
"Jangan banyak berkhotbah deh jangan salahkan aku kalau doa kamu tidak terkabul. Kamu pasti iri kan semua doa aku terkabul," ingin sekali saja Rita pukul nih orang.
"Maaf ya doa - doa aku selalu terkabul tuh, sekalinya terkabul alhamdulillah bertahan lama. Tidak seperti seseorang yang kalau berdoa, hanya bertahan 2 hari. Kami harus mulai berhati - hati dengan mulut eh pikiran kamu sendiri!" Kata Rita yang sudah kesal sekali.
"Memangnya kenapa? Tidak terima?" Ney menantang Rita.
"Iya dong, mulut dan pikiran jelek kamu nanti akan merasakan hasil dari doa kami yang jelek! Masih belum terlambat jadi aku beritahu, terserah mau kamu dengar atau tidak. Kamu kan memang bebal,"
Sangat memanas sekali seperti biasanya kalau sudah berhadapan dengan Ney dan Arnila hanya bisa menyimak. Mengenai Arnila dan Ney, Rita masih bimbang apakah Arnila berpura - pura baik untuk menjebak Rita suatu hari nanti atau memang dia anak baik? Tapi karena Ney selalu ada bersamanya... ya akan sama saja.
"Dan aku masih belum percaya kalau kakekku yang memberi kemampuan indera ketujuh dan khodam!" kata Rita sekali lagi menjernihkan keadaan dengan Ney yang juga tetap dengan keyakinannya.
"Ya kita lihat saja nanti setelah kamu mencoba bertanya pada saudara kamu," kata Arnila yang berusaha menengahi keadaan.
"Kalau kata aku tetap ya, karena aku lihat sendiri kakek kamu itu meditasi di gunung," benarlah Ney masih bersikeras dengan pernyataan yang sama.
"Kalau salah, terima konsekuensinya," kata Rita gemas.
"Iya pasti Ney terima mau bagaimana lagi kan sudah terlanjur keluar juga. Kalau terbukti benar perkiraan Rita yang tidak sesuai kamu lihat, jangan terus mempermasalahkan. Deal?" Tanya Arnila pada Ney.
"Iya deal! Lihat saja!" Kata Ney dengan berani. Kadang tidak mengerti soal kelakuan dia yang terus tidak mau kalah, apa dia sengaja agar semua perhatian terarah kepadanya? Kenapa tidak mengaku saja kalau dia sudah kalah didepan mata malah terus memperpanjang masalah sendiri?
"Ya deallah sudah menantang bahaya juga kan,"
"Yang aku tidak mengerti kenapa kamu tidak memberitahu aku?" Tanya Ney yang lainnya.
"Tentang apa?" Tanya Rita balik. Ini soal yang mana ya?
__ADS_1
"Indera ketujuh kamu! Selama ini kenapa tidak pernah ada pembicaraan soal itu?! Aku kan..." lalu dipotong Rita.
"Sudahlah! Jangan mulai dengan 'Aku kan teman kamu'! Toh, kamu sama sekali tidak tahu apa - apa soal aku, yang sepele pun tidak ada yang bisa kamu mengerti. Seperti kenapa sampai sekarang aku memilih terus single, tidak minat pacaran, seperti itu saja kamu tidak mengerti? Stoplah, kalau tidak tahu jangan memaksa sok tahu!" kata Rita yang sangat malas sekali mendengar penjelasan Ney.
"Kamu pacaran waktu SMP saja tidak pernah cerita kan pada Rita. Kenapa sekarang hal seperti ini kamu menuntut?" Tanya Arnila yang membuat Ney tampaknya kelabakan.
"Pacaran diam - diam ya, Arnila? Buat apa juga aku tahu? Aku kan bukan teman dia tepat uang dia bilang ke kamu di roll atas. Aku baca kok dan memang iya aku bukan teman kamu, itu menjadi awal kehambaran pertemanan aku sama kamu. Tapi aku tidak sedih kok, aku kan punya teman sendiri," jawab Rita dengan perasaan yang memang tidak ada penyesalan dan itu membuat Ney gelisah. Mungkin dipikirnya Rita akan marah tapi diluar dugaan, berbeda.
"Ya habis itu kan rahasia dan kamu juga kan tidak mau tahu," kata Ney yang mulai menyalahkan Rita.
"Aku tidak tahu karena kamu tidak pernah cerita. Kapan kamu pernah cerita? Setiap hari kamu di sekolah kamu selalu tiba - tiba kabur," Ney terdiam karena memang kenyataannya begitu, dia tidak pernah banyak bercerita soal apapun jadi bagaimana Rita bisa tahu? Kalau dari awal Ney menganggap Rita sebagai temannya, harusnya dia terbuka tapi ini malah sembunyi - sembunyi jadi ya sudah Rita pun mencari teman yang lain.
"Jangan suka menyalahkan orang lihat dulu diri kamu sendiri, dulu apa pernah kamu banyak cerita?" Tanya Rita yang sudah kesal di ubun - ubun.
