ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
377


__ADS_3

Mereka makan dengan gembira dan memutuskan untuk membicarakannya nanti dan Melinda memberikan saran sekedarnya.


"Ini aku beri kesimpulan ya buat Rita. Menurutku Ney ini sama sekali harus kamu jauhi karena kacau sekali orangnya. Dari kamu cerita, dia tidak mau mendengarkan padahal kan itu dasar ya proses menjadi Sahabat," kata Melinda.


Mereka semua mengangguk setuju termasuk Rita. "Dia merasa iri saat kamu menceritakan soal yang membuat kamu bahagia sama dia, ini jelas sekali lho tandanya dia tidak tahan mendengar kisah gembira kamu. Dia merasa tidak pantas kamu bahagia lebih dari dia," kata Melinda.


"Iya," kata Rita setuju.


"Saat kamu memberitahu dia bahwa punya teman, dan dia berusaha menjauhkan mereka apalagi menceritakan kamu yang jeleknya, ada kemungkinan dia tidak terima kamu banyak teman. Dia hanya ingin kamu berteman sama dia saja dan ini termasuk dia egois sekali," kata Melinda.


"Betul sekali," kata Diana.


"Teman sebenarnya dia akan senang saja kamu punya banyak teman. Apalagi kalau kamu kenalkan semakin banyak juga teman dia tapi kalau kebalikannya, itu harus diwaspadai," kata Tamada.


"Dia suka memuji kamu tidak? Dulu dengan sekarang," kata Komariah.


"Dulu mana ada dia tuh. Sekarang memuji tapi selalu ada ekornya. Seperti kamu cantik hari ini tapi sayang kulit kamu lebih bentol, misalkan," kata Rita.


"Hahahaha lalu kamu pasti balas," tebak Diana.


"Iya aku balas. Kamu juga bagus pakai bajunya tapi alangkah lebih bagus kalau totol-totol di kulit kamu dihilangkan," kata Rita tertawa


Sontak mereka semua tertawa mendengarnya. "Memangnya kulitnya totol-totol?" Tanya Melinda.


"Nih. Bukan maksudnya mengejek tapi aku sih membalas ejekan kalau dia duluan, Nda. Dia mengejek tapi tidak sesuai kenyataan. Setelah itu dia marah-marah aku bilang saja "Kalau kamu tidak suka memangnya aku suka. Kalau mau memuji itu yang tulus tanpa ada ekor." Dia diem," kata Rita memperlihatkan fotonya.


"Oh begitu. Iya juga ya siapa sih yang senang fisiknya diejek. Sering ya? Tapi dia sadar tidak sih kulit kamu sama dia itu beda, kalau orang lain mendengar yang ditertawakan justru dia kan," kata Melinda keheranan.


"Iya makanya. Aku tidak balas juga sebenarnya dia buat jebakan sendiri sih," kata Rita lalu menghapus fotonya.


"Kalau begitu sih dia memang tidak tulus memberikan pujian karena ada ekor negatifnya. Tapu kamu bisa membalas dia ya bagus hehehe," kata Komariah mengacungkan jempolnya.


"Super iri ya?" Tanya Rita.


Mereka semua mengangguk. Meski arita yakin mereka juga pasti ada yang iri kepadanya tapi mereka masih mau berteman dengannya. Rita pun kadang tidak percaya diri dengan Melinda karena kulitnya sangat putih dan idola kampusnya. Tapi Melinda sangat ramah dan juga senang makan.


"Kalau hubungan kamu dengan Malay amblas pasti dia akan senang sekali," kata Linda.


"Kenapa? Karena dia pernah menyukainya?" Tanya Rita.


"Itu dan kamu bilang dia mencari tahu soal Malay kan sewaktu dia tahu kalau Malay itu kaya, dan dia malah tertarik sama kamu itulah waktunya bagi dia untuk menyerang. Karena menurutnya kalau dia tidak bisa mendapatkannya berarti orang lain termasuk kamu juga mustahil," kata Linda lagi.


"Bisa jadi sih ya," kata Rita berpikir.


"Memang sih dia ada rasa cemas ke kamu karena jomblo tapi caranya menyampaikan kepeduliannya salah, malah membuat dirinya merundung kamu. Maksud apa yang ada dalam otak tidak sinkron dengan kelakuannya jadi memang banyak yang tersakiti," kata Tamada.


"Wah, Tamada seperti bisa melihat dari jarak jauh ya," kata Rita membuat Tamada harus menahan kemampuannya. Setelah Linda menyikutnya agar jangan bertindak lebih jauh.

