ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(344)


__ADS_3

"Tidak usah. Tugas kamu sekarang menyusun data yang sebelah sana saja, keuangan memang fatal sih untungnya pembagian gaji bulan kemarin betul hitungannya, mereka juga mau menunggu. Apollo, panggilkan Rita dan Sona kemari ya!" Pinta Aura. Apollo mengiyakan dan keluar dengan raut wajah sebal.


"Rita! Sona! Datang ke ruangan Aura sekarang!" Katanya dengan setengah berteriak. Sona dan Rita langsung berdiri dan bergegas ke kantor Aura.


"Saya sudah berulang kali meminta kamu untuk fokus kalau kamu bekerja disini hanya untuk mengalahkan seseorang, lebih baik kamu berhenti saja. Pekerjaan kita itu banyak sekali yang lain juga sama jadi jangan membuat keonaran," kata Aura yang duduk di kursinya sedangkan Ney masih berdiri.


"Saya tidak membuat keonaran," kata Ney memandangi wajahnya namun selintas agak ada rasa bersalah.


"Kami yakin? Ada beberapa pegawai yang melaporkan kelakuan kamu selama kami tidak ada di tempat. Saya perhatikan kamu seperti mencari masalah dengan pegawai lain ya? Mungkin teman kamu sendiri," tebak Aura melihat mimik wajah Ney.


Ney terdiam ditanya seperti itu, dalam hati dia mengumpat kesal pada pegawai yang dikatakan Aura.


"Bukan begitu maksudnya tapi aku merasa Rita seperti lebih di banggakan daripada pegawai lain. Gitu, Mbak," kata Ney dengan nada manja.


"Sepertinya itu hanya imajinasi kamu saja deh kami disini memperlakukan sama dengan yang lainnya. Kalau ada yang lebih karena dia bekerja lebih giat dari yang lainnya, itu wajar. Contohnya, Rita meski baru sebulan ya kerja disini, dia juga mendapat gebrakan keras dari Apollo. Rita bukan manja ya bukan juga sengaja lamban tapi fisiknya memang lemah, yang kuat itu semangatnya. Balik lagi selama kerja disini dia berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan irama gerakan semuanya. Dia juga jujur kok niat bekerja disini untuk mencari uang agar bisa membiayai kuliahnya sendiri dan itu memang benar. Bagus kan? Coba deh kamu ubah sudut pandang kamu mengenai Rita, kalau iri terus kamu yang rugi," kata Bos panjang lebar membuat Ney hanya bisa diam mendengarkan semuanya.


Rita dan Sona masih terdiam di depan ruangan mendengarkan ceramah Bos pada Ney. Sona memberi tanda jangan dulu masuk dan menunggu sekitar 5 menit lalu mengetuk pintu.


"Masuk!" Kata bosnya. Rita dan Sona masuk sambil membungkuk dan melihat Ney yang tampaknya sedikit memerah wajahnya karena menangis.


"Ada apa Mbak?" Tanya Rita.


"Kalian bantu ya hitung keuangan tapi harus selesai hari ini," kata Aura menyerahkan berkas. Mereka berdua heran.


"Bukannya ada Ney yang bertugas?" Tanya Sona melirik Ney.


"Datanya ada yang salah kalian kan pernah kebagian Keuangan jadi tolong ya. Saya percayakan pada kalian, kami akan ke Cafe dulu untuk memeriksa yang lainnya," kata Bos menyerahkan segalanya. Bos dan Aura lalu menuju cafe untuk memeriksa segalanya.


"Kamu ngapain saja sih sampai salah semua?" Tanya Sona yang lalu melihat sesuatu dan menyenggol Rita menunjukkan sesuatu.


Ney hanya terdiam dia sibuk mengerjakan pekerjaan lain. Rita melihat yang ditunjukkan Sona, Bonus Ney mencapai 200.000 sedangkan bonus pada Rita, Sona dan Yen nol.


"Kok bisa sih kamu dapat bonus? Kan kamu sudah dapat di minggu awal aku sakit, Ney?" Tanya Rita. Tapi Ney pura - pura tidak dengar.


"Yah kan kata Mbak Aura juga salah hitung data, Rita. Selama ini kita juga tahu dia bekerjanya seperti apa kalau tidak ada bos. Yuk kita kerjakan secepatnya biar kelar," kata Sona dengan semangat.


Sebelum mulai, Rita mengambil karpet berwarna abu - abu dan menghamparkannya, memindahkan semua lembaran data dan Sona mengambil peralatan menulis dan kalkulator. Kemudian mereka langsung serius menghitung dan menulis, Ney kemudian memperhatikan Rita yang sangat fokus pada pekerjaannya begitu juga Sona. Rita menghitung sampai 10x, dia mengeluarkan suara untuk meyakinkan bahwa tidak ada yang terlewat.Ney terganggu dengan suaranya,


"Berisik banget sih ya yang sedang berhitung. Bisa tidak sih suaranya di pelankan? Aku jadinya tidak bisa fokus," kata Ney kesal.

