
"Si Malaysia ini sudah minta maaf sih, dia juga cerita kalau awalnya dia yang ajak mereka dengan tujuan kalau mereka benar teman dekat Teteh, pasti melawan. Tapi nyatanya kan tidak," kata Rita agak sedih dalam suaranya.
Mereka semua diam dan menatap Rita dengan sedih juga.
"Iya makanya keparat dia itu, untuk membuka warna asli mereka apa harus merundung Teteh? Dia kan orang asing. Banyak cara lain yang membuat Teteh paham. Koko sih tidak habis pikir caranya kasar sekali," kata Koko agak kesal.
"Iya Teh, Tyas juga tidak setuju kalau ada temen sendiri kelakuan seperti temannya Teteh. Sudah pasti Tyas tendang juga. Itu aneh si Malaysia sepertinya sok tahu sekali. Kalau misalkan setelah berbagai cara susah diberitahu ya sudah jangan memaksa," kata Tyas marah.
Alex yang berada di sana menundukkan kepalanya. Caranya memang terbilang sangat kasar apalagi membuat Rita kini sulit mempercayai dirinya dan kedua teman toxic.
"Menang orangnya sangat pemaksa, dia takut kalau Teteh mulai super galak jadi dia ajak orang lain. Supaya sama-sama kena ya memang kena semua yang akhirnya membuat dia jauh dari kamu," kata Koko menunjuk Rita.
"Tidak guna," kata Rita sebal.
"Dia kena karma berkali-kali ya hahaha," kata Koko tertawa puas.
"Serius tuh?" Tanya Tyas bertanya.
Rita mengangguk. "Koma berkali-kali. Lalu apa alasan lainnya untuk mengeluarkan "Nenek"?" Tanya Rita penasaran.
"Iya itu tujuannya tapi ternyata terbukalah hal yang lain juga. Saat Teteh dengan kedua yabg lain sudah hancur, dia kabur. Tidak bisa menyatukan lagi memang bodoh orangnya," jelas Koko.
"Caranya kasar dengan maksud agar "Nenek" keluar itu tujuannya. Tapi kalau dua orang itu berbeda, nanti kalau ada kesempatan bertemu pasti mereka akan berusaha menjelaskan. Menurut Ua sih jangan didengarkan," kata Paman Ryan yang sudah tahu masalahnya.
"Akhirnya Teteh kecewa berat kan sama mereka bertiga, seharusnya Malaysia ruqyah Teteh tapi yah, kondisinya kemah sih. Kalau yang dua lagi ya mereka memang maksudnya jelek, apalagi yang satunya lagi paling toxic," kata Ua Mori.
Yang lainnya setuju, Rita juga sama dia sudah lebih tahu Ney seperti apa orangnya. Sebenarnya sudah lama tahu tapi kok tidak sadar ya, selama bertahun-tahun seharusnya dia sadar hanya Rita yang mau menerima keburukannya. Sekarang, malah dia ditusuk.
"Malaysia itu sama dengan Koko, sama-sama logika dengan Tyas juga. Tapi kalau Koko tidak akan pernah mau merundung anak orang meski dia ditempeli hantu. Pasti akan meminta ijin dulu," kata Ua.
"Uang itu tidak bisa membeli Attitude seseorang. Kalaupun bisa itu penuh kepalsuan," kata Koko.
"Mereka bertiga menurut aku, toxic sebenarnya. Benar tidak sih?" Tanya Tyas ke Koko atau Ua.
"Iya. Kalau Malaysia toxic karena ada sebabnya bukan aslinya. Lingkungan dia membuatnya harus penuh kewaspadaan tapi kalau sisanya memang... Toxic. Anehnya kalau mereka memang tidak berkenan berteman kenapa tidak tinggalkan Teteh saja ya?" Tanya Ua lalu seperti membaca sesuatu.
"Karena dia butuh, Dik. Dia melihat sesuatu pada Teteh apalagi Teh Rita menjadi lebih dekat dengan Malaysia. Dia mengorbankan harga diri, memaksakan agar sama setara. Saat dia tahu nanti kemampuan Teteh, dia akan berusaha menyeimbangkan," jelas kakaknya yang lain.
__ADS_1
"Kemampuan saya? Memangnya ada?" Tanya Rita bengong.
"Banyaaaaakkk sekali. Lebih dari kami tapi Teteh tidak berminat kemampuan itu seperti tersegel begitu saja. Mereka bisa membaca aura Teteh, aura Teteh penuh positif itu yang membuat si Toxic iri," kata Ua.
"Seperti kehilangan akal kalau dia dekat Teteh katena mau dikatai apapun, ya memantul semua jadi caranya ya merundung Teteh. Saran, kalau dia nanti berusaha dekat lebih baik kamu tolak. Misal saat sudah berlalu 3 tahun, saya lihat dia akan berusaha menawari dirinya sebagai teman lagi yang benar-benar akan selalu ada," kata ibunya Ryan datang membawa kue.
"Menurut Tante, saya harus terima? Berarti sudah tobat kan," kata Rita agak ada secercah cahaya.
Ibunya menggelengkan kepala. "Bagaimanapun caranya atau saat dia memang ikhlas, lebih baik jangan. Aku hitung orangnya sama sekali harus dijauhi, niatnya memang hanya untuk membantu tapi kalau kambuh gilanya, ya akan begitu lagi. Sayang sih kesalahannya ada pada orang tuanya,"
kata Ua agak sedih.
"Dia pernah jatuh?" Tanya Rita menebak.
