
"Hmmm sebentar ya Teh," kata Koko memejamkan kedua matanya.
"Koko ngapain sih? Kan aku tanya," kata Rita agak aneh. Tiba-tiba Koko seperti menahan kesakitan atau apalah itu.
"Iya makanya sebentar," kata Koko berusaha memfokuskan apa yang ada dalam pikirannya.
"Koko kebelet ya?" Tanya Rita lagi membuat dua saksi itu tertawa terbahak-bahak.
Konsentrasi terus buyar karena Rita mengajaknya mengobrol terus. "Ya ampun, bukan tunggu sebentar kenapa sih?" Tanya Koko tampaknya kesal.
Macam orang yang sedang menahan pipis, wajah meringis atau seperti menahan sakit sesuatu. Di selingi dengan komat kamit tidak jelas.
"Seperti dukun saja," kata Rita agak tertawa.
Ua Mori yang sebenarnya berada di balik ruangan tertawa keras karena tahu apa masalahnya. Ibunya Ryan sudah tahu dan tertawa.
"Ya sudah sana bantu si Koko kasihan kalau jin jun nya sampai ganti posisi terus sama Teteh. Susah mengusirnya," kata ibunya Ryan.
"Oke deh, saatnya aku yang beraksi," kata Ua Mori meregangkan kedua tangannya.
Ua Mori mengetuk pintu lalu masuk dan senyum sambil tertawa pada Koko yang kelelahan. Bertebaran juga garam yang telah dihancurkan.
"Lho, kenapa..." kata Rita sambil menunjuk pada Uanya Ryan.
"Bagaimana? Tidak bisa ya?" Tanya Ua Mori menggoda.
Koko menarik dan menghembuskan nafas. "Susaaah. Kalau lawannya Teteh hmmm takut malah dianya yang nangis," kata Koko.
"Hahaha iya memang. Kalau kamu paksa bisa-bisa runyam. Kamu orangnya agak tidak sabaran sedangkan Rita harus pelan," kata Ua Mori tertawa.
"Lalu kenapa Ua bisa gabung? Memang rencananya begitu? Lalu kalian sebenarnya saling kenal dekat ya?" Tanya Rita. Karena ya mereka tampak sangaaaaat dekat sih.
Mereka memandangi Rita dan tertawa. Lalu menggelengkan kepala bersama.
"Tidak kok kami kan baru kenal, Teh. Kita tadi bertelepati," kata Ua.
"Hah? Itu benaran ada? Telepati?" Tanya Rita tidak percaya.
"Ada kok, nih buktinya Ua datang ke sini kan," kata Koko.
Rita memiringkan kepalanya yah antara percaya dan tidak percaya dalam dunia ini segalanya ada.
"Kalau anak kembar bisa?" Tanya Rita teringat pada film Anime berjudul Magic Girl, yang dimana mereka adalah anak kembar yang bisa bertelepati.
"Yah kalau dua-duanya punya ilmu alami ya bisa seperti Teteh, Ua dan Koko juga yang lainnya asalkan bukan berguru. Kenapa Teteh tanya soal anak kembar?" Tanya Ua ingin tahu.
Kadang Ua dan Koko tidak dapat membaca pikiran Rita karena Rita memiliki kemampuan untuk menyembunyikan apa yang dipikirkannya. Meskipun wajahnya tampak sedang berpikir. Alex juga terkadang bisa tahu dan tidak tahu, makanya ribet.
"Teteh tahu dari mana kalau anak kembar bisa telepati?" Tanya Koko yang baru dengar.
__ADS_1
"Dari film Anime," jawab Rita dengan polosnya.
Mereka berempat yang sudah serius tiba-tiba mengheningkan cipta dan tertawa.
"Ya ampuuun Koko kira memang ada ternyata kamu nonton dari Anime," kata Koko menepuk dahinya.
"Tapi kan kadang Anime memang ada yang benarnya," kata Rita membela diri. Yah pernyataan bodoh sih.
Ua Mori tertawa keras dengan puas sekali mendengarnya. "Ya ya bisa jadi juga sih Teh. Oh iya tadi Ua dengar kamu ketawa-ketawa kenapa, Ko? Si Teteh tidur ya? Hahahaha," kata Ua lanjut tertawa.
"Baru kali ini dapat pasien ya g kalau dikasih penjelasan malah tidur. Menurut Ua bagaimana tuh?" Tanya Koko menghempaskan nafas.
"Itu mah efek si jin peyot. Dia tidak mau kamu banyak bicara jadinya Teteh disuruh tidur sama dia hahaha ngakak," kata Ua masih tertawa.
"Terus soal Teteh yang terus komen tanpa berhenti. Efek itu juga?" Tanya Koko.
Rita yang mendengarnya menatap Koko dengan datar.
"Itu mah memang Teteh nya senang bicara bukan efek si jin peyot. Tidak heran yang dari Malaysia senang sama dia karena banyak bertanya. Kamu senang beri komentar ya sama orang? Itu yang buat banyak orang senang dan nyaman, kebanyakan jadi salah paham. Kamu juga harus hati-hati," kata Ua pada Koko yang bengong.
"Kenapa?" Tanya Koko.
"Ya nanti kamu juga bisa nyaman sama Teteh, lebih ribet nanti jadinya. Apalagi kalau sudah ada efek... Tahulah. Berabe sama yang Malay," kata Ua tertawa kecil.
