ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
412


__ADS_3

"Kamu tidak tahu ya kalau Alex sudah tahu niat kamu seperti apa. Memang siih dia secara gamblang ya mengatakan kamu orang yang baik tapi ada tidak Alex berkata kalau kamu "Sahabat" yang baik juga?" Tanya Arnila penasaran Ney selalu berkata bahwa dia sosok sahabat yang baik untuk Rita. Nyatanya jauh sekali.


Ney terdiam, Alex memang tidak mengatakan ke arah itu. Yah, kita saja juga tahu kalau sahabat yang Real akan berusaha mengeluarkan solusi yang cocok dengan kepribadian temannya kan, bukan malah melenceng. Apalagi Ney juga berpendapat sama dengan Alex dulu kalau kepribadian Ritalah yang bermasalah.


"Itu akan merombak segalanya saat Alex bertemu dengan kamu nanti," kata Arnila.


"Hah? Alex akan bertemu aku? Kapan?" Tanya Ney kaget.


"Ya pasti bertemu kalau Rita menikah sama dia kan. Okelah kita bisa koar seenaknya dalam media sosial tapi saat bertemu langsung dan dia melihat siapa kamu, semua yang dia pikirkan ya berubah. Termasuk kepada Rita," kata Arnila menghabiskan es krimnya.


"Biarin deh yang penting kamu tanyakan soal foto Alex. Aku penasaran mau lihat juga terus tanya dia suka kirim foto telanjang tidak?" Tanya Ney yang tidak mempermasalahkan itu.


Arnila kaget. "HAH!? Tidak salah? Ogah. Kamu saja yang bertanya, kenapa sih kamu mengintip Alex telanjang ya? Benar deh kata Rita kamu harus ganti otak! Hentikan kebiasaan seperti itu," kata Arnila dengan marah.


Memang Ney memiliki kemampuan sixth sense tapi dia menggunakannya untuk keuntungannya sendiri biasanya kebanyakan dia sengaja "Mengintip". Untuk itulah dia jadi seseorang yang terlalu banyak iri padahal kan itu tidak baik. Apalagi soal Alex, dia sering mengintip apa yang dilakukan olehnya mungkin termasuk bertelanjang.


"Aku tidak sengaja kok, tiba-tiba saja terlintas begitu," kata Ney cemberut.


"Tidak, aku tidak percaya masalahnya kamu sering begitu kalau sudah penasaran. Kemampuan kamu benar-benar seharusnya bermanfaat bukan untuk mengintip. Mata kamu akan belo nanti," kata Arnila tetap menolak. Inilah yang tidak disukai olehnya juga, kebiasaan paling jelek Ney mengintip fisik seseorang.


"Ya sudah nanti aku yang tanya. Tapi yang itu kamu nanya gih. Buruan," kata Ney memaksa.


"Ini terakhir ya kalau Rita menolak, sudah," jawab Arnila mengetikkannya.


"Iya iya tapi aku yakin Rita akan kasih soalnya kan kamu yang tanya," kata Ney senyum.


"Belum tentu, dia kan ada privasi juga. "Rita, ini aku Arnila kadi bagaimana? Alex sudah beri kamu foto dirinya?" Nih ya aku kirimkan," kata Arnila. Ney mengangguk sambil terus melihat isi chatnya.


Rita saat itu sedang memakan salad buah yang dia sukai lalu membaca pesannya. Dia kesal kenapa sih semua orang penasaran? Dan kalau sudah tahu pasti keluar kalimat "Tidak cocok". Rita berpikir dia tidak mau mereka apalagi Ney tahu foto Alex, terlalu sayang untuk dibagikan.


"Ada," jawab Rita singkat. Sudah tertebak pasti Arnila disuruh oleh Ney.


"Wah, ada! Suruh dia kirim," kata Ney dengan semangat. Lagi-lagi Arnila bete tapi dalam hatinya juga dia penasaran sekali.


"Kirim dong. Aku juga mau lihat soalnya kan lama kamu kontak sama dia, sama sekali belum ada fotonya," kata Arnila.


