
"Hueee jadi tidak ada efeknya dong?" Tanya Rita rugi harganya mahal juga biayanya.
"Ya iyalah, itu mah jadinya mereka yang enak nerima bayaran besar meski tidak ada efek. Memangnya itu teman dia tidak beri banyak keterangan? Kok mau-maunya aja Teteh percaya?" Tanya Koko keheranan sambil melipat kedua tangannya.
"Masalahnya kan Koko belum ada hayooo. Masa harus nunggu Koko? Ai Koko kemana saja coba?" Tanya Rita menantang juga.
Koko tertawa lalu menunduk dengan malu. "Iya siiih. Saya sepertinya waktu itu masih belum tobat hehehe," katanya.
"Koko mirip si Alex kumpret ya," kata Rita. Agak mirippp tapi beda.
"Malay itu? Yaa setara. Masa remajanya juga sama kacau sih," kata Koko agak malu.
"Tapi kalau Koko tampaknya tidak begitu sulit ya," kata Rita dengan pose Detektif Conan.
Koko menghela nafas. "Yee si Malay mah lingkungannya super besar. Saya mah orang biasa tidak banyak menuntut. Terus lanjut, cerita kamu itu disuruh apa sampai siapkan sajadah segala?" Tanya Koko sambil tertawa.
"Tampak senang sekali wajahnya," kata Tita dengan datar.
"Ya atuh da bagaimana? Takutnya mereka ada unsur musyrik sih," kata Koko.
Dijelaskan lah semuanya oleh Rita yang membuat Koko kadang marah, kesal, sedih dan tertawa. Selesainya Koko tampak berpikir seperti mencari tahu sesuatu.
"Bagaimana?" Tanya Rita.
"Yaaa memang salah sih nanti kamu kasih tahu saja ke teman satu lagi, kalau tidak tahu spesialisnya apa jangan coba-coba menawarkan ke orang lain," kata Koko dengan tenang.
"Oke. Hmm sekarang sajalah dia juga ada tanya kenapa," kata Rita mengeluarkan ponselnya lagi.
"Ya sudah sok," kata Koko lalu minum.
"Kenapa gitu, Ri?" Tanya Arnila.
Rita melihat kalau Ney kembali masuk grup lagi. Benar juga apa katanya. Yah sudah pasti kepo sih takut ketinggalan berita soal hasil ruqyah nya. Tapi Rita sudah tidak peduli.
"Aku jelaskan soal ustad yang kamu tawari itu," kata Rita.
"Oh ya? Terus? Ada masalah?" Tanya Arnila menggigit jarinya.
"Besar ya. Kalau tidak tahu apa spesialisnya jangan coba-coba ditawarkan. Tapi aku tahu kok maksud kamu mau membantu kan," ketik Rita.
Koko permisi untuk mengambil minum.
"Ya ampun! Kamu kenapa Rita? Kan kata aku juga apa lebih baik jangan deh Arnila, nanti pasti kena ke Rita nya kacau kan," kata Ney mulai dengan komen menyebalkan nya.
"Kamu tidak kenapa-napa kan?" Tanya Arnila.
"Ya tidak kenapa-napa yang diusir justru jin di rumah bukan tubuh aku. Terima kasih ya jadinya malah rumah aku yang sepi," Kata Rita terpaksa ketawa.
"Ya ampun! Oke oke nanti lagi aku tidak akan sarankan deh lagipula kurang nyaman ya, Rita? Sori ya," jawab Arnila.
Ney hanya diam ternyata pendapatnya juga salah dan mereka berdua tidak memperdulikannya.
"Oh ya kalau kamu bisa chat, ruqyah nya sudah selesai dong? Terus hasilnya bagaimana?" Tanya Ney.
"Ya sudahlah mau gimana lagi. Sepertinya kalau ada apa-apa lagi, aku sama Koko saja. Kalau kamu mau di ruqyah nanti aku kasih tahu orangnya," kata Rita. Pasti Koko mau sih yang penting bukan sama Ney.
"Hmmm.. ya coba tanyakan saja deh," balas Arnila.
"Kok kalian tidak pedulikan aku sih?" Tanya Ney sebal.
Lagi-lagi tidak ada yang peduli dirinya marah atau melantur apapun.
"Sudah?" Tanya Koko datang membawa 2 aqua. Airnya Teh nanti haus," kata Koko.
