
"Wah, kamu interogasi dong?" Tanya Arnila melongo.
"Iya betul tuh aku juga dari awal sudah tahu kok kalau itu fotonya bukan Alex yang asli. Aku kan sudah bilang ke kamu tapi tidak percaya benar kan kata aku," kata Ney ngadi-ngadi. Kalau sudah kambuh perasaan dia benar pastiii ada kata "Tuh kan," atau "Benar kan kata aku," malas deh.
"Kapan kamu bilang itu bukan Alex? Mana? Mana? Perasaan tidak ada deh ya pernyataan kamu soal itu. Huh, begini ya orang yang ingin dilihat tuh," kata Rita dengan jutek.
Yang disindir tidak peduli tetap dengan pendiriannya yang "Aku bilang begitu kok," di episode manapun juga tidak ada.
"Adaaaa ih, kamu tuh ya pelupa tahu! Suka melupakan apa kata aku," kata Ney yang menganggap dirinya sekarang naik dan masih bisa berteman dengan Rita.
"Syukurlah aku lupa soal kamu soalnya tukang bulshit sih. Hanya untuk dilihat orang, sampai kamu putar balikkan kisah orang menjadi kisah kamu. Iyyuuuh," kata Rita lagi.
"Rita benar kok, kamu sama sekali tidak pernah memberikan pernyataan bahwa itu bukan fotonya Alex. Justru yang ada kamu sampai jatuh cinta segala ke dia, lagi-lagi dia juga harus mengalami kepahitan yang sama," kata Arnila.
Rita tertawa kasihan sekali Alex. Kali ini Ney diam tidak membalas, dia lupa kalau ada Arnila juga dalam grup. Eh apa lagi dia lupa tidak chat pribadi dengan Rita.
"Kamu lupa ya kalau bicaranya di grup? Hahaha ketahuan ya parah! Kalau kamu chat privat aku juga, aku akan tanya sama Arnila apa kamu ada pernyataan begitu. Kebiasaan kamu bulshit sana sini," kata Rita langsuuung nyerocos.
Ya Allaah, baru sekarang semuanya terbentang. Ingin menutup mata namun tidak bisa apalagi sekarang Rita berhadapan dengan Ua Mori dan Koko. Mereka juga tahu ada kemungkinan Rita menutup mata perihal Ney tapi mereka melihat sesuatu yang lebih buruk, bila Rita terus menutup mata.
"Serius aku tuh ya pernah bilang kalau fotonya itu bukan Alex tapi saudara kembarnya," kata Ney tetap keukeuh bahwa dia pernah mengatakannya.
"Ya sudah sini perlihatkan buktinya deh jangan banyak bacot. Buktikan saja biasanya juga kamu selalu kirim apapun. Mana mana mana?" Tanya Rita menagih.
"Ada doong nih ya aku cari. Aku akan buktikan kalau aku benar. Kalau aku benar apa hadiahnya?" Tanya Ney.
"Hadiahnya dosa kamu tahun lalu diampuni kalau tidak ada, terbukti kamu memang bukan orang yang bisa dipercaya," kata Rita.
Ney menjilat bibirnya dia memang mencari merasa memang pernah mengatakannya. Dia terus mencari dari akun, chat dan dari apapun! Nihil.
Lima detik berlalu Rita mengobrol dengan Ratih soal masalahnya dan bertanya siapa laki-laki yang sedang dikenal Rita. Tapi Rita menutup mulut dia bukan tipe orang yang koar-koar karena sudah mengalami kegagalan.
Karena Ney sedang berusaha membuat alibi pernyataannya, Rita memberikan waktu 5 detik. Yah mudah baginya untuk mencari apapun kurang dari 5 detik.
TRIT TRIT TRIT!
Bunyi alarm menyaring bersuara dari ponsel Rita. Ratih dan yang lainnya mendengarkan agak kaget.
"Ngapain sih Teh pasang alarm segala?" Tanya Tyas sambil menutup kedua telinganya.
"Ehehehe maaf ya ini Teteh lagi menantang teman. Dia ngaku-ngaku katanya pernah bilang kalau foto Alex itu bukan yang asli. Perasaan tidak ada deh sejak awal dia bilang begitu," kata Rita menjelaskan.
__ADS_1
"Hah!? To the point ya," kata Ratih yang duduk menghadap kebelakang.
"Wajiblah kalau sudah tahu belangnya dia mah," kata Rita.
"Dih, Teh, saya bilang nama bukan foto," kata Koko keheranan.
"Iya tahu, Ko," kata Rita.
"Terus?" Tanya Wean yang ikut mendengar.
"Aaaah Tyas tahu. Mau dijebak ya? Kalau dia sadar punya kemampuan bisa melihat seperti Koko seharusnya sih dia sadar. Seharusnya dia mengoreksi kan," tebak Tyas.
"Anda betul! Lagian, katanya dia cari informasi soal ruqyah Teteh sama sekali tidak bisa masuk. Berarti..." kata Rita menutup mulutnya.
"Iya memang dia pakai makhluk astral Teh, soalnya kalau seperti saya sudah langsung koneksi tidak perlu pakai bantuan makhluk lain," kata Koko.
"Menurut aku dia sering tidak mengaku ya kalau sudah terbukti salah, Teh?" Tanya Wean.
"Teteh dia bully saja mana ada minta maaf tetap saja merasa dia paling benar melakukan itu. Kan edan," kata Rita sebal.
"Hasilnya bagaimana?" Tanya Tyas penasaran.
"Ya dia terjebak. Memangnya ada yang datang?" Tanya Rita menatap Koko.
