ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(288)


__ADS_3

"Iya iya aku tahu aku ini memang kurang ajar, tukang onar, meskipun kaya tapi idiot! Tukang minum juga! SEMUANYA! Entah kenapa aku terlahir dengan jiwa cacat! Tapi sudahlah... aku kan sudah menyesal dan memang aku ini mudah emosi jadi kamu jangan buat aku emosi juga," kata Alex sambil manyun.


"HEH! Kamu dulu yang jangan cari gara - gara jangan bikin aku emosi! Mentang - mentang Crazy Rich bisa seenak muka lu bentak orang ga heran kamu pasti banyak musuhnya," kata Rita yang sebal juga disalahkan lah siapa juga yang duluan bicara ga enak.


Alex saat itu masih merasa sedih dan masih berlinang air mata. "Aku sudah tobat kok tapi kenapa hidupku masih saja harus semenderita ini sih?" Tanyanya yang masih berusaha menghapus tetesan air matanya.


"Dosa lu kebanyakan sih sepertinya masih jauh dari penyucian. Sekarang dengan kamu banyak ujian harusnya kamu lebih sabar. Mantan playboy ternyata bisa nangis juga ya," kata Rita yang agak ingin tertawa. Kasihan juga sih pasti berat tuh sudah lama juga sepertinya kedatangan orang yang tulus sama dia.


"Biarin! Aku kan manusia biasa bukan robot!" Kata Alex sambil mengerjap - ngerjapkan kedua matanya.


"Oh kamu manusia aku kira robot. Baru tahu tuh meski jiwa tukang marah tapi hatinya Hello Kitty ya sama seperti Bapakku. aneh!" Kata Rita yang terkekeh - kekeh.


"........." membaca komentar Rita membuatnya terdiam. Ahhh lagi - lagi sifatnya yang lain keluar satu per satu. Malu sekali, wajahnya pun memerah dia yakin Rita pasti sedang tertawa keras.


"Jangan anggap berapa kali pun aku memaafkan, hati ini bisa secepat kilat sembuh ya. Apalagi dari kejadian tahun lalu waktu kalian berlima membully aku, itu luka sama sekali belum pulih. Lalu kamu menambahnya lagi," kata Rita mengancam.


"Ya aku akan kontrol emosiku, itu juga kan penyebab aku tumbang selama ini. Aku jelaskan pada my sister and my mom it was my fault not you because l'm too Lebay," πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘kata Alex yang mengakui.


Rita tertawa karena memang bukan salah dia makanya heran banget kenapa semuanya malah menyalahkan, terutama Ney. "Ya bagus kamu sadar. Kalau aku memang punya niat jahat merobohkan kamu, mungkin sekarang juga kamu sudah mati kan. Masa aku niat begitu sih sama semua orang? Kita jadi orang biasa sajalah," kata Rita.


"Maksudnya?" Tanya Alex bingung. Dia sudah mulai waspada lagi jangan - jangan Rita mau blokir dia lagi nih. Sambil memegang dadanya yang membuat jantungnya berdebar kencang.


"Iya kita kan belum pernah bertemu, belum tahu wajah masing - masing memang sih dari foto tapi foto juga bisa menipu kan. Bisa saja foto yang kamu kirim itu waktu usia 17, aku juga begitu. Habis aneh banget sih belum pernah ketemu tatap muka, rasa sudah melebihi. Jadi aku harus menghentikan itu," kata Rita membuat Alex lega.


"Oh begitu... fuih! Aku kira kamu mau blokir aku lagi. Kamu masih mau chatting sama aku kan? Karena aku sudah merasa enak hehehehe," kata Alex.


"Sekarang aku tidak takut kalau kamu marah lagi. Bebas!" Kata Rita yang memegang daftar Denda.


"πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“," balasan Alex.


"Ada yang memohon mengiba sama Arnila, siapa ya? Meski terpaksa aku buka lagi yah apa boleh buat, silakan kamu bentak aku lagi daftar denda menunggu. Tapi kalau kamu mulai sangat menyebalkan membuat aku sudah nol sabarnya, ada kemungkinan aku bahkan tidak akan peduli dengan permohonan kembali. Aku Banned kamu!" Kata Rita.


"Jahatnyaaaa😭😭😭," kata Alex, dia harus lebih berhati - hati lagi sekarang, kalau ada kemungkinan Rita Banned dia selamanya, mampus deh!


"Supaya kamu bisa banyak merenung dan berpikir," kata Rita.


"😞😞😞 lalu sekarang kamu sedang mengajar ya?" Tanya Alex tumben Rita bisa menerima chatnya, ada apa ya?


"Sedang jaga kelas soalnya hari ini ada kunjungan guru baru. Sepertinya aku merasa akan digantikan deh," kata Rita yang menghembuskan nafasnya lalu memandang semua anak didiknya dengan sedih.


"HAH!? Kenapa!?" Tanya Alex dia juga kaget padahal selama ini Rita mengajar dengan teknik yang bagus, apa iya sampai dikeluarkan?