"Oke oke aku minta maaf aku yang salah. Aku pikir juga mana mau kamu mendengar cerita aku, jadi aku diam - diam pacaran. Aku mau buat pengakuan sekarang soal yang dulu, yang aku tidak ceritakan sama kamu, Ri,"
"Waktu SMP itu aku pacaran sama Bayu kelas sebelah, memang sih tidak ada yang tahu karena Bayu itu kan terganteng di sekolah. Jadi ya pasti banyak yang cemburu ke aku,"
"Nah Bayu saja aku tidak tahu kelas sebelah yang mana. Jangan - jangan temannya Arya ya?" Tebak Rita meski dia tidak tahu Bayu yang mana.
"Iya dia temannya tapi Arya juga merahasiakannya. Cukup teman - teman dia yang tahu sampai kita naik ke kelas 2," kata Ney.
"Tuh bukan aku yang salah justru kamunya yang tidak mau membuka diri coba untuk bercerita soal apapun juga. Itu lho awalnya bisa jadi teman yang saling berbagi tapi kamu yang aku lihat dari masa SMP juga tidak mau bersosialisasi dengan siapapun. Waktu SMP memang aku juga belum begitu tahu apa itu teman dekat atau sahabat, bukannya tidak peduli hanya belum mengerti," jelas Rita.
"Jadi soal teman dekat atau sahabat pun kamu memang tidak mencari itu?" Tanya Arnila.
"Boro - boro mikirin teman, aku kan termasuk ke peringkat rendah soal pelajaran makanya aku fokus sama pelajaran sekolah, syukur aku kenal Sina dkk mereka kan yang membuat peringkatku naik sedikit. Dari situ aku belajar berteman dengan mereka, mereka juga siap membantu. Kamu? Pacaran saja terus," kata Rita.
__ADS_1
"Iya kamu kan bergabung sama grup anak menteri, aku malah diusir!"
"Kamu bicara sama mereka dengan persoalan yang berbeda tentang aku dan salahnya kamu pikir aku hanya akan percaya 1 arah saja sama kamu. Ya salah! Bukannya koreksi diri, kamu terus saja begitu dengan anggapan yang salah!"
"Oooh begitu... ya itu sih salah kamu, Ney. Kenapa sih tidak cerita? Takut Rita tidak bisa dipercaya? Ya itu sih bisa kelihatan bagaimana Rita sehari - hari di dalam sekolah. Kalau kamu terbuka mungkin kamu bisa masuk ke grup Rita," ucap Arnila menjelaskan tapi sudah terlambat ya.
"Iyalah, Arnila, grup aku tuh kejujuran yang paling diutamakan tapi kan ... ya itulah. Sampai sekarang juga masih sama ya. Terus siapa lagi selain Bayu? Pasti banyak yang tidak aku tahu. Kenapa baru sekarang kamu beberkan? Sudah basi tahu kamu buat pengakuan!" Kata Rita sangat kesal. Apa maksudnya coba pengakuannya sekarang? Kenapa saat mereka masih kuliah meski berbeda tempat.
"Sabar Rita, meski terlambat ya biarkan sajalah Ney menyelesaikan pengakuannya," Arnila menenangkan Rita yang tampaknya sudah tidak sabar menutup obrolan.
"Ya bukan seperti ini juga, Arnila. Maksud kamu buat apa pengakuan segala? Aku tidak butuh kok,"
"Ya supaya kamu percaya, aku tuh mau terbuka sama kamu sekarang,' kata Ney.
"Sekarang? Atas dasar apa? Karena aku bisa dapat kenalan anak billion? Terus kamu anggap kalau kamu mulai terbuka, mungkin aku bisa anggap kamu sebagai teman terdekat? Wahahahaha licik ya kamu!" kata Rita.
"Lebih milih mana daripada aku terus diam,"
"Ya bagus kamu diam saja. Mau cerita atau tidak, ya sudah terlambat. Enak banget ya cara kamu saat kamu berpikir teman yang dibawah standar ternyata mulai diatas, kamu seperti memohon agar dianggap teman. Bah! Dulu kenapa kamu bilang sama sahabatku kalau aku dibawah standar kamu?!" Rita sangat ketus pada Ney saat ini. Kekesalannya yang dia tahan dulu - dulu, mulai keluar. "Yang mengesalkan ya, tidak ada satupun kamu pernah membela aku selama aku dikucilkan Alex, kamu justru membela orang yang baru kenal hanya karena dia tampan. Dimana otak lu!"
"Sabar, Rita. Sabarrrrr," kata Arnila.
"Lu bayangin aja, Arnila. Kamu kenal orang terus hanya karena dia punya teman yang lebih tinggi, dia buang kamu terus saat tahu kamu kenal dan dekat lelaki yang statusnya lebih tinggi dari dia, tiba - tiba kamu ditarik dia, disanjung. FAKE banget!" Ucap Rita dengan emosi yang memuncak.
"Iya mengerti. Aku kan sekarang sedang mengalaminya, Ri." Benar juga ya... "Lanjut saja ya ceritanya, Ney."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1