ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(110)


__ADS_3

"Aduh, jadi tegang banget. Kenapa kamu nanya begitu sih, Kris?" Tanya Teh Tania yang mulai merinding agaknya.


"Penasaran ada batasnya," kata Mona yang sepertinya ingin dihentikan saja karena sudah bukan main - main apalagi tampaknya Mona bisa tahu kalau Rita melihat sesuatu pada dirinya juga.


"Teh Mona, kalau ada yang mau dibicarakan dengan Teh Kris, bicara saja jangan takut. Teh Kris orangnya ramah kok, kalau ada masalah lebih baik dibicarakan. Teh Kris juga bisa membedakan yang salah dan yang benar. Kalau Teh Mona kurang jujur, nanti Teh Kris pergi. Saya yakin Teh Kris bisa mengambil solusinya," Rita tersenyum dan ketiganya memandangi Rita dengan aneh.


"Kamu tidak terganggu dengan kemampuan kamu?" Tanya Tania. Teh Kris terdiam tapi tahu kalau Rita sepertinya kelelahan tapi tidak menampakkan.


"Terganggu. Saya tidak suka punya kemampuan seperti ini. Lebih baik teteh peringatkan kakaknya tidak perlu mencari sesuatu yang tidak ada. Lebih enak hidup normal daripada bangga punya kemampuan lain. Saya saja jadi beban, saya ingin hidup normal, saya takut kalau meninggal itu yang membuat saya tidak bisa masuk pintu akhirat," ketiganya merasa iba apalagi teh Kris yang terlalu penasaran dan ingin menguji Rita.


Ney yang mendengarnya hanya menunduk dan memainkan jemarinya tentu saja dikuliti. Arnila menganggukkan kepalanya karena memang tahu kalau Rita sangat enggan mengakui kalau dia bisa karena pasti kena uji. Untuk menghalau itu semua itulah sebabnya Rita senang main game atau baca komik karena bisa mengalihkan kemampuannya.


"Maaf ya teh, karena penasaran sih. Ada Kyai, dia bilang cuma teteh saja yang normal tidak punya kemampuan aneh sedangkan kakak, ibu sama bapak punya," kata Kris dengan wajahnya yang agak iri karena kabar itu. Tapi yang Rita tangkap tentang keluarganya ya biasa saja. Sepertinya dia dibohongin deh


"Tuh mendingan juga normal ya teh, kamu tidak perlu mikirin yang jelek - jeleklah! Nanti pulangnya aku mau berdoa dulu deh, akhir - akhir ini pulang malam jadi menyeramkan!" Kata Tania sambil merinding.


"Aku temani mau ga?" Kata Kris dan Tania.


"Ribet ah! Cuma doa saja kan teh?" Tanyanya lagi, terlihat sekali sangat cemas dan takut.


"Iya setiap teteh kebagian shift yang pulangnya malam setelah itu sih aman. Ya Teh Mona jujur itu bagus kok, apalagi sama Teh Kris," Kris lalu memandangi Mona dan Mona menarik nafas dan mengangguk. Arnila yang melihatnya kagum Rita bisa begitu meyakinkan orang lain, sedangkan Ney memalingkan muka tampak kesal dengan semua yang diucapkan Rita. Entahlah kalau itu yang terjadi pada Ney, mungkin lebih tidak enak mendengarnya. Dan gerak gerik Ney tertangkap oleh Teh Kris.


"Teteh juga hati - hati, teman teteh yang rambutnya pendek bukan teman yang baik," bisiknya pada Rita. Rita mengerti memang kurang baik. Orang lain saja bisa melihat apalagi orang dekat?

__ADS_1


"Teh Kris, jangan percayai Kyai itu. Dia bohong lho, teteh sekeluarga normal kok. Kalau memang ada kemampuan, kakak teteh bisa langsung tahu seperti saya. Tapi nampaknya semuanya normal kok. Serius teh, saya memandang wajah teteh langsung keluar wajah ibu, bapa dan kakak teteh, saya juga bingung. Tapi semuanya baik - baik saja," kata Rita. Dalam hati kenapa Kyai itu berbohong ya? Pastinya karena uang.


"Oh, Alhamdulillah!" Jawabnya dengan senang. Semua normal! Memang itu yang Rita rasakan. Harusnya sih Kris bisa menyimpulkan kenapa kakaknya yang harus sampai belajar ilmu begitu sudah pasti normal.


"Teh Kris tidak punya kemampuan mistis tapi teh Kris bisa membuat banyak orang nyaman dengan keramahan suara teteh. Teteh kekuatannya ada pada suara sih, kalau ada lelaki yang membuat berpaling dari teteh lebih baik lepas nanti pasti ada yang cocok sama teteh terus nikah," kata - kata Rita membuat mereka bertiga bengong. Apalagi teh Kris yang wajahnya sekarang memerah entah malu atau apa lah itu


Rita hanya bengong yang akhirnya harus ditarik oleh Arnila karena terlalu lama, Rita pasti pusing. Meski dia memang sangat suka mengobrol tapi selalu ada efek yang bisa melihat sesuatu itu. Arnila pastilah sudah terlatih dan sudah tahu. Seperginya Rita mereka mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena terlalu lama membuat Rita berdiri, yang salah satu kasirnya memberikan 3 kotak teh madu. Arnila dan Ney senang saja menerimanya karena mereka memang haus apalagi Rita. Yang pusing, Arnila menatap Rita yang sempoyongan.


