ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
484


__ADS_3

"Kalau kata saya, peruqyah yang asli untuk membuktikan kerja mereka berhasil atau tidak justru harus dilihat dari pasiennya. Bukan malah pamer ilmu di depan orang yang sakit HAHAHA apalagi bisa terbang atau tidaknya. Lalu soal surat Al Jinn itu saya tidak memakainya karena kalau sampai ada orang yang memakai, ada kemungkinan dia ingin mengingatkan si jin tersebut," jelas Koko.


Rita mengangguk setuju dan apa gunanya juga? Kan orang mau di ruqyah untuk mengeluarkan jin bukan untuk sampai di interview segala. Masuk akal.


"Atau bisa jadi sebagai sarana untuk mengangkat dia. Koko jelaskan dulu ya Ruqyah Syar'i itu apa," kata Koko menatap Rita.


Rita menghela nafas, ini nih bagian ini yang akan jadi kelemahannya Rita. Dia lemah sekali mendengarkan pidato yang panjang, bisa-bisa ketiduran.


"Ruqyah Syar'i sekarang mulai bermunculan banyak Teh tapi macam-macamnya juga banyak. Yang saya ingatkan ya Teh, saya pure semua surat yang saya pakai ke semua pasien berasal sari Al Qur'an," kata Koko sambil mengeluarkan secarik kertas dengan isi 15 ayat surat Al Qur'an.


Rita memegangnya dan menatap semua surat itu. Yah, tidak aneh juga karena surat-suratnya memang Rita hapal.


"Sok Teteh bisa cek semua 15 suratnya. Nih, saya sudah pinjam dari Ratih. Sok dikasih waktu 5 menit," kata Koko.


Wokkey, akhirnya Rita memeriksa semuanya dan memang benar ada semua. "Sudah Ko in syaa Allah Koko mah benar," kata Rita. Sebenarnya malas juga sih apalagi kudu mendengar ceramah nya dulu.


Akhirnya Koko mulai menjelaskan lagi semakin lama kedua mata Rita menutup dan...tidur. Koko yang asyik menjelaskan pun semakin sadar kalau dirinya sendirian mengoceh.


Koko menghela nafas dan memijat kepalanya. "Belum juga dimulai ruqyah, nih orang sudah tidur. Woi! Teh, bangun! Kenapa malah tidur sih?" Tanya Koko membunyikan jemarinya.


"Hoaaaa apa? Apa? Sudah?" Tanya Rita merenggangkan badannya.


"Belumlaaaah. Koko kan lagi beri penjelasan eh kamu malah tidur," kata Koko agak kesal.


Rita malaaas sekali. "Ini mau ceramah atau ruqyah sih? Penjelasannya terlalu panjaaaaaang macam kereta api," kata Rita menguap lagi.


"😑😑😑," wajah Koko seperti ini.


"Saya mah tidak tahan kalau dengar orang banyak pidato," kata Rita terus terang lalu mengusap kedua matanya.


Untung eyeshadow dan Glitter nya pigmented. Jadi digosok sekuat mungkin tidak akan rontok. Untuk lipstiknya juga sama tahan lama! Uhuy!


"Hadeuh!! Ya kan saya menjelaskan supaya Teteh mengerti," Kata Koko menatap Rita agak aneh.


"Haaa malas ah! Sudah deh langsung saja prakteknya Ko daripada saya nanti ketiduran lagi. Jangan terlalu banyak teori lah," kata Rita mengibaskan tangannya.


Koko menghela nafas dengan keras. "Kamu tidak penasaran soal asal usul ruqyah? Ini seru lho," kata Koko senyum.


"Nanti bayarnya makin mahal dong," kata Rita mulai menguap lagi.


Koko terdiam dan berpikir. "Iya juga sih. Aneh kamu nih kebanyakan yang saya ruqyah banyak bertanya soal asal usulnya. Batu kali ini kamu doang yang mau langsung prakteknya saja," kata Koko menyiapkan segalanya. Hanya Al Qur'an saja sih.


"Kan aku tahu ruqyah cari-cari dulu di gugel. Dan sejak kuliah juga paling malas dengar banyak ceramah dari dosen. Kan lebih menantang kalau langsung praktek," kata Rita.


"Nah iya aku juga sama lebih suka praktek daripada teori," kata Koko mengiyakan.


"Teori mah mending ditulis saja. Ayolah aku sudah siap nih," kata Rita duduk dengan tegak.


"Hahhh baru kamu sendiri nih yang langsung tidur begitu saya sedang beri penjelasan. Yang lain banyak bertanya sampai saya mengantuk, lah ini kebalikannya," kata Koko tertawa.


