
Rita lalu mengakhiri chatnya dengan Alex dan menatap Ney yang sedang berbicara dengan Arnila tampaknya seperti berusaha menjelaskan atau apapun itulah tapi Arnila sudah cukup kesal dengan pernyataannya tadi. Dan melambaikan tangan ke arah Ney yang masih berusaha menerangkan. Lalu mereka berdua berhenti saat tahu Rita mengamati mereka berdua.
"Selesai chat dengan Alex?" Tanya Arnila dengan nada masih kesal. Dia kesal juga pada Rita yang benar - benar bisa membuat orang mengeluarkan unek-unek tapi juga menjadi lega.
Ney menatap Rita yang berselonjoran dengan santai, dia ingin sekali menyalahkan Rita tapi sudah kesal duluan. Di dalam pikirannya Rita sama sekali tidak bertanggung jawab membuat Arnila dan dirinya mengeluarkan semua kejujuran yang selama ini mereka pendam.
"Iya sudah. HOAAAAAHM!" Kata Rita yang menguap lebar.
"Kamu bicara apa saja sih?" Tanya Ney yang kepo pasti dia bercerita tentang mereka berdua.
"Aku cerita soal kamu," jawab Rita yang mengulurkan kedua tangannya ke depan, melakukan senam.
"APA!? Kamu cerita soal aku sama Arnila yang berantem!? Kok kamu cerita sama Alex sih?" Ney marah saat itu juga, begitu pula Arnila.
"Hah? Aku cerita soal kamu sama Syakieb. Suudzon banget sih kamu!" Kata Rita dengan mengerungkan kedua alisnya.
Arnila lalu merasa lega mendengarnya begitu juga Ney yang salah sangka.
"Oh, aku kira..." kata Ney.
"Aku kira aku kira.. makanya jadi orang jangan selalu suudzon hidupnya tidak akan tenang lho," kata Rita menatapnya dengan tertawa.
"Ya kali kamu cerita. Soal kita kan kamu suka begitu," kata Ney sambil melihat Arnila yang mulai duduk selonjoran.
"Aku kan suka cerita juga soal Alex ka kalian, ya tidak masalah dong kalau aku cerita soal kalian ke dia. Kalau tidak mau, ya jangan tanya terus bagaimana Alex ke aku. Kamu tanya langsung saja sama dia," kata Rita cemberut. Dia memang sudah terganggu tiap kali Ney bertanya bagaimana Alex.
"Dia tidak pernah balas chat aku. Suka datang tiba - tiba jadi ya aku cari infonya ya hanya kamu saja," kata Ney yang menguliti tangannya lagi.
"Aku sudah bosan cerita sama kamu karena kamu lebih antusiasnya sama Alex bukan kabar aku," kata Rita melihat kedua kakinya yang kini lepas dari sepatu.
Ney yang mendengarnya hanya terdiam. Arnila manggut - manggut mendengarnya benar juga selama ini Ney sepertinya hanya tertarik mendengar soal Alex saja bukan Rita.
"Terus apa kata Alex?" Tanya Arnila memecahkan keheningan.
"Ya soal barang yang kamu minta sama Syakieb atau yang dia kasih lebih baik dikembalikan saja supaya lebih aman," kata Rita yang masih memikirkan apa kata Alex terakhir.
"Ada komentar soal makanan buatan kita lagi tidak?" Tanya Ney bertanya tapi seperti orang yang sudah malas.
"Aku kan sibuk membuat prakarya dan papan kegiatan di sekolah, jadi selama 2 hari memang off chat sama dia," kata Rita sambil membuka cemilan.
"Oh, jadi kalian benar - benar sibuk selama aku tidak ada? Aku kira kalian hanya beralasan saja biasanya kan suka ketemuan berdua tanpa aku," kata Ney.
__ADS_1
"Kalau menurut kamu, kita selalu bertemu berdua saja tanpa kamu. Pikir dong ada apa? Jangan bisanya hanya suudzon, tapi kamu koreksi diri kamu, 'kenapa ya mereka janjiannya berdua? Apa ada yang salah sama aku? Oh, sepertinya karena aku terlalu senang berdebat atau tidak suka mendengarkan nasehat dan saran mereka. Sepertinya ada yang harus aku ubah.' Begitu. Pikir kamu punya otak tuh dipakai!" Kata Rita sambil menunjukkan otaknya sendiri kepada Ney yang cemberut.
Rita juga sudah kesal dengan tingkah Ney dia memang sulit sekali menyadari kalau dirinya sulit menerima pemasukan dari orang lain. Dan bukannya suka koreksi malah terus saja berprasangka.
