ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(248)


__ADS_3

"ASSALAMUALAIKUM!!!" Kata Tamada sengaja dengan suara keras nan cempreng.


Diana dan Ney kaget mendengarnya. Diana tertawa ngakak. "Tamada! Keras sekali sih suaranya! Hahaha," kata Diana.


Mereka langsung sun pipi kanan dan pipi kiri tanpa Ney karena mereka tidak kenal. Ney gugup ternyata masih ada teman Rita yang datang.


"SENGAJA!" Teriak Tamada yang membuatnya dipukul oleh Linda di bahunya.


"Berisik ah! Mbak Diana sudah lama? Rita sama Kokom mana?" Tanya Linda sambil mencari - cari.


Tamada melirik ke arah Ney yang dengan sopan duduk dengan manis senyum padanya tapi dia melihatnya dengan kesan super jutek. Dan sama sekali tidak menyapa bahkan ingin berkenalan. Linda juga dingin dan cuek, sama sekali tidak bertanya.


"Baru saja dia ke toilet, Komariah menyusul kesana. Duduklah temani sini," ajak Diana yang menarik Linda dan Tamada untuk duduk. Tamada bergeser tidak mau dekat dengan Ney.


Ney memandangi mereka berdua yang juga modis gayanya terutama Linda. Linda sangat cantik, badannya putih sama dengan Rita, memakai jilbab berwarna hijau membuatnya lebih kinclong. 'Sepertinya berasal dari keluarga kaya juga nih. Wah gila si Rita kok bisa sih dapat temannya yang super begini. Kok gue tidak bisa malah kebalikan?' Pikir Ney memperhatikan Linda. Dari suaranya juga lembut, tegas apa galak juga?


"Kenalin ini Temannya Rita namanya Ney," kata Diana menunjuk ke arah Ney. Langsung juga dia tebar jebakan untuk mereka, Diana memasang wajah tidak enak dan itu tertangkap oleh mereka berdua.


"Kenalin nama aku Ney. Rita tidak cerita soal aku?" Tanya Ney dengan suara yang begitulaaah...


"Buat apa cerita segala? Aku tidak kepo kok," kata Tamada dengan suara khasnya.


"Kamu teman dekatnya Rita?" Tanya Linda. Suara lembut sama seperti Diana belum tahu saja dia kalau Linda sama galaknya dengan Diana.


"Iya, aku Sahabat dia dari SMP," akunya Ney dengan senang.


Diana menahan tawa, Tamada melihatnya lalu mengangkat satu alisnya. 'Wah, ngaku - ngaku!' Pikir Tamada.


"Kok Rita tidak pernah cerita ya? Rita bilangnya waktu SMP tidak punya teman tuh apalagi sahabat," kata Linda merasa aneh. 'Sigana aya nu salah jeung ieu budak ( Sepertinya ada yang salah sama nih anak )' Pikir Linda.


Ney dapat yang dia mau langsung JOS! "Tuuuh Diana, Rita itu memang begitu jeleknya masa dia tidak mengakui aku sebagai Sahabatnya kan jahat dia tuh. Sudah deh kamu lebih baik berhenti ya mulai sekarang jadi temannya dia, Sahabatan sama dia tuh aslinya kamu akan banyak kena tipu!" Katanya dengan nada yang sengaja ditinggikan supaya mereka semua mendengarnya. Dan itu sudah tersirat di benak Diana. Linda dan Tamada langsung memandangi Ney dengan cengiran bibir mereka. 'Wah parah si Rita boga babaturan. Pantas jarang dipublikasikan oh, seperti ini toh.' Pikir Tamada dan Linda.

__ADS_1


Alex juga seperti biasa hadir disana dan kaget dengan semua yang Ney katakan pada SEMUA temannya Rita. Geram? Sangat! Karena sama sekali tidak sopan ( merasa dia sopan? Kenalan awal sama Rita saja dia sudah buat Rita meledak ). Tapi dia juga sadar diri dirinya sama saja dengan Ney dan itulah yang membuat luka didalam hati Rita meski Rita selalu terlihat ceria di hadapan teman - temannya. Setiap waktu Alex memang selalu datang menemani Rita seandainya saja Rita bisa merasakan kehadirannya. Tapi bahaya juga sih karena Rita tidak suka hal mistis. Kalau bisa lihat sudah pasti akan dihajar oleh doa mustajabnya, Alex merinding memikirkannya.


Tapi memang Ney parah banget! Dia lebih parah dari Alex dengan lidahnya yang semacam ular berdesis mengeluarkan semua kejelekan yang Rita miliki. Tanpa ada rasa malu, dia koar - koar padahal setahu Alex, Rita sama sekali tidak pernah menggunjingkan soal dirinya. Pantaslah kalau Rita nanti meninggalkan Ney karena dia sudah lelah menghadapi dua makhluk lucknut ( Laknat )! Tapi Alex senang ternyata semua teman Rita berjilbab dan orang baik - baik, mereka juga dekat dengan Allah SWT. Dan menerima Rita dengan terbuka meskipun mereka tahu Rita tidak peka. Dia tahu Tamada sepertinya bisa merasakan kehadirannya karena Tamada tiba - tiba mengibaskan tasnya ke tempat Alex berada dan dia secepatnya menjaga jarak.


