ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(259)


__ADS_3

Ney membaca semua itu, orang normal kalau membaca paragraf panjang pasti sedih dan memohon agar temannya kembali kan. Atau dia mengakui sudah salah dan meminta maaf tapi tidak dengan Ney, yang tidak peduli sama sekali. Dia puas banget akhirnya bisa bebas dari Arnila, dia berpikir toh nanti dia akan kembali lagi kepadanya sambil memohon diterima kembali. Tapi kenyataannya sebenarnya dialah yang memohon pada Arnila untuk berteman dengannya dan meminta tidak membencinya. Tapi kali ini, Arnila sudah cukup stres dan dia memutuskan setelah menikah lebih baik menjauh sejauhnya.


"Wah, bagus! Pergi saja sana! Aku sudah tidak butuh orang seperti kamu! Aku sudah lelah, kamu juga sama lemot dan lambannya dengan Rita! Aku heran kok Imron bisa ya suka sama kamu? Cantik tidak padahal, wajah hitam! Mendingan gue!" Kata Ney yang memanaskan obrolan itu. Dia tersenyum saja melihat chatnya dan menunggu balasan dari Arnila.


Saat itu, Arnila sudah sangat kesal dan muak mengobrol dengan Ney lalu Imron lah yang melihat isi ponselnya dan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ney. Untungnya Arnila tidak membacanya, dia memilih untuk makan siang. Imron membalas Ney untuk yang terakhir kalinya, tampak Arnila yang marah - marah terlihat jelas pada wajahnya dan itu sudah cukup.


"Aku suka Arnila karena dia selalu rendah hati, selalu menolong orang tanpa pamrih. Dibelakang kamu, dia sering cerita kalau kamu selalu memperlakukan dia sangat jahat. Aku tidak masalah Arnila lemot atau lamban! Tapi kamu harusnya tahu ya bagaimana menghormati orang yang sudah banyak membela kamu dari kebanyakan orang yang benci kamu. Sejak awal tahu kamu, aku memang tidak tertarik kamu itu Aneh! Penampilan hancur, berkaca dong! Lihat baik - baik kamu itu tampilannya seperti apa dibandingkan Arnila, sama Rita saja kamu kalah telak! Mending sih kalau kamu sebagus Rita penampakannya lalu bilang seperti itu. Tapi Rita saja yang penampakannya sudah bagus, ternyata tidak percaya diri pada badannya sendiri! Kamu yang ... dibawah Rita kok bisa - bisanya percaya diri ya? Baguslah kamu mendapatkan Dins sesuai dengan kesetaraan kamu kan."


Setelahnya Imron menghapus apa yang Ney kirimkan tadi dan jawaban Imron sendiri, dia tidak mau saat hari H, acaranya menjadi kacau. Sudah cukup urusan pernikahan ini membuat Arnila stres karena banyak yang tidak sesuai harapannya, termasuk bunga yang dia pesan.


Ney yang membacanya kaget bukan main! Imron yang langsung membalas chatnya, alhasil Ney hanya bisa terdiam tersungkur dan menunduk. Lagi - lagi ada orang yang menyerang fisiknya, karena dia menyerang fisik orang lain. Dia melihat penampilannya sendiri tapi lagi - lagi menyebut kalau dirinya memang lebih baik dari Arnila tapi mengakui kalau Rita memang jauh dari dirinya. Dari mereka bertiga, Rita memang tinggi badannya lalu langsing juga meski makan banyak, dia bisa menjaga berat badannya. Memang di tempat kuliahnya ada jadwal senam bersama dari pukul 7 pagi sampai 10. Seminggu tiga kali, tidak heran badannya ramping dan tidak kaku. Kulit Rita pun mulus bersih putih dan halus, tapi malah iri pada kulit cokelatnya milik Arnila.


Katanya karena kulit putihnya banyak lelaki yang menggodanya dan dia tidak suka jadi lebih ingin berkulit cokelat seperti Arnila. Cantik itu tidak selamanya menyenangkan! Tapi Arnila memberitahukannya agar selalu menerima apa yang Allah SWT berikan. Dari situ pula Arnila belajar tidak semua perempuan cantik yang bangga akan sosoknya karena pasti ada yang membuat mereka tidak suka.


Selesai makan siang, Arnila kembali membuka ponselnya. Yang dia lihat hanyalah chat terakhirnya ternyata Ney tidak membalas, mungkin dia tertohok ya, Arnila melanjutkan lagi. Imron memandangi Arnila dan berharap itu adalah hari terakhir dia berurusan dengan Ney. Imron memiliki banyak rencana saat setelah menikahi Arnila. Tapi Imron akan menceritakannya apa yang dia katakan saat nanti pernikahannya selesai.


"Kamu sama sekali tidak pernah menghargai Rita semenjak kamu kenal dia dulu, aku tidak tahu ya kenapa kamu berbuat begitu sampai sejauh itu pada Rita. Kamu lebih banyak menuntut juga semenjak kenal Alex, jadi sangat keras pada Rita padahal kamu bukan siapa - siapanya Rita. Juga seperti memaksa Rita untuk tunduk dan mengikuti semua saran kamu, yang aku baca sama sekali tidak sesuai. Kalau kamu memang benar temannya dan LEBIH mengenal Rita, hargai semua keputusan yang dia buat. Kamu sadar atau tidak, Rita tidak pernah menuntut kamu untuk menjadi teman sesuai yang dia mau," katanya lalu menunggu jawaban dari Ney.


