
Setelah itu Rita kembali bekerja dengan lancar hanya saja kadang istri bos menyuruhnya mengambil sesuatu atau memesan makanan di luar pekerjaannya. Pertama kalinya bekerja dengan istri bos suasana sudah terlihat tidak enak. Setiap karyawan perempuan diliriknya tajam sampai di duga akan menggoda suaminya. Wajahnya super ketat, banyak keriput padahal masih muda ya sekitar usia 45an. Semua orang tidak menyukainya dan bos tidak mau mendengar apapun. Oh iya sebelumnya sempat diancam juga agar bekerja dengan baik.
"Buktikan kalau kamu memang dari lulusan S3 Marketing. Dan jangan pernah meracau di tempat kerja saya!" Ancam Bos pada istrinya. Aneh juga sih ada apa ya sampai bos mengancamnya begitu?
Hari pertama Bos mengawasinya dan istrinya itu meyakinkan kalau dia bisa bekerja lebih baik kalau dirinya tidak ada. Akhirnya bos memberitahukan selama seminggu akan menangani perkebunannya di luar kota, semua pegawai tidak ingin bos pergi. Semua pegawai yang setara dengan Rita yang masih kuliah pun mengalami hal yang sama, ada juga mereka yang dilempar gelas bahkan piring hanya karena merapihkan rak sepatu.
"KERJA YANG BENAR! BUAT APA SAYA GAJI KALIAN KALAU MALAH MEMBUAT SAYA SUSAH!" Teriak istrinya itu dengan lantang.
Pelanggan pun semakin hari semakin berkurang, karena setiap hari mengomel dan suaranya terdengar sampai Cafe. Apalagi beberapa orang melihatnya memperlakukan pegawai bos dengan kadar lalu senang melempar barang. Yang aman hanya Aura entah dia habis bilang apa pada istrinya karena Rita dan Yen pernah menangkap basah dirinya sedang berusaha membuat istrinya marah.
"Mbak, bilang apa sama istrinya bos? Kita semua dilempari barang. Salah kami apa!?" Tanya Yen mewakilkan semuanya.
"Yah, sebut saja ini ujian untuk kalian semua," kata Aura dengan santai. Ternyata dibalik wajah dan suara yang lembut itu hanya ada di hadapan bos saja.
"Awas ya kalau macam - macam, Mbak akan saya laporkan pada bos kalau nanti beliau pulang!" Ancam Rita juga.
"Silakan saja. Memangnya kalian akan dipercaya, buktinya saja tidak ada kan. Sudah! Bekerja sana mau aku bilang kalian akan demo?" Tantang Aura yang tertawa lalu masuk kantor.
Semua orang kesal sekali. 2 orang pegawai yang sudah diperlakukan kasar akhirnya enggan datang bekerja lagi. Ada juga pegawai lelaki yang disiram air selokan karena telat datang saat disuruh ke kantor. Tak sedikit juga yang langsung menangis setelah diguyur air tersebut. Karena sangat bau aromanya.
"Huhuhu baru kali ini saya disini diperlakukan seperti ini.. huhuhu...kenapa sih bos menerima istrinya bekerja disini?" Tanya karyawan lelaki itu. Memang mana pernah bos perlakuannya seperti istrinya.
"Sudah sekarang kalau ada yang disuruh lagi lebih baik jangan deh. Kalau begini ujungnya," kata Yen yang membantu karyawan itu untuk mengganti seragamnya dan mandi.
Setelah itu Rita pun mengalami hal yang sama tapi lebih buruk. Rita terkena lemparan batu bata yang mengenai dahinya tentu saja langsung berdarah saat itu juga. Para pegawai pun heboh dan panik melihat Rita yang sudah bersimbah darah dan mengerang kesakitan.
"Bawa Rita ke bawah! Yen, bawa handuk basah dan obat Betadine!" Kata beberapa pegawai.
"Aku bawa kerudung ganti. Saya ambilkan dulu!" Teriak pegawai perempuan lainnya.
"BIARKAN SAJA DIA! KALIAN SEMUA KEMBALI BEKERJA! HEIII!!" Teriak istrinya itu dengan lebih lantang tapi tidak ada yang mendengarkan. Karena tidak ada yang mau patuh, dia membanting pintu kantor dan menelepon suaminya, tapi tampaknya tidak dipedulikan juga.
Di lantai bawah, hanya ada pegawai perempuan karena Rita harus membuka kerudungnya. darahnya masih terus mengucur, memperlihatkan luka dari akibat lemparan batu tersebut.
__ADS_1
"Duh, Rita tahan ya ini pasti perih," kata A yang kemudian mengambil kapas lalu diteteskan obat.
