak tahu kan kalau dia sering hina kamu? Di hadapan aku, dia menjelekkan kamu tapi saat dia bicara dengan kamu, dia meninggikan. Tolong ya kamu pikir gunakan otak cerdas kamu, siapa yang palsu?" Tanya Rita kesal.
"aku tidak tahu kalau dia begitu," kata Alex melongo.
"Iya, karena dalam hati, pikiran dan diri kamu, aku yang jahat! Jadi untuk apa kamu percaya omonganku segala!? Karena kamu sudah terbiasa menjadi orang jahat," kata Rita.
Yang benarnya sudah terlalu sering mempercayai orang tapi berakhir mengenaskan. Dimanfaatkan, dibodohi, yahhh sampai akhirnya menganggap semua orang yang dekat dengannya hanya ingin uangnya atau tubuhnya.
Dia berharap Rita tidak begitu, berbeda tapi dia malah membuatnya banyak menangis karena kelakuannya.
Ruta kemudian mengirimkan chat berisikan hujatan dan hinaannya kepada Alex. Alex membacanya dan memijat kepalanya. Dia marah, kesal karena apa yang terjadi memang berbeda.
"Aku tidak tahu ya maksudnya apa dengan selalu mengejek kamu. Entah dia memancing emosi aku atau sengaja membuat cemburu atau entahlah!" Kata Rita bingung dengan otak Ney.
"Hmmm sekarang aku tahu kenyataannya. Terima kasih, Ney selalu mengatakan banyak hal soal kamu. Dia bilang kamu suka berhalusinasi tapi aku tahu tidak. Aku katakan padanya, coba kenal lebih baik Rita," kata Alex.
"Tidak perlu. Aku sudah trauma sama yang toxic. Aku juga mau-maunyaaaa masih kontak sama kamu," balas Rita.
"Kok begitu sih? Aku senang bisa bicara sama kamu," kata Alex dengan jujur.
"Ya tapi mainnya jangan begitu dong. Baru kenal sama orang jangan malah suruh mereka membenci saya. Pakai acara merundung segala, saya punya salah apa sih sama kamu?" Tanya Rita.
"Tidak ada," jawab Alex senyum.
"Karena saya orang miskin jadi kamu pikir bisa seenaknya nginjak-nginjak?" Tanya Rita.
"Eh, tidak. Tidak begitu," kata Alex agak panik.
"Iya saya miskin. Kamu dan Ney sama saja lihat orang dari status, gelar. Yang kaya, yang setara baru kamu anggap teman, yang miskin kalian injak. Ngaku lah," kata Rita agak sedih.
"Tidak. Aku tidak begitu, aku baru tahu kalau Ney sering merendahkan kamu. Maaf! Aku benar-benar tidak tahu," kata Alex benar-benar menyesal.
"Sudahlah, terserah! Saya orang miskin seperti kata kamu saya matre karena saya MISKIN," Kata Rita lagi.
"Jangan bilang miskin terus. Aku kan tidak ejek kamu begitu," kata Alex masih berusaha menenangkan Rita.
"Mendingan miskin punya harga diri daripada yang sok kaya tapi bisanya cuma nuyul, deketin orang ngambil uang. Ihhhh," kata Rita agak jijik.
Alex bengong membacanya. Nuyul? Hah? Bagaimana caranya Rita bisa lihat? Ah, ya Alex sadar pastinya ketahuan karena toyol nya tidak pernah ada jeda dan pasti Rita aneh karena uangnya selalu berkurang kalau jalan dengan Ney.
"Nanti juga kamu ketemu Ney," kata Rita menghapus air matanya.
"Tidak mau," jawab Alex.
"Kenapa? Bangga dong ketemu yang setara," kata Rita membuat Alex diam.
"Sudahlah, aku tidak pernah melihat kamu macam-macam hanya karena strata kamu rendah. Saya juga meski otak pintar dan memiliki segalanya, tapi terlalu bodoh membuat kamu banyak terluka," kata Alex.
"Nanti juga kamu ulangi lagi karena kamu memang begitu," kata Rita.
Alex sedih, benar dan tidaknya Rita sudah banyak menderita karena ulahnya. Alex juga sebenarnya mulai mempercayai Rita tapi rintangan mereka sangatlah banyak. Apakah Alex dan Rita mampu bertahan?
"Kamu ingin aku dekat dengan Ney. Kenapa kamu tidak mau dekat sama dia?" Tanya Rita merasa agak curang.
"....... kalau dekat dia, akan banyak masalah. Jadi aku mau dekat kamu saja," kata Alex.
"Aku miskin lho," kata Rita membuat Alex diam lagi.
"Sudah jangan bicarakan soal itu lagi ya. Aku tidak masalah kamu miskin sekalipun aku senang bisa mengobrol sama kamu. Maaf kalau selama kenal aku, banyak membuat kamu sedih. Tapi aku nyaman sama kamu, kamu mau menerima aku sebegini buruk," kata Alex merasa lega.
"Kata siapa menerima kamu? Orang terpaksa, kan aku dari awal menolak kamu," kata Rita.
Alex tanpa sadar meneteskan air mata. Tidak ada lagi tempat yang nyaman untuknya. Dirinya menangis dalam sepi berharap dia bisa kuat tapi entah kenapa Rita yang mengatakan itu, membuat hatinya perih.
Rita menatap ponselnya tidak ada balasan dari Alex. Pasti sedang menangis. "Awalnya terpaksa tapi lama kelamaan meskipun selalu dibuat menangis, kamu lucu juga, lama-lama ada rasa "Eh, nyaman juga nih orang meski agak mesum semusim," Kamu menangis ya?" Tanya Rita.
Alex yang sedang melayangkan pandangan menghapus air matanya lalu membaca apa kata Rita. Dia tertawa sambil menangis. Hanya Rita yang bisa membuatnya sedetik menangis, sedetik bahagia, lalu sedetik membuatnya tersenyum.
Hanya Rita yang tidak pernah pergi darinya meskipun berkali-kali di blokir.
Bersambung ...
__ADS_1