ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(56)


__ADS_3

"Dia kapan meninggalnya?" Tanya Rita. Kalau baru sih yah sayang, tapi kalau sudah lama kenapa Ney baru ingat?


"Sudah 3 tahun yang lalu," jawab Ney.


"Itu sih sudah kelamaan. Kenapa baru ingat sekarang?" Tanya Rita lagi.


"Ya baru ingat penasaran sama kabarnya dia sekarang bagaimana eh tahunya sudah tidak ada. Terus kata tetehnya ke aku, 'Kamu kemana saja? Kemana sampai tidak tahu tentang Bayu? Bayu sudah lama tidak ada, kasihan dia menderita banget semenjak hubungan biseksualnya tidak mendapat restu keluarga dari pacar lelakinya. Di saat kritis status itu, dia mencari kamu berharap kamu belum bisa menerima lelaki lain tapi nyatanya... adik teteh bilang kamu sudah punya kekasih, dia langsung lebih kritis lagi. Kamu tega ya bisa - bisanya langsung mengganti posisi dia, padahal Bayu selalu ingat kamu. Kalau kamu benar - benar suka Bayu, cinta sejatinya dia harusnya kamu bertahan ternyata sama saja. Teteh dan keluarga juga terkejut ternyata adik sendiri biseksual, tadinya kami akan menikahkan mereka tapi pihak sana tidak menerima. Mau bagaimana lagi? Bayu ingin membujuk kamu untuk menerimanya lagi dan membawa kami ke hadapan kami'. Aku kaget banget mendengar tetehnya seperti itu,"


Yah bagaimana lagi ya sudah jadi bubur dan sudah sangat terlambat. Coba Ney bisa lebih bertahan tapi takdir berkata lain, nyatanya Ney bisa lebih mudah mendapatkan lelaki lain dan langsung melupakan Bayu begitu saja. Cinta sejatinya bukan dengan Bayu tapi Minto, heran nih anak malah milih yang bukan lelaki sejati. Hadeuh!


"Kalau benar kamu cinta sejatinya Bayu sih seharusnya masih bisa melekat cintanya kamu itu ke dia," kata Rita.


"Aku memang masih punya rasa cinta ke dia," jawab Ney yang membuat Rita menjulurkan lidahnya sendiri membaca jawabannya.


"Cinta apaan? Kok mudah banget ya kamu pacaran ke banyak lelaki? Kamu cinta Bayu cuma fisik saja ya, kalau bukan fisik mungkin uang. Kalau cinta kamu benar sejati, kamu suka dia dari hatinya. Kamu tidak akan peduli seberapa sakit dia karena Biseksualnya kamu akan tetap menerima dia,"


Ney terdiam lagi beberapa menit dia tidak bisa membalas apapun. Rita memang paling banyak membuat Ney terdiam entah karena Ney yang sudah lelah menghadapi Rita atau memang itu mengenai tepat sasaran di niat Ney.


"Lalu kapan kamu mau berkunjung ke rumahnya? Mana mungkin kan kamu tidak ada niat kesana," giliran Arnila sekarang yang mengambil alih.


"Belum tahu juga sih. Aku kan lagi sibuk,"


"Jangan egois ya. Kamu kenal Bayu sebagai kekasih meski menyakitkan. Kamu harus berkunjung kesana karena tetehnya kenal kamu dari adiknya, sangat tidak enak apalagi setelah tahu kamu dengan mudahnya melupakan Bayu. Jangan lupa mendoakan dia juga meski jauh, kirim kan dia Al Fatihah agar dia tenang disana," kata Arnila mengingatkan Ney, dia selalu seenaknya sendiri ingin orang lain memperhatikan dia tapi dia sendiri tidak bisa menghargai orang lain.


"Soal penyesalan juga menurut aku sih tidak pantas kamu mengaku begitu. Dia sampai mencari kamu lagi lho, yang sampai berpikir kemungkinan kamu masih single karena sakitnya menerima kenyataan dia bagaimana. Ternyata sudah bisa menerima orang lain, sesakit apapun kalau aku sih sudah pasti belum bisa menerima kehadiran orang lain karena masih sangat sayang sama Bayu,"


"Ya aku kan kecewa berat, Ri terus merasa jijik tahu dia biseksual itu kan tidak normal. Siapa juga yang mau bertahan sama dia? Sama Alex saja aku tidak mau saat tahu dia sejak kecil cacat jantungnya. Aku memang suka fisik Bayu berotot gitu terus ganteng putih siapa sih yang tidak tertarik? Alex juga sama," mendengar pernyataannya itu ingin sekali Rita melemparkan sendal bakiak pada Ney. Arnila pun merasakan hal yang sama, yah karena mereka berdua tipe Perasaan ya berbeda dengan Ney yang Logika tanpa adanya empati.


"Katanya menyesal soal meninggalkan Bayu, kok sekarang berubah? Cepat banget," kata Arnila.

__ADS_1


"Mana ada dia murni menyesal. Orang dia hanya suka fisik dan materi plus tidak ada cacat. Kalau seperti itu aku penasaran ya suami macam apa yang akan kamu dapatkan nanti. Tapi aku tidak mau kepo karena bukan urusanku," kata Rita yang menahan amarah.