Saat Ney hendak membalasnya, dia mendengar suara Rita dan teman - temannya bercanda, mengajinya sudah selesai tapi ternyata diteruskan lagi dengan hafalan surat pendek, setiap orang menghafalkan suratnya karena minggu depan, mereka harus hafal.


"Kalian enak banget sudah jauh surat yang susahnya, sekarang masuk ke surat pendek yang gampang," kata Rita yang frustasi karena dia kebagian surat yang panjang isinya dan sulit. Mereka semua tertawa mendengarnya dan memberi semangat. Jadi urutannya itu dari surat pendek yang paling panjang sampai yang terpendek. Untungnya untuk yang panjang itu, dosennya memberi kesempatan mereka untuk menghafal 4 - 6 baris.


Kembali pada Ney, dia memikirkan cara lain untuk mempermalukan Rita lagi kali ini yang lebih jitu. Agar teman - temannya tahu boroknya dia. Ney sudah melupakan atau bahkan sama sekali tidak dia pedulikan apa yang Arnila dan Imron katakan padanya tadi. Tidak ada rasa bersalah, makan hati atau penyesalan dia hanya menganggap kalau apa yang dia lakukan adalah benar.


Arnila lama menunggu balasannya tapi tampaknya dia benar - benar sudah dilupakan oleh teman kurang asemnya itu. Ini juga sudah biasa dialami oleh Arnila, seperti permen nano - nano manis, asam, asin semuanya ada rasa. Saat Ney mengatakan hal yang buruk sekalipun nanti dia pasti akan berpura - pura lupa. Yah, penyakit Arnila dan Rita sama yaitu mudah memberikan maaf lalu mereka akan baikan lagi. Tapi kali ini tidak akan sama lagi. Arnila lalu memutuskan untuk mengatakan hal terakhir. Dia tahu Ney membuat rencana lain untuk menjatuhkan Rita langsung di hadapan teman - temannya.


"Ney, berhentilah mempermalukan diri sendiri hanya agar kamu bisa merebut apa yang Rita miliki. Nanti yang kena itu bukan Rita tapi kamu sendiri, berhenti berusaha membuat semua orang mengasihani kamu, karena hasilnya mereka tidak menyukai kamu. Mereka bisa membedakan mana yang palsu dengan yang tulus." Itulah pesan terakhir dari Arnila untuk Ney. Namun Ney tidak sempat membukanya dia langsung menuju tempat Rita lagi.


Saat melihat Ney datang dengan penuh percaya diri, membuat semua teman Rita mengeluh. Mereka jutek lagi memandang Ney yang langsung duduk sebelah Siti. Mereka saling memberi kode untuk bicara pada Ney bagaimana caranya agar Ney pulang saja.


"Memangnya kamu bisa membaca surat pendek, Rita? Kamu kan hanya bisanya di surat Al Ikhlas saja, yakin tuh?" Tanya Ney dengan sikap sok manisnya.


"Eh, kita pikir kamu pulang tuh padahal kita sudah senang kalau kamu benar pulang," kata Tamada yang langsung dicolek oleh Annisa.


"Aku kan masih senang disini masa pulang? Setelah ini mau kemana?" Tanya Ney menahan suara kesalnya. Ya dia kesal semua teman Rita ingin dia secepatnya pulang. Harusnya dia langsung tahu sudah seperti apa pandangan mereka ke arahnya, hanya Rita yang bisa mengusirnya.


"Hahaha kamu kan bukan pembantu aku yang tahu aku seperti apa. Jangan sok tahu, Al Ikhlas memang surat pendek kesukaan aku tapi kalau soal hafalan, aku sekarang memasuki yang rumit," kata Rita yang sudah tidak mau berpikir stres dengan perkataan Ney.


"Memangnya kalian sudah hafal di surat apa saja?" Tanya Ney tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh Rita dan Diana mengetahui itu.


"Aku Al Insyirah," kata Siti. Lalu merayap ke yang lainnya sambil Ney memperhatikan.


"Ad Dhuha," kata Linda.

__ADS_1


"Sama dengan Linda," kata Annisa yang malas menyebutkan. Apalagi membalas pertanyaan Ney.


"At Tin," kata Komariah yang sama dengan nada malas.


"Al Qadr dan At Tin," kata Diana cengengesan.


"Wah, hebat! Diana ambil 2 surat? Kalau Rita sih mana mungkin ya bisa ambil 2 surat," kata Ney memuji Diana. Semuanya melirik Ney yang masih saja berusaha menjelekan Rita.


"Kamu suka baca juga tidak?" Tanya Diana yang penasaran.


"Aku kan kuliahnya bukan jurusan agama seperti kalian, jadi itu tidak diajarkan," katanya dengan suara manis.


