
"Hueeee," suara tangisan itu keluar dari mulut Rita.
"Kenapa aku harus menangis coba ya?" Pikir Rita yang terbagi kesadarannya.
Ua agak simpati dan mulai mengusap punggung Rita. "Kamu sedih ua nin?" Tanya Ua.
Rita mengangguk.
"Sedih apanya!? Bisa-bisanya kamu buat si Teteh kesusahan," kata Koko mengomel.
Rita menatap tajam ke arah Koko dengan mata yang datar.
Ua menahan tawa. "Tapi lebih sedih lagi si Teteh nya masa sudah besar begini nini masih tempelin? Kasihan nanti kalau Teteh tidak bisa menikah bagaimana?" Tanya Ua.
Rita melihat dirinya tersenyum lebar dan tertawa ya memang itu harapannya. Langsung Koko ngegas melihatnya.
"Kamu tuh mikir ya. Ada kamu itu, menyusahkan! Egois banget sih jadi nenek-nenek! KELUAR! Saya masih punya khodam lain, meski energi saya sudah habis, "mereka" sudah siap mau menyerang. Ayolah," kata Koko menantang.
Rita yang mendengarnya langsung menangis. "Hueeeee,"
Rita yang asli menghela nafas dan menepuk dahinya. Nenek-nenek nangis pakai tubuh orang.
Ua menenangkan Rita itu dan menyuruh Koko untuk tenang. "Sudah sudah iya betul nin, khodamnya sudah siap kalau harus menyerang kamu pasti habis. Lebih baik nini keluar sekarang. Teteh juga sudah kesal sekali," kata Ua.
Rita yang asli sudah hilang kesabaran lalu mulai menyerocos.
"Si nini peyot tidak tahu etika sudah menumpang tinggal, eeh seenaknya menguasai badan orang. Kuasai saja dong badan laki-laki biar bisa kerja sendiri. Kenapa juga harus aku sih? Tidak butuh teman macam kamu! Amit-amit ditempeli nini peyot," kata Rita dengan galak.
Mereka semua tertawa mendengar Rita yang memang sudah marah sekali.
"Anak durhaka," kata suara nenek yang giliran keluar dari mulut Rita.
"Nini peyot sadar diri dong. Merasuki itu bawa kek yang baik-baik bukan malah bawa yang jelek. Jangan urus urusan yang bukan hak kamu deh," kata Rita menyilang kan kedua tangannya.
Keluar suara tangisan lagi yang mengiba tapi langsung di potong oleh Rita yang asli lagi.
"Cengeng sekali ya sudah dibacain malah menantang, ditantang balik malah kabur. Maunya apa sih!? Sudah deh jangan pura-pura ingin dapat perhatian ya pakai menangis segala! Kalau jantan, hadapi tuh si Koko sama antek-anteknya. Masa di tantang malah cemen," kata Rita mengomel panjaaaaaang sampai tuh jin malah diam.
Mereka semua langsung ngakak mendengar omelan Rita dengan yang tidak kasat mata. Jin peyot itu juga hanya diam mendengarkan semua ocehan Rita yang sudah dihilangkan pembatas suaranya.
__ADS_1
Jin nya juga semakin pusing mendengar Rita bicara. Dia tahu Rita memang suka susah dihentikan kalau sudah kesal dan mengomel. Lebih berbahaya omelan nya daripada Koko dan Ua. Karena itulah jin itu sengaja menutup saluran pita suara Rita supaya tidak banyak bicara.
"Gara-gara kamu ya, Alex sampai kena serangan. Sadar dong! Kamu itu mengganggu sekali! Aku yang disalahin kamu yang cari masalah, siapa juga yang cari gara-gara coba. Bisa kamu tanggung jawab?" Tanya Rita yang sedang marah.
Jin itu hanya tersungkur semakin dalam. Dalam penglihatan Rita, dia benar-benar tidak bisa membalas. Sekalinya buka mulut, Rita tambah panjang mengomel.
"Kalau memang sayang, tidak mungkin kamu biarkan aku disalahkan banyak orang. Toxic juga ini jin. Masih untung lho kamu tinggal tidak aku pungut biaya! Kalau aku minta bayaran, mampus lo! Pulang kampung sana!" Usir Rita ngegas membuat si jin terpental sebenarnya.
Jin itu hanya menangis tersedu-sedu setelah dimarahi oleh Rita. Tanpa suara Rita, Ua dan Koko bisa melihat jin itu menangis.
"Untung ini makhluk ghaib ya kalau versi manusia bisa kena dosa aku usir dia. Ini tidak kena dosa kan aku, Ua?" Tanya Rita.
Mereka berdua berusaha menjawab tapi masih tidak bisa karena tertawa yang tidak tertahankan.
"Iya Teh... tidak...dosa hahahaha," kata Ua sambil memegang perutnya.
"Ya Illahi baru kali ini saya dapat pasien yang kocak bisa sampai ketawa dengan puas. Aduh, sakit perut. "Mereka" juga bingung ini jadi tidak menyerangnya? HAHAHAHA!!" Koko tertawa dengan begitu keras sambil jumpalitan.