Memakai kemampuan meski hanya sedikit pasti memerlukan energi besar, tapi kalau Rita sih di doping sama makanan, energinya meningkat lagi. Memang begitu, sewaktu Rita turun, dia bisa mendengar percakapan di atas.


"Mon, kunaon ari maneh? Ngomong tong ceurik heula ( Mon, kamu kenapa? Ngomong jangan nangis dulu )," kata Kris sepertinya. Karena penasaran, mereka bertiga pura - pura memeriksa hp padahal mendengar pembicaraan di atas.


"Hapunten sanaos hoyong sepi tapi ngupingkeun teteh nyarios tadi, langkung sae kuring nyarios. Ngeunaan kabogoh anjeun, kuring ningali anjeunna numpang awewe sejen ( maaf ya padahal aku mau diam saja tapi dengar apa kata teteh tadi, lebih baik aku bicara. Soal pacar kamu, aku lihat dia membonceng perempuan lain )," Mona sepertinya mulai menangis. Sepertinya mereka dekat ya.


"Enya geuslah bade kumaha deui atuh? Ikhlaskeun weh ( iya sudahlah mau bagaimana lagi? Ikhlaskan saja )," kata Kris kemudian.


"Iya Mon, tidak apa - apa. Pacarnya lihat kamu?" Tanya Tania.


"Iya. Urang diancam. Kris selama ini pacar kamu sengaja minta uang ke kamu buat pacarnya yang lain. Aku tidak enak mau bilang malah kena ancam!" Kata Mona sambil terus terisak - isak. Kasihan juga ya terbayang dengan keadaannya yang seperti itu. Mau bela teman tapi diancam entah diancam apa.


"Dia! Kita hajar rame - rame yuk!" Ajak Tania dengan semangat.


"Tapi selamat ya nanti kamu akan menikah," kata Mona dengan suara yang parau rapi gembira. Langsunglah suara mereka ribut di atas.

__ADS_1


Setelahnya mereka bertiga yang dibawah menuju BIP. Mereka keluar dari Gramedia dan masuk setelah diperiksa oleh petugas satpam di sana. Suasana saat itu ramai dengan banyak orang yang sedang berjalan. Ney sekali - kali memandangi Rita dan menggerakkan mulutnya dengan jengkel.


"Kenapa tidak kamu bilang saja apa yang kamu lihat itu bukan manusia?" Tanya Ney.


"Ya gila saja. Dia sudah ketakutan begitu, ditambah bilang 'Itu hantu lho,' Pikir saja," kata Rita tanpa melihat Ney.


"Tapi kan harus sesuai apa yang dilihat kata kamu juga. Kalau begitu sih ya sama saja," kata Ney sambil mengibaskan rambutnya dan bertingkah centil. Entah apa maksudnya dia begitu padahal tidak ada lelaki ganteng.


"Sama seperti kamu? Maaf ya, kalau kamu kan aku tidak tahu ya apa yang kamu lihat tapi nyatanya malah kamu balikkan semuanya entah ya kamu itu punya maksud apa," kata Rita lagi.


"Intinya apa yang kita lihat itu harus murni kita utarakan jangan sampai dibumbui macam - macam. Kamu kok bisa tahu, Ri kalau Teh Mona menyembunyikan itu?" Tanya Arnila ingin tahu seperti apa sih penampakan yang Rita lihat tadi. Apakah sama dengannya?


"Tidak tahu juga. Aneh juga justru tapi ada semacam gambaran pacarnya Teh Kris seperti apa terus dia memang sama perempuan lain," Rita memandangi Arnila dan Ney bergiliran. Ney yang sepertinya merasa kalah karena kata - katanya, terus memberikan kalimat yang menyebalkan.


"Pacarnya ganteng?" Tanya Ney penasaran. Yah kalau soal lelaki memang dia pasti kepo.


"Sama sekali tidak," jawaban Rita membuat mereka berdua tertawa. "Kok bisa ya malahan sampai punya perempuan lain? Yang diboncengnya cantik, kok mau ya?" Rita sangat aneh melihat gambaran lelaki kekasihnya Kris. Yang Rita lihat orangnya itu hitam yah kulit sawo yang kematangan. Lalu pendek rambutnya klimis, sedangkan teh Kris mungil dan manis. Aneh banget!


"Hahaha biasanya karena materi, Ri. Mungkin pacarnya Kris banyak uang. Kamu tahu kerjanya apa?" Tanya Arnila ingin tahu.


"Tidaklah kan hanya dikasih ciri saja terus dengan siapa dia saat ini. Ya itu yang terlihat, kalau mau tahu kerjanya apa ya tanya saja sendiri ke Kris," mereka lalu menaiki eskalator dan mereka berdiri masing - masing di setiap lantainya. Rita melihat Ney yang tampak kesal atau jengkel dan Rita hanya tertawa melihatnya. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi Rita dan Arnila. Ney sangat tidak juga kalau dirinya ada yang bisa melebihi kemampuannya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2