ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
436


__ADS_3

"Maaf aku mengakui cara yang aku sampaikan salah. Iya itu kakak kembar aku, dia sudah lama meninggal," kata Alex akhirnya lebih memiliki mengakui segalanya.


Alex tahu Koko tampaknya tidak suka dengan rahasia yang dia sembunyikan. Kalau memang menyukai Rita, ya cobalah bersikap jujur.


"Kapan meninggalnya? Karena apa?" Tanya Rita menginterogasinya.


"Dua tahun lalu," kata Alex menggigit bibirnya.


"Dua apa tiga?" Tanya Rita lagi terus dengan nada dingin.


"Tiga! 😤😤," balasnya kesal juga ketahuan dia bohong lagi.


"Kamu yang berbohong kenapa marah? Kan aku ingin kamu jujur. Apa seperti ini cara kamu banyak bohong?" Tanya Rita tidak mengerti.


"Kamu tidak tahu siiih bagaimana lingkungan aku. Terpaksa tahu," kata Alex manyun.


"Sakit apa kakak kamu? Jangan bohong lagi deh aku bisa tanya Koko," kata Rita mengancam.


Alex menyerah mana mungkin bisa berbohong lagi toh lawannya di atas dia juga. "Penyakit kakakku sama dengan kamu,"


"Memangnya aku punya penyakit apa?" Tanya Rita sudah sangat curiga sekali pada Alex.


"Bronkhitis kan," kata Alex.


"Kapan aku bilang?" Tanya Rita.


"........ ah... itu aku kan mencari...tahu kamu semua..." kata Alex menjelaskan. Dia merasa ada getaran kemarahan.


"Dari mana?" Tanya Rita.


"Hmmm cyber hehehe aku memeriksa riwayat medis kamu dan ternyata sama dengan kakakku. Kok kami bisa sampai sembuh?" Tanya Alex berusaha mengalihkan topik.


"Bisa karena aku sembuh ternyata untuk menunggu kamu datang," kata Rita masih agak dingin.


Alex senang mengira taktiknya berhasil. "Wah, aku tidak sabar ingin cepat bertemu kamu. Paru-paru kakakku padahal sudah parah tapi tidak bisa sembuh karena kebiasaannya, tidak percaya bisa normal," kata Alex agak sedih.


"Kita ketemu, saya matiin kamu," kata Rita lalu mematikan ponselnya.


Alex yang membacanya bengong dan melempar ponselnya. Dia ketakutan sudah pasti Rita sedang marah karena dia tidak jujur. Alex jongkok bersembunyi di sudut kamarnya sambil menggigiti bantalnya.


Setelah itu Rita kembali mendengarkan apa kata Koko mengenai permasalahan sahabatnya Tyas. Sahabatnya itu gila kerja sampai pacaran pun akhirnya diputuskan karena tidak bisa membagi waktu.


"Kalau misalkan Tyas dan sahabat bekerja di rumah kira-kira bertahan tidak, Ko?" Tanya Tyas.


"Kalau soal betah atau tidaknya, kamu dengan sahabat itu bukan tipe perempuan rumahan jadi akan depresi sekali kalau harus dieeeem jadi ibu rumah tangga. Kalau Teh Rita, baru tipe rumahan ya kan? Daripada pergi kemana-mana, dia nyamannya dalam rumah asalkan banyak makanan dan bahan masakan, sudah deh. Dia bisa menciptakan banyak masakan rumah," jelas Koko.


"Oh iya juga ya Teh Rita jarang keluar rumah kecuali bekerja kan," kata Tyas.


"Hehehe iyalah kok Koko tahu sih? Memangnya kelihatan ya tukang nimbun makanan?" Tanya Rita dengan polosnya.


"Tuh kan, tukang nimbun makanan. Datang deh ke rumahnya lihat di kamarnya tuh penuh makanan. Jualan saja kenapa?" Tanya Koko.


"Hahahahaha! Memang aku jualan Ko, sama adik. Di depan rumah," kata Rita ketawa ketahuan.


"Hah? Oh ya? Jualan apa?" Tanya Koko dan Tyas.


"Makanan ringan seperti makanan khas dari berbagai negara. Laku keras dong," kata Rita sambil memperlihatkan foto-fotonya.


"Wah! Sepertinya enak nih. Pasti lumayan sekali hasilnya. Hari minggu saja?" Tanya Tyas yang agak ngiler.


"Sabtu Minggu," kata Rita.


"Sekarang masih? Ahhh coba waktu itu sudah kenal ya," kata Koko kurang cepat.


