ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
427


__ADS_3

Alex pun marah dan pundung. Rita sama sekali tidak mau ambil pusing yang penting dia sudah beritahukan bahwa hari ini akan datang ke rumah Ratih.


"Kalau sudah, cerita ya," kata Alex yang malu dirinya cemburu tidak kenal tempat.


"Yaaa." Balas Rita sambil sedikit tertawa.


Rita naik angkot kemudian jalan menuju rumah saudaranya di Jl. Kucing Bandung. Mereka sudah berjanji akan bertemu di rumahnya sekitar jam satu siang. Rita disuruh menginap saja di rumahnya tapi menolak karena tidak enak juga.


Rita tiba di rumah Ratih yang besar dan luas. Rita lalu mengetuk rumahnya. Ratih yang membukakan.


"Eh, Teh Rita ayo masuk. Jadi tidak menginapnya?" Tanya Ratih.


"Tidak ah, besok aku kesini lagi saja. Merepotkan sekarang kan hanya perkenalan saja. Orangnya sudah datang?" Tanya Rita masuk lalu salim ke tante dan omnya.


"Belum sih, agak telat sepertinya. Duduk saja dulu teh. Lagi ada keponakannya Ryan sih jadi memang penuh rumah ini," kata Ratih.


Yah, memang penuh. Banyak mobil yang datang lalu Rita duduk santai di sofa.


"Anaknya sudah ada ya," kata Bibi bisik pada Ratih.


"Bibi mau ketemu? Tuh di ruang tamu," kata Ratih mengambilkan minum.


"Nanti saja kalau ruqyah nya dimulai. Koko belum datang juga kan," kata Bibi Ryan lalu rebahan di kamar.


Rita memang sering mencari tempat ruqyah tapi tidak ada satupun yang memuaskannya. Ruta pernah mendaftar di Therapy Ruqyah Bandung, dia ditanya oleh petugas sana soal apa yang mau Rita tanyakan. Saat Rita cerita bahwa kadang dirinya bukan dirinya, petugas itu hanya menjawab "Itu perasaan Teteh saja".


Ada juga yang tahu tapi dia menyerah katanya terlalu besar kekuatan yang menempel. Bahkan malah kena usir karena pada takut, Yahhhh...


Akhirnya Rita menyerah dan melawan sebisa mungkin tapi efeknya selalu saja ada yang terluka di badannya. Saat sudah lelah dan akhirnya menangis, datanglah tawaran ruqyah yang dikenalkan oleh Ratih.


Karena lama, aku disuruh Ratih untuk rebahan dulu di kamar. Sekitar pukul setengah 2, Koko datang dengan memakai kemeja garis-garis dan celana jins panjang.


"Wohh jadi itu Koko. Ganteng banget," kata Rita senang.


Tanpa diduga Koko menatap Rita dan mereka menundukkan kepalanya menghormat. "Sebentar ya Teh," kata Koko dari jauh.


Rita menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempol. Kalau dari tampangnya sih memang oke punya ( yang penasaran bisa cek di ignya di episode 426 🤭🤭🤭 ).


"Apa dia bisa dengar suaraku dari jauh ya? Pas banget aku bilang begitu langsung lihat ke sini," pikir Rita garuk kepala.


Bibi Ryan juga ada tapi memperhatikan Rita dan Koko dari lantai atas lalu turun ke bawah ingin lihat kondisi keponakannya.


Saat Rita tengah duduk, datanglah keponakan yang mau di ruqyah Koko. Super judes ke arah Rita benar-benar tampak panas sekali.


"Anan, sudah! Salah apa sih Teteh itu? Ayo," ajak kakaknya menarik keponakan itu.


"Aku tidak suka sama orang itu," kata Anan menunjuk Rita.


"Hah? Aku? Memangnya aku salah apa ya?" Tanya Rita merasa aneh.


"Maaf ya, Teh. Itu keponakan yang bermasalah ke semua orang ya seperti ini. Ayo, Koko sudah menunggu," tarik kakaknya membimbing adiknya.


Ryan tertawa. "Teh, saudara saya itu sering iri kalau lihat perempuan yang cantik jadi seperti cemburu berlebih. Yang diam saja diajak nantang pokoknya macam-macam deh,"


"Oh... kaget aku. Salah apa juga?" Tanya Rita menatap Anan yang masih memandang Rita.


Bibi melewati Rita dan Rita sedang memeriksa ponselnya, jadi belum bisa saling menyapa. Bibi menemani keponakannya di hadapan Koko.


