ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(349)


__ADS_3

"Saya janji semuanya akan kembali seperti biasanya jadi kalian masih mau kan bekerja di Cafe ini?" Tanya bos pada semuanya.


Yen menatap yang lain. "Bos, saya mewakili yang lain. Kita akan kembali bekerja asalkan... bukan istri Bos yang jadi Asistennya. Habis... selama ini kan siapapun yang jadi Asisten baik - baik saja," katanya sambil berhati - hati.


"Kamu ya!" Kata istri bos yang marah.


"Cukup! Memang kamu yang salah. Sebelum kamu gabung mereka semua baik - baik saja. Tenang saja besok hari semuanya akan kembali semula dan kamu lebih baik cari pekerjaan diluar saja jangan tempat saya!" kata Bos dengan galak.


Rita dan semua karyawan kembali menghela nafas begitu juga dengan 2 pegawai lelaki yang terkena guyur air selokan. Luka yang diderita Rita pun meskipun hanya sehari tapi sudah terlihat sedikit lagi menutup. Aneh kan tapi memang Rita juga sedari dulu merasa aneh, seluka apapun mau lebam, jatuh sampai robek kulitnya, dimanapun, selang 3 hari pasti langsung kembali seperti semula. Hanya Rita tak ingin membuat semuanya merasa aneh kepadanya jadi dia tambahkan sedikit cairan Betadine agar terlihat.


"Lalu untuk asistennya apa mau saya panggilkan Ney lagi?" Tanya Rita bertanya.


"Ah, jangan jangan sebenarnya saya kurang nyaman sama dia juga. Saya sudah membuat keputusan bersama Apollo, Asisten ke satu adalah Sona dan Asisten kedua yaitu Rita,"


Mereka berdua terkejut mendengarnya apalagi Aura. "Kok diganti? Saya bagaimana? Mereka tahu apa soal pekerjaan asisten?" Tanya Aura keberatan.


"Biar Apollo yang akan mengajari mereka berdua. Kamu bisa kan?" Tanya bos pada Apollo.


"Bisa." Kata Apollo dengan tegas. Sona tampak senang tapi tidak dengan Rita, dia merasa tidak nyaman.


"Pekerjaan Sona dan Rita sama kok, jadi atur saja ya kalian berdua," kata bos memandangi mereka berdua.


Sona dan Rita mengangguk yah setidaknya ada Sona kekasihnya yang bisa memberi pekerjaan pada Rita asalkan dia tidak dekat - dekat dengan Apollo. Mungkin karena Rita kurang nyaman dengan badan kekarnya, dalam pikirannya badan lelaki yang kekar pasti hormon gesek - geseknya lebih besar lagi. Dan setelah tahu Sona kekasihnya, Rita pun lega.


"Tenang saja biar aku yang belajar teorinya seperti apa nanti aku jelaskan kamu harus apa. Kita bagi dua saja pekerjaannya biar cepat selesai," kata Sona berbisik pada Rita. Rita setuju.


"Saya sangat kecewa sekali sama kamu Aura yang ternyata bekerjasama dengan istri saya ini. Saya juga melihat kamu kurang netral kepada siapapun. Saya yakin istri saya membawa batu bata karena kamu yang memberinya ide bukan dan entah kenapa, apa alasannya saya tidak tahu membuat istri saya melemparkan bata itu kepada Rita," kata bosnya geram. Padahal Rita baru sembuh lalu diberi lagi lemparan seperti itu.


Aura menunduk sedalam - dalamnya. Dia hanya bermaksud membuat Rita takut saja karena dia merasa Rita seperti akan menentangnya. Sama sekali tidak menyangka kalau istrinya ternyata menjadi meledak dan melemparkan bata itu kepadanya. Aura menangis wajah ayunya sekarang berubah.


Yang lain hanya terdiam mendengarnya, sangat disayangkan padahal Rita sangat menyukai Aura ternyata hanya topeng saja. Dan Aura memiliki rasa tidak suka pada Rita, seingat Rita dia tidak pernah tidak menurut perintahnya. Lalu karena apa?


"Saya juga baru tahu kalau kamu mempergunakan posisi kamu seenaknya di luar Cafe, kamu banyak menyebarkan berita bohong mengenai Cafe ini tapi berhubung kamu banyak bekerja Cafe ini dengan baik, saya tidak akan mengeluarkan kamu. Mulai besok sampai saya rasa cukup kamu akan menjadi pegawai depan menggantikan posisi Rita dan Sona. Dan Rita sepertinya saya butuh kamu beberapa bulan lagi disini. Tidak apa - apa? Tenang saja lamu tidak akan banyak bertemu pelanggan," kata Bos meminta persetujuan.


"Yah, kalau begitu sih oke saja bos," kata Rita tersenyum. Jadi Asisten sebenarnya memang lebih enak tapi saat berhadapan dengan data - data hitungan, itu yang membuat Rita pusing tapi untung saja ada Sona.


