ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
495


__ADS_3

Setelah itu mereka membicarakan mengenai Khodam beserta ratunya yang sedikit sekali manusia bisa bertemu dengannya. Tapi dengan alasan kekuatan yang Rita miliki, bisa bertemu dan kalau beruntung, berbicara.


Kemudian, mereka beralih mengenai Alex, Ney dan Arnila. Koko juga mendapatkan suatu penglihatan atau semacam itu.


"Nanti orang ini akan bertanya apa Teteh mau jadi temannya lagi atau tidak," kata Ua.


"Hah? Oh ya karena dia sudah membuat aku sakit dan kecewa itu ya. Lalu menurut pendapat kalian terima atau jangan?" Tanya Rita. Rita sendiri sih, NO.


"No," kata Koko. Begitupun Ua.


"Sama sekali jangan?" Tanya Rita.


"Jangan deh Teh. Dia mau berubah bagaimanapun, jangan. Cukup kamu teman dekat dan sahabat dengan yang biasanya. Dia man biarkan saja," kata Koko.


Ua lalu menutup kedua matanya dan sangat marah, kesal dan bete. "Ih, dia itu kenapa sih? Stres deh. Ua juga sama dengan Koko lebih baik jangan diterima," katanya.


"Dia akan begitu lagi?" Tanya Rita.


"Iya. Kalau nanti kamu terima kembali dia, penyakitnya itu akan kambuh dan lebih parah merundung kamunya. Jadi jangan deh, Teteh tolak saja bilang ke dia cari teman lain saja," saran Ua.


"Kalau soal Alex bagaimana? Kan dia selalu keukeuh aku terima Ney lagi," kata Rita.


Koko dan Ua berpikir.


"Tidak ada lagi kok Teh. Nanti juga bertemu dia akan melihat semua dan tidak mengganggu atau memaksa Teteh lagi untuk menerima dia," kata Ua dengan mantap.


"Jadi dia akan berhenti memaksa supaya aku jadi temannya?" Tanya Rita.


"Tidak. Dia akan menyerahkan semuanya sama Teteh," kata Koko mengacungkan jempolnya.


"Syukurlah, aku juga tidak mau lagi terpaksa menerima dia. Misal aku menikah nih, apa aki harus undang dia atau jangan?" Tanya Rita.


"Hmmm sebentar," kata Ua.


"Kalau kata Koko sih untuk apa? Orang bermasalah seperti itu lagian dia menikah juga Teteh tidak diundang kan? Karena dia memang tidak mau anggap kamu sebagai temannya, eh tidak kenal," kata Koko.


Rita ingat bagaimana Arnila mengatakannya saat sehari setelah Ney menikah. Kecewa, sedih, sebagai orang yang tidak pernah dianggap ada. Sedangkan Rita selalu menganggap dia sebagai teman dekat, sejak itu pula semuanya hancur dan tidak ada apapun.


"Tapi tidak apa-apa misalnya Teteh menikah di Indonesia lalu mau undang dia. Aman kok asalkan masih di negara Indonesia," kata Ua tiba-tiba.


"Serius tuh, Ua? Mendingan jangan sih kalau kata saya mah," kata Koko agak keberatan.


"Yah, itu mah bagaimana Teteh saja. Pokoknya selain Indonesia ya jangan diundang. Kacau dia mah," kata Ua.

__ADS_1


"Oh begitu," kata Rita dan Koko.


"Kalau 2 negara ribet ya," kata Rita mikir.


"Ini kan misal," kata Ua.


"Kenapa kalau di Indonesia aman, di luar Indonesia bahaya?" Tanya Rita.


"Kalau di Indonesia kan yang datang dari keluarga Ibunya Teh," kata Koko.


"Yang ada di luar Indonesia tidak akan datang?" Tanya Rita.


"Mereka punya tradisinya sendiri Teh. Misalkan ya Teteh menikah dengan orang Jepang, karena Teteh nya prang Indonesia ya yang diundang sanak saudara dia yang ada di Indonesia," kata Ua.


"Nah yang keluarga suami Teteh, akan dirayakan di Jepang sana. Seperti itu," sambung Koko.


"Kenapa tidak disatukan saja sih?" Tanya Rita. Ribet deh!


"Ya tidak bisa kan tradisinya berbeda. Jumlah keluarganya Alex parah lho jadi pasti dibagi dua perayaannya. Cape sekali tapi seru nanti juga Teteh mengalami sendiri," kata Ua tertawa.


"Laaa memangnya saya sama dia apa?!" Tanya Rita cemberut.


Mereka berdua tertawa tidak memberitahukan apa yang akan terjadi.


"Misalnya Teteh merayakan pernikahan di Indonesia, tidak akan bisa berbuat ulah. Karena ada teman Teteh, saudara, Koko juga ada kan. Semuanya sudah kenal dia bagaimana, dia tidak akan berani macam-macam. Tapiiii..." kata Ua melirik Koko.