"Koko kelamaan aku mulai mengantuk lagi nih," kata Rita memperlihatkan kedua matanya yang mulai menutup.


"Eh eh eeeh jangan tidur lagi dong! Ya sudah, kita langsung saja deh. Jadi saya yang bingung harus bagaimana. Padahal saya sudah siap-siap kalau Teteh banyak nanya, banyak pembahasan lho," kata Koko.


"Tidur nih tidur ya," kata Rita.


"Jangan dong," kata Koko. "Pasti si Malay menghadapi waktu yang sulit dengan Teteh ini. Kasihan," pikir Koko tertawa.


"Koko mirip dosen saya saja di kampus. Banyak teori, sudan langsung praktek saja deh setelah saya kan masih ada pasien lagi," kata Rita.


"Benar juga. Ya Allah, ya sudah. Kamu lagi sholat?" Tanya Koko.


"Iya. Sudah wudhu kok," kata Rita.


"Bagus. Kamu ikuti apa kata saya ya," kata Koko bersiap dengan duduk di sebelah kiri Rita.


"Oke tapi jangan cepat-cepat, pelan ya terus kalimatnya dipotong-potong," kata Rita.


Koko menghela nafas, kali ini juga pertama kalinya diatur supaya tidak cepat membacakan doa.


"Sudah sholat dhuhur kan?" Tanya Koko.


"Sudaaaaah Pak Guruuuu. Buruan deh, Ko


Tidur lagi nih," kata Rita.


"Gustiiiii..." kata Koko bersabarrr.


Di ruangan lain, tepatnya kamar lantai atas Ua mori beserta adik kakaknya tertawa keras sampai mules perut mereka. Ratih dan keluarganya hanya bisa menatap dengan aneh, apa yang mereka dengar ya?


Padahal jarak lantai atas dan bawah itu jauh apalagi atapnya beralaskan keramik dan tembok yang tebal, jadi mana mungkin bisa terdengar kan.


"Ada apa sih Ua? Ketawanya seperti habis dengar stand up komedi," kata Ratih penasaran.


Suaminya pun tidak tahu karena memang tidak bisa mendengar apapun.


"Hahaha haduh haduh kebayang si Koko berhadapan dengan Teh Rita. Super ngakak!" Kata Ua Mori menahan perutnya yang kesakitan.


Sedangkan yang lainnya sudah berlinangan air mata.


"Oh iya kita tadi sempat dengar suara Koko yang tertawanya keras sekali. Itu kenapa?" Tanya Ibunya Ratih.


"Yaa bagaimana tidak tertawa penjelasan dari saudara kamu tuh kocak sekali!" Kata Ua Mori yang secara garis besarnya, Rita menceritakan pengalaman ruqyah yang salah.


Alhasil semuanya tertawa mendengar penjelasan Ua Mori dan ibunya Ryan.


"Duh, kebayang kasihan Koko," kata Ryan yang masih tertawa.


"Ya makanya. Koko yang full logika, lawannya Teh Rita yang full Feeling dan Full Komedian," kata ibunya Ryan yang masih tertawa.


Pindah ke ruangan dimana ruangan itu akhirnya dimasuki dua saksi temannya. Koko isyarat pada mereka untuk membawa baskom, takutnya Rita muntah.


"Bismillahirrahmanirrahim," kata Koko yang masih agak tertawa.


"Tidak afdol ah kalau masih tertawa," kata Rita yang tahu Koko menahan tawa.

__ADS_1


"Ehem!! Oke oke tes tes tes. Sekarang mode serius. Teteh duduknya yang nyaman saja dan yang enak. Kalian seperti biasa berjaga dan taruh baskom nya di sebelah kanan Teteh ini," kata Koko.


"Siap," kata mereka berdua.


Kedua perempuan berkerudung itu memakai baju yang seragam dengan teman yang lainnya di bawah. Kemungkinan mereka adalah kru partner Koko yang bergerak di bidang sama. Mereka jiga mengenakan sarung tangan hitam.


Rita kemudian merubah posisi duduknya, dengan kedua kaki yang mengapit di belakang bagian belakang.



"Nyaman duduk begitu?" Tanya Koko meyakinkan.


"Nyaman lah," kata Rita.


"Kamu tidak akan pegal? Soalnya lama," kata Koko agak kurang yakin.


"Duh, Koko. Ya sudah bersila sajalah," kata Rita akhirnya ganti lagi.