"Terima kasih. Sudah oh iya kalau aku tawarin Koko ke dia untuk ruqyah mau tidak?" Tanya Rita hati-hati.
"Teman yang toxic ya? Dia mah tidak perlu Koko yang ruqyah, ibunya juga bisa dan lebih manjur lho. Mirip Ua Mori," kata Koko yang menerawang.
"Woh! Ya sudah deh padahal tahu begitu kan si Ney bisa di ruqyah ya," kata Rita membuka segel airnya.
"Tidak akan ada yang mau Teh. Pokoknya kena sedikit auranya, kelar hidup lo. Ibunya juga pasti menolak sih, orangnya saja tidak mau diusir itu antek-anteknya jadi aneh," kata Koko.
"Apa mau jadi dukun Ko?" Tanya Rita.
"Yaa inginnya begitu tapi levelnya tidak tercapai. Contohnya seperti game RPG ya. Pasti Teteh tahu kan untuk masuk ke arena, ada syaratnya level berapa kan?" Tanya Koko cengengesan.
Kenapa juga kalau Rita memang suka game?
"Iya. Level 50 misalkan," jawab Rita.
"Nah iya begitu kalau tidak bisa mencapai kan tidak bisa masuk. Ilmu ini juga begitu tapi buat apa? Ya kan. Lebih enak jadi orang biasa tidak ada beban. Cukup orang-orang yang ahli," kata Koko menjelaskan.
Rita mengangguk setuju. "Koko waktunya luang hari ini?" Tanya Rita.
"Iya, tenang saja. Tyas nanti siang kan mudah-mudahan cepat kelar," kata Koko.
__ADS_1
"Okelah," kata Rita. "Lalu soal sajadahnya bagaimana?" Tanya Rita yang juga keheranan. Buat apa?
"Ya itu salah kecuali kalau ruqyah nya memang syar'i kan ada jenisnya ya. Soal sajadah sama mukena saya pikir supaya Teteh tidak batal wudhu atau tidak terlihat aurat, ternyata hanya agar jin nya keluar? HAHAY!" Kata Koko menepuk kakinya keras sekali.
"Yah memang aneh," kata Rita.
"Waktu ustad itu membacakan doa supaya jon rumah keluar, mereka memanggil jin juga lho," kata Koko membuat Rita menganga.
"HAH!? Lalu mereka ada bertarung begitu?" Tanya Rita lebih mengecewakan.
"Iya dan semacam ada perjanjian begitu Teh. Tidak ada yang menjurus ke masalah Teteh sih hanya menurut saya, justru kyai yang terakhir datang itu yang lebih asli bisa dia usir si nenek," kata Koko.
"Hah? Kok Koko tahu kalau ada ustad lagi?" Tanya Rita heran padahal belum diceritakan juga.
Koko tertawa. "Itu mah kecil tapi benar kan? Badannya agak gembul?" Tanya Koko.
"Iya. Kok bisa??" Tanya Rita semakin aneh.
"Eh, Koko tea. Yalah tahu Teh, susah kalau dijelaskannya Teteh termasuk orang yang tidak minat sama sama begituan. Dia tahu kalau ustad itu tidak bisa mengusir dan malah membuat banyak masalah," kata Koko berpikir.
"Kenapa atuh ya bukan sama dia?" Tanya Rita.
Koko menatap ke Rita dengan pandangan yang misterius. "Dia takut selain nenek, mendekat. Yaa bagaimana ya? Kekuatannya tidak besar Teh," jelas Koko yang stres sulit menjelaskan.
"Yah sayang sekali," kata Rita.
"Tapi in syaa Allah kalau kamu sama saya sudah di ruqyah, kesananya tidak akan ada lagi masalah. Ya semoga. Hanya pesan Koko jangan pernah masuk ke ranah dunia ilmu mistis," kata Koko dengan nada lembut.
Alex tahu, dia bisa merasakan perasaan gembira Rita sudah pasti karena berhadapan dengan Koko yang hensem. Fernando memandangi tuannya dengan penuh tanda tanya.
"Tuan, paketnya besok saya kirim ke Bandung," kata Fernando membuyarkan lamunan Alex.
"Tentu. Ingat, jangan kamu selundupkan ke gudang. Saya tahu setiap aku mau beri sesuatu pada perempuan, kamu akan simpan disana," ancam Alex.