"Mbak, diminum dulu harap maklum itu keponakannya memang sudah bermasalah sejak minggu lalu. Padahal Bibi kan bisa ruqyah juga kok tidak mau sih?" Tanya pembantu Ratih bertanya pada Ryan.


"Katanya sih mau menghemat tenaga. Teh, nanti ruqyah nya sama Bibi saya juga," kata Ryan ke Rita.

__ADS_1


"Hah!? Whaaaat!? Memangnya Teteh sesulit itu sampai harus dua orang?" Tanya Rita bingung.


"Yah, Teteh mah tidak bisa lihat tapi memang harus berdua. Tenang teh, Bibi gratis kok. Kalau Teteh manggilnya Ua saja ya yank?" Tanya Ratih ke suaminya.


"Iya, Ua saja. Nanti aku kenalin ke keluarga aku teh biar mudah hehehe," kata Ryan ketawa.


"Kok malah jadi seram ya?" Pikir Rita menghela nafas.


"Tyas juga pernah di ruqyah lho teh sama Koko. Teteh sudah tahu?" Tanya Ratih duduk sebelah Rita.


Rita lalu minum airnya. "Hah? Masa? Belum, tidak ada cerita tuh dari Ibu," kata Rita menyimpan gelasnya kembali ke meja.


"Wah, apa Mama belum cerita ke tante Laya?" Tanya Ratih penasaran.


"Belum ada kesempatan. Tyas juga ada yang menempel kan sampai kerasukan," kata Tante Winan keluar dari kamarnya.


"Seram sekali," kata Rita merinding.


"Lebih merinding yang di Teteh," kata Ratih menepuk bahu Rita.


"Teteh? Dimana?" Tanya Rita.


"Anehnya kok Teteh tidak bisa lihat ya?" Tanya Ratih.


"Teteh takut hantu," kata Rita membuat semua orang tertawa.


"Oh... ya syukur deh kalau Teteh tidak bisa lihat soalnya... hmmm," kata Ratih agak... bagaimana begitu.


"Tanya saja ke Tyas nanti dia juga mau datang ke sini. Pas tahu Koko mau ruqyah Teteh. Mau curhat katanya sama Koko," kata Wean kakaknya Ratih datang.


"Wah! Bagus deh ada teman," kata Rita senang.


"Tunggu ya Teh, tadinya teteh pasien pertama eh ternyata ada keponakan dari Ryan yang kena santet dan sudah darurat kondisinya. Tidak apa-apa kan?" Tanya Ratih.


"Kalau Teteh kuat ingin tahu seperti apa Koko meruqyah, nonton aja yang sekarang," kata Tante Winan memperhatikan Rita.


Dalam kesannya, Rita adalah anak yang memang cuek sekali sama sekali tidak menduga mendengar cerita dari Koko dan Bibinya Ryan bahwa jodohnya adalah orang terpenting. Dengan sifat Rita yang super tomboi dan cuek memang sama sekali tidak menyangka.


"Ohh iya ini mau lihat," kata Rita senyum ke tantenya. Yang dibalas agak meremehkan, eyyy...


Datanglah kakaknya Ratih, Wean yang duduk juga di sebelah Rita. Suami Ratih, Ryan juga ada mereka duduk agak jauh dari tempat ruqyah.


"Oh, Teh Rita yang mau di ruqyah sama Koko?" Tanya Wean menepuk bahunya Rita.


"Eh, Wean apa kabar? Iya nih semoga manjur," kata Rita lalu mereka saling bersalaman.


"Kenapa, Teh? Sepertinya berat masalahnya," kata Wean ingin tahu. Semuanya juga sama lalu Rita mulai cerita. Tante Winan sudah tahu ceritanya sebagian dari ibunya Rita yaitu Laya kalau sekarang Rita menjadi aneh.


"Jadi emosi Teteh naik pasang kalau Maghrib tiba? Wah itu sih memang parah," kata Wean kaget.


"Iya. Semua orang kena semprot termasuk orang yang kenalan sama Teteh sekarang. Setiap Maghrib kata dia seperti Teteh ajak dia bertarung perasaan tidak pernah," kata Rita membuat semuanya tertawa.


"Wah, Teh bahaya kalau sudah begitu. Kita lihat saja sekarang semoga Koko bisa menangkis itu efeknya," kata Ratih.


"Kalau semuanya disembur bagaimana?" Tanya Rita agak takut.


"Tenang ada Bibi aku juga. Kalau sekarang bisa di ruqyah, kenapa harus besok?" Tanya Ryan.