"Yaaa keahlian ku sedikit sih, guru yang melamar ini punya kemampuan bermain piano, seruling, segala macam alat bunyi bisa dia mainkan dan juga jago dalam Muroja'ah," jelas Rita.


Sekolahnya sekarang menerapkan ajaran baru yaitu Muroja'ah Al Qur'an, Rita yang masalahnya dari kecil sampai dewasa bersekolah di sekolah umum, menjadi hambatan. Rita pun berpikir akan mengundurkan diri saja. Guru yang baru terdapat 6 orang itu artinya selain Rita ada 5 orang lain yang harus keluar, kalau bertahan tidak mungkin karena batas kelas.


"Kamu tidak bisa?" Tanya Alex penasaran.

__ADS_1


"Tidak bisa. Kebanyakan yang bisa begitu kan latarnya dari awal sekolah di Islam Terpadu kalau yang umum seperti aku memang susah. Yah pasrah deh kalau nanti harus keluar," kata Rita yang memeriksa lembar kerja muridnya lalu dikumpulkan. Dia memegang 2 kelas bersama dengan guru yang lain, mereka duduk sambil memeriksa anak - anak.


"Cuba belajar dulu kan ada programnya untuk pemula," kata Alex yang agak memaksa. Dalam pikirannya mengira Rita bisa melakukan semua kegiatan yang berhubungan dengan kitab Al Qur'an tapi saat tahu Rita tidak bisa Muroja'ah itu membuatnya ....


"Ada sih tapi aku takut itu kan berbeda dengan mengaji mana ada nadanya juga kan. Aku kan buta nada," kata Rita yang tidak percaya diri bahwa dirinya akan bisa melakukan itu meski dengan program pemula.


"Ya Allaaah.....!" Seru Alex. Kalau saja dia ada di dekatnya, dia bisa mengajarinya. Toh Muroja'ah adalah keahliannya yang lain.


"Tapi nada do re mi tahu kok," kata Rita.


"........ Cuba saja dulu ya kalau ada programnya kamu ikut dulu yang pemula," kata Alex.


Rita agak menangkap kesan Alex memaksanya tapi dipikir - pikir tidak salah sih untuk mencoba. "Iya ini juga mau dicoba. Level 1 kalau bisa, ya aku di level ini saja katanya mirip mengaji," kata Rita melihat lembaran program pemula.


"Bu Rita, mau coba ikut? Kalau mau, saya juga siapa tahu kita masih boleh mengajar disini," kata guru lainnya. Rita mengangguk mengiyakan, coba saja dulu.


"Iya Bu Asma, kita sama - sama ya," kata Rita menyemangati.


"Iya, kita saling mendukung ya!" Mereka berdua lalu bergandengan tangan dan memutuskan untuk ikut kelas pemula bersama dengan guru baru.


Lalu Bu Asma mulai memberikan tulisan dan hiasan di lembar anak - anak sambil tersenyum, Bu Asma adalah guru yang seusia dengan Rita. Dia juga cantik dan ramah menurut Rita, lalu Alex membalas chat. Bu Asma kepo sekali ingin tahu siapa lelaki yang selalu chat dengan Rita.


"Aku off dulu ya, tidak enak ada guru yang kepo soal kamu terus," kata Rita.


"Oke." Kata Alex mengakhiri obrolan mereka. Sekilas Alex merasa agak kecewa mengetahui kelemahan Rita, dia agak meragu haruskan terus atau tinggal?


"Oke!" Katanya sambil melihat Rita yang berlarian keluar kelas. Setelah beberapa menit, Bu Asma memeriksa sekelilingnya anak - anak masih fokus dengan lembaran, dia dengan iseng melihat ponsel Rita dimana Rita lupa mematikannya.


Bu Asma lalu melihat akun Alex dan berdecak histeris tapi lalu menutup mulutnya memeriksa anak - anak, tidak ada yang tahu. Dia penasaran tampan sekali lelaki ini berasal dari Malaysia, pantas Rita sering terlihat chat dengannya. Tanpa sepengetahuan Rita, Bu Asma mencatat nomor telepon Alex yang tertera dalam biodatanya lalu mengembalikan ponsel Rita di atas meja dengan letak yang sama. Rita datang dengan perasaan senang lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Bu Asma tampaknya lagi senang," kata Rita melihatnya senyum - senyum.


"Eh, apa iya? Hahaha!" Jawabnya sambil tertawa genit. Mereka lalu menunggu dan keenam guru baru itu memasuki kelas yang mereka jaga dan berkenalan.


"Oh iya kalian mau ikut kelas pemula Muroja'ah?" Tanya kepala sekolah.


"Iya, Bu!" Jawab mereka berdua.


Kepala sekolah mengangguk meski nampak dari wajahnya yang agak bimbang. Rita tangkap itu tapi ya sudah! Keenam guru baru tersebut tersenyum simpul pada mereka. Ternyata empat guru yang lain pun sama akan mencoba masuk kelas pemula, yah karena gaji mereka sudah naik masa iya harus keluar begitu saja?