__ADS_1


Tapi bukannya pelan malah semakin keras karena disengaja. Sona pun tidak menggubrisnya karena sama - sama mengeluarkan suara saat menuliskan laporan dan data keuangan yang lainnya. Rita betugas menghitung kembali isi yang gaji, bonus, dan uang makan. Sona bertugas memeriksa yang lainnya termasuk persediaan bahan makanan lalu berapa totalnya yang keluar masuk. Setelah itu Apollo dayang dengan membawa sekantong tas besar berisi uang. Mereka berdua sudah tahu harus berbuat apa sambil menghitung, satu per satu Rita memasukkan jumlah uang sesuai yang dia hitung.


Rita juga menghitung makanan yang di olah berapa atau yang salah. Juga Rita sudah membuat kelompok dari uang bonus, gaji, uang makan, transportasi dan lembur untuk pegawai yang bekerja sampai jam 9 makan. Semuanya sudah dia atur dengan amplop yang berbeda - beda. Aura datang membawakan minuman jus yang mereka sukai sebagai penyemangat dan melihat pekerjaan Rita yang sudah menumpuk beserta uang yang diberikan oleh Apollo. Dengan ditulisi nama menjadi tumpukan jadi supaya lebih gampang dibagikan.


Saat melihat tas penuh uang, tentu saja kedua mata mereka bertiga terbelalak. Sangaaat banyak kebayang kalau Ney sampai salah hitungan, rugi bandaaaar. Sejam setengah berlalu, semuanya sudah siap sampai para pegawai datang juga Apollo, bos dan Aura tapi Sona dan Rita sama sekali tidak sadar.


"Saking fokusnya mereka tidak sadar kedatangan kita," kata Bos tertawa.


Aura mendekati Sona yang sedang menunggu penghitungan Rita dan kaget kalau semuanya ada diluar. "Sudah berapa kali dia menghitung?" Tanyanya.


Sona menyerahkan hitungan manual 1 lembar HVS yang sudah penuh sesuai nama mereka semua. Semuanya tercengang melihatnya.


"Sudah! Semuanya fix tidak ada hitungan yang salah!" Kata Rita merenggangkan pinggangnya dan juga kaget semuanya menunggu.


"Bagus! Sisanya kita masukkan ke dalam amplop. Ini sudah semuanya?" Tanya Bos menunjuk ke tas berisi uang yang tersisa sekitar 20 juta.


"Sudah," kata Sona dan Rita bersamaan.


"Menurut aku ya bagaimana kalau gaji dan yang lainnya terpisah saja?" Tanya Ney sok tahu.


Mereka semua memandangi Ney dengan heran. Tapi mungkin itu tanda dia fokus karena apa yang dia bicarakan sebenarnya sudah bersejajaran semuanya.


"Mbak, ini aku gaji pakaikan amplop yg ada pita warna merah ya. Yang ini amplop uang makan, yang ini amplop untuk transportasi, lalu ya g lainnya sudah ada namanya dan keterangannya. Bagaimana?" Tanya Rita menunjukkan semua contohnya. "Nanti Mbak tinggal menjelaskan saja sih untuk yang pegawai lembur juga sudah aku pisahkan,"


"Bagus bagus. Oke saja sih ini jadi lebih memudahkan kita buat memasukkannya ke dalam amplop cokelat ya. Terima kasih ya kalian berdua untung masih ada," ucap Aura senang. Dia tidak harus bekerja lebih keras lagi.


Ney bete karena sarannya ternyata ketinggalan, Rita sudah menyiapkan semuanya apalagi mereka tinggal memasukkan saja semuanya dalam amplop cokelat panjang.


"Saya beli camilan untuk kalian. Ambil saja di depan dan minumannya tenang kalian tidak perlu bayar. Kamu juga istirahat dulu," kata Apollo dengan tegas. Membuat ketiganya beranjak dan menuju Cafe.


Sudah ada kentang goreng, burger, jus dan juga berbagai macam pasta.


"Asssiiikkk!" Seru Rita melihatnya begitu juga Sona dan Ney.


"Sini sini ini bos dan kak Apollo yang beli. Sekali - kali enak juga nih makan burger McD," kata pegawai lain yang sudah menyantap.


Setelah mengambil semuanya 1 pak, Rita memilih tempat duduk yang belakangnya dinding jadi bisa bersandar. Dia merebahkan punggungnya ke dinding yang dingin dan menikmatinya. Sona juga begitu, sangat nikmat sekali.


"Kalian tidak apa - apa? Lama sekali di dalam," kata pegawai lain.

__ADS_1


"Pusinglah," kata Sona yang memegang dahinya. Apollo memperhatikan apa yang Sona lakukan. Dia bertekad akan memperlakukan Sona dengan baik karena Rita menolak 🤣🤣.


"Kamu tidak kuliah? Sudah jam 4," kata Yen yang memandang Rita dengan santai.


"Jam pertama dan kedua kosong makanya aku santai. Aku juga tidak enak badan nih," kata Rita yang masih menempel di dinding.