"Kok kamu bisa - bisanya bilang begitu sih soal Rita. Katanya Sahabat dia, tapi kok malah tidak mencerminkan ya? Sahabat mana ada yang mudahnya menyebarkan fitnah! Hati - hati ya kalau bicara," kata Diana yang keheranan dengan sikapnya Ney. 'Nih maksudnya apa sih? Enak saja bicaranya!' Pikir Diana.


"Iya nih aneh banget sih. Rita tidak seperti yang kamu bicarakan ya. Apa benar kamu Sahabatnya atau malah teman biasa? Atau kamu hanya mengaku saja karena sebenarnya kamu berusaha menjauhkan kita dari Rita? Jujur saja deh!" Kata Tamada langsung menohok Ney.


Ney merasa sudah salah menyampaikannya tapi sesuai yang dia rasakan. Mananya yang salah? Semuanya! Heran juga sih. "Bukan. Aku cuma beritahu yang aku lihat saja ke kalian gitu, supaya jangan tertipu sama penampilan Rita. Di hadapan kalian dia lembut, baik, tulus kalian kan tidak tahu bagaimana belakangnya. Dia suka bicarakan soal teman - teman di kampusnya,"


Ternyata oohhh... Tamada, Anne dan Komariah satu tipe orang yang galak. Mereka tidak akan rela temannya sendiri difitnah apalagi dengan hal yang tidak penting juga kali. Ney sudah melihat kalau Tamada memang tidak punya kesan baik kepadanya jadi dia harus menghindarinya, dan berusaha merebut Linda dan Diana.


"Buat apa kamu beritahu ke kita semua? Itu urusan kamu sama Rita kecuali kalau kamu ada niat adu domba kita sama Rita. Karena yang aku tangkap itu niat kamu," kata Linda.


"Kalau ada yang kamu tidak suka dari sosok Rita, ya terima. Kalau tidak bisa terima ya pergi saja kenapa juga kamu harus cerita ke kita? Baru kenal juga!" Kata Tamada. Diana hanya menyimak dia sudah lelah dengan tipe orang seperti Ney. Tidak akan mengerti hanya dengan kata - kata, harus yang lebih kasar lagi.


"Ya maksudku supaya kalian tahu saja sih. Kalian kurang cocok kalau sejajar sama Rita. Dia itu kalian tahu tidak sih sedang kenalan dengan lelaki tampan dan dia juga super tajir lho," kata Ney yang tampaknya ya rada error otaknya. Membuat semuanya merasa aneh dengan kelakuan Ney nih, sudah diberitahu seakan - akan tidak digubris.


"Terus apa urusannya?" Tanya Linda mulai bete. Diana tertawa mendengar nadanya begitu juga Tamada.


"Hahahaha kenapa kamu yang jadi ribet sih? Urusan Rita, kamu iri ya Rita dapat rejeki super gede daripada kamu. Wajarlah, Rita itu jarang mengeluh apapun yang dia dapatkan selalu diterima. Buang kita? Ya silakan, memangnya di dunia ini hanya ada kita ya?" Tanya Linda ke Tamada yang sedang tertawa.


"Hei, kamu ini sahabat Rita tapi aneh banget ya. Apa hak kamu selalu tahu apa yang Rita lakukan? Kalau dia tidak banyak cerita soal lelaki itu, ya bagus! Menghindari dari orang yang suka mengganggu kehidupan orang kaya kamu! Alhamdulillah ya akhirnya Rita punya kenalan ganteng dan kaya mah," kata Tamada membuka kedua tangannya ke atas.


"Kita doakan yang terbaik deh buat dia. Dan kita tidak takut ya mau ditendang, dibuang. Silakan! Asalkan jangan sampai Rita punya teman palsu saja sih, koar - koar sebarin jeleknya dia terus berusaha adu domba. Hmmmm ckckcck kasihan itu orang nantinya kalau kena karma!" Kata Linda.


"Mau status kita lebih rendah dari dia nantinya atau dia diatas kita pun, kita percaya banget ya Rita tidak akan peduli soal status. Karena kita semua sama, status itu hanya Allah SWT yang bisa membedakan. Rita tidak pernah menyombongkan apapun, pamer juga jarang. Kita sih yang kadang suka pamer ya Rita malah menanggapinya hanya 'Hmmm' sambil main game," jujur Linda menyilangkan tangannya di dada.


