ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(59)


__ADS_3

"Sudahlah. Kita berteman saja ya kalau untuk urusan lebih jauh sepertinya masih belum bisa. Sambil berjalan saja lagipula kamu terlalu banyak tidak mempercayaiku dan lebih percaya dengan orang lain. Tidak apa - apa itu hak kamu,' kata Rita yang dengan apa boleh buat dan sudah cukup malas menghadapi hal seperti waktu itu.


"Aku banyak mengecewakan kamu sepertinya, aku tidak tahu apakah kamu akan bisa bertahan denganku atau tidak," balas Alex yang dia pun kecewa pada dirinya yang sulit mempercayai orang lain lagi. Dia mengutukki dirinya sendiri yang ternyata Rita benar - benar tidak punya niat jahat padanya.


"Sepertinya 50 - 50 nanti aku langsung banned atau blokir kamu lalu kembali lagi ya seperti itu. Apa kamu bisa tahan?" Tanya Rita yang memang sifatnya dia seperti itu kalau sudah tidak tahan dengan sesuatu pasti blokir, pasti banned pasti pergi. Rita orang yang selalu butuh banyak ruang untuk me-refresh-kan dirinya sendiri.


"Yang benar sajalah tidak bisa bertahan tanpa harus blokir?" Tanya Alex.


"Sepertinya tidak bisa," jawab Rita. Apakah Alex juga bisa bertahan dengan perilakunya yang seperti itu ataukah dia akan memilih pergi mencari yang lain? Itu terserah dia saja.


"Kamu memang seperti itu ya tapi kamu akan kembali lagi kan? Aku akan banyak merepotkan mu yang membuat kamu mungkin sangat mual hingga ingin pergi jauh dariku. Tapi aku harap kamu selalu mau kembali lagi karena aku sudah sangat nyaman sama kamu. Kamu berbeda, penuh canda tawa, meski tidak dewasa tapi ada yang membuatku kagum sama kamu. Aku tidak pernah merasa bosan, kalau suatu hari nanti aku berkata pada kamu, 'aku bosan padamu', itu karena terpaksa bisa jadi karena aku sangat sibuk,"


"Baiklah. Aku memang berbeda dari kamu, aku perempuan kamu laki - laki kan. Kalau sama, kita kembar," Alex lalu mengirimkan emoji tertawa yang sangat banyak.


"Lalu besok bagaimana?" Tanya Alex agar terbaca gelisah takut Rita lupa akan janjinya.


"Aku berjanjian bertemu dengan teman SMA-ku aku perlu buku dari kampusnya karena sangat lengkap. Lalu aku iseng mengajak Ney karena kebetulan juga dia bertanya,"


"Memang sengaja kan? I know that," Tanya Alex.


"Iya tadinya aku pikir dia sudah kembali dengan mantannya mungkin tidak akan tertarik saat kubilang akan bertemu dengan temanku. Nyatanya, dia tetap ingin ikut,"


"Aku yakin teman kamu penasaran dengan Ney," ya memang begitu kejadiannya.


"Sangat. Karena Ney sudah terkenal di kampus Unpad," kata Rita.


"Terkenal karena?" Tanya Alex penasaran juga. Toh dia hanya tahu Ney dari dekat saja untuk lingkungan yang lain, dia tidak tahu.


"Nakalnya. Dia juga pernah plagiat tugas kuliah serta TA," kata Rita.


"Gila! Memangnya dia tidak bisa mengerjakannya sendiri?!" Alex terkejut membacanya.


"Makanya plagiat, aku tidak tahu bagaimana kehidupannya dia sewaktu kuliah,"


"Ah iya Arnila kan satu tempat kuliah dengannya ya. Maaf waktu itu aku bilang ke kamu kalau Arnila itu teman dekatnya dan Arnila lebih memilih Ney," kata Alex yang bersedih karena dia terlalu sok tahu padahal sama sekali tidak tahu.