"Gigi aku copot, sedang berdarah," kata Ney tiba - tiba.


"Copot kenapa? Mau mengalihkan topik ya," tebak Rita.


"Bukan! Gara - gara cerita ini, gigiku copot!" kata Ney.


"Ney itu seperti itu, Ri kamu belum tahu kan. Dia kalau memikirkan lelaki yang buka urusannya pasti giginya ada yang tanggal. Kalau selingkuh juga giginya pasti ada yang copot, waktu itu pernah di Jakarta aku lihat sendiri. Giginya tiba - tiba copot terus keluar dari mulutnya, aku kaget banget!" Kata Arnila menjapri Rita. Hueee menjijikkan!


"Wah! Hukuman dia seperti itu!? Sepertinya sudah banyak giginya yang copot ya," kata Rita membayangkan dari semasa dia SMA sampai sekarang, berkali - kali selingkuh.


"Banyak! Sekarang kan giginya tinggal sedikit,"


"Rontok saja semuanya deh buat lelaki yang sudah dia sakiti!" Tandas Rita dengan kejam.


"Kamu ingatkan dong!"


"Berkali - kali," jelas Arnila yang sudah malas.


"Tapi kalau copot lagi berarti dia sudah punya pacar yang baru dong?" Tanya Rita yang membuat heran Arnila tidak menyadarinya.


"OH! Benar juga! Siapa ya?" Yang membuat Rita menepuk dahinya.


"Kamu kalau gigi copot karena selingkuh kan. Kok kamu tidak tobat ya? Terus saja selingkuh mana gigi kamu sudah sedikit pasti kan. Sudah jadi nenek - nenek sebelum waktunya!" Kata Rita membuat Ney terdiam.


"Arnila...."


"Iya aku cerita. Biar Rita tahu keadaan kamu yang lainnya," sepertinya Ney mengutuk Ki Arnila yang selalu saja mengatakan hal yang tidak berguna pada Rita. Tampaknya Ney memang jarang mengatakan banyak hal tentang dirinya pada Rita mengenai dirinya mungkin agar Rita tidak bisa melawan saat Ney membuat suatu masalah. Tapi apa daya, Arnila malah seperti membeberkan semua hal yang Ney harap Rita tidak akan pernah tahu.

__ADS_1


"Sudah deh berbicara mantan jangan diteruskan. Aku tidak tahu apa maksud kamu yang membuat pengakuan semasa SMP, yang menurutku tidak penting ya dan ada niat apa soal kamu menceritakannya. Mantan yang sudah tidak ada untuk apa kamu masih mengingatnya? Lebih baik kamu pikirkan masa sekarang. Mau melabuhkan hati kamu kemana lagi? Dipikir terus nanti gigi kamu copot semua,"


"Rahasia aku lagi - lagi kamu beberkan sama Rita! Rita kan tidak tahu apa - apa soal aku, kenapa kamu malah cerita soal itu segala sih! Orang dia bukan teman aku juga!" Setelahnya dia menyadari telah mengetik sesuatu yang salah dan buru - buru menghapusnya. Namun sayangnya Rita sudah duluan melihatnya dan tersenyum sinis dan sudah sempat menyimpan kata - katanya untuk bukti pada Alex.


"Aku memang bukan teman kamu hanya maksud Arnila agar aku tahu kondisi kamu seperti apa. Benar kan?"


"Iya," jawab Arnila.


"Kamu bilang kan gigi copot, nah berarti kamu sekarang sedang berhubungan dengan yang mana lagi?" Tanya Rita yang membuat Ney mungkin ya salah tingkah lagiiii.


"Ga ada kok, cuma tiba - tiba copot saja!"


"Mengaku! Kalau kamu tidak ada hubungan dengan siapa - siapa, gigi tidak akan copot!" Apa yang diucapkan oleh Rita lagi - lagi mengenai sasaran dan Ney sudah tidak mungkin bisa mengelak lagi, menyadari Rita sebagai lawannya bukan Arnila.


"Duh, salah! Iya iya aku memang sudah punya yang lain! Puas?!" Katanya kesal dan Rita bersorak karena benar.


"Yessss! Benar! Suka bohong ya, sepertinya bilang jujur susah buat kamu," kata Rita.


"Jujur saja kenapa sih? Mau aku yang bilang juga?" Kata Arnila. Oohhh jadi Arnila itu ada kemungkinan memancing ya sedari tadi, pintar juga. Tapi hal seperti ini tuh bisa mengungkapkan mungkin juga dia musuh dalam selimut. Jadi Rita harus lebih hati - hati karena memang dia sendiri bukan teman yang dekat dengan Arnila.


"Jangan! Aku yang bilang saja takutnya nanti kamu bertindak jauh lagi," cegah Ney.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Rita penasaran.


"Oh! Kamu masih on? Aku kira sudah pindah ke Alex," Ney seperti panik sendiri berharap Rita tidak mempersoalkan apa yang baru dia kirimkan ke grup.


"Belum. Alex kan sedang pengobatan jantung jadi pasti lama. Dari tadi juga aku menyimak saja," jawab Rita yang terus memperhatikan obrolan mereka berdua.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2