"Buat apa? Kamu kan sudah ada Imron tidak baik melihat laki-laki lain, Nil kecuali... kamu di paksa suruh teman kamu tuuuh untuk aku memperlihatkan foto kan," kata Rita.


"Nih katanya," Arnila memberikan ponselnya.


Ney senewen membacanya. "Tapi kan si Ney masih single, Rita jadi bisa kan," balas Ney mengatur strategi. Namun sayang strategi apapun selalu bisa Rita patahkan.


"Tidak mau. Terlalu sayang aku bagi fotonya Alex sama dia," tolak Rita yah memang sayang sekali sih selain ada foto dirinya.


"Ihhh dia menolak dong! Terus bagaimana?" Tanya Ney kesal.


"Ya sudah jangan dipaksa kalau dia mau lihat nanti juga dikirim," kata Arnila memakan kuenya dan membuka pesan lainnya di ponsel.


"ARGHHH tapi aku kan penasaran. Kenapa sih dia tidak mau memperlihatkan?" tanya Ney.


"Dia kan tahu kamu sifatnya bagaimana. Sudah deh urusan Rita, stop! Kamu juga kan ada yang harus diurus, soal pertunangan dengan Dins," kata Arnila.


"Aku masih belum menyerah!" Kata Ney yang masih membara. Arnila hanya menggelengkan kepalanya.


"Ney memaksa tuh belum menyerah dia. Aslinya ganteng?" Tanya Arnila.


"Wuhhh 100 persen! Maaf ya fotonya tidak bisa aku beritahukan. Not now," kata Rita.


"Ya aku sih tidak masalah, hanya Ney masih mencari cara memaksa kamu memperlihatkan fotonya," kata Arnila menatap Ney yang makan dengan seenaknya.


"Kamu sering ya disuruh-suruh sama dia yang aku perhatikan. Kenapa sih? Kamu takut?" Tanya Rita langsung ke sumbernya.


"Ya itulah Rita. Aku juga tidak tahu kenapa ya selalu tunduk sama dia," kata Arnila menatap Ney yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Hati-hati bukan apa-apa sih. Jangan-jangan kamu kena santet dia selama ini kamu tidak bisa melawan sih," kata Rita membuat Arnila terdiam.


"Iya juga sih aku harus di ruqyah kali ya?" Tanya Arnila. Rita baru dia seorang yang merasa kalau dirinya terlalu tunduk pada Ney.


"Iyalah. Ruqyah itu kan diharuskan ya tapi tidak setiap hari untuk membersihkan kotoran dalam diri kita," kata Rita.


"Hm! Oke deh sepertinya aku mulai sekarang mau juga ruqyah. Ibuku sering menawari ruqyah tapi aku selalu menolak eh kamu yang sadar aku lebih sering nurut sama dia. Terima kasih ya kamu menyadarkan aku," kata Arnila.


"Bukannya sebelum menikah kamu memang suka ruqyah? Kok berhenti?" Tanya Rita.

__ADS_1


"Takut Imron tidak setuju masalahnya rambutku harua dibotakkan," kata Arnila.


"Haaaah? Ekstrim sekali," kata Rita tidak membayangkannya pantas dia menolak.


"Kan Rasul juga begitu, Rita. Tapi aku juga penasaran sih soal Alex kalau kamu tidak mau memperlihatkannya, ya sudah," kata Arnila.


"Iya terlalu ganteng untuk diperlihatkan hahaha," kata Rita. Arnila tersenyum setidaknya dia tahu kalau Alex memang tampan. Kalau dalam dunia Nabi seperti Nabi Yusuf meski tidak sempurna.


Kemudian Ney mencoba dengan bahasa Arnila di nomor yang baru itu. "Kok kamu begitu sih? Wajar kan aku bertanya masa dengan teman sendiri kamu tidak mau memberitahu sih? Ayo dong kasih tahu," kata Ney dengan senyumnya yang puas.


Rita membaca dari nomor itu lalu ketawa. "Apa sih Ney kalau aku bilang tidak ya tidak. Mau kamu mengubah bahasa tetap aku tahu ini kamu, Ney. Aku sudah tahu trik kamu selanjutnya apa," kata Rita yang sekarang membalas sinis.