"Ya aku aneh banget sama pemikiran kamu. Aku dan Ney berbeda tempat kuliah lalu buat apa aku harus tahu kelakuan dia disana seperti apa, dan dia juga harus tahu aku bagaimana. Sekarang mengerti, kan? Hal seperti ini saja masa sih kamu tidak tahu? Sama seperti kamu sekolah dimana, aku sekolah dimana. Kamu temannya siapa, aku tidak perlu tahu begitujuga kamu tidak perlu merasa wajib tahu teman - teman aku siapa,"


"Iya. Sorry ya, aku baru sadar saja sekarang," jawabnya.


"Aku susah banget membuat kamu mengerti. Kenapa sih kamu itu?" Tanya Rita.


"Maaf. Otakku kan berbeda sama kamu jadi susah, otakku levelnya terlalu tinggi jadi aku selalu menganggap otak kamu juga setara denganku. Aku lebih ke teori, kamu prakteknya. Akhirnya aku menyadari bahwa level otak kita sangat berbeda. Kamu lebih berpikir dengan sangat mendalam sedangkan aku luar saja jadi memang lumayan besar sekali gapnya,"

__ADS_1


"Aku tidak bisa lho menyetarakan otakku dengan otak kamu," kata Rita mengingatkan. Alex lebih sering berkata yang agak - agak ilmiah membuat Rita loading berpikir sangat lama.


"I know. Biar aku yang berusaha menyesuaikan," katanya yang dirasa sangat mudah sekali berbicara bisa menyetarakan otak. Dia saja kebanyakan malah marah - marah karena tidak bisa berhasil.


"Kamu tidak akan bisa," kata Rita yang pasrah.


"Why?"


"Terlalu berlogika," jawab Rita dengan mengirimkan emoji wajah yang datar.


"Hahahahaha iya ya tapi kadang aku langsung tahu kan?"


"Kebanyakan karena kamu membaca pikiran aku. Itu tidak dihitung, bodoh! Intinya besok kita lihat saja seperti apakah Ney bertingkah?" Kata Rita dengan wajah yang jahil dan Alex tidak bisa berkata apa - apa karena dia juga hanya tinggal menunggu laporan saja.


"U think?" Tanyanya.


"Dia pasti akan bergerak duluan untuk mencari tahu sendiri soal Anggara,"


"Are you sure ( apa kamu yakin? )? Nanti jangan sampai lupa beritahu aku juga seperti apa hasilnya,"


"Ok!" Balas Rita dan itulah percakapan sebelumnya.


Pagi harinya tiba, Rita terbangun di jam 5 pagi lalu bergegas wudhu dan sholat Subuh. Setelah selesai, Rita langsung mandi masih mengenakan lagi baju tidurnya. Lalu keluar kamar, melihat ibunya yang juga baru bangun dan sedang mendengarkan ceramah di Televisi. Rita dan adik saling berbagi tugas, kakaknya sudah memiliki rumah sendiri. Rumah Rita sangat besar alhasil semua pekerjaan rumah harus dibagi menjadi 3. Rita kebagian mengepel 4 kamar, adiknya ruang tamu dan ruang keluarga, sisanya ibu bagian dapur dan teras rumah. Jam 8 selesai membereskan rumah lalu Rita pindah ke kamarnya dan membersihkan semuanya.


"Kamu masih dirumah?" Tanya Ney.


"Iya baru selesai membereskan rumah dan kamar. Kamu jadi ikut?" Tanya Rita lagi yah pertanyaan bodoh sih sebenarnya. Sudah tahu pasti tetap ikut.


"Jadi dong, aku selesai mandi nih," wih tumben dia mandi. Mandi kembang jangan - jangan ...


"Benar kamu sudah mandi?" Tanya Rita yang sudah hafal seperti apa anak ini.


"Iya! Serius sudah. Kan mau bertemu teman kamu, masa tidak mandi?" Deuhhh untuk ketemu yang ganteng pasti rapih.


"Kalau lelaki tampan saja baru mandi gimana sih?" Tanya Rita.