"Bagus! Sekarang kalian libur saja dulu, besok kita kembali bekerja semoga para pelanggan kembali lagi ya." Kata bos mengakhiri rapatnya. Istrinya terus saja meminta kesempatan pada bos tapi tentunya ditolak. Lalu masa kerja Rita pun diubah ditambah menjadi 3 bulan. Soal dirinya praktek pun ternyata diundur menjadi bulan September. Alhamdulillah, rejeki memang tidak kemana. Rita pun antusias menerima perpanjangan kerjanya dan Sona senang bisa bekerja bersama lagi.

__ADS_1


Malamnya, setelah Rita pulang dari kuliahnya Ney menghubunginya dan menanyakan soal Cafe. Rita menjelaskan dan membuat Ney semakin cemburu.


"Rita, jadi bagaimana?" Tanya Ney yang menjapri dirinya.


"Maaf, Ney. Asisten sudah penuh semua dan bos mengubah posisi aku. Aku dan Sona menjadi asisten," balas Rita.


"HAH!? Lalu Mbak Aura bagaimana? Dipecat? Lalu memangnya kamu bisa Marketing?" Tanya Ney kaget.


"Aura tidak dipecat hanya diturunkan jabatannya menjadi pegawai depan. Soalnya kan pekerjaan dia sebagai asisten bagus hanya saja ternyata dia berkomplot sama istri bos apalagi yang menyuruh istrinya membawa batu bata," kata Rita yang duduk selonjoran di lantai kamarnya.


"HAH!? KAMU LUKA?!" Teriak Ney.


"Iya. Nih," Rita lalu memfoto dahinya lalu dikirim.


"Serius!? Wah parah! Tuh kan, benar menurut aku ya Aura ini tuh sebenarnya jahat lho. Kamu tidak sadar? Nampaknya kamu malah senang dekat dengan Aura," kata Ney.


"Aku tidak tahu kalau ternyata dia ada masalah denganku. Padahal aku selalu nuruti semua perintah dia lalu dimana salahnya?" Tanya Rita aneh.


"Ya kamu jangan terlalu percaya deh sama orang. Belum tentu yang dekat sama kamu juga bakalan lebih memahami kamu, apalagi Aura kan cuma rekan kerja," kata Ney yang tidak sadar kalau dia membuka kartunya sendiri.


"Yang sudah lama kenal juga belum tentu memahami. Begitu?" Tanya Rita memancing Ney.


"Oh... berarti aku juga harus hati - hati ya sama kamu. Kan kamu sudah lama banget kenal sama aku bahkan sampai sekarang saja kelihatannya kamu tidak kenal aku," kata Rita.


"Ho oh," lalu Ney berhenti. Dia merasa seakan sudah salah menjawab perkataan Rita lalu memeriksa kembali. Dan sadar kalau dia sudah menjawab secara tidak sadar apa isi chat dari Rita. Rita, sisi lain langsung mengerti dan yah, dengan Ney pun harus hati - hati. Dan Ney menepuk dahinya yang sudah terlanjur menjawab. "Lalu siapa yang akan ajari kamu marketing? Memangnya Sona itu bisa dipercaya? Kenapa tidak aku saja sih?"


Ney berusaha mengalihkan topik karena dia tak mau keceplosan lagi. Rita juga tahu karena memang begitu Ney kalau sudah merasa terpojok.


"Oh, itu ada Apollo. Sona dan aku membagi pekerjaan, biar dia yang berhadapan dengan Apollo. Aku mengerjakan yang lainnya, yaaay!! Akhirnya tidak perlu melayani pembeli lagiiii!!" Kata Rita sangat senang sekali.


Ney kesal sekali, dia tidak terima kalau Rita senang. "Kamu masih belum tahu kalau Sona dan Apollo itu..."


"Mereka sepasang kekasih kan?" Tanya Rita.


"Kok tahu!" Kata Ney yang lemas. 'Yah, tidak bisa aku kasih info lagi nih.' Pikir Ney. Dia lalu merasa tidak berminat lagi bicara dengan Rita saat semua info yang dia punya, Rita sudah tahu.


"Yah mereka berdua berpelukan waktu ada kejadian sama istri pemilik cafe sih," kata Rita. Ney membacanya dengan melongo, ada juga kejadian seperti itu.

__ADS_1


"Wah! Lalu?" Tanya Ney penasaran. "Kelihatannya kamu tidak suka Apollo ya? Karena mirip Alex badannya?" Tanya Ney.


"Mirip? Kamu bisa lihat tubuhnya Alex? Itu kan tidak sopan, Ney," kata Rita yang agak sebal.


"Iya. Badannya Alex bagus bangeeet.. Roti sobek gitu terus kulitnya putih," kata Ney yang nampak ngiler membayangkan.


"Woi woi kendalikan dong kemampuan kamu. Pakai untuk kebaikan bukan untuk mengintip. Mata kamu nanti bintitan lho," kata Rita.


"Ya aku mana mau sih tapi sekalinya penasaran ya aku bisa lihat. Memangnya kamu tidak bisa? Kemampuan kamu kan lebih besar dari aku, Rita sayang banget kalau tidak digunakan," kata Ney agak iri.


