ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
390


__ADS_3

Kemudian mereka mengobrol dalam grup daripada di Pacebuk. Kesal dan malas yang dirasakan Rita katena sudah pasti menjadi ajang perdebatan lagi dengan Ney.


"Kamu bagaimana bisa makan sushi? Ada yang mengajak?" Tanya Arnila dalam chatnya.


"Iya adik aku. Dia kan punya pacar yang high class begitu jadi ya ajak aku makan," kata Rita membalas.


"Kenapa aku baru tahu ya kalau kamu suka sushi, Arnila? Selama ini aku pikir kamu selain jajanan tidak sehat tidak suka yang makanan Asia," kata Ney agak sebal. Kenapaaa dia batu tahu segalanya sekarang?


"Aku dari usia 10 tahun sudah diperkenalkan oleh Bapak dan Ibuku, di Jakarta juga. Iyalah kamu baru tahu kan memang kamu dari dulu tidak pernah peduli aku mau cerita apapun. Telinga kamu tutup. Rita, sushi itu masih banyak lho macamnya," kata Arnila.


Oh begitu. Aku sama sekali tidak suka ikura atau apapun yang ada telur ikannya, mau muntah!" Kata Rita.


"Hahaha ikura memang banyak yang tidak suka sih Rita, disamping genyal-genyal saat dimakan lalu bau amis juga kan ya. Tidak aneh sih kalau kamu tidak suka juga," kata Arnila tertawa membayangkan Rita memakannya dengan terpaksa.


"Ya ampun masa sih kamu tidak suka? Itu tuh mahal sekali lho oh iya ya kamu kan lebih suka makanan di pinggiran ya. Di kasih makanan berkelas mana mungkin cocok di lidah kan ya," kata Ney dengan tawa angkuhnya.


"Memangnya kamu suka?" Tanya Rita tidak memperdulikan anggapannya.


"Syuka dongs. Aku tuh ya sampai bosan makannya karena terlalu sering makan itu semua. Aneh sekali kalau kamu belum pernah makan masa sih orang tua kamu tidak pernah ajak ke resto?" Tanya Ney menyebalkaaaaaan!!!


"Kamu tidak perlu deh sampai menghina, Ney. Makanya tidak ada yang mau balas komen kamu di Pacebuk karena terlalu meremehkan," kata Arnila memberikan peringatan.


"Iya ih, biasa saja kali. Mau aku belum pernah makan atau udah buat apa kamu menghina? Oh iya aku lupa itu kan kesukaan kamu ya menjelekkan orang pantas sendirian terus," balas Rita yang geram. Kenapa sih nih orang? Hobi sekali merendahkan dia dimanapun berada, apalagi dengan kesan bicaranya yang malas didengar.


Ney diam membacanya, dia pikir sudah keterlaluan meskipun bukan itu maksudnya tapi apa yang mau dia bicarakan sebenarnya entah kenapa yang keluar selalu berbeda. Apalagi seringkali membuat semua orang marah kepadanya.


"Lagipula Ney, bukannya kamu pernah bilang tidak suka sushi? Makanan Asia kan bukan kesukaan kamu berbeda dengan aku dan Rita," kata Arnila dalam grupnya membuat Rita nyengir. Oh hoo! Ternyata...


Ney panik kalau Arnila masih ingat dengan kejadian waktu itu saat dirinya masih duduk SMA memang pernah diajak anak-anak untuk makan sushi. Ney menolak mentah-mentah untuk memakannya karena sangat bau.


"Hah? Ih kata siapa, kapan juga aku bilang begitu? Aku suka kok makanan Asia, ngarang kamu tuh," kata Ney berusaha meyakinkan.


"Hahahaha dasar tukang ngibul. Jujur saja kenapa? Wajarlah memangnya semua manusia harus suka makanan Asia? Ya tidaklah," kata Rita tertawa membacanya.

__ADS_1


"Aku ingat sekali kalau kamu bicara lebih memilih batagor dan lumpia goreng daripada makanan Asia seperti sushi. Waktu kamu makan itu kan yang pertama kalinya di kedai itu, kamu juga malah muntahin semuanya. Lebih parah tahu," kata Arnila yang membeberkan semuanya.


Semakin kesini Rita semakin jelas kalau Arnila juga sama saja dengan Ney. Herannya kok bisa ya? Soalnya awal kenal Arnila, dia bijaksana tidak seperti sekarang. Kadang Rita merasa, Arnila sengaja membeberkan sikap buruk Ney kepadanya. Meski kadang sikap aslinya yang dewasa juga keluar.