"Dan jangan suka berpikir kalau aku hanya harus bertemu dengan kamu saja. Aku juga bebas bertemu dengan teman - teman aku, memangnya di dunia ini hanya kamu saja yang ada?" Tanya Arnila tanpa menatap Ney.
'Suasananya jadi tidak begini tapi mereka memang perlu saling mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka. Selama ini mereka juga selalu memendam semua kekesalan, kemarahan. Ya meski aku tahu sih ada salahnya, tapi daripada selalu salah paham terus. Bagus deh!' Pikir Rita.
"Ya aku selalu menduga kalau kalian memang butuh aku untuk menemani jadi aku kan berpikir kalau aku ini teman yang penting," kata Ney dengan suara yang sombong.
Arnila dan Rita mendengarnya langsung menjulurkan lidah dengan pose mau muntah. Gila saja! Lalu menatap Ney dengan wajah datar.
"Aku persiapannya hampir rampung. Kamu Rita bagaimana?" Tanya Arnila yang tidak memperdulikan Ney.
"Aku sih masih dalam proses cuma libur dulu cukuplah kegiatannya untuk 1 bulan. Maaf ya kalau aku tidak ada chat sama kalian di grup. Waktu kamu masih pendekatan dengan Syakieb pasti tidak mau terganggu juga kan," kata Rita menyindir Ney yang sudah 3 bulan bayangkan! Tidak ada kabar apalagi ternyata Ney membuang mereka.
"Kalau chat sama Alex bukannya kamu masih sering meski sibuk? Pasti tidak begitu sering off kan hanya sama kita saja," kata Ney sambil bete.
"Aku sih tidak apa - apa kalau kami tidak chat juga, toh kita bertiga punya seseorang masing - masing dan aku senang banget akhirnya Rita juga punya seseorang. Mau kamu sibuk tidak bisa chat juga aku tidak begitu pikirkan. Kenapa kamu jadi seperti cemburu? Itu hak Rita mau chat dengan kita atau tidak," Arnila memperhatikan Ney.
"Iyalah. Jadi tidak wajib ya aku cerita sama kalian. Aku juga punya teman sendiri yang selalu aku tanyakan pendapat mereka bukan hanya kalian saja," kata Rita. Arnila mengerti soal itu karena dia sendiri pun sama kecuali Ney yang dia pernah cerita soal Mereka berdua ternyata grupnya hanya memberi sedikit saran.
"Tidak ada," kata Rita dan Arnila bersamaan. Ya buat apa juga ya? ๐๐๐mereka berdua lalu tertawa bersama.
"Aku sama sekali tidak kepikiran sih, mengajar dan kuliah sudah cukup membuat hari - hariku sibuk. Buat aku memikirkan orang yang memang ingin menghilang begitu saja?" Tanya Rita terus terang.
"Ya apa gitu penasaran bagaimana kabarnya aku. Apa berhasil atau tidak masa sama sekali tidak ada sih?" Tanya Ney yang tidak puas kok bisa Rita dan Arnila benar - benar lurus begitu saja.
"Ya kamu kan memang begitu. Kalau ada masalah baru datang, baru anggap kita ada. Kamu hanya datang kalau butuh saja, jadi aku tidak tertarik buat tanya kabar atau apapun. Begitu kalau kamu tidak suka, ya itu masalah kamu," jelas Rita sambil bertopang dagu.
"Aku juga sama. Apalagi mertuaku ingin aku dijemput nanti dengan mobil convertible yang atapnya bisa kebuka itu lho. Ada - ada saja," kata Arnila sambil menggelengkan kepalanya.
"Hahahaha bodor. Tapi kan bagus pasti iringan bunganya dipasang dibelakang terus kamu lempar buket bunga," tebak Rita.
"Lah iya, Rita memang seperti itu. Aku sih bilang ya terserah deh, aku mah tinggal duduk dan lempar doang," kata Arnila sambil tertawa.
"Aku mau buketnya!" Kata Rita antusias.
"Enak saja! Sudah Arnila, gue dulu yang nikah! Kamu kan belum tentu sama Alex," kata Ney yang langsung nyerobot.
"Iya iya silakan saja deh. Mana tahu juga kan kamu bakalan dapat atau orang lain," kata Rita santai sambil tertawa.
__ADS_1
"Udah ada yang nitip juga sih, Ri tapi tidak tahu ya semuanya pasti aku lempar. Kamu datang sama adik?" Tanya Arnila.
"Iya. Sekalian mau jalan - jalan sesudahnya," kata Rita yang bersenandung kecil.
