
Ney : "Oke, iya aku akui dia mengatakan terima kasih sudah aku tolong. Tapi dia tidak ada hormatnya lho sama aku,"
Alex benar-benar pusyinggg peyang dengan Ney tapi tidak separah dengan Rita.
Alex : "Kamu pernah menghormati dia? Aku rasa tidak, dia menolong kamu pun mana ada kata terima kasih,"
Ney : "Kok kamu malah membela dia sih? Aku lho yang jadi korbannya,"
Alex : "Karena aku sadar punya salah sama dia dan aku tidak mau meneruskannya lagi. Aku ini rumit, ditambah kamu yang kepo soal urusan kami,"
Ney : "Kamu itu masih belum tahu apa-apa. Rita itu..."
Alex : "Sudahlah, Ney. Kamu juga sudah terlalu jauh salah paham sama Rita. Sulitkah meminta maaf? Aku sudah, Arnila sudah. Kamu kapan? Haruskah ada yang menguntungkan kamu dulu baru kamu bilang maaf? Kamu menuntut Rita bila berbuat kesalahan, sedangkan kamu sendiri?"
Ney menghela nafas. Soal Rita Rita Rita apakah Rita harus selalu benar? Iya, dia peduli tapi juga memikirkan keuntungan. Benar apa yang dikatakan oleh Alex soal dirinya.
Alex : "Kalau kamu memang menganggap orang yang peduli, ingin membantu dia dengarkan sarannya, keluh kesahnya bukan malah kabur. Bukan merundung soal kelemahannya. Ingat kamu juga punya banyak kelemahan,"
Ney kemudian meninggalkan ponsel dia mengambil minum. Lalu membaca sesuatu yang terakhir.
Alex : "Kalau dia memblokir kamu, Terima. Jangan banyak bertanya, pikirkan apa yang kamu perbuat sehingga Rita sering memblokir kamu,"
Ney mengumpat ini semua terjadi saat Alex datang ke sisi Rita. Membuatnya iriiii selangit apalagi setelah tahu Alex kaya raya, keluarga dan latarnya.
Ney : "Aku tidak pernah salah! Gara-gara kedatangan kamu, persahabatan kami menjadi hancur! ITU SALAH KAMU! Jangan kamu pikir, hubungan kamu dengan Rita akan mulus lancar. Lihat saja akan ada banyak orang yang tidak setuju. Aku termasuk!"
Alex : "HAHAHAHA benar juga apa kata Rita,"
Ney : "Apa? Rita bicara apa? Dia pasti menjelekkan aku kan?"
Alex : "Ini warna asli kamu. Aku menguji kesetiaan kamu pada Rita. Aku percaya Rita salah makna, tapi melihat Rita menaruh percaya sama kamu, aku mencoba menguji. Ternyata kamu lebih memilih orang asing untuk merundung nya hahahaha apa itu karena aku memiliki banyak harta? Rita berkata begitu sebelumnya,"
Ney membacanya dan dia kaget. Jadi itu alasannya? Dan berhasil. Yah pastinya Rita pun sudah tidak mau tahu dan tidak akan perduli lagi pada Ney.
Ney : "KURANG AJAR!!"
Alex bersorak tesnya berhasil sedangkan Rita, dia sering kena tes menyebabkannya sering tidak peduli. Intinya uji tes itu gagal total membuat Alex banyak cemberut karena Rita tidak peduli.
Alex : "Ada satu yang kamu lupakan,"
Ney : "Apa?!"
Alex : "Kalau jodoh tidak akan kemana. Kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau ternyata Rita memang jodohku. Mau berusaha menjilat Rita pun, tidak akan pernah bisa. Dia sudah terlalu kecewa berat dan tahu kalau kamu akan memihak orang yang kaya daripada orang yang benar baik,"
Ney benar-benar super emosi membacanya. Sudah beberapa kali orang-orang sekitarnya memperingatkannya untuk berhenti mengejar Rita sebagai teman. Karena tidak akan ada kesempatan lagi.
Ney : "Aku akan melakukan apapun agar Rita jauh dari kamu! Dia pasti akan menurut sama aku bukan kamu! LIHAT SAJA!"
Itulah akhir dari percakapan mereka berdua yang penuh intrik dan strategi. Ya dari Ney. Sekarang dia tidak akan bisa mencari informasi apapun lagi soal Alex. Rita juga sudah enggan bercerita, satu yang dia ingat curhatnya adalah mengenai ibunya.
"Aaaaaargh!! Aku baru ingat Rita kan pernah cerita soal Ibunya. SIAL! Kenapa baru ingat sekarang? Tapi kalau begitu Alex hack ponselnya Rita dong??" Tanya Ney sendirian.
Ney lalu menceritakannya pada Arnila, bukan pembelaan yang didapatnya tapi sama dengan yang dikatakan oleh Alex.
"Mau sampai kapan kamu terus berpikir tidak salah? Apa harus ada yang menguntungkan dari Rita lalu kamu minta maaf?" Tanya Arnila dalam chatnya.