Sebagian merasa merinding mendengar jawabannya. "Itu bukan jurusan agama kok, keguruan. Tapi meski kamu bukan jurusan seperti kita, di rumah kamu pasti belajar surat pendek juga kan?" Tanya Linda pada Ney. Terlihat sekali Ney gugup menjawabnya. Nah lho!


"Iya doong. Aku hafal kok semua surat pendek," katanya sambil melihat ke bawah lantai. Artinya dia berbohong. Semua memandanginya dengan mendelik kan kedua mata mereka.


"Kalau begitu, coba dong kamu bacakan surat yang sekarang sedang kamu hafalkan. Apa saja boleh," kata Komariah menantang Ney.


Ney merapihkan rambutnya, lalu menarik ponselnya dan membuka. Terlihat sih kedua tangannya gemetaran, dan mereka dengan jelas melihat gelagatnya.


"Oh iya, Rita surat apa sekarang?" Tanya Ney tidak menjawab pernyataan Komariah.


"Buuuuu ternyata tidak pernah baca surat pendek," ejek Komariah sambil tertawa pelan disebelah Diana.


"Masih jauh dari mereka. Urutan hafalan kita kan dari yang tersulit sampai yang termudah," kata Ney senyum pada Ney. Tapi tidak dengan Ney yang tidak peduli.


"Ih, kamu hebat! Tahu banget ya!" Kata Rita yang sengaja membuat Ney bangga.


"Iyalah! Aku tahu kamu banget! Kamu kan tidak bisa menghafal yang jauh - jauh, tidak seperti aku. Aku sudah jauh lho," kata Ney membanggakan dirinya sendiri.


"Oh! Bagus deh kalau begitu, nah aku nih sekarang memasuki surat pendek yang pasti kamu bisa tebak itu surat apa. Aku yakin! Kamu kan lebih jago ya dalam menyebutkan surat pendek," kata Rita dengan nada yang mengejek.


Mereka semua menatap Rita, apa benar Ney hafal semua surat pendek? Membuat mereka semua penasaran dan Rita memberikan senyuman penuh arti tanpa hati. Linda dan Siti langsung sadar maksudnya dan mereka menahan tawa.


"Boleh boleh lihat saja ya aku langsung tahu kamu baca suray apa. Mana sini? Mana suratnya?" Tantang Ney dengan sikapnya yang sombong banget!


"*Amma yatasaa alun,


Anin-naba il-azim,


Allazii hum fiihi mukhtalifun,


Kalla saya'lamun,

__ADS_1


Summa kalla saya'lamun,


A lam naj'alil arda mihada,


Wal-jibala autaadaa,


Wa khalaqnaakum azwaajaa,


Wa ja'alna naumakum subaataa,


Wa Ja'alna laila libaasaa,


Wa ja'alnan-nahaara ma'asyaa,


Wa banainaa fauqakum sab'an syidaadaa,


Wa ja'alna siraajaw wahhaajaa,


Wa anzalna minal-mu'siraati ma'an sajjaajaa,"


Selesailah Rita melafalkan suratnya itu dengan menutup kedua matanya memang begitulah cara Rita menghafalkan surat panjang. Mereka semua bertepuk tangan pada Rita yang tanpa salah melafalkan suray itu.


"Terima kasih terima kasih semuanya. I Luv You!" Kata Rita sambil meragakan yang menyambut mereka dengan melambaikan kedua tangan.


Ney yang melihatnya terkesan, 'Tuh kan Rita tuh pamer orangnya setelah ini pasti dia menyombongkan diri!' Pikir Ney.


"Cieee tidak diteruskan?" Tanya Siti yang menertawakan Rita karena perilaku konyolnya.


"Huwaaa 40 ayat! Ini juga baru sekarang akhirnya berhasil tanpa celah kesalahan. Kalian enak ya di tes langsung bisa," kata Rita yang menyandar pada Diana.


"Hahaha semangat! Berapa kali kamu melakukan kesalahan?" Tanya Annisa.


"Tiga kali terus saja berulang selama 3 hari. Sampai malas aku, sepertinya mau bolos saja deh minggu depan," kata Rita yang sudah menyerah.


"Hei! Masa menyerah? Ayo terus sudah lancar kan! Aku yakin minggu depan ke surat selanjutnya!" Diana memberi semangat pada Rita.


"Iya iya aku datang. Terus Ney kamu tahu kan yang aku lafal kan itu surat apa? Itu termasuk surat pendek lho masa kamu tidak tahu sih?" Tanya Rita dengan sengaja.


Ney tampak berpikir tentunya dia mencari tahu soal bocorannya lewat pikiran Rita tapi tidak ada yang keluar sama sekali. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan tahu dia sedang apa, begitu juga teman - temannya.


"Masa sih harus buka cari tahu di Gugel. Katanya hafal? Katanya kamu jago tuh sama surat pendek?" Tanya Tamada yang kelihatan banget Ney mencari lewat net.


"Oh, tidak kok ini... ada yang menelepon aku Sebentar ya," katanya lalu berdiri dan bergegas menjauh dari mereka.

__ADS_1


"Tukang bohong banget!" Celetuk Linda yang agak jijik melihatnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2