Fernando pasrah semuanya ketahuan. "Baik, Tuan kali ini akan saya kirim,"
"Kira-kira bagaimana ya sambutannya nanti?" Tanya Alex ketawa sendirian.
"Semoga bukan perempuan jenis pemorotan seperti yang sudah-sudah," kata Fernando mengingatkan.
Alex menatapnya tajam. "Rita tidak seperti itu! Aku yakin," kata Alex.
"Tuan mau bertaruh?" Tanya Fernando yang berjalan di sampingnya.
"Kalau Rita itu memang matre, Tuan harus mau dijodohkan oleh Nyonya," kata Fernando membuat Alex datar menatap penjaganya.
"Kalau aku menang, kamu harus traktir aku apapun!" Kata Alex menyilang kan tangannya di dada.
"Baik. Deal?" Tanya Fernando.
"Deal!" Jawab Alex. "Rita, kamu bukan matre kan?" Pikir Alex agak cemas.
Berubah ke tempat Rita.
"Oke," kata Rita senyum.
"Lalu apa yang mereka katakan kalau misalkan dia mau mempertemukan kamu dengan orang lain lebih baik jangan ya," kata Koko.
Rita memiringkan kepalanya. "Kenapa? Kan tandanya peduli karena aku jomblo,"
"Iya kalau niatnya baik. Yang toxic pasti akan selalu mengekor kamu dan nanti suasananya malah kacau. Ingat ya dia itu senang kalau kamu sedih, dikecewakan," kata Koko.
Rita jadi ingat soal masa lalu dengannya. Setiap dia mau bertemu siapapun, Ney memang selalu ingin ikut. Kalau ada yang ganteng, tiba-tiba saja lelaki itu meninggalkannya.
"Pasti ada ya yang tiba-tiba meninggalkan kamu? Itu karena dia berusaha merebut semua orang yang tertarik sama kamu. Mereka yang suka mengira kamu sahabatan jadi lebih memilih menjauh," kata Koko dengan wajah sedih.
"Tega sekali," kata Rita kalau memang begitu.
"Dia tidak suka kamu bahagia, Teh. Saya lihat setiap Teteh dekat sama dia, Teteh sering sial kan. Hmmm," kata Koko.
"Pembawa sial maksudnya?" Tanya Rita.
"Iya itu. Siapapun yang dekat sama dia, selalu sial. Adaaa saja masalahnya kamu lebih baik bergaul dengan orang-orang yang tulus deh. Yang menjauhkan kamu dengan hal ghaib dan mendekati hal yang benar. Teman kamu kan banyak," kata Koko.
"Hehe iya ko. Semuanya baik," kata Rita.
"Dia mah senangnya dengan hal berbau mistis. Kalau kamu tanya soal makhluk ghaib atau jin jun pasti dia menjawabnya semangat," kata Koko.
"Iya sih benar juga. Kalau aku mau sholat selaluuuu saja dia ajak bicara," kata Rita.
"Iya dia ingin membawa kamu ke sifat dia yang tidak baik. Kalau kamu mengajarkan dia untuk membaca Al Qur'an, sedekah apapun soal Allah itu tidak akan mau dengar," kata Koko.
"Koko ruqyah gih," kata Rita tertawa.
"Idih! Ogah. Nehi nehi," kata Koko menolak dengan keras.
__ADS_1
"Hahaha kan ruqyah mah tidak boleh pilih-pilih pasien atuh," kata Rita tertawa.
"Iya siih tapi ogah deh kalau harus dia pasiennya. Cobain geura kamu minta Ua yang ruqyah, pasti di tolak juga," kata Koko yakin.
"Separah itu?" Tanya Rita kaget. Sampai para ruqyah hebat ini enggan me ruqyah Ney.
"Kenal juga tidak mau saya. Bukan parah lagi sih, orangnya genit parah kalau dia sudah menikah, tidak akan samawa. Lihat saja. Siapapun yang bisa "Lihat" tidak akan ada yang mau termasuk ya ibunya teman dia," kata Koko.
"Kenapa sih Ko?" Tanya Rita kurang mengerti.
"Dia itu lebih memandang orang laki-laki ya ke fisik. Ya kan? Kamu sudah kenal dia pasti tahu," kata Koko menebak.
