ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(331)


__ADS_3

Semuanya makan dengan tenang hanya Ney yang makannya bersuara tapi saat semua orang tidak ada yang bersuara, dia sebisa mungkin menekan kebiasaannya. "Minumannya boleh pesan?" Tanya Ney.


"Oh iya boleh, silakan. Aura kamu sudah beri menunya kan?" Tanya Bos pada Aura.


"Oh iya! Baru saja jadi Bos. Ini Ney minuman yang bisa kamu pesan, kalau diluar menu ini berarti kamu harus bayar," kata Aura memberikan menu karyawan.


"Kita juga kadang beli kok soalnya penasaran bagaimana rasanya," kata pegawai lain.


Ney mengerti tapi dia juga ingin menu lain dan ingin mendapatkannya dengan gratis dan tahu caranya bagaimana. "Kamu tidak pesan, Rita?" Tanyanya keceplosan pada Rita. Yang lain tentu saja keheranan.


"Eh, kamu kok sudah tahu namanya Rita? Sudah kenal ya sebenarnya," tebak Yen dengan suara menggoda.


"Memang kenal Yen, tapi orangnya entah kenapa pura - pura tidak kenal," kata Rita menjawab sambil nyengir.


Ney kelupaan! Dia mulai salah tingkah mendengarnya. Bos merasa suasananya menjadi canggung yang dirasa oleh Ney, Bos pun merasa aneh mereka berdua berteman tapi kenapa Ney seperti tidak kenal?


"Bos, Ney itu sebenarnya..." bisik Aura.


"Iya memang mereka berteman tapi sebenarnya saya kurang suka sih. Rita senyum saja sama sekali tidak dibalas kan jadi sepertinya... kamu tahu kan?" Tanya Bos pada Aura.


Aura mengerti maksudnya dan menggelengkan kepala. "Yah saya juga sama awal kesannya sombong banget apalagi baru bekerja juga kan Bos. Tadi juga sudah mengatur soal markas bawah," kata Aura.


"Serius?!" Tanya Bosnya kaget. Buat apa pegawai baru sampai menyarankan begitu?


Mereka berdua memandangi Ney yang angkuh saat menjawab pertanyaan orang. "Bersabarlah hanya 3 bulan tapi tetap jangan sampai lengah kamu awasi dia ya." katanya. Aura mengangguk.


"Oh, iya memang berteman sih tapi kan harus jaga jarak juga ya soalnya aku jabatannya berbeda sama kamu," kata Ney tidak memandang Rita. Dia malu banget akhirnya ketahuan juga. Membuat yang lain enggan banyak tanya ada apa di antara keduanya.


"Ri, kok bisa sih kamu menyarankan orang itu kerja disini? Atau kamu baru tahu kalau dia seperti itu?" Tanya Sona.


"Iya aku baru tahu. Tahu begini sih, aku menyesal," bisik Rita.


"Tidak apa - apa buat pelajaran juga sih jadi kamu tahu orangnya seperti apa," kata pegawai lain.


"Oh iya piringnya jangan lupa kamu beri nama ya," kata Sona memberikan spidol permanen pada Ney yang kebingungan.


"Disini kalau makan harus cuci sendiri seperti mereka," kata pegawai lain membereskan punya dia sendiri.

__ADS_1


"Semuanya?" Tanya Ney melihat semuanya. Mana kukunya baru saja dia pakai perawatan.


"Iya semuanya. Bos dan mbak Aura juga semuanya sama," kata Sona menunjuk ke depan.


Benar saja yang disebut akhirnya keluar lalu bergantian Aura masuk untuk mencuci piring, sendok dan garpu serta gelas. lalu disimpan sesuai tempatnya.


"Kalau makan tak habis boleh dibawa pulang," kata Riya yang kemudian berdiri lalu menuju tempat cuci piring. Karena melihat kukunya yang baru saja dipoles, Ney menunggu dapur cukup sepi lalu maju kedepan.


"Rita, kamu cucikan ya punya aku soalnya aku baru perawatan kemarin. Terus kerjaan aku juga banyak di kantor. Nih." Kata Ney memberikan piringnya pada Rita dan langsung kabur.