"Aduuh sama sakit perut juga. Aslinya Teteh kocak sama sekali tidak ada takutnya melawan jin jelek ini. Memang kocak sekali lho, nanti 1 negara bisa dia buat ketawa rame-rame," kata Ua Mori mengurut perutnya.
Koko mengangguk masih tertawa. "Aslinya bisa sih Teteh melawan makhluk lain soalnya Teteh pernah komunikasi dengan khodam Alex itu kan. Jadi tidak heran sih," katanya yang akhirnya beristigfar.
"Superrrr ngakak sekali sih. Teteh tidak tahu khodamnya itu aliran kerajaan lho. Paling hebat, paling terganteng, paling paling paling lah. Tapi ternyata hal yang ditakutinya kalau Teteh marah bikin dia ketar ketir," kata Ua Mori tertawa lagi.
Tampaknya bagi dia, Rita adalah manusia tergalak yang pernah dia temui selain kakak dan ibunya.
"Habis, menyebalkan sekali datang hanya mau lihat. Ya aku usir lah," kata Rita mencibir.
"Iya Teh, dia langsung ngibrit seedannya lalu sembunyi kan di punggung majikannya. Padahal majikannya juga takut banget sama Teteh haduuuh ngakaaakkk," kata Ua tertawa lagi.
"Iya padahal badannya besar ya lalu tinggi memang sih keren. Kalau Rita bisa lihat khodamnya pasti bling bling tuh," kata Koko.
"Ganteng banget?" Tanya Rita.
"Sangaaaaat. Koko yakin, dia juga tidak pede kalau sama khodamnya. Jomplang bedanya," kata Koko sulit menjelaskan.
"Nanti juga Teteh bisa lihat. Dan Teteh akan lebih banyak lempari dia barang sih," kata Ua terbatuk karena terlalu banyak tertawa.
"Idih," kata Rita bete.
__ADS_1
"Oke! Hiburannya sudah dulu ya kita lanjutkan ke sisi lainnya," kata Ua memberikan kode pada Koko.
Koko mengacungkan jempol dan mengendap duduk sebelah Rita. "Bagaimana?"
Ua menerawang dan melihat jin peyot itu tengah duduk santai. Karena dia sibuk melihat Ua dan Koko tertawa tadi.
"Dia lagi santai karena kita ajak Teteh mengobrol. Hmmm sebenarnya mudah sih ternyata jalannya hanya mengajak Rita mengobrol saja," kata Ua menggelengkan kepalanya.
"Jadi bisa teralihkan ya," kata Koko menghela nafas.
"Iya," kata Ua senyum melihat Rita yang tanda tanya.
"Masih belum sadar?" Tanya Koko bersiap dengan pose penyerang lagi. Kali ini Koko memakai sarung tangan putih dan hitam.
"Belum. Karena Teteh nya senang diajak bicara jadi pandangannya juga tidak ada perhatian ke kita. Kamu persiapkan lagi dari tengah saja biar Ua yang ajak Rita bicara," Kata Ua lalu mendekati Rita.
"Siap," kata Koko yang berada di belakang Rita sebelah kiri.
Setelah itu Ua Mori mengajak mengobrol Rita lagi tapi kali ini dengan si jin nya, sudah tentu dia keluar dan Rita seperti terhipnotis. Tertidur di dalamnya, Koko memeriksanya dan mulai menyerang.
Koko membacakan lagi ayat-ayat penyerang dan membuat pelindung agar Rita tidak kesakitan.
"Nin, tidak kasihan sama Teteh? Awal memang Teteh tidak punya teman tapi sekarang sudah beda. Temannya banyak lho dan dia sudah tidak kesepian lagi. Jadi tugas Nini sebagai penjaganya sudah berakhir sampai sini. Nini mau kan keluar?" Tanya Ua dengan ramah dan lembut sekali.
Rita menghela nafas dan terdiam. Tiba-tiba jin itu menarik ingatan dan melihat isi perasaan Rita yang paling dalam. Ya, keseruannya dengan semua teman dekat dan sahabat yang membuatnya selalu ceria.
"Ua, ini terlalu kelamaan. Energi Teteh juga sudah hampir habis takut nanti kenapa-napa," kata Koko.
Ua Mori mengangguk. "Nin sudah anggap Teteh sebagai anak tapi Nini tahu kan dunia jin dan manusia tidak bisa disatukan. Jin tidak boleh terlalu dekat dengan manusia. Nini tahu kan? Jin bisa mengambil energi manusia. Tahu kan penyebab Teteh sering sakit karena apa?" Tanya Ua membuat jin itu tersadar.
"Ua," kata Koko memberikan peringatan.
Rita asli agak semakin pusing energinya menurun.
Ua lalu menempatkan tangannya di bahu Rita, memberikan sedikit dari energinya. Meskipun Ua juga sudah agak kewalahan.
"Saya pergi," kata jin itu akhirnya.
"Alhamdulillah. Ikhlas ya, tenang saja biarkan Rita dewasa tanpa bantuan makhluk ghaib ya," kata Ua.
__ADS_1
Rita menganggukkan kepalanya. Setelah itu dengan sigap, Koko berhasil menarik jin kampret dan membuangnya jauh. Jin itu menatap sedih pada Rita tapi juga senang kini wajah Rita kembali cerah.
Bersambung ...