"Iya. Aku sudah bilang kalau fisik mah nanti tua juga rata sama," kata Rita.
"Tidak akan didengar. Dia kejar dunia, Teh. Temannya yang sudah lebih kenal lama dia juga sudah tahu," kata Koko.
"Mereka teman dekat?" Tanya Rita kebetulan.
"Bukan. Kata siapa?" Tanya Koko.
"Kata saya habis kelihatannya mereka akrab sih," kata Rita.
"Yeee dekat dari mana? Teman dekat bukan, sahabat bukan, ya sama seperti Teteh," kata Koko
"Teman biasa?" Tanya Rita.
"Teman biasa tapi ke yang hambarnya. Dia sama dengan Teteh orangnya. Kalau Teteh temenan sama dia karena kasihan nah kalau temannya, keterpaksaan karena dari awalnya juga si toxic ini yang selalu mengekor," kata Koko.
"Widih! Ahh tahu pasti karena dia lihat dari rumahnya kan?" Tanya Rita. Rita pernah tidak sengaja melihat foto penampakan rumah Arnila. Yang megahnya audah mirip istana emas.
"Nah itu kamu sudah tahu. Karena memang temannya itu tajir tapi dia humble orangnya," kata Koko.
"Ya sudah sama dia saja tidak usah mengekor ke aku," kata Rita kesal.
"Kalau Teteh jadi sama si Malay ini, tajirnya temannya itu ya kelipat sama yang Malay. Itulah kenapa kata Ua, dia akan terus mengejar kamu lagi. Dia mau berbuat salah sebanyak apapun tidak akan sadar, karena fokusnya agar bisa dapat pamor dari kamu dan yang Malay," jelas Koko.
"Lalu bagaimana dong?" Tanya Rita yang memang ogah sekali deh demi pamor, harga pertemanan dia jual.
"Hmmm, tidak akan dekat sih Teh. Pada waktunya juga Teteh sama dia tidak akan ada episode lagi. Sabar saja ya, kenapa jadi melenceng ya? Hahaha," kata Koko.
"Aamiin deh Ko," kata Rita.
"Ada kejadian aneh lagi tidak setelah perilaku ustad itu?" Tanya Koko penasaran.
"Akhir dari ruqyah yang mengecewakan, ustad itu malah pamer," kata Rita.
"Hah? Pamer apaan?" Tanya Koko geli.
"Terbang dia terangkat gitu 5 cm dari lantai," kata Rita.
Mereka hening lalu Koko meledak tertawa lagi.
"Terus? Terus? Haduuuh," kata Koko.
"Ya terbang lah ngapain lagi coba?" Tanya Rita lihat kelakuan Koko yang sudah jungkir balik tertawa.
"Pasti Teteh mikir aneh kan?" Tanya Koko. Rita diam memperhatikan Koko dengan wajah datarnya. "Yayaya," kata Koko tertawa.
Rita cemberut. "Iyalah! Waktu aku tanya ke ustad nya kok bisa terbang? Katanya dibantu sama jin. Gila kan," kata Rita menepuk dahinya.
"Kamu tahu mereka membaca surat apa?" Tanya Koko menahan tawa.
"Surat penangkal jin itu deh. Aku lupa namanya," kata Rita berpikir keras.
"Yang di Al Qur'an?" Tanya Koko.
"Iya. Tapi aku dengar ada yang bacaannya agak aneh. Ada kata-kata jin jin gitu," kata Rita.
"Ohh.. Ini bukan bacaannya? Qul uuhiya ilaiya anna hustama'a minal jinni faqooluuu inna sami'naa quraana 'ajabaa?" Tanya Koko yang lancar melafalkannya.
"Ya! Ya! Ituuuu. Wah, Koko hafal ya," kata Rita.
"Yalah kan pasiennya sudah ratusan, Teeeh. Itu surat untuk Jin. Nama suratnya Al Jinn. Mereka pakai itu pas ruqyah?" Tanya Koko heran.
Rita mengangguk.
Koko berpikir keras. "Buat apa? Da kalau ruqyah mah tidak perlu pakai surat begituan,"
"Ya mana aku tahu memang aneh dan janggal. Memangnya ada musyrik nya?" Tanya Rita.
"Ya itu sampai harus menyediakan pulpen kertas segala. Da saya mah tidak pernah seperti itu," kata Koko.
Bersambung ...
__ADS_1