"Hahahaha iya tidak apa-apa lebih baik bersila. Lemaskan badan dan pundaknya, kalau nanti saat saya mendoakan surat lalu ada yang mau keluar, keluarkan. Jangan ditahan ya," kata Koko yang menepuk bahu Rita.


Agaaaak menyebalkan sih, entah kenapa. Lalu ponsel Rita berbunyi. Jelas Koko sebal sudah pasti si Kulex dari Malaysia.


"Teh, eta ponsel paehan lah ( Teh, itu ponselnya matiin lah )," kata Koko dengan sundanya.


"Oke," jawab Rita yang bermaksud langsung mematikan ponselnya. "Ada pesan katanya jangan pegang-pegang," baca Rita.


"Halah! Belum ada hubungan juga sudah posesif. Bilang suruh khodamnya datang dan lihat saya macam-macam tidak," kata Koko agak marah. Diganggu mulu.


"Hah? Serius? Tidak akan berantem tuh?" Tanya Rita bengong.


"Khodam dia itu dibawah saya kalau sama Ua Mori, lebih jauh dibawahnya. Yang Koko juga sedang berjaga semua. Suruh datang saja," kata Koko menantang.


"Mana?" Tanya Rita yang tidak melihat apapun


"Ya masa saya harus suruh mereka menampakkan diri? Yang ada Teteh kabur, ruqyah tidak jadi, pemasukan saya berkurang," kata Koko agak bete.


Rita dan kedua saksi tersebut tertawa keras. Jangan aneh dengan ya g ada di lantai atas.


"Pemasukan berkurang. Sudah nih aku matikan saja, memang dia itu agak aneh. Cemburu tidak beralasan," kata Rita membuat Koko menepuk kan dahinya.


"Kalau dia cemburu tandanya dia sayang Teteh. Sudahlah!" Kata Koko terpaksa duduk di posisi awal.


"Datang?" Tanya Rita.


Koko memejamkan kedua matanya lalu berada di posisi meruqyah Rita. "Hmm dia agak cemas, sudah datang tapi tidak bisa masuk. Biarlah, majikannya itu tahu kalau cemburu terlalu berlebihan," kata Koko memikirkan sesuatu.


"Huuh tukang cemburuuuu," kata Rita mengejek.


"Hahaha Teteh tidak peka ya sama laki-laki," kata Koko menghela nafas. Ua Mori mengiyakan.


"Lanjutkan sajalah Ko, biarkan saja dia," kata Rita.


"Oke. Sebelum mulai kita taawudz dulu ya. Ikuti saya, Teteh baca sambil memejamkan kedua matanya ya. Auzubillahis sami il alim minassysyaithonirrojim," kata Koko memulai.


"Allahumma inni audzubika minasysyaitha nirrajimi," kata Koko dengan pelan.


"Allahumma inni audzubika minasysyaitha nirrajimi," kata Rita.


"Min hamzihi wanaffkhihi wanafatsih," kata Rita masih dengan perasaan yang tenang.


Kemudian dilanjutkan dengan bacaan Basmallah lalu Koko berpindah tempat ke kanan, lalu ke belakang sambil memegang dahi Rita dan memijat dengan pelan.


"Punten ya Teh," kata Koko.


Dimulailah Koko membaca surat Al Baqarah ayat 102, dengan pelan dan berirama. Lalu menyambung surat Al A'raf ayat 117-122, Yunus ayat 81-82 dan Thaha ayat 69 ini semua adalah surat-surat penghancur sihir, takutnya ada seseorang yang mengirimkan sihir pada Rita.


"Kalau memang ada sihirnya, akan terasa sesuatu yang menyengat itu diartikan sebagai yang dikirim oleh seseorang keluar lalu menghilang. Apa ada yang sakit?" Tanya Koko.


"Hmmm tidak ada," balas Rita karena memang tidak ada.


Kedua saksi agak lega mendengarnya namun mereka tetap harus waspada. Koko mulai melanjutkan bacaan dan entah kenapa suaranya menjadi keras, dan agak mengganggu.


Padahal Koko tahu Rita menyukai bacaan surat Al Qur'an. Dan tanda terganggunya Rita itu terasa olehnya. Lalu Rita merasakan sepertinya Koko mendorong bahunya dan semakin menurun.


Saat turun, sontak Rita melawan karena takut jatuh ke belakang.


"Jangan ditahan Teh," kata Koko.


"Takut jatuh nanti," kata Rita yang masih menutup kedua matanya.


koko menghela nafas kalau begini terus susah dikeluarkannya si jin jun nya.


Karena takut, salah satu saksi maju ke depan. "Saya bantu ya Ko," ijinnya.