Lalu senior paling senior datang dan sempat melihat itu. "Jangan mau. Dia yang makan pakai piring itu kamu kalai sudah langsung bersihkan meja di pojokkan, dia baru bekerja disini sudah seenaknya. Taruh saja disana biar dia sadar sendiri! Kalau dia bertingkah, biarkan saja. Mengerti?" Katanya dengan sangat tegas membuat Rita kaget.


"YA, KAK!!!" Kata mereka semua termasuk Rita. Benar juga sih sama - sama pekerja baru buat apa Rita yang harus cuci? Dia lalu menyimpan tempat airnya ke bawah dan mulai membereskan meja sebelum dia kuliah.


Namanya Apollo badannya kekar sekali dia bekerja lebih lama dari yang lainnya. Rita takut sekali padanya tapi kelamaan sudah menjadi terbiasa. Awal Apollo berbicara, Rita ingin menangis karena dimarahi dengan keras tapi akhirnya kak Apollo meminta maaf dan disoraki semua pekerja termasuk Bosnya. Dikatakan dia kalau galak seperti kepala sekolahnya saja dulu.


Tapi setelahnya kak Apollo perlahan agak dikurangi tegasnya apalagi kalau berhadapan dengan Rita. Air mineral di galon tentu saja gratis makanya Rita hanya perlu membawa tempat air lagipula bosnya juga tahu Rita masih kuliah. 1 jam mereka semua bekerja termasuk Rita sesekali Ney keluar untuk melihat apa piringnya sudah Rita cuci. Saat tahu belum, dia kesal dan bermaksud mencari Rita.


"Kamu yang makan. Cuci! Jangan seenaknya menyuruh orang lain, apa kamu seperti itu kalau di rumah?" Tanya Apollo yang melewati Ney.


Ney pun kaget melihat ada lelaki besar yang mengatakan itu padanya. Akhirnya dia cuci sendiri di wastafel piring sambil melihat lagi orang itu sudah tidak ada disana. Lanjut Ney mencari Rita dilihatnya Rita sedang membersihkan jendela bersama 3 pegawai lainnya sambil berbicara. Ney harus mulai sadar sendiri bekerja di Cafe ini dia tidak bisa lagi meminta tolong pada Rita setelah apa yang terjadi tadi. Soal Apollo dia pun agak takut tapi lama - lama terpesona yang akhirnya rela demi bisa melihatnya, dia rajin mencuci piringnya sendiri.


Meskipun begitu Rita juga sering membagikan rejekinya kepada orang yang tidak mampu, dia sering datang ke Salman ITB untuk kegiatan rutinnya yaitu memberikan zakat ke yayasan. Kadang juga ke beberapa pegawai lainnya yang selama dia bekerja disana selalu banyak dibantu. Dia diajari bagaimana memanggang, menggoreng lalu membuat cemilan yang bisa menaikkan omset penjualan. Rita juga kadang menangis karena pekerjaan di Cafe tersebut ternyata super keras. Sebagian karyawan mendukungnya memberikan semangat dan kadang membantu pekerjaannya. Sekarang? Rita mampu melakukannya semua sendiri.


"Kami pikir kamu tidak akan sanggup kerja disini," kata A mereka berempat membersihkan jendela luar Cafe.


"Iya soalnya sudah 15 orang yang langsung menyerah pekerjaan menumpuk banget kan mau itu kerja sebagai Asisten atau seperti kita. Kebanyakan sih karena Kak Apollo," Jelas Yen.


Mereka semua tertawa, mereka juga teringat bagaimana nasib Rita saat kak Apollo memarahinya. "Habis dia mengerikan sih,"


"Tapi aslinya ramah lho," kata B.


"Iya, banyak yang suka sampai ada pelanggan yang datang dari jauh hanya untuk bertemu kak Apollo," jelas C.


"Badannya kekar juga," kata Rita semuanya setuju.


"Sudah berapa tahun ya dia bekerja di sini?" Tanya Yen, dia lupa soal Apollo karena baru menjadi pegawai 3 bulan yang lalu.