Rita menahan perihnya saat dibersihkan. Terlihatlah lukanya yang lebar. Satu orang telah membawa kerudung lipat lalu ditaruh di gantungan sebelah lemari pegawai.
"Ini sudah keterlaluan! Masa kamu hanya salah menaruh letak piring saja langsung dilempar batu bata! Itu batu dari mana sih?" Tanya B merasa ameh. Seingatnya di Cafe tersebut tidak ada yang menaruh batu bata. Tidak ada yang tahu dari mana istri bos memiliki bata tersebut.
Hampir semua pegawai yang masih berkuliah mengalami hal menakutkan cafe tersebut tidak lagi sama semenjak istrinya yang cunihin itu bekerja disana. Semuanya bagaikan neraka satu per satu pegawai akhirnya memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan 2 hari kemudian saat Sona masuk bekerja, dirinya tidak lepas dari siksaannya. Yang membuat semua orang terkejut, Sona diteriaki "Pelacur" oleh istri bos tersebut.
"KAMU ITU ( piiiiip ). BUAT APA KAMU BEKERJA DISINI MAU GODA SEMUA LELAKI!?" Teriaknya membuat semua pelanggan meninggalkan Cafe tersebut.
"Bu, kalem bu. Jangan begitu, dilihati oleh semua pembeli disini. Kalau ada apa - apa lebih baik jangan saat kami bekerja," kata Rita menenangkan istri bosnya yang memang keterlaluan.
"TAHU APA KAMU! DIA INI ( piiiiip )! KAMU TAHU DIA JUGA PUNYA HUBUNGAN SAMA KAKAK LELAKI SAYA. SEKARANG TERNYATA KAMU BEKERJA DISINI!? MAU CARI MANGSA SIAPA LAGI!?" Teriaknya membuat Sona memerah wajahnya lalu dengan segera ke lantai bawah dan mengambil tas lalu pergi.
Yen mencegahnya keluar dari Cafe dan bertanya. "Itu benar?"
"Bagaimana tidak berhubungan, coba! Kakak bos itu bertanya setiap seminggu sekali soal keadaan Cafe tidak lebih! Kenapa itu iblis bekerja disini sih?" Tanya Sona sambil menangis. Apollo datang menyusul dan memeluk Sona.
"Tenanglah bukan hanya kamu saja yang disakiti. Semua karyawan lelaki atau perempuan, semuanya kena. Rita saja dahinya sampai robek," kata Apollo menenangkan Sona.
'Kalau bersamaku, kamu tidak akan pernah terluka begini.' Pikir Alex yang terus duduk bersama Rita. Rita tidak bisa merasakan apapun dia hanya merasa saat itu disampingnya seakan ada sesuatu yang tak kasat mata, yang ada menemaninya. Tapi dia tidak tahu apa itu, dia takut dengan hal mistis makanya tidak terlalu dipikirkan.
Alex juga tidak menyukai Apollo karena dia tertarik pada Rita namun sayangnya Rita menolak untuk dekat. Alex sangat lega. Apollo pun tidak menyukai istrinya itu, dia selalu diejek Hitam dan pernah juga digoda.
"Jadilah pacarku, nanti aku akan membuat kulitmu lebih cerah daripada hitam begini. Memangnya ada yang mau sama kamu? Denganku, kamu akan terus senang. Lagipula..." kata istri bosnya yang menyentuh tangan kekarnya. Tapi Apollo menepisnya dan kemudian pergi mengantarkan pesanan. Istri bos itu kesal dan menunjuk kepadanya, "Kamu akan menyesalinya karena menolak aku!"
Pulang dari Cafe semua teman - temannya kaget karena Rita terluka dan akhirnya dengan saran dosennya, Rita dibawa ke dokter lalu diperiksa. Dokter menyarankan agar Rita menjauhi masalah kalau perlu keluar saja dari tempat kerjanya. Teman - temannya juga sebagian menangis kenapa dia harus diperlakukan begitu. Diceritakan lah semuanya oleh Rita.
"Kenapa dia diterima bekerja sih?" Tanya Tamada merasa aneh.
"Iya kalau sudah tahu perilakunya jelek begitu buat apa sih disuruh kerja disana? Lalu Cafe itu bagaimana kondisinya?" Tanya Melinda.
"Ya sepi. Apalagi kemarin ada yang disebut wanita malam lalu sekarang aku dilempar, mana pembeli juga melihat sendiri. Yang lagi makan tiba - tiba piringnya dibawa lalu ada uang yang ditinggalkan. Sorenya tiba - tiba waktu kami mau pulang, piring sudah bertumpuk saja alhasil kami bekerja sedikit. Sepertinya aku juga mau berhenti saja kalau seperti ini terus," kata Rita yang lemas sudah tidak ada minat bekerja lagi.