"Hahahahaha lebih parah katanya. Benar itu, Arn?" Tanya Rita yang penasaran.


"Iya, Rita. Dia langsung lari ke toilet," kata Arnila.


"Kapaaaaan aku pernah muntahin? Itu karena sakit perut tahu! Dagingnya kan mentah memang bau amis kan," kata Ney.


"Hahaha itu ngaku. Kalau kamu memang suka, seperti kelakuan adikku benar-benar habis dia makan tanpa muntah," kata Rita tertawa keras di teras.


"Hahahaha tanpa diduga mengaku sendiri dia. Nih ya untuk membuktikan omongan aku tidak bohong Rita, aku masih ada kok fotonya. Lidah kamu itu kan lidah dalam negeri, Ney bukan luar negeri. Nih," kata Arnila mengirimkan beberapa foto pertama dia memakan sushi dan juga video singkat.


Dalam video itu terdapat 5 orang termasuk ada Arnila dan Ney, 3 sisanya mungkin teman mereka. Wajah Ney juga sudah mulai agak jijik melihat tatanan imut dari Sushi. Lalu mereka memberikan 1 sushi pada Ney untuk dimakan dan menunggu reaksinya. Tidak perlu sampai 1 detik, sudah sampai di lidah Ney langsung memejamkan kedua matanya dan lari ke toilet.


"Kenapa lu? Tidak enak?" Tanya A melihat Ney yang gemetaran.


"Gila! Makanan apaan nih!? Bau sekali sih! Hoeeekk!" Kata Ney menjulurkan lidahnya dan secepat kilat minum jus mangga.


Semuanya Ney membaui sebelum dia makan dan dengan cepat menolak. "Aaah tidak tidak aku tidak suka. Bau semuanya! Kalian saja deh yang makan, lebih baik disuruh makan batagor dan lumpia goreng daripada yang beginian!" Kata Ney menolak semuanya. Alhasil Arnila dan yang lainnya makan dengan lahap.


Dan selesailah sesi dalam grup itu, hening dan tidak ada yang chat lagi. Beberapa detik Rita memanggil Ney tapi sama sekali tidak ada balasan lagi. Ney sendiri dia jadi malu sendiri memang mengakui pernah berkata begitu dan setelahnya selalu menolak kalau teman-temannya mengajaknya ke tempat resto Jepang.


Dalam chat lain, Ney marah pada Arnila yang tampak sengaja sekali mengirimkan foto dan video. Ternyata Ney pun merasakan hal yang sama dengan Rita, kalau Arnila entah kenapa seperti membeberkan segalanya mengenai Ney. Mungkin karena agar Rita tahu kalau bukan hanya dia saja yang menderita karena kelakuannya.


"Kamu ngapain sih kirim video dan foto tadi? Aku malu sekali! Lagian, kenapa ya aku merasa kamu seperti sengaja deh memberitahukan Rita soal sepele aku," kata Ney pada Arnila.


"Lah, memangnya salah? Kan Rita kamu anggap sebagai sahabat harusnya hal sepele soal kamu ya Rita harus tahu dong. Kalau kamu rahasiakan berarti benar apa kata Rita," kata Arnila.


"Apa apa??" Tanya Ney menantang.


"Kalau kamu memang bukan sahabatnya dia," kata Arnila membuat Ney tidak bergeming.

__ADS_1


"Yaaa aku pikir soal jeleknya aku atau kelemahan aku tidak perlu Rita sampai tahu," kata Ney.


"Kalau begitu jangan memaksakan kehendak kamu ke dia dong. Apa hak kamu? Teman dekat bukan, sahabat mana mungkin. Teman itu mau hal sepele dari nol sampai 10, mau jeleknya kamu banyak atau kelebihan kurang, yang namanya benar teman ya keluarkan saja," kata Arnila memberikan pengertian.


"Aku takutnya dia tidak bisa menerima aku," kata Ney.


"Ya itu hak dia. Dalam pertemanan tidak ada paksaan apapun, kalau Rita tidak menerima kamu jangan memaksa. Jadinya begini kan, kamu sendiri yang serba tidak enak, Rita juga jadinya jenuh. Kalau kamu mau dianggap sebagai temannya, jujur bicara seadanya, Ney," kata Arnila.


