
Yang ditunggu akhirnya tiba juga yaitu tanggal pernikahan Arnila. Rita sudah tentu datang dengan adiknya, Prita yang mengenakan baju anggun.
Dia sengaja membelinya untuk acara tersebut sedangkan Rita sudah memiliki baju pesta yang dia miliki sejak dulu.
"Jangan lupa kadonya," kata Prita mengingatkan. Kakaknya kadang suka kelupaan.
"Okay," jawab Rita yang kemudian memasukkannya ke dalam kantong kertas berwarna krem lalu dililitkan ke tangannya.
Gaun yang Rita pakai tidak kalah cantiknya dengan adiknya. Berwarna putih dengan atasan biru langit yang adem.
"Siap?" Tanya Prita.
Mereka kemudian pergi dengan menggunakan travel yang dipesankan oleh kakak mereka. Kalau tentang Jakarta sudah tentu, harus ada jalan-jalan juga. Travel yang mereka tumpangi hanya berisikan beberapa orang, pada akhirnya kedua orang tuanya juga ikut beserta kakak dan anak-anaknya. Intinya hanya berisikan keluarga mereka saja.
Sekalian piknik sekeluarga, mereka akan menginap di rumah keponakan dari adik ibu mereka. Dalam perjalanan sudah tentu Ney menceritakan baju yang akan dikenakannya di hari pernikahan Arnila.
Kita tinggalkan saja perjalanan Rita menuju Jakarta. Kita sebentar beralih ke Ney yang dimana sudah berada di rumah Jakarta.
"Dek, ke undangan saja bisa serapih itu kenapa kalau sehari-hari seperti kuliah sampai hancur sih?" Tanya kakaknya Cyphrine menatap adiknya.
"Ya bedalah. Ini kan resmi," kata Ney yang sibuk menata rambutnya menjadi curly.
"Bajunya ganti deh, jelek yang itu. Serius mau pakai yang pink? Berasa bunga kembang sepatu," kata adiknya yang langsung lari karena Ney melemparkan sepatu kepadanya.
"Seriuslah. Ini cantik tahu, kalau sehari-hari kan tidak perlu sampai dandan segala, kak. Ini kan acaranya sakral, jadi aku harus secantik mungkin," kata Ney yang sibuk memoles lisptik.
__ADS_1
Melihat adiknya yang tidak bisa memakai lipstik dengan baik, kakaknya melangkah masuk. "Sini sama gue deh. Lu tidak becus pakai lipstik juga," katanya merampas lisptik nya.
"Memangnya lu bisa?" Tanya Ney agak sangsi.
"Belum tahu saja lu. Lagian ini merk apaan sih? Warnanya jelek Ya Allah, Ney. Lu jangan sembarang beli deh hanya karena bermerk, nih ya tuh jelek warnanya. Bibir lu tuh tipis tidak perlu terlalu tebal sebentar deh gue ambil punya gue," kata kakaknya melempar lipstik merk Replon ke atas kasur Ney.
"Ini tuh bagus. Masa sih jelek?" Tanya Ney lalu dia pakai. Bibirnya terlihat seperti membengkak dan adiknya tertawa melihatnya.
"Ada ondel-ondel di rumah ini," katanya berlari lagi.
"Tuh kan ondel-ondel. Hapus, nih punya gue ya meski merknya tidak terkenal dan terbilang harganya murah tapi kalau dipake..." kata kakaknya mengaplikasikan pada bibir adiknya.
Bibir Ney nampak cuantek dan dia terkejut dengan hasilnya. Apalagi melihat banyak kosmetik yang kakaknya punya, hampir mirip dengan yang dipunya oleh Rita. "Ini lu kapan belinya? Rita juga punya yang ini ini dan ini," kata Ney menganga.
"Oh, Rita punya? Iyalah ini tuh ya bagus banget. Lokal lho punya negara kita sendiri, lah lu malah milih negara orang mana jelek buat kamu jadi ondel-ondel. Kalau Rita punya, kenapa lu tidak minta diajari?" Tanya kakaknya yang masih merias Ney.
Ney diam sambil cemberut. "Kenapa sih apa-apa Rita terus? Memangnya Rita sebagus itu?" pikir Ney.
"Itu bukan perundungan kalau tidak begitu, dia tidak akan sadar kalau kelakuannya tuh semuanya salah," kata Ney.
"Yeee yang salah tuh ya lu sikap macam apa bertingkah seperti lu paling benar? Sadar dong Ney hanya dia seorang yang tulus nerima lu meski iya dia juga agak terpaksa. See lebih parah siapa gue atau dia?" Tanya Cyphrine ke adik lelakinya.
"Maksudnya apa sih kalian? Jadi menurut kalian perilaku aku ke dia itu tidak baik?" Tanya Ney menatap mereka.
"Iyalah. Harusnya lu lebih peka, bisa-bisanya kamu bilang dia tidak peka, Ney. Lu pasti sadar kan selama ini banyak orang yang memilih menjauhi lu, asal lu tahu ya Rita itu juga sulit. Dia bahkan melawan kedua orang tuanya hanya untuk membela kamu yang dianggap sebagai perempuan buruk. Masa sekarang lu balas dia lebih pahit, teman macam apa lu?" Tanya kakaknya menunjuk ke mukanya.