"Kok Ua bisa tahu sih? Kan Koko tidak cerita. Lantai atas ke bawah kan tebal kali Ua," kata Rita.
Mereka menghela nafas padahal sudah dijelaskan karena telepati. Tapi orang awam memang tidak bisa percaya begitu saja hanya mereka yang memang bisa, ya ada kontak.
Ua Mori tahu Rita tidak akan bisa percaya jadi harus diberi alasan yang logis. "Tahu lah. Tapinya Ua mau tidur tapi dapat feeling Koko ingin mengutarakan sesuatu, tapi susah ya sudahlah Ua ikut bantu saja," kata Ua Mori memberi kode pada Koko.
Koko mengangguk saja.
"Wah, hebat tuh kalau bisa telepati. Apa bisa dipelajari?" Tanya Rita penasaran. Kalau bisa, dengan Alex bagaimana ya?
"Bisa tapi berat Teh syaratnya. Lagian kalau Teteh mah tidak perlu belajar juga sudah bisa dikeluarkan. Malah lebih mudah," kata Ua agak iri tapi anak yang ada di depannya malah cuek saja.
"Ohhh..." kata Rita.
"Wah! Serius? Lebih mudah melakukan telepati?" Tanya Koko melongo menatap Rita.
"Iya kalau Teh Rita langsung tidak perlu colokan. Lebih enak dia mah tapi jarang dipakai ya," kata Ua.
"Aku bisa dong?" Tanya Koko ingin mencoba.
"Tidak bisa soalnya Teteh nya juga tidak minat," kata Ua.
"Yahhh," kata Koko lemas lagi.
Ua Mori menatap Rita. "Sewaktu Ua menghancurkan rumah jin peyot, Ua menemukan sesuatu yang menarik dari dalam diri Teteh," kata Ua mengusap kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa tuh?" Tanya Rita. Koko juga penasaran.
"Nanti Ua cari tahu. Nanti juga kebuka kalau Koko sudah membersihkan ruqyah," kata Ua Mori penuh dengan selidik.
"Soal apa?" Tanya Rita ingin tahu.
"Apa ya. Seperti ada yang bersembunyi atau Teteh yang menyembunyikannya. Tidak tahu juga sih," kata Ua penuh tanda tanya.
Mereka berdua berpikir kalau Rita sih sama sekali tidak tahu.
"Ya sudah! Kalau terlalu banyak bicara, nanti keburu sore. Tuh pasien selanjutnya menunggu diluar. Sekarang mau bagaimana Ko?" Tanya Ua yang sudah siap.
"Hmmm kita mulai saja langsung ke bagian inti deh, Ua. Kalau soal sihir Teteh bersih," kata Koko.
Ua Mori lalu mencoba memeriksa dan memang iya, Ua pun semakin aneh. Biasanya kalau ada yang menempel jin jun, selalu dibarengi sihir juga Tapi ini tidak ada.
"Yuk, mulai saja," kata Ua yang duduk sebelah Rita.
"Teteh duduknya yang enak saja mau bersila juga boleh asalkan jangan seperti di warung," kata Koko tampaknya menyindir.
"Privasi Ko sama tidak sopan nya seperti si Kulex," semprot Rita sebal.
Ua dan Koko tertawa ngakak.
"Kalau nanti waktu saya baca surat lalu Teteh ada perasaan tidak nyaman, tepuk tangan saya ya. Maaf ya Teh, saya pegang pundak Teteh, leher sama kepala," kata Koko meminta ijin.
Rita mengangguk, dia mulai menahan bicaranya takut tidak keburu.
"Teteh sambil baca surat An Nas dalam hati dan pejamkan kedua matanya," kata Ua Mori.
"Iya," kata Rita mengerti dan mulai membaca An Nas dan menutup kedua matanya.
Dimulai lah sesi inti ini hampir sama dengan yang pembukaan tadi. Koko mengucapkan Basmallah lalu mulai membaca lagi surat Al Fatihah ayat 1-7, Al Baqarah ayat 1-5. Lalu Koko berhenti sebentar dan melihat reaksi Rita.
Rita ya biasa saja tapi dia merasa kepalanya agak bergoyang lagi terasa pusing seperti diaduk-aduk.
"Tenang Teh," kata Ua Mori yang merasakan. Ua memberikan kode pada Koko bahwa jin peyot mulai beraksi.
Jadi posisinya Koko di kiri, Ua Mori di kanan. Ua bersiap-siap bila ada sesuatu yang terjadi. Koko mengangguk.
"Saya akan bacakan lagi surat Al Baqarah ayat 102 yang tadi, saya akan bacakan kembali lalu digabungkan dengan surat yang lain supaya kuat ya. Kalau tidak nyaman ingat tepuk sekali ya," kata Koko.
Rita mengangguk. Kesadarannya mulai terlepas lagi lebih ke perasaan mau terlelap.
Koko membacakan surat Al Baqarah ayat 102 dengan keras tepat di telinga kiri Rita. Lalu lanjut 163-164, lanjut lagi 255-257.
Lalu Rita agak meringis, lehernya sakit dan merasa tidak enak badan. Tangan kiri memukul keras tangan Koko, dia berhenti.
"Kenapa Teh?" Tanya Koko.
__ADS_1
Rita entah kenapa sulit berbicara dan hanya bisa menunjuk ke arah lehernya. Ingin bicara keras bahwa lehernya tercekat, tapi tidak bisa. Aneh sekali!
Bersambung ...