Koko mengangguk. "Kalau Teteh undang dia di acara pernikahan luar Indonesia, dia akan menyebarkan aib Teteh apalagi kalau di luar Indonesia ada yang tidak suka melihat Teteh bersanding dengan si Aa. Orang-orang yang membenci Teteh akan menjadi sekutu dia, wah dia akan merasa kejatuhan durian," kata Koko.


"Kalau Teteh memaksa tetap mengundang dia, kehidupan rumah tangga Teteh akan hancur. Karena dia iri hati sekali sama Teteh apalagi tidak punya hati nurani," kata Ua.


Rita berpikir. Mana mau juga dia membuat hidupnya hancur total hanya karena satu perundung.


"Intinya?" Tanya Rita.


"Kamu boleh undang Ney ini ke pernikahan kamu KALAU di dalam Indonesia. Contoh: Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogya, dan lain-lain. Pulau Jawa, Kalimantan, Papua yang termasuk ke wilayah Indonesia ya. Di luar Indonesia, JANGAN. Bisa-bisa Teteh nanti gantung diri akibat ulah dia yang mempermalukan Teteh," jelas Ua akhirnya selesai.


"Auranya kelam Teh. Asli meskipun saya belum pernah ketemu dia, bicara. Dilihat dari fotonya pun totalitas parah! Dia cocoknya teman yang sama wataknya dengan dia," kata Koko.


"Baiklah! Terima kasih Ua dan Koko atas sarannya. Aku jadi lega, dan ya memang dia tidak mengundangku ke pernikahannya. Aku takut salah undang saja sih," kata Rita bernafas lega.


"Iya, kita mengerti kok. Dia akan terus mengejar Teteh dan berusaha dekat tapi untuk menjatuhkan. Tapi jangan cemas, banyak orang yang akan mematahkan rencananya nanti," kata Koko.


"Siapa mereka?" Tanya Rita.

__ADS_1


"Nanti juga tahu. Banyaaaaaak sekali orang-orang yang tulus menjadi pelindung Teteh termasuk Alex dan orang kepercayaannya," kata Ua tertawa.


"Kenapa Ua dan Koko ketawa terus sih?" Tanya Rita heran.


"Ya habis kalian berdua lucu sih. Nanti kalau sendiri-sendiri jadi serius tapi kalau sudah disatukan, jadi heboh terus kocak. Kalian jadi ada julukan Pasangan Terkocak," kata Ua tertawa juga Koko.


"Apa iya?" Tanya Rita tidak bisa membayangkannya. Dia dan Alex? 🤔🤔🤔


"Pokoknya bodor lah. Satu negara akan banyak ketawa," kata Ua.


"Ya ya ya biarlah, lalu kalau soal teman dekat dan sahabat saya bagaimana?" Tanya Rita.


"Kalau mereka... tergantung dari Teteh. Teteh nya sombong, ya mereka menjauh tapi kalau Teteh seperti biasanya ya mereka akan terus mendekat," kata Ua.


"Menurut Ua apa aku akan berubah jadi orang yang merasa tinggi?" Tanya Rita. Penasaran juga kan karena kebanyakan orang yang sudah memiliki banyak harta bisa berubah.


"Cuek sih. Tidak ada kesan tinggi, pokoknya apapun cueeek sekali. Mau orang bilang apa soal status, gelar, harta yang Teteh miliki nanti ya Teteh mah cuek saja. Sama seperti sekarang. Nanti suaminya posesif sama protektif juga, Teteh nya bodo amat, dianya yang pusing," kata Ua tertawa.


"Oh, baguslah. Jadi mau aku gaya bajunya tabrakan juga bodo amat ya?" Tanya Rita.


Ua mengangguk. Mau kerudung ke arah mana juga, Rita memang tidak peduli. Yang penting dia nyaman. "Ke pesta juga dia mah pakai sepatu kets aduh aduh. Mertuanya kamu yang pusing nanti lihat tampilan kamu. Tapi nanti kamu dikenalnya ya apa adanya kamu sih," kata Ua.


"Lalu kalau aku menikah, Hmmm apa Ua dan Koko akan datang?" Tanya Rita.


"Kalau Ua mah tidak bisa. Kamu harus datang mewakili aku," kata Ua ke Koko.


"Luar negara dan dalam?" Tanya Koko.


"Iyalah," kata Ua.


"Kenapa Ua tidak bisa?" Tanya Rita.


"Kan saya mah jauh Teh, tidak ada hubungan darah. Jadi nanti susah. Koko saja yang datang ya," kata Ua.


"Siap kalau diundang," kata Koko semangat.


"Ya diundanglaaa," kata Rita.


"Jangan cemas kalau Aa tidak setuju. Teteh kan super galak dia mah diam saja nanti," kata Ua tertawa.


"Kalau Ney mengejar saya apa ada kesempatan dia bisa dekat?" Tanya Rita agak tidak yakin.


"Banyak penghalangnya nanti karena mereka tahu bagaimana kisahnya sama Teteh. Dia akhirnya banyak penyesalan sih tapi nasi sudah jadi bubur. Ingat ya, bila nanti dia terbukti menanyakan hal itu, jangan kamu terima. Dia tidak butuh teman hanya pamor," kata Ua.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2