Tamada dan Diana tertawa keras ingat memang ada kejadian begitu juga. "Hahahaha oh iya nu eta tea,"


"Kita tidak takut kecewa kok karena selama ini kita sudah tahu warna Rita seperti apa. Dia senang berteman dengan siapapun tanpa melihat kaya atau miskin. Aku merasa malah kamu yang bukan temannya Rita. Soalnya kamu diluar tipenya dia gitu," kata Tamada penasaran melihat sikap Ney.

__ADS_1


Ney merasa salah tingkah dan gugup mendengarnya. Dia terlalu terus terang banget. "Ya aku kan jujur mengungkapkan. Memangnya salah?"


"Bagus jujur tapi jangan cerita ke kita itu kan aib yang kamu lihat. Buat apa kamu berbagi? Teman kita saja bukan! Tahu diri dong! Kamu diajarkan kesopanan kan menghadapi orang baru seperti apa? Bagaimana caranya berteman?" Tanya Tamada dengan sengit. Linda dan Diana tertawa, merasa dia ditertawakan tapi sudah tanggung.


"Memangnya tipe pertemanan Rita seperti apa sih?" Tanya Ney sambil menundukkan kepalanya. Ternyata lawannya sangat kuat apalagi mereka berada diatasnya kalau soal penampilan.


Apa yang menjadi pertanyaannya membuat mereka bertiga tertawa dan menggelengkan kepala. Linda dengan menyunggingkan sebelah bibirnya, Tamada yang bengong lalu menahan ketawa dan Diana yang tenggelam di kedua kakinya. Ney memang sama sekali tidak tahu soal itu makanya bertanya tapi yang membuat mereka tertawa adalah memang Ney sangat terbilang aneh banget!


'Parah pisan ieu jelema, Mbak!' Tamada mengirim pesan kepada Diana.


'Dari tadi aku sudah malas ngobrol sama dia. Nadanya sudah tidak enak terus bicara jelekin Rita mulu!' Balas Diana.


'Pantas diam terus,' balas Tamada lagi. "Hei, kamu kan mengaku sebagai Sahabatnya masa malah nanya ke kita? Kalau kamu benar - benar temannya kelihatan jelas dong. Rita sukanya teman yang seperti apa?"


"Serius, aku tidak tahu makanya bertanya," kata Ney dengan jujur. Dia baru tahu kalau Rita punya persyaratan untuk menjadi Sahabatnya. Apa? Berarti dia juga pemilih kan? Tapi melihat teman - temannya yang datang dari berbagai kalangan. Lalu?


"Begini ya, Ney. Intinya saja kamu harus lebih banyak belajar dan bertanya pada diri kamu sendiri. Niat KAMU memutuskan berteman dengan Rita itu untuk apa? Ini mendasar banget ya, kamu sudah usia 25 tahun kan itu sudah bukan wilayah... apa ya? Kamu sudah besar! Harusnya usia segitu kamu sudah mengerti hal - hal sekitar kamu tapi sepertinya kamu sangat egois ya orangnya. Kelihatan banget sih," kata Tamada yang berasa menampol pipinya.


"Iya. Kamu sangat egois masalahnya sampai kamu tidak tahu apa - apa soal Rita termasuk yang sepele banget. Kamu koar Rita bagaimana yang sebenarnya tidak penting banget. Kamu juga menyebarkan ujaran kebencian agar kita membenci Rita. Meski kamu bilang bukan maksud begitu, tapi itulah yang kita semua rasakan," kata Linda dengan nada yang kembali melembut meski sia - sia.


Ney mendengarkan dan hendak memotong tapi... "Tujuan kamu berteman dengan Rita apa? Apakah tulus kamu bisa menerima dia dengan jeleknya? Atau kamu sampai detik ini masih disekitaran Rita karena Rita kenal lelaki tampan?" Tanya Diana yang sudah gemes bangeeet.


Ney terdiam, dengan diamnya semua yang dikatakan oleh mereka bertiga terbukti nyata iya memang! Ney menitikkan air matanya lagi, dengan ekspresi sedihnya. Dan itu membuat mereka bertiga malas.


"Kok kamu menangis sih? Harusnya kamu mengakui saja semuanya. Sudah kebiasaan kamu ya air mata sebagai tameng?" Tanya Tamada tajam.


"Wajah kamu tidak menampakkan rasa bersalah lho, jadi hentikan sikap kekanakkan kamu. Aku yakin kamu lakukan itu juga sama Rita kan," kata Linda mengamati Ney.


"Kelihatannya sih begitu ya. Semua orang tahu kalau Rita kadang tidak peka tapi aku yakin sih dia tahu kalau kamu selalu memakai tameng air mata. Memalukan banget sih!" Kata Tamada lagi.


Setelah mendengarnya Ney menghapus air matanya dan wajahnya terlihat biasa saja. Tamada dan Diana tertawa menyengir melihatnya sambil menggelengkan kepala mereka.

__ADS_1


"Ekspresi kamu palsu. Rita pasti sudah tahu. Lalu kenapa kamu masih mau bersama Rita kalau ternyata kamu tidak suka dia?" Tanya Linda.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2