"Kalau kamu mau jalan - jalan sekitar Jakarta, sama aku saja. Nanti aku ajak kamu kemana saja deh," kata Ney menawari dirinya.
"Tidak usah. Aku sama Prita nanti kan janji bertemu saudara yang rumahnya di Jakarta. Sudah koling mereka kok jadi sepertinya semua keluarga juga akan ikut tuh," Rita menolak secara halus. Dia sama sekali tidak mau Ney sering ada di sekitarnya. Rita banyak membuat alasan agar Ney tidak selalu mengikutinya kemanapun berada.
"Kamu yakin saudara kamu hafal banget dengan sekitaran Jakarta? Sudah berapa lama saudara kamu tinggalnya?" Tanya Ney yang keukeuh berusaha untuk ikut.
"Sekitar 15 tahun," jawab Rita.
"Oh, itu sih sudah hafal banget! Pasti mau berburu kuliner. Ngaku!" Kata Arnila sambil menunjuk kepada Rita. Rita tertawa keras kalau memang itu tujuannya.
Ney menatap Rita lekat - lekat tapi dia tidak mendengar ada suara dalam hatinya Rita bahkan dalam pikirannya pun tidak ada yang Rita gumaman. Ney merasa aneh dan keheranan, sedangkan Arnila yang Ney tangkap hanya kata - kata, 'Lelah sekali bicara sama Ney.' Membuat Ney terdiam mendengarnya tapi Rita? Tidak ada suara yang terdengar. Mau sampai dia fokus sekalipun, tidak ada apa - apa tapi kenapa Alex sampai bisa sampai tembus?
Rita sama sekali tidak tahu kalau mereka tadi bertengkar hebat dan Arnila sudah angkat tangan mengenai Ney. Tanpa adanya kesan Ney merasa bersalah atau menyesali kata - katanya, mau dijelaskan juga, Ney memang tidak punya niat berteman dengan mereka. Rita bertindak biasa saja tapi dia merasa Arnila sudah sangat jutek. Ney kemudian menatap Rita dengan amarahnya.
"Kamu memang menyebalkan ya, Ri," kata Ney dengan pancaran wajah yang tidak enak.
"Hahaha kenapa? Baru tahu kamu kalau aku menyebalkan?" Tanya Rita menantang Ney.
"Kamu sadar tidak sih atau pura - pura kalau kamu memiliki kemampuan membuat orang bertengkar ya sama dengan Alex," kata Ney dengan suaranya yang jutek, masih menatap Rita dengan sebal.
"Kalau soal membuat masalah bukannya itu kamu ya, Ney. Kalau Rita menurutku dia bisa membuat orang yang memendam apapun dalam hatinya bisa keluar dengan mudah! Aku merasa begitu sih," kata Arnila memandang Rita dengan penuh tanda tanya.
Rita hanya menyengir mendengarnya. "Itu bagus kan daripada kalian lamaaaa memendamnya sampai bulukan? Lebih baik diutarakan, itu juga yang disarankan oleh Alex,"
Mendengar Rita mengeluarkan nama Alex, Ney terkejut. Alex ternyata tahu mungkin memang permasalahan itu semuanya ada pada kedalaman hati mereka yang terlalu banyak dan lama memendam. Apalagi Alex sudah tahu semua masalah itu ada pada Ney, dia sumber aneh yang membuat semua orang di dekatnya selalu bertengkar.
"Masalahnya memang kita pernah sampai bertengkar seperti ini sebelumnya? Semenjak lu kenal sama Rita, kok jadi mulai berani ya sama gue?" Tanya Ney dengan nada tinggi. Rita memandang Ney dan Arnila dengan kaget memangnya selama ini Arnila jarang berani?
"Lu lupa? Kita memang sering banget berantem bukan hanya soal semenjak gue kenal Rita ya. Memang otak lu ada yang harus diperbaiki deh," balas Arnila sambil mendengus.
"Bagus atuh kalau sampai Arnila berani bicara daripada diam mulu kena tindas. Lawan sajalah biar kamu tahu kalau Arnila itu bisa marah juga," kata Rita. Asyik juga mengompori hehehe tapi untuk kebaikan lah ya.
"Aku gak pernah tuh tindas Arnila. Sok tahu!" Ney menyerang dengan nada jutek dan sebal.
"Hahahaha memang bermasalah sama otak kamu nih. Berkali - kali ya aku sendiri lihat buktinya kamu sering tindas dia dengan kata - kata di grup tuh, mau aku lihatkan buktinya?" Tanya Rita yang siap membuka ponselnya.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1