__ADS_1
"Ya sudahlah, Ri. Jangan dipaksa cari lagi saja yang lain," kata Diana yang sudah berlinang air mata.
Kedua orang tuanya pun memarahinya juga lalu dicek juga lukanya. Prita juga tidak mau kakaknya meneruskan lagi pekerjaan sambilannya.
"Kamu tuh kerja buat cari uang atau diperlakukan semena-mena gini!?" Tanya ibunya sambil marah.
Diceritakan lagiiiii semuanya intinya mereka juga keheranan kenapa malah bekerja disana kalau perilakunya kasar dan jelek. 😞😞😞Dikemudian hari akhirnya diputuskan dalam grup kalau mereka tidak akan ada yang datang bekerja sampai istrinya itu digantikan oleh orang lain. Selama 2 hari itu, tidak ada pegawai yang mau datang dan bekerja daripada diperlakukan kasar dengan dilempar atau diguyur air, akhirnya istri bos itulah yang bekerja dan dengan Aura.
Juru masak pun hanya ada 2 yang masih berani bertahan well, terpaksa untuk melihat situasi juga. Aura mengomel pekerjaannya jadi terbengkalai karena harus mengurusi pekerjaan meja depan. Pegawai pun hanya ada 1 orang itu tentu saja tidak bisa dikatakan bisa mengerjakan semua pekerjaan. Aura harus bolak balik mengantarkan antaran pesanan dan makanan lalu minuman. Sekarang baru terasa betapa keras sekali tanpa ada para pegawai. Dan dia menyesal sudah membuat segalanya berantakan.
Hari Kamis akhirnya menyadari semuanya tidak mungkin lagi, Aura mengatakan semuanya pada bosnya. Tentu sajalah bos naik pitam, dia langsung bergegas pulang dan mendapati Cafenya mati. Dan memeriksa pekerjaan istrinya dan juga Aura yang sama sekali tidak dikerjakan. Juru koki dan satu pegawai diselidiki itu pun bos berhasil menarik paksa Apollo untuk menjelaskan situasinya. Disaat Apollo menjelaskan situasi terburuknya, Bos benar - benar meledak bukan menyalahkan pada Apollo tapi Aura dan istrinya.
"PANGGIL SEMUANYA HARI INI! POKOKNYA MEREKA HARUS DATANG YANG TIDAK MAU, MEREKA HARUS BAYAR SISA KONTRAK!!!" Teriak bos yang sudah lepas kendali.
Apollo, juru koki dan pegawai yang hanya ada satu orang menghubungi semuanya kembali. Cafe ditutup sementara waktu, pelanggan yang sudah masuk dan makan ditempatkan di ruangan pojok agar jauh dari peledakan pemilik tempatnya. Rita pun datang dengan diantar oleh Prita dan akan menunggunya di warung seberang.
Semuanya sudah terkumpul berdiri membentuk barisan yang rapi. Bos tampak terkejut dengan beberapa karyawan yang diberi gips pada telapak tangan, bahu, dahi ( Rita ), pipi dan leher juga.
"Ini kenapa? Kalian kenapa!?" Tanya Bos yang emosi.
Satu persatu menceritakan luka yang mereka dapatkan dan semuanya menunjuk ke satu orang yang bertanggung jawab. Istri bos menunduk sedalamnya begitu juga Aura.
"Saya dilempar batu bata sama istri bos padahal saya hanya salah meletakkan posisi gelas dan piring saja. Ini yang saya dapatkan!" Tunjuk Rita pada sisi dahinya.
"Ya Tuhan! Kamu apakan semua pegawai SAYA!" Kata bos bertanya pada istrinya.
"Saya langsung memberi hukuma agar mereka tidak melakukannya lagi," katanya sambil terus menunduk kepala.
"Batu bata? Darimana bata itu? Saya tidak membuat apapun lagi. Kamu bawa dari mana? IDE SIAPA!?" Bos kemudian marah lagi.
"Kami tidak tahu, bos. Saya juga cari di semua sudut Cafe tidak ada bata," jawab pegawai lain.
"KAMU SUDAH KETERLALUAN!! Saya kelola cafe ini bersama seseorang yang sudah lama berjuang dengan saya lalu kamu datang, dan berusaha mengusir semua!? KAMU TIDAK PUNYA HAK DI CAFE INI! Cafe ini hasil dari uang aku sendiri, bukan uang keluarga kamu!! Besok kamu angkat kaki dari Cafeku pulang kamu ke rumah orang tua kamu! Saya sudah muak dengan semua janji kamu! CAFE SAYA MATI!!!" Teriak Bos dekat telinga istrinya. Istrinya hanya memejamkan kedua matanya dan tertunduk, tidak ada air mata yang keluar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...