"Boleh," kata Koko.


"Teh, tenang saja. Saya tahan badan Teteh. Lemas kan badannya tenang A Koko tidak akan sengaja membuat Teteh jatuh," kata salah satu saksi itu.


Meskipun takut akhirnya Rita melemaskan semuanya dan tidak melawan lagi. Alex agak ketakutan dan cemas, tapi dia tidak mampu menembus pelindung yang Ua Mori beserta saudaranya buat. Alex hanya bisa menunggu.


Tempat lain, Fernando telah mengirimkan paket tersebut ke keponakannya dan meminta tolong mengirimkannya ke tempat Rita berada. Meskipun banyak pertanyaan, keponakannya mengiyakan dengan suapan diberi tas Channel.


Lalu Alex menambahkan sebuah kertas pesan bertuliskan: Kalau Tidak Suka, Bakar Saja! Membuat keponakan Fernando sangat aneh.


"Mana ada orang yang berani membakar hadiah dari seorang Alfarizki," gumamnya di telepon berkontak dengan pamannya.


"Ada. Dan perempuan itu sangat berani melawan Tuan Muda, mana bisa membuatnya koma juga. Tampaknya perempuan ini sangat berbahaya," katanya mengerutkan keningnya.


"Hahahaha mana ada. Aku jadi penasaran bagaimana kalau aku bertemu dengannya saja?" Tanya keponakannya.


"Jangan. Aku melarang mu. Paman takut kamu kena serangan jantung juga. Pokoknya kirimkan saja dan ingat. Jangan pernah kamu sekalipun penasaran dan ingin bertemu dengannya," kata Pamannya.


"Ya ampun, Paman. Paman percaya dengan Haryaka? Dia kadang suka lebay lho. Coba Paman tanyakan pada adik, Syakieb kan sudah pernah bertemu," kata keponakannya tertawa.

__ADS_1


"Sudah. Katanya dia perempuan yang sangat galak," jawab Fernando membuat keponakannya tertawa sangat keras.


Kembali ke ruangan dimana Rita di ruqyah dalam prosesnya. Saat tangan Koko berpindah ke bahu kiri Rita, tiba-tiba tanpa ada peringatan dari Rita nya sendiri, tangan kirinya mencengkram tangan Koko.


"Lho? Lho? Kenapa nih tangan aku? Haloooo," pikiran Rita kebingungan.


Jadi alam sadarnya Rita kini terbagi menjadi dua. Yang aslinya masih ada dalam tubuhnya sendiri tapi kesadarannya, terbagi dua. Aneh tapi nyata! Oh, seperti inikah memiliki dua kesadaran?


Saksinya kaget memandangi Rita yang masih tampak tidur. Lalu tangan kirinya berusaha mencekik leher Koko untungnya Koko bisa menghindar dan memukul tangannya.


Saksi yang membantu Koko juga kena. Tangan kanan Rita berusaha mencekiknya dengan wajah Rita yang santuy.


"Ko!!" Teriak saksi itu.


"Keluar, Pri! Tahan! Dia tidak akan terlalu bisa mencekik," kata Koko yang memegang erat bahu Rita.


"WADDDUUUH," Teriak Rita dalam kesadaran yang lain. Dia merasakan kedua tangannya menggapai tapi itu bukan dia.


"UHUK UHUK!!" Mulut Rita terbatuk-batuk seakan kering sekali.


"A Koko?" Tanya saksi yang lain.


Dia melihat Rita seperti sesak nafas. "Aish, kenapa juga aku batuk-batuk?" Tanya Rita dalam penampakan rohnya memandangi ketakutan dirinya sendiri yang bisa bergerak.


Koko tahu itu bukan Rita. "Terus serang. Yang batuk itu bukan Teh Rita. Jangan lengah! Bacakan ayat kursi," perintah Koko.


Kedua saksi itu kemudian berdoa dengan suara yang keras tepaaaatt di telinga kanan Rita. Karena telinga itu semacam terompet bagi Rita.


Rita tahu ada sesuatu yang mulai muncul, dia melihat wajah putih yang tua dengan mata putih dan akar syaraf berwarna hitam. Mulutnya mengeluarkan darah hitam ( jangan dibayangkan kalau takut ).


"Hiiih, itu apaaa?" Pikir Rita yang melihat penampakan.


Tiba-tiba kedua tangan Rita kaku. "HENTIKAAAAAAAAAAANNNN!!!!!!!" Teriak jin kampret dari dalam diri Rita.