"Iya sih, kok gambarannya agak mengerikan ya. Aman tidak sih?" Tanya Rita agak ragu


"Tergantung dari orang yang di ruqyah nya sih Teh. Kalau Teteh nih yang kita kenal cuek nah kalau lagi di ruqyah bisa jadi beda tapi nanti normal lagi kok," kata Ratih menenangkan Rita.

__ADS_1


Rita berpikir daripada kelamaan lagi berakhir jadi gila kalau tidak sekarang diusir.


"Teh, itu yang ganggu Teteh sudah melebihi batas sih sudah setengah menguasai Teteh itu mah. Lebih baik ruqyah sama Koko, pacar aku saja di ruqyah dia langsung jadi kalem. Enak kok orangnya in sha allah berhasil," kata Wean mengacungkan jempolnya.


"Hmmm begitu yahh kita lihat sajalah nanti,. Tyas jadi kesini?" Tanya Rita.


"Iya jadi sedang dalam perjalanan. Mau curhat apa ruqyah lagi, kalau Tyas parah sekali," kata Ratih.


Pacarnya Wean sekarang sudah menjadi suami juga. Di ruqyah karena ada rekan kerjanya yang iri dan yah, mengirimkan teluh. Setiap pulang kerja selalu murung, bicara tidak nyambung setelah di usir, kembali biasa lagi hanya sekarang sedang tidur.


"Menginap tidak sih Tyas?" Tanya Ratih ke Mamanya.


"Tidak, ya kalau waktunya kurang paling besok datang lagi sama dengan Rita," jawab Tante.


"Bagaimana, Teh? Koki ganteng kan hihihi," kata Wean.


"Bangeeeettt. Baru kali ini lihat seganteng itu," kata Rita senang.


"Semua pasien yang perempuan sudah di ruqyah Koko, pada bertanya nomor ponsel lho. Itu di Instagrom-nya saja kebanyakan perempuan," kata Wean memperlihatkan akunnya.


"Waduuuh. Yah semulus sama menclang begitu mah ya pastilah banyak yang suka, Wean. Aslinya ganteng maksimal," kata Rita memperhatikan.


"Single tidak sih, Koko?" Tanya Wean ke adiknya.


"Kalau tidak salah baru putus tuh. Pacarnya posesif sekali, kali Teteh berminat," kata Ratih menggoda.


"Waaah.." kata Rita boleh jugaaa.


Lalu ada notif masuk ke ponselnya, tiba-tiba saja Alex mengirimkan emoji marah. "Kamu bilang ganteng ke siapa? AKU LEBIH GANTENG TAHU!" Setelah itu dia off lagi pundung.


Ruta menahan ketawa. "Kenapa juga nih orang?" Pikir Rita aneh lalu mematikan ponselnya tidak membalas Alex. Biarkan dia pundung sesuka hatinya.


"Lama tidak ya kira-kira?" Tanya Rita ke Ratih.


"Biasanya sebentar ya itu tergantung pasiennya. Kenalan saja dulu takutnya Teteh tidak nyaman sama Koko," kata Ratih melihat jam.


"Si Koko tatonya tidak ditutup pantesan saja banyak yang meragukan," kata Wean menggelengkan kepalanya.


"Hahahaha nanti deh aku kasih pinjam baju yang tangannya panjang," kata Ryan tepuk jidat.


"Lah? Tatoan? Sebelah mana?" Tanya Rita menghela nafas.


"Tuh di kanan ya ampun. Dulunya begajulan tapi sekarang sudah tobat kok Teh, tenang tidak akan macam-macam apalagi dia takut sama yang berkerudung hihihi," kata Ryan tertawa.


"Pernah kualat ya?" Tanya Rita.


Mereka tertawa bersamaan untungnya jarak tempat ruqyah Koko dengan mereka agak sedikit jauh.


"Kok mirip ya? Kenalan Teteh juga punya tato di tangan kanan atas angka 7 begitu," jelas Rita.


"Wah! Calon Teh?" Tanya Tante agak panik kelihatannya.


"Teman, Tanteeee," kata Rita.


"Ohhh temaaaaan," ucap mereka semua menahan tawa.


"Beneran," kata Rita.


"Iya Teh iya, dari teman lanjut ke pelaminan," goda Wean dan Ratih bersamaan.


Tante Winan tidak tertawa ataupun tersenyum ya maklumlah. Tante selalu menganggap keluarga Rita saingan. Entah saingan apa Rita pun tidak pernah peduli.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2