"Sial, dia cepat sekali tahu kalau ini nomor aku," kata Ney yang memainkan kukunya dengan kesal.


Arnila hanya memandangi Ney dan tidak mau ikut campur lagi. "Kamu menggunakan bahasa aku ya? Memangnya bisa? Rita bisa tuh karena dia sudah kenal kita lama kalau dia mau, bisa ubah bahasanya seperti kamu," kata Arnila membuat Ney bengong.


"Dia pasti mengira aku ini kamu," kata Ney dengan senang.


"Yang dia sadari adalah kebiasaan kamu, yah sedikit dia tertipu tapi kan kebiasaan aku memang tidak akan mencampuri urusan orang makanya dia sadar kalau itu ya pasti kamu," kata Arnila minum air.


"Kamu itu iri sekali ya orangnya. Kalau sudah tahu fotonya lalu kamu mau berbuat apa?" Tanya Rita penasaran.


"Ya aku mau menilai dia apa memang baik untuk kamu atau tidak. Aku kan selalu seperti itu seperti dulu juga," kata Ney.


"Iya kamu tahu fotonya, kamu add akun mereka kalau ditolak, kamu mengeluh ke aku kan. Nah buat apa kamu selalu add mereka? Coba jawab selain kamu iri," kata Rita menantang.


Ney kesal sekali. "Si Rita menyebalkan sekali memangnya aku tidak boleh add orang yang dia kenal?" Tanya Ney.


"Lah iya, memangnya kenapa kamu add juga? Hanya karena kamu teman Rita, tidak bisa seenaknya main add saja," kata Arnila.


"Lagian kamu kan pintar cari info kok malah bertanya? Keman informan kamu yang biasa beri berita?" Tanya Rita.


"Ya informan aku sedang pergi jadi aku tanya ke kamu," kata Ney mengakui.


"Kamu kan punya kemampuan spiritual ya pakai itu. Pakai tuh jin sesat kamu! Kan kamu selalu membanggakan kolaborasi dengan setan kan," kata Rita langsung menyentaknya.


Ney menggigiti kuku jari jempolnya membaca pesan dari Rita.


"Kenapa? Rita balas apa?" Tanya Arnila tapi Ney hanya diam akhirnya Arnila mengambil ponselnya dan membacanya.


"Lho kan memang iya. Aku yakin kamu sadar kalau Daeng itu sebenarnya gendersawo ( Plesetan supaya tidak terlalu seram ) kan? Daeng dalam istilah lain itu berupa status dari seseorang yang bergelar bangsawan. Yang bangsawan itu leluhur nenek kamu, ke sininya ya kalian mah orang biasa," jelas Arnila membuat Ney terdiam lagi. Arnila tertawa ngakak membaca pesan dari Rita.


"Tuh kaaan benar kalau ini memang kamu. Hahaha mau menipu atau menjahili aku ya mana mungkin kami bisa," kata Rita akhirnya menang berhasil memecahkan misteri.


"Sudah tidak ada kesempatan lagi kamu tahu Alex yang aslinya toh kamu juga mantan dia seminggu. Sudahnya malah kamu bilang Alex itu tidak ada wujud," kata Arnila tertawa.


Tiba-tiba saja Arnila dan Rita sudah masuk grup lagi. LAGI! "YA ALLAAH," Teriak Rita dan Arnila bersamaan.


"Untuk apa lagi sih buat grup? Aku sudah lelah ya urusan sama kalian," kata Rita.


"Ini untuk apa sih? Bawa-bawa aku lagi? Aku juga sama sudah tidak mau chat sama kamu, Rita. Mumet! Sudah sekarang, urusannya sama kalian berdua saja ya. Aku lepas! Sudah menikah juga beda urusan," kata Arnila.


"Yang lalu sudah deh kita lupakan. Sekarang kita buka yang lain saja," kata Ney.


"Halah! Buka lembaran baru itu tidak sekilas, Ney. Butuh 2 tahun baru namanya lembaran baru. Kamu mah sama saja topiknya pasti soal Alex kan," kata Rita tepat sasaran.