Suaranya bukan Rita hanya mereka bertiga yang bisa mendengarnya. Rita tidak tahu, rohnya masuk ke dalam tubuhnya dan tersadar. Gemetaran dengan hebat lalu sesak nafas.


Mereka berdua lalu menenangkan Rita, saksi satunya membelai punggung Rita yang melemah. Rita merasa energinya setengah habis, kepalanya sakit sekali semacam vertigo. Lalu mual seperti lambungnya kosong.


Rita mengacungkan tangannya untuk berhenti. Suaranya hilang, kedua tangannya gemetaran hebat.


"Ehem! ke...na...pa ya.. Su..a...ra..." kata Rita agak serak.


Koko memberikan minum agak cemas, mungkin sudah terlalu keras dan memaksa. "Teh, minum dulu," kata Koko.


Rita memandangi baju Koko yang sudah penuh dengan keringat. Juga dengan sakai yang di sebelah, seperti habis lari maraton.


"Fiuh, kamu tidak apa-apa?" Tanya Koko.


Rita tidak menjawab, dia melihat kedua tangannya tidak mau berhenti gemetaran dan tubuhnya mendadak dingin.


"Aku mati tidak ya?" Tanya Rita agak seram.


"Ya Allah, tidak lah kenapa?" Tanya Koko agak cemas.


"Tangan dan badanku dingin," kata Rita dengan suara yang serak.


Saksi itu kemudian memegang tangan dan badan Rita memang iya. Dingin. Mereka lalu agak cemas.


"Ko, sepertinya ini bahaya kalau terlalu dipaksakan," kata saksi yang kedua dengan air kata yang berlinangan.


Koko terdiam, sepertinya Rita memang kuat tapi kalau dipaksa keluar bisa fatal. Ua Mori juga segera bangkit dan keluar kamar, mengetahui kondisi Rita dalam bahaya.


"Kamu ambil garam di tas," suruh Koko.


Satu saksi keluar sempoyongan. Dan berpapasan dengan Ua Mori yang berwajah serius.


"Kamu terasa tidak Teh tadi?" Tanya Koko menenangkan.


"Soal apa? Yang Rita lihat hanya rita sepertinya keluar dari badan ya terus leher kalian berdua kena cekik," jelas Rita agak cemas juga.


Koko agak sedih, takut juga cemas sekali. "Tenang Teh, itu reaksinya. Teh? Teh?" Tanya Koko menjentikkan jarinya karena Rita seperti kosong matanya.


"Yaaa..." kata Rita tersadar.


Koko menghela nafas, Jin peyot itu melakukan perlawanan dengan menjadikan Rita sebagai pelindungnya. Akibatnya dia mengambil banyak energi Rita sebagai ancaman pada Koko.


"Sekarang kesadaran Teteh dan jin peyot itu terbagi menjadi dua dengan keadaan yang berbeda," kata Koko.


"Sebentar Ko," kata Rita butuh rehat sejenak.


Koko terdiam menatap sedih pada Rita, hari ini akan jadi hari terberatnya tapi tidak ada jalan lain. Lima menit akhirnya Koko melihat wajah pucat Rita kembali biasa karena jin peyot itu tertawa menang.


Setelahnya Koko mulai menjelekkan, menghina dengan kata-kata kasar tapi itu ditujukan bukan untuk Rita tapi jin peyot yang mengambil alih kesadaran Rita. Apapun Koko katakan, hanya dibalas dengan wajah datar.


Di luar kamar, saksi teman Koko ditanyai banyak orang termasuk Ua Mori. Tyas sudah datang bersama dengan temannya dan menunggu.


"Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Ryan yang menatap temannya Koko terengah-engah.


"Tadi keluar. Saya kaget karena dia berusaha mencekik saya dan Koko," jelasnya yang duduk agak ketakutan.


"Waduh!" Kata Ratih.


"Terus kenapa kamu keluar?" Tanya Tante Wina sambil memberikan air minum.


"Saya disuruh a Koko untuk mengambil garam di bawah," kata saksi itu lalu bangkit dan hendak pergi.


"Jangan. Tidak akan ada gunanya," kata Ua Mori menatap serius ke dalam ruangan itu.


"HAH!?" Tanya mereka semua kecuali ibu Ryan dan adik kakaknya.


"Lalu, saya harus bagaimana? Dan lagi badan Teteh itu dingin saya tadi sempat periksa," kat saksi itu agak menangis.


"Astagfirullah," ucap semuanya.


Ua Mori tahu akan sangat berbahaya sekali untuk Rita. Jin peyot itu sangat licik dia tahu kelemahan mereka semua adalah Rita.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2