Setelah itu kita berpindah pada Alex dan Rita. Rita membacanya tidak menduga Ney akan begitu. Rita menangis, bahagia karena pendapatnya benar kan. Alex ada disana, dia sedih melihat Rita.
Lalu Rita menghapus air matanya. "Benar kan, aku tidak bohong. Kenapa kamu tidak percaya dulu?" Tanya Rita yang menangis.
Alex membalasnya dengan sedih. "Maaf,"
"Untuk apa aku bohong? Kalau ada orang yang memang jahat, ya aku cerita sesuai kenyataan. Kenapa rasanya susah sekali membuat kamu percaya? Apa harus sampai aku terluka sangat dalam baru kamu percaya? Capek!" Kata Rita yang masih menangis.
Alex tidak enak menjawabnya tapi harus dia jawab. "Lingkungan ku sangat sedikit mungkin hampir tidak ada orang yang sejujur dan sebaik kamu, Rita. Semua orang yang baik nyatanya hanyalah topeng. Jadi..." katanya.
Rita membaca lalu sadar. Benar juga lingkungan dia pasti keras dan penuh banyak orang jahat. "Oh iya ya aku lupa. Sekarang tahu kan, tidak semua orang itu benar-benar jahat," kata Rita.
"Hanya kamu yang menurutku benar-benar baik. Semoga kita secepatnya bisa bertemu ya," kata Alex yang sudah tidak sabar.
"Aku jelek. Tidak secantik perempuan di sana takutnya setelah bertemu, kamu yang menjauh. Semuanya begitu selama ini," ketik Rita.
"Eh? Tidak. Aku tidak melihat fisik kok hanya..." kata Alex. Ada hal yang menurutnya lebih kritis daripada soal fisik atau isi dompet.
"Apa?" Tanya Rita yang sudah berhenti menangis.
__ADS_1
"Aku ini orangnya stylish," kata Alex.
"Hah? Apa tuh?" Tanya Rita.
"Sudah kuduga kamu pasti tidak mengerti. Maksudnya itu hmmm menyiapkan segala sesuatunya untuk... tampil sempurna," kata Alex menjelaskan dengan pelan.
"Heh! Oh kamu seperti itu. Lalu?" Tanya Rita tidak mengerti. Ya semua orang punya gayanya kok.
Alex tidak yakin model apa yang Rita suka. Dengan pertanyaan Rita saja jangan-jangan... "What's about you? What style you always use? ( Bagaimana dengan kamu? Model macam apa yang selalu kamu kenakan )?"
"Biasa saja," jawab Rita. Model Rita ya semua gaya masuk, dia bisa nyaman dimana saja kecuali yang seksi.
Alex terdiam sekarang. Dia agak tidak sabaran. "Aku juga harus selalu memakai parfum,"
"Ya baguslah. Laki-laki kan harus begitu. Parfum seperti apa?" Tanya Rita dengan santai.
"Davidoff Coolwater Man," kata Alex dengan bangga.
"Bukan itu maksudku, bodoh! Itu mah merk, maksudku aromanya kamu suka yang bagaimana?" Tanya Rita sebal. Ya parfum jenis itu mana juga dia tahu. Berharap parfum Alex tidak menusuk hidungnya yang sensitif.
"Ya Allaaaah! Aku dikatai Bodoh sama perempuan biasa," gumam Alex menggaruk kepalanya.
"Kamu bloon ih, kalau aku tanya "Merknya apa?" Baru cocok kamu jawab begitu. Ini kan aku tidak bertanya begitu," kata Rita sebal.
"Astagaaaaaa!! Huuuuh Awas kamu Ritaaaa. Tenang Alex, itu karena dia sepertinya tidak mengerti parfum. Baiklah," pikir Alex bersabarrrrr.
"Ohhh aromanya ringan, aroma wangi pantai lalu menyegarkan. Kenapa kamu bertanya begitu?" Tanya Alex.
"Oh, syukurlah bisa cocok di penciuman hidungku. Aku sensitif hidungnya kalau mencium aroma parfum yang kuat dan menusuk, suka mimisan," kata Rita.
Membacanya Alex bersyukur dia lolos audisi dengan parfum. Lalu yang jadi pertanyaan Alex adalah... gaya apa yang disukai oleh Rita. Berharap sama dengannya jadi dia bisa menyelaraskan.
"Kamu suka... parfum jenis apa?" Tanya Alex yang lebih detil seperti tadi.
"Merk?" Tanya Rita takut salah. Karena perbedaan level otak mereka berdua.
"Bukan, bodoh! Aroma," kata Alex yang stres. Salah mulu!
"WAHAHAHAHA!! Aroma buah, bunga, pepohonan, alam asalkan bukan aroma ketek atau kaki," kata Rita tertawa.
Alex tertawa juga. Aman! Alex mencium parfumnya, aroma ini akan lolos. "Lalu... kamu sukanya gaya apa?" Tanya Alex lagi.
"Yang biasa itu seperti apaaaa," kata Alex capeeeekk tapi penasaran. Dia sudah bersiap-siap karena sudah yakin pasti tidak jauh beda. Karena parfumnya lolos.
"Ya yang enak dipakai, yang nyaman. Sudah," kata Rita jadi bingung juga.