__ADS_1


"Sekitar 6 tahun bersamaan dengan Bos saat mendirikan Cafe ini. Cafe ini banyak pelanggan karena usaha kak Apollo juga," jelas Yen.


"Oh ya?" Rita memperhatikan kak Apollo yang mengawasi semua karyawan di dapur, badannya memang kekar tapi tetap saja Rita selalu merinding kalau berada di sisinya. Ney juga ternyata semakin menyukai Apollo sampai pekerjaan agak menyimpang. Untungnya Aura tegas membenarkan.


"Ney, kalau bekerja tolong fokus ya. Ini datanya mau Bos bawa ke rumah orang tuanya. Kamu kan baru bekerja di sini harus profesional!" Kata Aura dengan tegas.


"Iya, Mbak. Maaf," kata Ney yang malu ternyata dirinya bisa diketahui oleh Aura.


"Saya tahu kamu juga suka kan sama Apollo. Banyak yang suka disini sama dia tapi kamu harus hati - hati," kata Aura membuat ney salah tingkah. Hati - hati kenapa ya?


Beberapa menit kemudian Aura mengajak Ney ke suatu tempat ternyata gudang bahan makanan dan banyak bahan yang baru datang. Aura memberikan daftar makanan yang masih kosong. "Tugas kamu sekarang menghitung bahan apa saja yang masuk ke gudang lalu periksa apa masih ada sisanya. Kalau kacang pokoknya bahan - bahan yang isinya kecil, kamu timbang lalu tulis disini,"


Kemudian mereka berdua sudah sibuk menulis dan menimbang sesuai keterangan yang ada dalam lembaran itu. Ney agak kecewa dengan pekerjaan Asisten ini dia berpikir tugasnya mengawasi pegawai tapi ternyata bukan.


"Mbak, bukannya memeriksa bahan makanan itu tugas penjaga dapur?" Tanya Ney dengan agak kelelahan.


"Hahaha kita bekerja disini pekerjaannya banyak Ney meski kamu sebagai asisten tetap saja asisten harus serba bisa. Kalau kamu sudah tidak ada pekerjaan, kerjakan yang lain sampai waktu bekerja kamu habis. Lihat saja pegawai lain plus Rita, dia sudah lebih baik sekarang. Dia memikirkan apapun dengan otomatis," kata Aura sambil menulis dan menimbang.


'Tapi ini kan banyak bangeeeet! Dan sampai jam berapa juga? Gila!' Pikir Ney tapi dia lakukan juga dengan rasa yang malas. Selama Aura berada di sekitarnya, dia tidak bisa sesuka hatinya selain melakukan semua tugasnya. Setelah selesai, dia jalan - jalan dan melihat beberapa karyawan tengah membersihkan meja tapi Rita tidak terlihat dimanapun.


"Rita kemana ya?" Tanya Ney.


"Oh, kalau Rita..."


"Bos, aku pergi dulu ya!" Kata Rita di luar Cafe.


"Ya. Setelah kuliah langsung pulang! Sampai ketemu besok lagi!" Kata Bos mereka berteriak dari belakang.


Ney melihat Rita bergegas berlari menuju ke suatu tempat, Ney tidak bisa menyusulnya dan hanya melihat Rita sampai berjalan jauh.


"Rita kan masih kuliah jadi jam 4 dia sudah siap kuliah. Setiap hari begitu selama 4 hari," kata Sona yang melihat Rita sudah jauh.


"Kalau begitu gajinya beda kan?"Tanya Ney.


"Ya sama saja kok," kata Sona membuat Ney kaget.


"Kok bisa? Dia kan bekerja hanya 4 hari, lalu gajinya sama? Enak banget! Kalian tidak berpikir itu tidak adil?" Tanya Ney dengan suara keras.

__ADS_1


Sebagian karyawan sebal sekali dengan kelakuannya, sebagiannya tidak peduli. "Tanyakan saja pada orangnya jangan bertanya ke kita!"


BERSAMBUNG ...


__ADS_2