__ADS_1


"Ehehehehe hanya menyimpulkan dari obrolan kamu saja," kata Tamada tertawa.


Mereka makan dengan nikmat dan masih tersisa banyak meskipun mereka sudah bawa sisanya masing-masing. Rita berpikir apa Ney masih ada, meski begitu dia kasihan juga sih.


"Dibungkus buat dia ya? Serius?" Tanya Diana yang kesal.


"Meskipun orangnya sulit tapi ikhlaskan saja soal yang ini, kalau masih ada itu juga. Cukup kan segini?" Tanya Rita mereka melihat isinya ada 2 pizza. Sisanya dia mau bawa pulang untuk keluarganya.


Mereka menghela nafas, Rita masih saja bisa berlaku baik pada orang yang sudah sering mengecewakannya tapi karena itulah mereka juga senang dengan Rita. Karena Rita senang bercanda juga dan tidak pernah hitungan.


Rita sudah membungkus dan saat pulang nanti akan dia berikan kepadanya tapu bukan karena untuk meminta maaf hanya sebagai makanan sisa.


"Dia akan berpikir kamu merasa bersalah lho," kata Komariah.


"Aku akan bilang ini makanan sisa kalau tidak mau, ya sudah tapi pasti dia terima soalnya dia tidak pernah melewatkan makanan apapun," kata Rita yakin.


"Kamu masih mau temenan sama dia?" Tanya Komariah.


"Jangan tanya deh. Meski aku yang jauh, dia selalu yang datang lagi kan. Itu artinya meski dia bertingkah drama tapi sebenarnya dia butuh teman. Tapi tenang saja kalau dia bertingkah lagi aku bisa pergi kapan saja," kata Rita.


"Benar ya," kata Diana yang masih marah. "Ih ingat yang tadi memalukan sekali sampai ada ibu-ibu yang beri kita berdua minuman," kata Diana yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Mereka tertawa bersamaan. "Iyalah mana ada orang yang bisa tahan sama dia sih. Kelakuannya itu di luar nalar," kata Tamada tertawa geli.


Di luar, Ney berjalan menuju dalam Mall sambil membawa cendol yang dibelinya dan melihat Rita berada di dalam Pizza Hut. Dia bengong sesuai dugaannya kalau Rita memang masih ada disini tapi tidak menduga dirinya sedang makan Pizza bersama kelompoknya.


"Rita, ketemu ya sama aku di depan," ketik Ney sambil melihat. Rita lalu memeriksa ponselnya.


"Mau apa? Mau buat drama lagi? Hobi sekali ya kamu buat seolah aku dan Diana yang jahat. Gila," balas Rita.


Ney membacanya dia terduduk. "Maksudku bukan begitu tiba-tiba saja aku merasa sedih sekali karena perlakuan kalian," ketiknya. Lamaaa sekali tidak ada balasan dari Rita, membuat Ney terus memeriksa.


Dalam PH Komariah bertanya. "Dia ya? Apa katanya?"


Rita memperlihatkan. "Idih menyalahkan kita," kata Diana.


"Terus mau bagaimana?" Tanya Melinda.


"Kita langsung saja yuk kesana sekalian bayar. Kita mau ke perpustakaan?" Tanya Rita.


Mereka lalu berdiri merapihkan semuanya, sementara Rita dan Diana menuju Ney. Sisanya menunggu di depan toko lain karena mau jalan-jalan dulu.


Ney terus melihat ponselnya tanpa menyadari Rita dan Diana sudah ada di sampingnya. "Woi! Ada apa?" Tanya Rita agak jutek.


Ney kaget lalu berdiri dan melihat Diana dengan wajah masam. Dia tidak bisa berkata apa-apa, tahu Diana dengan jelas melihat aksi aktingnya dan berperilaku dengan tenang.


"Kamu tidak mau meminta maaf soal tadi? Kan kamu yang salah, Rita," kata Ney mulai bertingkah.

__ADS_1


"Ih, malas sekali sih buat apa coba Rita, kamu susah payah menyisakan pizza. Nih kelakuannya mulai lagi buat drama? Hobi kamu ya seperti ini?!" Seru Diana membuat beberapa orang kaget juga Ney.


"Impiannya jadi artis sepertinya hanya kalau hobinya senang main drama seperti ini sih pasti gagal audisinya. Nih buat kamu," kata Rita jutek juga.


Ney diam lalu menerima dan melihat isinya. Potongan pizza dengan ukuran sedang. Dan menutupnya dia termenung setelah drama yang dia lakukan, Rita masih perduli padanya. "Aku tahu kamu memang orang yang menerima. Tapi kamu juga harus minta maaf sama aku," kata Ney masih dengan dramanya.