"Astagaaaaa. Hmmm oke oke aku perjelas ya. Style dalam fashion wanita itu ada 6 jenis. Halah! Kamu cari deh di Gugel sana! Tidak ada artinya kalau aku yang jelaskan, kamu mah begitu sih," kata Alex marah, kesal karena Rita susah mengerti.
"Oke," kata Rita lalu dia mencari memang ada 6 jenis.
Vintage Style : gaya jadul yang masih digemari hingga saat ini. Berasal dari tahun 90an.
Preppy Style : gaya ala mahasiswa yang sekolah di luar negeri. Kaos polo, dan dilapisi sweater rajut.
Bohemian Style : muncul di tahun 1960 identik dengan orang-orang yang santai. Dan kadang dihiasi pernak pernik imut.
Chic Style : identik dengan orang yang senang memadukan pakaian hingga terlihat sangat bergaya. Sebutan lainnya gaya trendi, style ini tidak membutuhkan banyak gaya yang menonjol atau gaya yang mengikuti tren.
__ADS_1
Casual Style : gaya yang selalu menjadi zona nyaman bagi semua orang. Gaya ini tidak memerlukan kehebohan yang harus mengikuti tren.
Street Style : gaya ini muncul dari gaya yang ada di jalanan jadi bukan berasal dari fashion show. Jenis pakaiannya biasa dipresentasikan dari budaya yang biasanya dikenakan oleh mereka di jalanan.
"Bagaimana? Lama sekaliiiii," kata Alex tidak sabar.
"Sabar dong. Ingat saja orang sabar pantatnya lebar. Aku lagi baca ini," kata Rita.
Alex tertawa. Dia memegang bagian belakangnya ,"Apa ini salah satu bukti kesabaran aku ya selama ini?" Pikirnya lalu memukul kepalanya sendiri.
"Lalu?" Tanya Alex.
"Hmmmm Vintage Style," kata Rita yang dia baru baca.
"Wooow. 6? Jadi kamu suka baju yang sejak jaman dulu? Kenapa laaa," kata Alex agak kecewa.
"Preppy Style," kata Rita lagi.
"Apa!? Yang benar!? Wah, kamu kemana-mana pakai seragam?" Tanya Alex sambil berpikir baju desain apa yang Rita kenakan.
"Bohemian Style," kata Rita lagi tanpa tahu apa yang Alex balas kan.
"Hei hei, gaya kamu banyak juga ya," kata Alex masih belum sadar.
"Chic Style," kata Rita lagi mengetik lalu buka artikel lain.
"Eh? Kamu bisa? Tunggu tunggu jangan-jangan kamu sedang baca lalu mengetikkan macamnya?" Tanya Alex mulai sadar.
"Casual Style dan Street Style. Tuh sudah aku baca, kamu ngapain sih?" Tanya Rita selesai menulis.
Benar saja tadi itu Rita hanya menuliskan bukan menyebutkan. "JADI YANG MANAAAAA?" Tanya Alex sebal sudah kena tipu.
"Ya semuanya masuk kecuali yang Preppy dan Street," kata Rita.
Alex menghela nafas. Kepalanya pusing dari dia chat dengan Ney yang memang kadang tidak nyambung.
"Yang penting nyaman dan enak dipakai. Dan kamu lupa satu hal," kata Rita.
"Eh? Apa tuh?" Tanya Alex.
"Aku kan pakai hijab," kata Rita yang tahu arah kemana obrolan si Alex.
"ASTAGAAA AKU LUPAAAAA!!" Teriak Alex yang benar-benar lupa kalau Rita berkerudung.
"Kebanyakan main perempuan yang tanpa hijab sih," kata Rita.
"Hahahaha iya juga sih. Eh, tidak kok aku kan dulu pernah pacaran sama yang berhijab tapi... dia penampilannya hijab boob. Tahu kan," kata Alex.
"Kesukaan kamu kan apalagi kalau sampai melorot. Mengaku lo!" Kata Rita.
"Awas ya kamu!" Kata Alex sambil tertawa.
"Aku tidak punya gaya. Gaya dari feminim sampai tomboi aku bisa masuk semua. Asalkan bajunya panjang dan tidak menjiplak lalu tidak ketat. Aku juga bisa pakai baju warna beda-beda, tidak sepadan. Yang penting nyaman," jelas Rita.
Alex mengerti sekarang. "Jadi gaya kamu itu Vintage style ya," kata Alex. Yah... sudah dia kira pasti ber pantulan.
"Ih, bukan," kata Rita.
"Lho? Jadi yang mana?" Tanya Alex kebingungan.
"Old Fashion," kata Rita dengan mantap.
Membaca itu, seketika Alex jatuh dari kursinya dan pingsan.
NB :
__ADS_1
Old Fashion dan Vintage Style itu sama karena gaya jadul. Tapi Rita sama sekali tidak tahu dia pikir itu berbeda makanya Alex jatuh dan pingsan. Intinya dia capek bicara dengan Rita yang ternyata jauh dari pengetahuan Fashion 🤣🤣🤣.
Bersambung ...