"Jadi gue salah? Rita itu selebor, kak. Yang aku lihat ya selama ini dia itu pekanya...." kata Ney yang terpotong.
"Rita itu peka kalau sesama perempuan tapi tidak peka kalau dengan jenis yang berbeda contohnya lelaki. Ya lu tahu kan kondisi dia yang jarang berpacaran, ya pahami dong bukannya malah buat dia jadi musuh lu sekarang. Payah lu mah benar tidak bisa berteman sama sekali, masih trauma soal dulu? Ney, itu sudah masa lampau masa lu masih hidup di jaman batu?" Tanya kakaknya.
"Menurutku kalau memang kak Rita slebor dan tidak peka, dia bukan pengkhianat persahabatan lho tidak seperti kak Ney. Semestinya banyak bersyukur masih ada orang baik hati yang tidak mempermasalahkan ke-eror-an pemikiran kakak," kata adiknya.
__ADS_1
"Sudah sudah nanti aku terlambat ke acara pernikahannya Arnila. Aku duluan ya kalian kan datangnya mau bersama dengan saudara yang lain. Pokoknya menurut aku semua yang aku lakukan itu untuk kebaikan dia, dan aku sama sekali tidak merasa salah!" Kata Ney berteguh dengan pendiriannya.
"Ya terserah sih kalau kamu lebih memilih keegoisan kamu sendiri," kata kakaknya yang sudah membereskan semua peralatan kosmetiknya. Ney melirik melihatnya dan berniat untuk memakainya dan membawanya beberapa nanti.
"Teman-teman aku tidak ada kok yang seperti dia, aku bicara apapun mereka terima. Dia sendiri yang aneh yang tidak bisa menghormati aku," kata Ney.
"Teman kamu kan sealiran sama kamu juga, pemikiran sama tingkat ego juga semuanya setara. Kalau kalian berantem juga lebih bisa diminimalisir tapi kalau lu masuk ke kelompok kalem, ya semuanya hancur. Contohnya tuh temen lu si Arnila, hancur kan gengnya gara-gara kamu masuk ke tim sono," kata kakaknya masuk kamar.
Ney terdiam memang sih selama dia punya grup yang sifatnya sama dengan dia, tidak ada seharipun gondok-gondokkan, musuhan, apalagi sampai musti mendoakan yang jelek. Karena memang sama sealiran dengannya apalagi dengan hal berbau mistik, sedangkan Rita sangat tidak suka jadi memang tidak cocok. Soal ramalannya pun entah kenapa hanya dengan Rita saja semuanya malah berbalik atau bahkan tidak ada efek sama sekali.
"Satu lagi. Jangan pernah lu sok tahu meramal deh. Lu tidak bisa dipercaya soal amanat, lu masih egois ramalan untuk diri sendiri. Ingat ya Ney orang yang bisa meramal itu harus punya jiwa murni yang tidak ternoda," lanjut kakaknya yang menangkap sesuatu soal adiknya.
"Idih, ramalan gue selalu tepat kok," kata Ney.
"Yakin? Lu ramal teman gue, Siska bilang kalau hari ini hari buruknya jadi harus selalu berada dalam rumah. Tahu apa yang terjadi berikutnya sama dia?" Tanya kakaknya yang marah.
Ney menganga menatap kakaknya yang berkacak pinggang. Agaknya kelakuannya yang selalu menyombongkan diri bisa meramal sudah keterlaluan.
"Kenapa?" Tanya Ney agak ketakutan.
"Pacarnya dia ajak pergi karena percaya ramalan kamu, akhirnya aku menangkap dia pergi dengan wanita lain. Yang benar dong meramal itu tidak bisa dengan kata-kata, Ney. Meramal itu ilmu yang paling tinggi, lu mah sama sekali tidak kesampaian," kata kakaknya yang sekarang marah.
Ney melongo mendengarnya. "Tapi yang aku lihat..." kata Ney tertunduk.
"Dan Siska sekarang berusaha mengakhiri hidupnya dan itu karena ramalan main-main lu! Untung aku langsung bisa membelokkan, telat 5 menit sudah kelar hidupnya. kehaluan lu tuh sudah di luar batas, Ney. Sadar dong!" Kata kakaknya yang lempar kursi kecil ke arahnya tapi meleset.
Karena takut kena dan bajunya robek Ney buru-buru keluar dan mencegat taksi. Adiknya menenangkan kakaknya itu yang jeleknya tidak bisa mengendalikan amarahnya. Lalu dalam taksi Ney bernafas lega dan memikirkan apa kata kakaknya tadi. Ney tidak percaya kalau ramalan yang dia lihat itu adalah kehaluannya yang fanatik ingin bisa meramal.
Dia juga teringat sewaktu meramalkan Rita namun tidak ada yang terjadi seperti yang dia lihat. Membuat Rita sangsi dan akan menanyakan soal itu ke orang yang lebih bisa Melihat. Karena menurut intuisinya Ney sama sekali tidak punya kemampuan meramal, yang dia bisa hanya mendoakan hal yang jelek.
Apa yang dia lihat soal Alex pun, semuanya seakan tidak pernah terjadi. Rita juga mengatakan hal yang sama dengan kakaknya kalau dirinya tidak memiliki kemampuan meramal. Yang selama ini selalu dia ungkapkan sebenarnya adalah doa dirinya tidak bahagia melihat orang bahagia.
__ADS_1
Bersambung ...