Ua Mori datang. "Dia mah tidak akan pernah mau mengaku kalah Neng. Dia akan meminta maaf kalau ada sesuatu dari Neng yang bisa membuatnya semacam ada keuntungan," katanya sambil minum kopi.
"Oh, iya juga ya kalau yang dari Malay titip pesan ke dia sama sekali tidak sampai, Ua," kata Rita.
"Iyalah, dia itu kan iri dengki sekali sama Teteh. Dia pasti menyimpan pesan dari Malay, untuk keuntungan dia sendiri. Bisa jadi dia buat masalah sama kamu, terus kamu melangkah salah dan dia baru membeberkan pesannya. Ah, itu mah memang orangnya licik dan picik," kata Koko menggelengkan kepalanya.
"Yang Malay juga sebenarnya tidak percaya, dia ingin menguji Ney ini. Kesetiaannya seberapa persen, dia minta maaf ya? Karena ya ternyata di luar dugaan," kata Ua menyeruput.
"Dia sering mengakui sesuatu ya Teh?" Tanya Tyas.
"Seriiing sampai malas mendengarnya. Itu kebiasaan dia ya, Ko?" Tanya Rita. Tidak habis pikir ternyata dirinya memang tertipu mentah-mentah selama kenal Ney sejak SMP.
"Iya agar diakui semua orang banyak dipuji, banyak orang bergantung sama dia. Dia tuh inginnya menjadi tempat satu-satunya bergantung, ke dia. Makanya dia berusaha menjelekkan Teteh ke teman dan sahabat supaya mereka pergi," kata Koko.
"Iya Teh, karena pasti ini mah ya kata Tyas, dia merasa Teteh satu nasib sama dia padahal mah jauh sekali. Apalagi pas Teteh kenal laki-laki negara sebelah wuhhhh berasap itu," kata Tyas.
Mereka semua tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Masa kecilnya dia itu bermasalah Teh, orang tuanya agak tidak peduli sama dia, sama-sama memikirkan diri sendiri jadi anak-anaknya terbengkalai. Aneh pokoknya keluarga dia tuh. Dia ini kurang kasih sayang dari orang sekitar. Memang sih kasihan, ya Ua?" Tanya Koko.
Ua Mori mengangguk. "Saran Ua jangan terlalu dekat, bicara seadanya kalau dia semakin tertarik Teteh biasa saja kesannya cuek saja. Dia akan berusaha dekat lagi sama Teteh nanti tapi ujungnya ya sama saja sih," katanya.
"Contoh kasusnya nih misalkan Tyas punya kucing Persia nah Tyas cerita sama Teteh. Karena masa kecil Teteh bermasalah, menganggap Tyas menyombongkan diri. Akhirnya pada saat Teteh ketemu orang, Teteh akan menceritakan kisah dari Tyas sebagai cerita Teteh sendiri. Seperti menjiplak, Koko yakin dia pasti sering menjiplak waktu kuliah," kata Koko tertawa keras.
"Kok tahu?" Tanya Rita bengong.
"Serius!? Berapa kali? Kok Teteh tahu?" Tanya Ratih kaget.
Rita ceritakan semua yang dia tahu toh saat Ney skripsi, ada kejadian yang memalukan. Semuanya bengong mendengar ceritanya.
"Haaaah lah apa gunanya dia kuliah di universitas bergengsi? Otaknya dipakai apaan tuh?" Tanya Ryan yang tidak menyangka.
"Dipakai yang mesum otaknya. Sayang padahal pintar. Benar tidak? Dia sudah pernah begituan duluan lho," kata Koko semuanya bengong.
"Apa tuh begitu?" Tanya Rita tidak tahu.
Yang lain menatapnya. "Teteh maksudnya tidak tahu?" Tanya Ratih.
"Apa?" Tanya Rita mengangkat bahu.
Semuanya menepuk dahi.
"Kasarnya dia sudah tidak perawan. Dia sudah kehilangan yang berharganya sewaktu SMP. Pasti kamu tidak tahu kan, pergaulan dia itu parah tidak cocok untuk kamu Teh," jelas Koko tanpa sensor.
Rita melongo mendengarnya dan melihat ke yang lain. Ua, Ratih, Wean, semuaaaa!! Menganggukkan kepala.
"Dulu dia kalau pacaran seperti ganti baju itu apa? Jangan-jangan sudah dipakai semua," kata Rita.
"Sebagian. Yang putusin dia juga banyak karena isi otaknya ya mesum saja. Pokoknya kotor deh kalau dia di ruqyah harus setiap hari mungkin seharian sampai setahun. Kalau selokan mah cairan hitamnya sudah tebal," kata Koko membuat semuanya lebih melongo.
"Sadis si Koko," kata Ratih tertawa keras.
"Habis sebal sih karena Teteh tidak peka malah dimanfaatkan. Kalau memang tidak suka sama Teteh, ya tinggalkan saja susah sekali sih? Toh Teh Rita teman dekat banyak sahabat juga ada," kata Koko agak kesal.
"Kalem Ko nanti dia keluar lagi," kata Paman Ryan mengelus punggungnya.
"Ya untungnya ketemu Koko dan Ua Mori kan. Seharusnya dia bisa mikir kalau aku tidak peka artinya aib dia disembunyikan. Eh, ini malah begitu setelah bisa kenal Alex," kata Rita lemas.
"Dia pilih-pilih teman Teh. Nah Teteh itu bukan tipe teman dia, memang tidak ada kecocokan juga. Seperti perempuan malam bergaul dengan pesantren kan aneh," kata Koko yang sudah tenang lagi.
__ADS_1
"Hmmmm," kata Rita yang masih syok mengenai Ney. Nanti akan lebih banyak lagi info soal dia, soal Rita dan Alex.
Bersambung ...