Rasa-rasanya Rita ingin sekali meledak saat itu juga tapi menyadari dirinya masih di tempat kerjanya, dia tahan. Akhirnya Rita tinggalkan ponselnya dia harus mengerjakan tugasnya dahulu.


"Iya tuh. Ini mah sama saja. Rita juga kan sedang bekerja pasti sibuk, Ney. Sudah deh lebih baik kamu cari kerja daripada sibuk mengemis," kata Arnila dalam grup.


Kita mengobrol sore saja ya kalau begitu," balas Ney.


Ponselnya kelap kelip notif chat mereka memberitahukan ada pesan masuk. Rita tetap mengerjakan pekerjaannya berbeda dengan keempat asisten lainnya yang sejak tadi terus mengobrol. Dia tidak mau kejadian lagi seperti di tempat Tknya terdahulu, membuatnya malah dikeluarkan.


Alex juga otomatis tahu soal grup itu karena dia lagi-lagi meng HACK nomor handphone Rita. Tapi tidak sampai mengganggu orang-orang di dalamnya setidaknya dia bisa tahu keadaan Rita dan kedua temannya. Perkiraan Alex mengenai Rita pun sedikit demi sedikit melenceng dari ekspektasinya selama ini.


Pukul 3 sore Rita selesai mengerjakan sebagian pekerjaannya dan bersiap akan pulang.


"Bu Rita, mau ikut? Kita mau nongkrong di Cafe dulu," ajak asisten satu.


"Oh, tidak. Saya mau langsung pulang saja. Lelah kerasanya tidak menduga hari ini langsung bekerja sih," kata Rita dengan sopan.


"Iya juga ya. Kita juga sama sekali tidak menduga. Ya kalau begitu lain kali mungkin ya. Yuk," katanya langsung menuju jalan lain.

__ADS_1


Hanya butuh sekali naik angkot langsung menuju rumah. Tak lupa Rita juga mulai membeli makanan cemilan untuk menemaninya bekerja di rumah, tidak lupa Toppoki kesukaannya dan berbagai makanan Jepang. Tugasnya banyak sekali.


Datang ke rumah langsung rebahan dan segera memeriksa amplop yang diberikan wakil kepala sekolah. Ternyata dia mendapatkan uang sebanyak Rp 1.500.000 sebagai uang muka dan dia terkejut sekali. Diceritakanlah olehnya ke kedua orang tua dan kakak adiknya, mereka sangat kaget baru juga bekerja sudah dapat bonus.


"Wah, asyik sekali tuh," kata kakaknya yang agak iri. Padahal dirinya justru memiliki perusahaan sendiri yang keuntungannya melebihi pemasukan Rita.


"Ada traktiran lagi dong," kata adiknya tertawa.


"Ih, aku juga mau dong kalau di traktir. Jadi mau kapan?" Tanya kakaknya.


"Tolong ya baru sehari kerja. Ini juga sebagai biaya untuk pengerjaan hiasan anak kali. Mana tugasku juga sudah diberi banyak. Nanti bantuin ya," kata Rita ke adiknya.


"Prita juga kan sibuk. Kamu kan sendiri bisa," kata ibunya. Yah, kalau soal adiknya sudah pasti ibunya selalu keberatan.


"Asal ada bayarannya saja itu mah gampang," katanya sambil memberikan kode.


"Ada. Ada kalem," kata Rita lalu kembali ke kamarnya.


"Jangan Prita kamu kan sebentar lagi sibuk magang juga. Biarkan saja kakakmu kerjakan sendiri sudah besar ini," kata ibunya.


"Ah, magangnya juga masih lama. Lumayanlah dapat uang dari bantu-bantu. Jangan begitu Bu, selama ini Rita kalau mengerjakan apapun selalu sendiri kan tidak pernah juga minta bantuan ibu," kata Prita membuat ibunya diam.


Dalam kamarnya Rita mulai membuat beberapa hitungan untuk membeli perlengkapan karya seninya untuk sekolah. Untunglah ada buku panduan jadi Rita tidak kesulitan, tugasnya seperti memasukkan nama-nama anak setiap kelas.