"Rita itu sebenarnya sombong lho lidahnya itu selalu berkata yang tinggi. Jadi kalau dia tahu kelemahan aku bisa disebarkan ke semua orang," kata Ney.


"Ya itu mah elu. Kapan Rita pernah ceritain lu ke semua teman dekatnya? Aku bertaruh, tidak pernah. Untuk apa? Rita punya banyak teman Ney, dia pasti cerita soal kelakuan kamu. Makanya aku kan bilang dari awal, serius kamu mau bantu Rita? Tanpa mengharapkan imbalan atas jasa kamu? Karena aku sudah hafal sekali soal kamu," kata Arnila.


Ney terdiam. Arnila memang yang paling lama berteman dengannya dari kebiasaannya yang sering kabur dari rumah, pesta minuman alkohol, dugem sampai semingguan bahkan pernah pulangnya mabok dan tidur di teras rumah Arnila.


"Kamu kalau membantu orang ya Ney selalu meminta balasan, mending mereka mengerti kalau Rita, dia sadar yang bisa membalas kebaikan itu hanya Allah. Kamu ingin dipuji sebagai Sahabat Terbaik tapi kamu lupa satu hal," kata Arnila mengingatkan.


Ney penasaran apa itu? "Satu hal apa itu? Kok gue merasa kamu mengira aku tidak tahu ya?" Tanya Ney.


"Kamu tidak pernah ada di saat dia down. Pernah kamu dengar dia curhat yang paling parah dalam hidupnya? Apa kamu ada di sampingnya? Coba jawab," kata Arnila.


Ney tidak membalas pernyataan Arnila. Jemarinya terhenti begitu saja, mau berbohong pun terasa seperti dirinya tidak ingin mengetikkan sesuatu. Otaknya terasa membeku, ya Ney pernah mendengar cerita itu tapi dia tidak mempedulikannya dan membiarkan Rita menangis sendirian. Dalam hatinya toh hidupnya selalu bahagia ujian hanya sebegitu saja masa tidak bisa dilewati, toh dia saja menghadapi segalanya sendiri tanpa siapapun. Tapi hal itulah justru sebagai tombak untuk dirinya.


"Tidak kan jadi berhentilah mengaku-aku kamu sebagai sahabat. Menurut aku sadar diri saja deh Ney, perbanyak bercermin tanya pada diri sendiri. Lalu soal lidah Rita yang panjang selalu berkata tinggi, tidak pernah dia lakukan. Dia cuek orangnya Ney, justru kamu yang begitu. Kamu selalu bilang Rita suka berpikiran negatif soal kamu, tapi yang aku lihat tidak pernah lho. Wajar kalau Rita tidak menyukai salmon toh kamu juga sama saja," kara Arnila mulai berceramah.


"Ya tapi..." kata Ney yang langsung terpotong.


"Lalu kenapa kamu banyak berbohong sih sama dia soal suka semua sushi? Ya aku terpaksa mengatakan sebenarnya daripada kamu semakin banyak bohong. Itu ya kebiasaan kamu yang terparah sejak aku kenal dan sekarang Rita sudah tahu juga. Malu kan kalau ketahuan," kata Arnila.


Ney tidak bisa berkata apapun lagi dia kesal dan marah, melemparkan ponselnya ke atas meja belajarnya. Dia mengusapkan kedua tangan ke wajahnya dan berteriak histeris. Kakak dan adiknya tentu saja mendengarnya dan sudah terbiasa dengan itu.


"Nenek lampir mulai berulah," kata kakaknya tertawa.


"Satu lagi ya Ney, usahakan berhenti membuat drama di depan banyak orang karena kamu sendiri yang malu nantinya kalau kalimat kamu tidak digubris. Jangan kebanyakan nonton sinetron toh Rita bersikap datar kok," kata Arnila yang bisa melihat apa yang terjadi waktu itu.

__ADS_1


Selesailah percakapan mereka sampai sana dan Rita masih sibuk membalas komentar di akunnya. Karena Ney sudah diperingatkan, dia hanya membaca isi semua komentar dan memperhatikan. Banyak orang yang bertanya soal alamatnya, makanannya atau rasanya tidak ada yang mencemoohnya. Dan tidak ada satupun orang yang merasa kalau Rita sedang menyombong, jadi itu hanya ada dalam pikiran Ney saja.


Bersambung ...


__ADS_2