"Kita mulai setelah anak - anak pulang ya sekitar jam 3. Kelas pemulanya akan dilaksanakan dalam 3 hari, kita lihat bagaimana akhirnya," kata kepala sekolah. Setelah itu mereka pergi masuk ke ruang guru.


"Bagaimana ini hanya 3 hari?" Tanya guru A.


"Apa sengaja ya? Kita kan tidak mungkin langsung bisa dalam 3 hari," kata Guru B.


"Benar juga sih," kata Rita.

__ADS_1


"Apa secara tidak langsung bu Kepsek minta kita berhenti?" Tanya Guru C.


Semuanya berpikir sejenak, mungkin memang itu tanda mereka harus berhenti saja karena melihat guru baru itu lebih memenuhi syarat.


"Pokoknya kita berusaha dulu deh siapa tahu kan kita ada yang beruntung," kata Bu Asma membuat mereka semua semangat.


"Karena menurutku sih bu Kepsek memang ada niat mengeluarkan kita untuk digantikan sama mereka. Daripada kita bertahan lama lebih baik kalau dirasa nanti memang kita tidak ada kemampuan, keluar bareng yu!" Ajak Guru B.


Mereka semua setuju. Lalu selama 3 hari pun mereka semua mengikuti program itu Alex tidak mau mengganggu dia berharap kalau Rita bisa menguasainya. Lalu penilaian pun tiba ternyata dengan berat hati, mereka berlima gagal termasuk Rita. Sedangkan Bu Asma dinilai cukup bisa menguasai tapi yah tipis harapan.


"Bagaimana Bu Asma? Ibu lumayan sih ya mau terus mengajar atau berhenti saja?" Tanya Bu Kepsek.


Mendengar hal itu semua guru berlima memandangi Bu Asma. Dengan wajah yang senang, merasa dirinya lebih baik, Bu Asma mengiyakan tanpa merasa bersalah. Akhirnya dengan terpaksa Rita dan keempatnya mengundurkan diri. Mereka berlima langsung terpana mendengar jawaban Bu Asma tapi setelahnya mereka tidak mau berkomentar banyak.


"Si Bu Asma ternyata..." kata Guru C kesal.


"Yah, biarlah lagian kita juga tahu Bu Asma kan rada - rada... begitu." Kata Guru A, mereka semua juga tahu selama bekerja Bu Asma paling sering menarik perhatian Kepala Sekolah. Genit iya, meras lebih cantik dari guru yang lain iya.


"Aku gagal." Kata Rita chat kepada Alex.


"Ohhh kamu kurang mengusahakannya aku yakin kamu bisa. Memangnya hanya 3 hari? Rita, apa kamu membagikan nomor teleponku lagi pada orang lain?" Tanya Alex tiba - tiba.


"Hah? Tidak ada. Kenapa?" Rita mengingat - ingat lagi,memang tidak ada yang bertanya.


Lalu Alex mengirimkan screenshot chat dari... Bu Asma!


xxxxxxxxxxx123 : Hai, Alex. Boleh aku kenalan sama kamu ya. Aku dapat nomor ini dari Bu Rita katanya kamu lagi single, dia menawarkan kamu ke aku. Salam kenal!


"HAAAAAAAAAH!?!?" Teriak Rita otomatis keempat guru tersebut kaget mendengarnya. Dan melihat Rita yang cengo, mereka sama - sama melihat isi ponselnya.


"Ya Allah, Bu Asma chat sama pacar kamu!?" Tanya Guru C tidak percaya.


"Wah, kamu harus kasih peringatan sama Alex ini kasih tahu saja jangan dibalas kalau tidak, Bu Asma akan mencari masalah sama kamu.Kok dia bisa tahu ya nomor Alex ini?" Tanya Guru B.


"Masa sih dia berani buka ponsel aku, Bu?" Tanya Rita yang membeku.


"Ya bagaimana ya? Dia saja berani ambil makanan di tasnya Fifi anak didikku, apalagi ke orang lain," kata Guru D secara gamblang.


"Iya sampai mamanya Fifi saja marah katanya Ibu yang suruh padahal kan waktu itu ibunya Fifi juga lihat kalau Ibu lagi suapin Fanya di taman. Tukang ngarang dia tuh!" Kata Guru A lagi.


"Aku yakin kamu tidak memberikan nomornya karena kamu sedang fokus belajar kan? Jadi aku yakin dia waktu kamu sedang melakukan sesuatu, dia mengambil ponsel yang kamu lupa kunci," kata Alex menenangkan Rita.


"Hahhh syukurlah dia sadar kalau aku tidak pernah memberikan nomornya ke Bu Asma. Tapi kurang ajar banget ya," kata Rita sebal.


"Banget! Yuk pulang. Mau melamar kemana lagi ya?" Tanya Guru D memikirkan tempat yang lain.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2