"Iya kepalanya yang kena tapi sama sekali tidak diperiksa dulu keadaan ekonomi keluarganya mengenaskan. Dengan tiga anak yang berkebutuhan khusus pada emosional. Ua juga aneh deh sama Ibunya, padahal baik sekali. Suaminya yang aneh," kata Ua memejamkan kedua matanya.
"Malaysia dan si toxic kemampuannya setara dengan Koko?" Tanya Tyas.
"Widih! Jauuuh," jawab ibunya Ryan tertawa.
"Toxic pasti sering menyombongkan kekuatannya ya sama Teteh. Tapi jangan takut kekuatannya bukan murni dari Allah, tapi doa buruk dimana dia terlalu banyak iri pada orang. Teteh juga pasti pernah kan membuktikan penerawangannya?" Tanya Koko.
"Ya da bukan murni baik. Kalau soal tingkatan, Malaysia dan Koko, Koko di atas dia. Jadi seperti tangga. Jadi begini urutan bawah si toxic ya, nah atasnya temennya itu, lalu atasnya Malaysia nah saya, atasnya dia," jelas Koko senyum.
"Wohhh kalau begitu mereka tidak bisa menyombong ya. Langit masih ada langit," kata Rita mengerti.
"Iya begitu," kata Koko. "Hanya si toxic ini tidak bisa menerima yang kekuatannya sebut sajalah hanya 5%," sambung Koko.
Rita mengerti seperti yang dia kira juga.
"Kalau... kekuatan Teteh aktif, Koko, Ua dan semua yang disini sudah pasti kalah. Kalau ya tapi yang Ua lihat mah justru kamunya tidak peduli," kata Ua Mori menghela nafas.
"Kalau niat aktif semua Ua dan yang lainnya tidak ada pemasukan kan," kata Rita mikir.
"Hehehehe," kata mereka semua.
"Tapi da kita jangan cemas Teteh sama sekali tidak tertarik soal kekuatan. Hanya makanan saja ya," kata Paman.
__ADS_1
"Hehehe kekuatan tidak bisa membuat perut kenyang sih," kata Rita.
"Apa karena itu toxic ini selalu mencari perhatian? Saat tahu Teh Rita kekuatannya lebih besar?" Tanya Tyas.
"Iya tapi... Teh Rita sama sekali tidak peka kalau soal Power ya," kata Koko ketawa. "Pokoknya kasihan deh dia selalu memancing perhatian Teteh tapi gagal," kata Koko.
"Buat apa peka sama orang yang begituan? HIH!" Kata Rita bete.
"Yaaa bagaimana ya? Si toxic sama Malaysia itu ya sering sekali beri kode tapi karena Teteh nya tidak peduli dengan hal begitu, ya memantul. Hahahaha," kata Koko tertawa keras.
Tyas dan Rita menatap Koko dengan ekspresi datar.
"Kenapa Tyas seperti itu?" Tanya Rita.
"Soalnya Tyas juga kata Koko tidak jauh beda sama Teteh," kata Tyas.
"Iya hahaha kalian berdua sama makanya kasihan sama cowok yang senang sama kalian. Harus sabaaaaarrrr sekali Kalian lebih langsung merespon kalau cowok langsung menyatakan suka bukan yang kode-kode. Kalau kalian merasa mereka pakai kode, ya pasti kena pergi hahahaha," Kata Koko tertawa keras lagi sampai menangis.
"Memangnya harus ya?" Tanya Rita.
"Ya habisnya kan buat apa kode segala. Kalau suka ya langsung bilang saja, justru kalau lama ngantuk yang ada. Teteh bagaimana?" Tanya Tyas.
"Ya sama lah. Repot sekali menunggu dia kasih kode. Mendingan cari yang lain ya," kata Rita. Tyas setuju, Koko berhenti tertawa.
"Iya juga sih, lama ya otak cowok tuh kalau mikir apapun beda. Sama perempuan langsung ketemu poin meski salah, ya pikirin nanti saja kan," kata Koko manggut-manggut.
Mereka berdua mengangguk, Koko tepuk jidatnya.
"Jadi, Menurut koko, aku jangan dekat lagi sama toxic dan temannya? Kalau Malaysia bagaimana?" Tanya Rita.
"Harus! Kalau kamu dekat sama yang satunya, nanti akan ada masalah. Si Toxic ini orangnya super iri sama orang, temannya itu juga sering kok seperti Teteh. Dia itu tidak suka kalau Teteh berada di atas dia atau semua orang. Nah kalau temannya itu jauh sama Toxic ini, baru aman. Tapi yang saya lihat, dia sudah dekat sekali sih tapi bukan sahabat," jelas Koko merasa aneh.
"Hah? Kok aneh? Bukannya orang yang sudah sangat dekat bagaikan saudara biasanya..." kata Tyas berpikir lagi.
Koko juga berpikir agak aneh sekali dan mendapat sesuatu. "Karena memang dia punya tujuan juga dekat sama Toxic ini. Menurutku sama-sama jelek, jangan deh kamu lebih dekat sama mereka. Sahabat kamu yang masih ada serta teman dekat, itu kualitasnya lebih tinggi dari mereka berdua, jadi tinggalkan saja," kata Koko.
Rita berpikir dan mengangguk mengerti. Setidaknya kini dia merasa lega, semua rasa penasarannya terjawab kan sudah. Kalau nanti dia meninggalkan Ney dan Arnila pun memang seharusnya dan lebih baik begitu.
__ADS_1
Bersambung ...