"Kamu yang merundung kita seenak banget sih!" Kata Diana.


"Sudah yuk, Diana yang lain menunggu," ajak Rita.


Beberapa orang memandang aneh pada Ney yang kebingungan. Ney mengejar mereka berdua yang bergandengan tangan. "Aku boleh ikut kan?" Tanya Ney.


Diana dan Rita merasa aneh sekali dengan perilakunya. "Kamu gila ya? Setelah Playing Victim sekarang mau apa lagi? Mau buat onar sama yang lain? Jangan Rita, nih anak otaknya asli perlu diperbaiki," kata Diana mengajak Rita pergi.


"Maaf ya Ney, tapi yang melakukan drama itu kamu sendiri. Kamu yang menangis, kamu juga yang tertawa. Kamu dapatkan semuanya kan setelah membuat kita sebagai penjahat, lalu orang-orang membela kamu. Nikmati sajalah jangan harap aku mau bertemu kamu lagi," kata Rita lalu berjalan duluan.


Ney terdiam di tempat dia panik akhirnya menjadi kacau. Kemudian menangis benat tapi segalanya terlambat. Kemudian meraih tangannya Diana, Diana menghempaskan nya.


"Mau apa kamu?" Tanya Diana jutek sekali. Rita melihat ke belakang dan menyusul Diana.


"Aku minta maaf tolong jangan tinggalkan aku sendiri ya Diana. Aku tidak perduli kalau Rita yang pergi asal kamu jangan. Aku benar ingin jadi teman kamu, aku akan berusaha berubah," kata Ney yang memohon.


Beberapa orang yang tadinya membela dia hanya bengong melihatnya, benar saja ternyata mereka berdualah korbannya dan cepat meninggalkan tempat itu.


"Ih, apaan sih! Aku tidak minat ya jadi teman kamu setelah kamu memperlakukan Rita seenaknya. Malah kamu bilang tidak perduli kalau Rita pergi? AKU PEDULI KARENA DIA SAHABAT TERSAYANGKU BUKAN KAMU! Kamu yang tidak setia kawan sama dia, berapa kali kamu buat drama agar Rita terlihat sebagai orang jahat?!" Teriak Diana kemudian pergi dengan marah lalu menarik Rita menjauh dari Ney.


Mereka berdua pergi dan Ney menangis betulan. Terisak-isak sendirian di pojokan, beberapa orang menggelengkan kepalanya. Selama 10 menit dia berada disana berharap mereka kembali tapi tidak ada satupun. Dan hanya Rita yang kembali, Ney dengan cepat tidak peduli.


"Mau apa kamu. Puas ya kamu berhasil membuat aku yang jahat!" Teriak Ney membentak Rita.


Rita yang kaget bermaksud memberikan tisu padanya lalu dilemparkannya ke badan Ney. Ney kaget dan melihat apa yang dilempar kepadanya.


"Aku bermaksud memberikan kamu tisu tapi sepertinya tidak perlu. Dah," kata Rita dengan nada datar kembali ke kelompoknya.


"Tunggu, Rita. Maaf aku minta maaf ke Diana, ini buat Diana aku beli tadi. Aku hanya bad mood saja," kata Ney memberikan kue itu pada Rita.


Perasaan Rita saat itu sangat terluka, Ney mengakui salah hanya pada Diana padahal sedari dia memulai drama, dia arahkan pada dirinya bukan Diana. Dia memandang kue itu sesaat, air mata akan keluar tapi dikuatkan untuk tidak jatuh.


Tanpa berkata apapun, Rita benar-benar pergi. Ney juga pergi dan masih menangis. Dia menangis bukan penyesalan pada Rita tapi tidak bisa menjadi teman Diana.


Di tempat perpustakaan sana, Rita sudah menghapus air matanya dan terlihat gembira agar mereka tidak tahu. "Diana, ini dari Ney katanya dia minta maaf," kata Rita memberikan kue.


"Hah? Kok ke aku sih? Ya Allah Rita, seharusnya dia minta maaf ke kamu. Tuh orang benar-benar ta jambak dia," kata Diana yang mulai ingin mendatanginya tapi ditahan Rita.


"Sudahlah," kata Rita yang sedih.


Mereka semua menepuk bahunya Rita memberikan semangat. "Sudah Rita, kebaikan kamu terlalu berharga untuk orang seperti dia. Sekarang jangan pikirkan dan jangan pernah kamu mau main lagi sama dia," kata Tamada.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2