Ada 20 kelas. Ekstra keras Rita bekerjanya dan butuh bantuan orang lain. Belum lagi membuat hiasan kelompok di setiap kelas, lalu menurut keterampilan juga. Membuat bagan tema dan kegiatan lainnya meski dirinya bukan sebagai guru, otaknya tetap dipakai untuk diperas ide.


Sedangkan guru disana hanya ditugaskan mengajar dengan kemampuannya sendiri. Buku juga mereka punya lengkap serta buku kreativitas jadi Rita dan 4 lainnya tidak perlu mencari keluar.


Untungnya gaji mereka berlima lumayan besar dengan uang muka setiap 3 bulan sekali. Bagi Rita itu sudah sangat besar berbeda dengan empat asisten lainnya. Yang dia dengar dari obrolan mereka tadi di kantor.


"Ada uang mukanya lho," kata yang pertama antusias.


"Eh berapa? Berapa?" Tanya yang kedua.


Mereka berempat membuka amplop dan kaget. "Rp 1.500.000!" Dengan kompak.


"Sepertinya semuanya sama ya," kata yang ketiga agak cemberut.


"Harusnya kan lebih besar karena sekolah ini juga termasuk elit," kata yang keempat.


Rita hanya mendengarkan saja. Untuk Rita sih lumayan besar toh bisa untuk dirinya membeli cemilan juga.


"Kalian tahu gajinya berapa?" Tanya yang kedua.


"Kita kan masih hari pertama katanya nanti diberitahu kalau kita sudah kerja selama seminggu," kata yang keempat.


"Aku lihat dong waktu aku disuruh mengambilkan buku agenda," kata yang pertama.


Mereka histeris, Rita juga jadi penasaran.


"Berapa?" Tanya ketiganya penasaran.


"Kecil dooong. Rp 3.000.000 per bulan," kata yang pertama dengan kecewa.


"Hih, dengan tugas kita yang super banyak segitu kurang ya harusnya Rp 5.000.000 atau sepuluh," kata yang ketiga juga.


Rita kaget untuknya itu sudah cukup besar apalagi ditambah banyak bonus, uang makan, uang transportasi. Beuh!


"Aku kan biasa pakai kosmetik mahal kalau mau ke sekolah, harus pakai itu. Kalau gajinya segitu, aku harus berhenti selama 2 bukan dong," kata yang kedua.


"Hei kalian, syukuri saja sih apa yang kita dapatkan nanti. Kan akan dapat banyak bonus dan pemasukan lain. Kalau mau naik sampai sepuluh ya kalian kerjakan tugasnya dengan profesional. Jangan mengobrol terus," kata Tita yang sudah gemas.


Bukannya di dengar dengan bijak mereka menatap Rita dengan pandangan mencela. Akhirnya? Ya mereka tidak pernah mengajak ngobrol Rita, makan juga Rita dengan guru lain atau dengan para pembantu sekolah.


Kalau ada kegiatan kelompok, Rita selalu sendiri meski sudah diatur dengan wakil kepala sekolah pun, asisten yang dipasangkan dengannya memilih bergabung dengan yang lainnya. Alhasil kena marah karena pekerjaan mereka tidak bagus.


"Kamu ini kerjanya bagaimana sih? Kamu kan saya pasangkan dengan Rita, karena dia kalau bekerja bagus. Fokus. Kenapa kamu malah bergabung dengan kelompok lain?" Tanya Wakil agak kesal.


"Saya tidak suka dipasangkan sama dia, Bu," katanya menunduk.


"Iya tapi kenapa? Dengar ya Bu Asih, ini adalah bagian dari tes kami. Kami akan melihat apakah kalian berlima bisa mengerjakan tugas perseorangan dan kelompok. Kalau ibu dari pertama kerja saja sudah banyak mengeluh, mungkin terpaksa kami berhentikan," jelas Wakil membuat Ibu Asih tersebut tidak mau.


Sebagai hukuman Bu Asih diberikan lebih banyak tugas lagi. Sedangkan Rita ya terus mengerjakan tugasnya tanpa banyak mengeluh. Justru lebih enak begini daripada menjadi guru kelas.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2