"Hahahaha lumayan. Sampai ada yang iri dan ancam Teteh jangan jualan. Sekarang kan Teteh ngajar jadi sudah tidak jualan lagi," kata Rita.


"Kenapa banyak yang suka dan laku? Karena Teteh buatnya pakai hati dan cinta. Good! Kalau jualan lagi, kasih tahu ya. Kamu juga coba deh makanan buatan Teteh," kata Koko menatap Tyas lalu Rita.


"Boleh boleh nanti ada arisan kan Eh, boleh dong unjuk masakan hehehe," kata Tyas menggoda.


"Wah, asik tuh. Undang dong hehehe," kata Koko agak malu.


"Sip sip nanti kasih tahu maunya masakan khas negara apa. Teteh buatkan," kata Rita semangat.


"Asyiiiik," kata Tyas senang sekali.


Koko memandangi Rita lalu Tyas, dia lalu menggelengkan kepala. Aura Tyas dan Rita saling menyapa dan menerima satu sama lain.


"Kalau kamu tahu, energi kamu tuh butuh energinya Teh Rita," kata Koko pada Tyas.


"Hah? Maksudnya?" Tanya Tyas.


Lalu datanglah Ua Mori. "Maksudnya kalau makan makanan Teteh, energi mu akan naik penuh. Soalnya selain memang pintar masak, kenapa bisa enak bagi yang bisa Melihat, Teteh meramu energinya masuk ke dalam makanan. Kalau ada orang yang energinya menurun, dengan memakan makanan yang Teh Rita buat, energinya jadi penuh," jelas Ua Mori lalu ke belakang rumah.


Tyas bengong menatap Koko dan Koko mengangguk. Lalu melihat Rita.


"Hei hei hei," kata Rita saat Tyas pindah duduk sambil tertawa.


"Nyobain Teh hahaha terus efeknya ada buat Teh Rita?" Tanya Tyas yang duduk mepet.


"Ada. Ya berkurang nanti Teteh nya mengantuk, kalau kamu ambil banyak. Bisa pingsan," jelas Koko agak iba.


"Ah, tidak jadi," kata Tyas pindah lagi.


Tiba-tiba Rita merasa pusing dan mengambil minum tehnya lalu makan kue.


"Ya itu efeknya," kata Koko.


"Pusing?" Tanya Rita terdiam.


"Iya. Sama dengan saat jin kampret itu ambil energi Teteh kan langsung mual ya," kata Koko.


"Sama Koko bisa?" Tanya Tyas sambil memberikan kue pada Rita.


"Bisa tapi kasihan Teteh nya. Dan lebih pas lagi energi Teteh itu makanan untuk kamu, Tyas dan seorang lagi," jelas Koko.

__ADS_1


"Lah?? Alex ya?" Tanya Rita menebak.


"Yes. Kerasanya bagaimana?" Tanya Koko pelan-pelan.


"Setiap chat sama dia selalu pusing kadang mual padahal sudah makan. Terus pernah sampai sakit 3 hari, aku tidak tahu kenapa. Tapi Alex sampai minta maaf," kata Rita sambil makan.


"Tuh orang kurang ajar sekali. Koko msh tidak suka sama dia ya begitu orangnya songong. Kenal Teteh merasa sudah pasti jadi milik dia," kata Koko mengepalkan tangannya.


Tyas dan Rita saling memandang dan terdiam. Ua Mori masuk lagi.


"Tenang saja Ko, si Teteh kuat kok galak sekali. Teteh mah gampang isi ulangnya hanya tidur dan makan doang hahaha. Makan kue 1 biji saja energinya penuh lagi," kata Ua Mori menepuk Koko.


"Teh, kalau Koko marah seram lho. Ua Mori itu sedang membuang emosi. Kelihatannya kesal sekali dengan si Alex itu," bisik Tyas yang ketakutan.


"Pernah lihat?" Tanya Rita kembali berbisik.


"Koko pernah ruqyah rumah teman terus pacarnya teman Tyas kan agak bebal. Hampir mau tampar teman karena salah paham lalu dibanting sama Koko," kata Tyas.


Rita bengong mendengarnya kalau ketemu Alex pasti ada perang tuh. Tentu saja Alex ada di hadapannya lalu berpindah ke sebelah Rita, menantang Koko. Dia tahu Koko bisa melihatnya dan melihat Ua Mori.


"Kenapa Koko, Ua kelihatannya marah sekali," kata Rita keheranan.


"Lho? Kamu tidak bisa melihat?" Tanya Ua bengong.


"Apa?" Tanya Rita dan Tyas.