"Nanti jangan ketemu sama dia di perpustakaan ya. Diluar saja," selain jarang mandi dia juga tukang perintah ini nih yang membuat Rita malas banget kalau mengajaknya main.


"Tidak ah. Mau di perpustakaan biar cepat kelar urusannya!"


"Sudah dari sana mau kemana lagi?" Tanya Ney penasaran.


"Belum tahu. Kamu ada urusan di Gramedia?" Tanya Rita yakinnya sih cuma alasan dia saja.

__ADS_1


"Belum tahu juga bagaimana nanti saja deh,"


"Memangnya kamu bertemu Anggara cuma untuk pinjam buku? Ga seru amat!" Katanya.


"Iya. Kalau tidak seru, kenapa mau ikut?" Tanya Rita.


"Pokoknya aku ikut!" Ya memang tidak ada jalan lain sih selain ikut meski urusan Rita dengan Anggara hanya sebatas meminjam buku. Mungkin Ney ingin lebih lama agar bisa bicara dengan Anggara.


"Ya sudah aku mau ganti baju sekarang. Ketemu disana jam 11 saja ya, sebentar lagi aku turun," tidak ada jawaban dari Ney tapi sudahlah pokoknya aku berangkat dan tidak lupa aku kabarkan pada Anggara.


Sesampainya di sekitar Unpad, Rita menchatnya Ney yang sana sekali tidak ada balasan. Beberapa menit kemudian, "Oh! Kamu sudah dimana?" Tanya Ney.


"Sudah didepan Unpad sebentar lagi aku sampai. Kamu sudah dimana?" Tanya Rita yang sebenarnya sih sudah tahu pasti didalam kampusnya.


"Hah!? Aduh jangan ke dalam deh. Diluar saja ya, sebentar aku ada urusan. Pokoknya kamu tunggu diluar gerbang saja!" 'Panik amat dia hahahaha tapi enak saja deh kalau sampai diatur! Orang aku yang ada perlu kenapa juga dia yang ada urusan?' Pikir Rita sambil berjalan menuju gerbang Unpad.


"Aku yang punya urusan kenapa kamu yang mengatur! Pokoknya aku sekarang menuju ke dalam!" Ney membalas lagi tapi tidak dilihat oleh Rita. Selagi berjalan, ada chat masuk dari Anggara.


"Ri, teman kamu parah banget!"


"Lho? Kenapa?" Haaaaa kenapaaa nih apa yang Ney lakukan sampai membuat Anggara kesal?


"Kamu dimana?" Tanya Anggara.


"Aku menuju gerbang. Ada apa sih?"


"Teman kamu nanyain soal aku ke semua teman - teman aku, sampai teriak - teriak ke teman aku diluar ruangan. Kenapa sih dia tidak datang bareng kamu?! Dia bertanya rusuh siapa dia coba kaya ini fakultas punya dia segala, pakai nanya 'yang namanya Anggara dimana? Aku temannya mau ketemu dia!' gila!"


"Hah? Terus?"


"Ya aku disuruh keluar sama dosen untungnya sudah selesai kuliahnya. Untung Merlin masih belum datang,"


"Pantas dia suruh aku nunggu di luar gerbang. Ternyata dia panik buru - buru mau ketemu kamu duluan. Lalu?"


"Wah maaf saja, aku tidak kenal dia mana mah aku bertemu. Tidak sopan banget mana dia maksa!" Rita tahu banget Anggara paling tidak suka kalau diganggu saat sedang kuliah.


"Sori alu tidak tahu kalau dia sampai begitu. Ya sudah ketemu didepan ya!"


"Ok! Kalau bisa teks Merlin buat cepat datang!"


""Siap!" Ya ampun ternyata dugaan ku yang tidak enak itu pun muncul. Rita kemudian bergegas menuju gerbang Unpad dan melihat beberapa teman - teman Anggara yang pernah Rita temui mengerubungi Ney. Dan tampak juga Ney yang agak genit diantara mereka atau sok kenal Anggara. Beberapa perempuan tampak kesal dengan kelakuan Ney yang sok akrab dengan mereka.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2