"Tidaklah. Alhamdulillah aku tidak pernah merasa penasaran sama badan orang, itu kan tidak sopan. Kita diberi mata sama Allah swt masa dipakai buat yang sembarangan. Aku tidak pernah memakai itu semua, yang perlu aku pakai ya aku gunakan tapi untuk kebaikan. Tidak pernah aku pakai untuk diri sendiri, kebanyakan ya orang lain. Syukurlah mataku tidak kotor untuk mengintip area privasi orang," sindir Rita entah Ney sadar apa tidak.


Tentu saja Ney tersindir karena matanya selama ini memang begitu tampaknya sama dengan Alex. Rita tidak pernah kepo dengan kehidupan, harta atau tubuh seseorang. Dia hanya penasaran dengan makanan🤣🤣🤣.


"Kenapa sih tidak kamu pakai saja? Kamu punya juga kan itu tandanya Hadiah," kata Ney.


"Kamu tidak tahu? Apapun yang Allah swt beri ke kita, itu semua ujungnya ada pajaknya lho jadi aku sih lebih memilih tidak digunakan," kata Rita.


"Pajak bagaimana? Allah itu kan baik Rita, masa perhitungan sama Umatnya?" Tanya Ney tidak percaya tapi dia menyadari Rita kan kuliahnya di kalangan pesantren.


"Iya memang begitu. Memang perhitungan, Allah beri kamu kemampuan meramal ini contoh ya. Nah saat kamu sadari bisa meramal, Allah swt secara otomatis ingin tahu kamu pakai itu untuk siapa? Diri sendiri, orang lain, atau alam? Untuk kebaikan atau kejahatan? Amanah atau tidak? Kalau ternyata kamu pakai untuk diri sendiri, kepentingan kamu dan tidak amanah, ya pajaknya di tagih nanti saat kamu meninggal," kata Rita menjelaskan. Dia juga baru mengerti sewaktu pelajaran Mengenai seluk beluk Allah swt di kampusnya.


"Hah? Aku baru tahu," Ney terdiam di kasurnya.


"Ya aku juga baru tahu untungnya sih aku tidak pernah pakai itu. Kalau soal melihat pun itu kan secara otomatis saja keluar bukan aku yang mau," kata Rita.


"Ya aku juga sama kok. Lalu kalau begitu kebalikannya aman dong," kata Ney yang langsung berpikir.


"Sama saja. Tidak begitu juga ujungnya saat meninggal akan ditanya semua. Semua yang kita lakukan mau yang normal tanpa kemampuan Gift dengan yang punya, semuanya akan dipertanggung jawabkan nanti saat meninggal. Aku pikir tidak ada Gift pun, dosa aku sudah numpuk masa mau aku nambah lagi dengan menggunakan Gift sih? Ogah amat!" Kata Rita.


Namun Ney tidak membalas lagi, tampaknya dia jadi ketakutan juga apalagi banyak yang dia pergunakan untuk kepentingannya sendiri. Rita hanya terus mengirimkan pemikirannya dalam WhatsApp.


"Tapi kalau kata kamu tiba - tiba bisa melihat otomatis tanpa direncanakan ya itu bisa jadi yang Allah swt nampaknya untuk memperingatkan. Asalkan jangan kamu yang sengaja saja Melihat lalu menggunakan yang lainnya dengan bertujuan dapat informasi. Woi Ney?" Tanya Rita.


Setelahnya Rita tidak peduli yang penting dia secara langsung sudah memberi Ney peringatan saja. Apalagi saat dia memberitahukan mengenai gambaran tubuh Alex, Rita sama sekali tidak tertarik. Mau peyot pun apa urusannya membayangkan tubuh orang asing. Itu sih mana ada yang langsung 'keluar' kalau orangnya sendiri yang ingin 'melihat'. Jadi Rita tidak percaya kalau kemampuan Ney yang bisa melihat tubuh Alex itu murni otomatis.


"Oh ya satu lagi, kemampuan bisa melihat badan orang itu bukan dari keinginan Allah swt ya. Mana ada Tuhan kita mesum itu sih ada kemungkinan kamunya saja yang otaknya agak kotor makanya niat mengintip badan orang. Kemampuan yang Allah swt keluarkan secara otomatis pada kita, semuanya untuk kebaikan bukan mesum. Noted!" Kata Rita mengakhiri chatnya.

__ADS_1


Rita tahu pesannya itu terkirim karena terdapat centang dua berwarna biru. Ney memang membacanya, dia sebal sekali, kalau saja dia tahu dari awal ada 'Pajak'nya, dia tidak akan tenggelam menggunakannya. Dan memang benar niatnya sangat kepo melihat tubuh Alex dan... yah dia bisa melihatnya. Alex pun marah sekali pada Ney, kalau Rita mau melihatnya Alex akan lebih sumringah namun ternyata Rita sama sekali tidak berminat.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2