Ua Mori manggut-manggut. Ternyata hanya mereka berdua yang bisa melihat keberadaan Alex.


"Kalem, Koko hanya tidak suka kamu berbuat kasar dan seenaknya pada Teh Rita. Saling menghargai dan memaklumi. Menurut saya Rita tenang orangnya," bisik Ua Mori ke sesuatu yang ada di depannya.


Rita dan Tyas berpandangan, tapi Tyas kemudian sadar kalau ada seseorang di hadapan mereka berdua. Koko seperti komat kamit lalu ditepuk oleh Ua agak dimarahi.


"Itu bukan Koko kayanya Teh. Duduk sini," kata Tyas mengajak ke pojok.


"Serius? Terus siapa? Tyas bisa lihat?" Tanya Rita memandangi Tyas yang masih menatap Koko.


"Auranya beda. Itu khodamnya Koko yang besar kelihatannya ada khodam lain yang sesuatu itu bawa deh," kata Tyas menunjuk ke arah Koko yang tertelungkup.


"Sudah, jangan malah ditantang. Tidak ada maksud perang juga untuk apa kamu datang," kata Ua Mori lalu membelai punggung Koko yang agak tersedu.


"Saya tak suka dia. Seenaknya sekali nanti perempuan itu menderita," kata Koko yang masih menunduk.


Rita memegang tangan Tyas, dia ketakutan dan ingin kabur kalau bisa. Melihat aura-aura aneh, Paman dan Bibi Ryan berlarian datang dan bertanya. Ua Mori tampak menahan apa yang akan keluar dari Koko.


"Itu Teteh sama keponakannya suruh keluar dulu takut kena," kata Paman Ryan.


Rita dan Tyas ditarik keluar dari ruangan itu. Dan semuanya seakan menahan sesuatu. Percaya tidak percaya sih seperti dalam Televisi yang biasa Rita lihat.


Alex mengikuti Rita namun Khodamnya seperti hendak menyerang menyangka Tuannya dalam bahaya. Ryan serta keluarganya juga cepat-cepat menjauh. Tante Nina juga sama.


"Tante, itu kenapa sih? Memangnya Koko kerasukan?" Tanya Rita.


"Huwaaaaaaa," teriak Koko yang sepertinya akan meledak marah.


"Itu khodamnya Rita coba kamu suruh khodam kenalan kamu itu ditarik. Kalau khodamnya Koko keluar bahaya lho bisa mental semua," kata Tante Nina melindungi anaknya.


"Hah? Mental bagaimana sih?" Tanya Rita keheranan.


Tiba-tiba ada aura hawa panas yang menyambut ke arah Rita. "Hufff," kata Rita mengibaskan tangannya.


"Kenapa Teh?" Tanya Tyas melihat Rita aneh.


"Kok panas ya? Kerasa tidak?" Tanya Rita lalu membuka kipas tangannya.


"Wah, iya. Ratih, ACnya rusak?" Tanya Tyas ikut berdiri di sebelah Rita.


"AC? Tidak kok ini menyala. Panas?" Tanya Ratih agak cemas.


"UA!!" Teriak Ryan tiba-tiba.


Mereka semua menatap Ryan dan menunjuk ke arah Rita dan Tyas yang berdiri di bawah AC.


Rita mengipas dengan sekuat tenaga, lidahnya keluar dan minum banyak air. "Kok panas sekali ya heran," katanya.


Tyas juga sama apalagi mereka kini berkeringat deras.


"Waduh! KOKO, KANG, SADAR!" Kata Ua. Koko juga ditampar oleh paman Ryan agar bangun.


Alex menyadari sudah parah efek dari khodamnya keluar. Dia berusaha untuk menarik Tengku tapi Tengku malah semakin berontak.


"Alex, kamu payah masa kalah sama khodam sendiri?" Pikir Rita dalam hati.


Tentu itu terdengar oleh mereka semua. Alex frustasi khodamnya sama dengan dirinya sekali marah dan ada yang menantang, sulit untuk dibuat tenang.


"Wah, mau keluar!" Teriak Ibunya Ryan.


"Emosian uy khodam yang ini mah. Haduh, anak baik jangan mudah emosian begini kasihan Tuan kamunya," kata Ua yang lainnya.


Lalu Rita sekilas melihat ada semacam aura hitam atau biru yang keluar dari punggung Koko. Dan Koko tampaknya tidak sadarkan diri, Rita menepuk dahinya.


"Bagaimana kalau nanti Teteh diruqyah ya?" Tanyanya ke Tyas agak cemas.