"Mau gajian masa sakit?" Tanya Ney yang duduk di meja sebelah.


"Terlalu banyak makan angka sih gara - gara siapa ya?" Tanya Sona yang makan kurang lahap lalu dia ijin ke markas sebentar untuk ambil air minum.


Rita lalu minum dan merasa segar lalu memakan saladnya dulu yang dicampur dengan pasta. Apollo pun menyusul Sona ke bawah, melihat dirinya agak muram.


"Sona," kata Apollo.


Sona memandang kebelakang dan melihat Apollo berjalan di belakangnya. "Ap..." belum selesai, bibir Apollo mencap di bibir Sona. Dan kemudian mereka saling membalas ciuman.


Sona menahan baju Apollo lalu Apollo melepaskan bibirnya lalu memeluk Sona dan mendorongnya mundur menyeretnya memasuki kamar markas. Dan menidurkan Sona di bawahnya tanpa banyak bicara Apollo menciumnya lagi sampai mereka terengah - engah.


"Kamu pusing?" Tanya Apollo dengan suara tegasnya.


Sona mengangguk, tangan kirinya membelai perut roti sobek Apollo lalu Apollo membuka baju atasan Sona sampai Sona menahannya.


"Mau disini?" Tanya Sona. Apollo tidak menjawab dan langsung mencium tubuh Sona yang juga agak berkotak. Sona memang rajin mengikuti senam setiap sabtu dan minggu makanya badannya bagus, Apollo juga tahu itu. Lalu Apollo menuju buah Sona yang Sona langsung histeris merasakan jilatan lidahnya dan gigitannya. Sona menghentikan aksi Apollo dan Apollo menggeram.


"Tahan saja. Aku sedang ingin melakukannya," kata Apollo. Badan besarnya tentu saja lebih bertenaga daripada Sona, dia lalu memeluk Sona dan mulai liar lagi. Sona hanya bisa mendesah dan menahan serangan Apollo. Dia memang menyukainya, Apollo juga. Akhirnya Apollo membuka baju atasnya dan memperlihatkan otot dan perut kotaknya dan menidurkannya di atas tubuh Sona lalu menggesekkan nya sampai Sona menjerit.


Setelah itu Sona melawan dengan menjauh dari Apollo lalu membenarkan bajunya. Apollo tentu saja tidak bisa ditaklukkan begitu saja, mulai menjangkau Sona yang sedang membetulkan baju atasnya. Apollo memeluknya sambil menghujani ciuman di leher Sona lalu menarik baju atas Sona dengan memaksa, Sona tidak bisa melawan dia tahu persis seperti apa Apollo. Setelah itu Apollo merapatkan Sona ke dinding yang ada pegangannya. Sona tahu artinya lalu dia memegang pegangan itu dengan kedua tangannya dan Apollo meluncur hubungan intim dengan liar, sambil membuka rok bawah Sona dan menurunkan kain yang Sona pakai.


Hanya 15 menit membuat penat Sona hilang dan Apollo mulai pelan melakukannya lalu melepaskan Sona. Sona membenarkan kain yang lepas dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Apollo memakai bajunya kembali dan membuat dirinya menjilat bibirnya dengan nikmat. Tubuhnya berkeringat hebat, Sona memberikan handuk yang basah kepadanya dan dia mengelap semuanya. Sona pun sudah mulai biasa lagi lalu memanggil kekasihnya.


"Apollo..." katanya dengan suara biasa. Apollo melirik kepada Sona dan melihat buahnya melambai. "Mau main sebentar?" Tanya Sona yang menggerakkan buahnya, tentu saja Apollo langsung menyambar tubuhnya.


Kemudian Apollo duduk dan Sona di atasnya tentu saja kepunyaannya dia lepaskan dan... yah kalian pasti tahu ya itu sebagai hidangan penutup. Giliran Sona yang memuaskannya, dengan naik turun secara tajam membuat Apollo mendesah enak lalu memeluk Sona dengan kuat membuat Sona menjambak Apollo.


"Kita teruskan di kosan kamu ya," bisik Sona yang kelelahan. Apollo mengangguk yang sedang menyusu buahnya. Setelahnya, Apollo melepaskan ****** Sona dan Sona melepaskan milik Apollo sekali cabut. Mereka berdua tersenyum dan ciuman sekali lalu naik ke atas masing - masing.


"Lama sekali sih. Minum obat?" Tanya Rita.


"Iya aku tiduran sebentar, lumayan makan angka buat aku penat," kata Sona yang sudah terlihat bugar. Memang tidak ada yang menyadari ada yang berbeda dengannya namun karena badannya masih tetap montok, semuanya biasa saja berbeda dengan Yen yang cekikikan. Apollo juga pandai menutupkan apa yang baru saja dia lakukan dan kembali galak seperti biasanya.

__ADS_1


"Habis olahraga ya?" Bisik Yen yang langsung ditimpuk sampah. Tapi Sona merasa puas sekali apalagi di kosan Apollo nanti, dia akan memberikan servis terbaiknya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2