"Tyas wallahu alam semoga si Alex sama khodamnya tidak ikut campur deh," kata Tyas agak iba.


"Tyas, itu apa?" Tanya Rita menunjuk ke punggung Koko.


"Apa? Teteh lihat apa?" Tanya Tyas penasaran. Mata Rita fokus pada aura semacam api belakang punggung Koko. Seperti asap dari mangkuk yang berisikan mie yang baru matang.


"Seperti asap dari punggung Koko. Warnanya hitam kebiruan," kata Rita menunjuk.


"Waduh! Teh, bisa telepati? Coba kirim pesan ke Ua mereka pasti dengar. Fokus dan bilang Teteh lihat apa," kata Tyas memberikan arahan. Dalam pikiran Tyas sepertinya Rita punya kemampuan telepati.


"Teteh coba soalnya asapnya semakin banyak dan pekat," kata Rita. "Ua, bisa dengar? Ua," ucap Rita dalam hati.


Ua Mori lalu agak sadar entah siapa yang Rita panggil. Dari gelagat mereka tampaknya sadar Rita memanggil.

__ADS_1


"Nama. Kan banyak Uanya Ryan," kata Tyas merasa tersambung.


"Ua Mori. Kalau bisa dengar anggukkan kepala," pikir Rita.


Semuanya jelas memandang Ua Mori. Ua mengangguk.


Tyas kaget begitu juga Rita. "Wah!" Kata mereka berdua.


Khodam Alex kebingungan, kenapa mereka sepertinya mengetahui sesuatu. Memandang Rita tampak tengah mengatakan sesuatu tapi Tengku tidak bisa mendengarnya. Begitupun khodam Koko yang mulai keluar.


"Ua, Aku lihat ada asap keluar dari punggungnya Koko. Semakin banyak dan pekat. Warnanya hitam kebiruan, sepertinya harus dari situ di tenangkannya," kata Rita lalu agak merasa pusing dan mual. Dan berjongkok karena pegal.


"Kenapa Teh? Energinya terkuras ya," kata Tyas. Sekilas Tyas juga bisa membaca apa yang Rita katakan dan bengong.


Rita mengangguk dan memegang kepalanya. Pusing seperti vertigo dan rebahan di lantai. "Sejuknyaaaa," kata Rita merasakan dinginnya lantai rumah Ratih.


"Teh, makan dulu kuenya sama minum nih," kata Tyas panik bawakan makanan.


Ratih lalu menuangkan air putih dingin. "Tidak apa-apa? Kenapa Teh Rita sih?" Tanyanya ke Tyas.


"Kepanasan," kata Tyas tidak memberitahukan apapun pada Ratih soal Rita baru saja mencoba telepati.


Ua yang lain mendengarnya dan mencoba taktik baru. Seperti yang dikatakan oleh Rita, Ua Mori dan yang lainnya membelai punggung koko. Ibunya Ryan memeluk Koko berusaha meredakan amarah Khodamnya.


"Ryan cari bantal," kata Ua Mori.


"Bantal? Bantal kursi untuk apa?" Tanya Ryan bingung.


"Lempar ke arah Ua. Cepat!" Perintah Ua Mori.


"Hah!? Tapi nanti tong ngambek nya," kata Ryan agak takut.


"Iya lempar saja dengan kuat," kata Ua Mori.


Ryan lalu melempar dengan sangat kuat ke arah Ua Mori sambil Bismillah. Ternyata Tengku berada tepat di sebelah Ua Mori tepat di depan kalau dari lokasi Rita.


Bantal melayang keras mengarah ke Ua Mori lalu suaminya memblok agar istrinya tidak kena timpuk.


Khodam Koko akhirnya masuk kembali meski masih marah tapi setidaknya si Tengku sudah kena lempar bantal duduk dan langsung kabur, karena dia pernah kena lempar bantal oleh Rita juga. 🤣🤣🤣 Jadi dia mengira bantal itu dilempar oleh Rita, padahal Rita sedang duduk di lantai karena energi terkuras.


"Sudah cukup sekali pakai telepati. Pusiiiing," katanya memijat dahinya.


"Ternyata Teteh bisa dong," kata Tyas semangat.


"Hah?" Tanya Rita yang minum air sampai habis.


"Tyas bisa baca Teteh bilang apa kayanya kalau dekat sama Teteh, kemampuan Tyas juga setara deh," bisik Tyas.


Rita bengong dan tepuk jidat. "Sayangnya bukan kembar ya hehehe,"


Koko sadar dan kecapean dia lepas kendali. Lupa kalau sekali marah, khodamnya muncul. "Sepertinya sulit," katanya.


"Rita kelihatannya kalau diajari benar bisa parah. Dia bisa lihat aura khodam Koko nu keur emosi tapi kok bisa telepati?" Tanya Ua Mori heran.


"Tyas yang mengarahkan. Parah kan kemampuannya, hanya sekian detik diarahkan sudah langsung bisa terhubung dengan kita semua," kata Pamannya rebahan di lantai juga.


"Kalau dalam keadaan darurat keluar itu kekuatannya. Selama ini jarang keluar tapi tadi dia merasa terancam kalau tidak segera kelar, habis semua. Kamu harus banyak belajar lagi Ko, eta hampir kaluar. Teh Rita sepertinya terkuras juga," kata Ibunya Ryan ke arah Rita yang sedang mengobrol dengan Tyas.


"Rita telepati?" Tanya Koko kaget.


"Iya. Memberitahukan ada asap di punggung kamu yang keluar. Kalau Dikasih tahu itu bagian dari punggung khodam kamu, Rita pasti pingsan. Fiuuh di waktu kritis bisa terlihat sama Rita, hebat sekali kan kekuatannya," kata Ua yang lain duduk di kursi kecapean.


"Kasihan kalau kata saya sih," kata Ibunya Ryan melepaskan pelukan dan memberikan handuk pada Koko.


"Apa bisa kita ambil sebagian? Supaya Teh Rita tidak terlalu berat," kata Koko menyeka keringatnya.


"Kalau bisa masalahnya itu sumbernya yang paling tinggi, kita manusia yang diberikan tidak lebih dari 10% tapi kalau Rita, kemampuannya banyak. Kenapa dipercaya karena kepribadiannya tidak suka dengan hal macam kekuatan," kata Ibunya Ryan yang minum air es.


Koko lalu memejamkan matanya, dia menenangkan pikiran. Khodam yang tadi berbuat ulah dihajar oleh khodam lain karena hampir mencelakakan banyak orang.


Ua dan Bibi lain memandangi Koko, sikapnya sekarang tenang dan keluarlah khodam yang pembawaannya tenang dan menghampiri Rita. Seekor naga yang besar memandangi Rita dengan kedua mata yang ramah namun tegas. mengembangkan sayapnya satu dan menyentuh Rita meski Rita tidak mampu melihat dan mengetahui keberadaannya. Namun dia berterima kasih.


Lalu terbang dan membuat dirinya mengelilingi Rita dengan badannya yang panjang. Mengeliling Rita dan Tyas dengan aura mereka yang saling melengkapi.


"Masih pusing Teh?" Tanya Tyas agak cemas karena kelelahan.


"Sudah tidak sih. Kenapa ya? Seperti ada aura menyenangkan. Terasa tidak sih? Beda dengan tadi," kata Rita.


"Oh ya? Ada sesuatu disini?" Tanya Tyas, percaya intuisi Rita sangat tajam. Tyas agak mepet dia lebih takut itu hantu.


"Ada apa?" Tanya Tante Winan dan Nina. Tante Winan agak ketakutan karena memang penakut.


"Hantu?" Tanya Ratih penasaran.


"Bukan deh," kata Rita memandangi ke sebelah kiri dan kanan. "Ada yang duduk di sekitar kita. Aneh ya auranya enak," kata Rita.


Naga itu tersadar dan menunggu apakah anak ini mampu merasakan dirinya? Jin jun yang menempel pada Rita kabur saat naga itu menghampirinya. Naga itu tidak peduli dan menghela nafas menatap tajam jin jelek.


"Oh ya? Bukan hantu lalu apa?" Tanya Tyas mepet ke Rita.


"Kenapa sih? Mepet amat," kata Rita melihat Tyas.


"Haaabis Teteh tidak bisa melihat hantu tapi yang lain bisa kerasa. Kalau auranya enak dan menyenangkan tidak bahaya dong," kata Tyas lalu duduk masih dekat Rita.


"Makhluknya besar deh. Melingkar kita berdua. Kenapa ya?" Tanya Rita laku menguap meski energinya sudah penuh.


"Sepertinya salah satu khodamnya Koko deh. Teteh tahu Khodamnya Koko ada yang naga, apa dia ya?" Tanya Tyas memberitahukan.


"Waaah! Keren dong. Teteh kan suka dengan Naga, Yas. Kalau bisa dilihat pasti keren banget tuh," kata Rita senang.


"Hah!? Teteh suka Naga? Tyas sih seram Teh," kata Tyas garuk kepala.


"Yang seram itu hewan ular besar matanya satu," kata Rita memberitahukan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2