
"Lah, sudah sampai. Ya sudah deh, mumpung sudah sampai juga sekalian di cek saja!" kata Arnila yang mau bagaimana lagi.
"Memangnya bisa diperiksa dia benar-benar mau Ke Malay apa tidak?" Tanya Rita.
"Bisa dong! Nanti aku deh yang nanyain. Yuk masuk!" Ney memberi arah pada mereka berdua. Lumayan banget mereka jalan menuju bandara. Dari gerbang utama sampai masuk itu lumayan jauhnyaaa.. untung air minum yang mereka masih ada. Dan akhirnyaa...
"Duh, capek bangeeet! Jarak dari gerbang ke dalam sungguh terlalu!" Kata Rita yang berkeringat.
"Ini sih sekali olahraga siang!" Kata Arnila yang menghabiskan air minumnya.
"Banget!" Kata Ney yang berjongkok.
"Mobilnya masih ada?" Rita mencari tahu. Dan memang ada, langsung paman Alex dan bule muda itu keluar mobil sambil membawa paket yang Rita berikan. "Hei, mereka keluar!"
Langsung Arnila dan Ney mencari tempat persembunyian agar tidak ketahuan. Mereka berjarak sekitar 2 meter dari belakang mereka. Mereka seakan sangat terburu - buru dan menuju gedung pembelian tiket pesawat.
"Sepertinya benar deh mereka mau ke Malaysia," ucap Arnila sambil melihat ke arah mereka masuk.
"Belum tentu. Ayo!" Ney memaksa mereka mengikutinya. Rita sudah malas sekali ini terlalu jauh ya mengikuti mereka tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjut juga sih. Mereka juga lalu masuk ke gedung utama itu. Kalau hanya untuk mengantar, ternyata masuk ke berbeda pintu. Sedangkan yang mau bepergian pintunya ada di sebelah kiri. Tempo mereka bertiga masuk, berbeda 10 menit dengan paman dan bule muda itu.
"Eh, eh, apa mereka tidak merasa ya kita mengikuti?" Tanya Rita yang penasaran.
Ney dan Arnila berhenti berjalan. Benar juga tapi dari gelagat mereka berdua di depan sepertinya mereka tidak curiga. Mereka berhenti berjarak 2 meter takutnya mereka ketahuan. Sebenarnya mereka sudah sadar kalau diikuti oleh mereka bertiga. Bule muda itu menyadarinya juga dan mengatakannya pada lelaki gagah itu.
"Let it be. They may not believe that we are connected to Mr Alfarizki ( Biarkan saja. Mereka mungkin tidak percaya kalau kita terhubung oleh Mr. Alfarizki )." katanya sambil tertawa.
"Indonesian people are really troublesome ( orang Indonesia benar - benar merepotkan )," omel bule muda itu kepada orang gagah.
"You really don't like Indonesian? Even the girl? They are so cute ( Kamu benar - benar tidak menyukai orang Indonesia? Bahkan perempuannya? Mereka sangat manis ),"
Bule pirang itu mendengus mendengar kata Indonesia oleh telinganya. "Nothing good about them ( tidak ada bagusnya tentang mereka )," katanya sambil memainkan jas bekerjanya.
"Let them follow us. It's their right after all they can't follow us all the way to Malaysia right ( biarkan mereka mengikuti kita. Itu hak mereka lagipula mereka tidak bisa mengikuti kita sampai ke Malaysia kan )," kata paman itu sambil menyerahkan pasport mereka pada petugas tiket. Kemudian dengan berjalan santai mereka menuju lantai atas yaitu ke arah bandara pesawat.
"Sepertinya mereka tahu deh," kata Arnila. Ney tidak perduli lalu berbicara pada petugas sana. Rita dan Arnila pun mendekati Ney dan mendengar apa kata mereka.
__ADS_1
"Kak, orang yang tadi mau pergi ke mana ya?" Tanya Ney dengan sopan.
"Oh, mereka menuju Malaysia. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugasnya.
"Untuk urusan apa ya?" Tanya Ney.
"Urusan bisnis seperti biasanya. Bos mereka orang Malaysia. Adek ini siapanya ya?" Tanya petugasnya itu.
"Oh, kita temannya," jawab Ney. Mereka cemas takutnya mereka ketahuan berbohong tapi kemudian...
"Oh, temannya saat di Indonesia ya. Aneh tumben sekali Mr. Syakieb punya teman perempuan. Biasanya kalau di Indonesia sedikit sekali yang bisa berbicara dengan dengan yang tadi," jelas petugas itu. Langsung mereka bertiga bengong mendengarnya.
"Ada apa ya?" Datanglah petugas cantik lainnya mendekati Ney dan kawan - kawannya.
"Kami hanya ingin bertanya apa benar orang yang tadi menuju Malaysia? Urusan bisnis?" Tanya Rita yang ingin lebih tahu.
"Iya benar. Sudah biasa beliau bolak balik Indonesia Malaysia untuk menerima tugas dari bosnya dari Malaysia. Pasti kalian tidak percaya ya? Saya bisa menjamin kalau beliau memang bekerja di Malaysia," jawab petugas kedua sambil tersenyum.
Mereka langsung bernafas lega sebelum mereka memutuskan untuk pulang, Arnila kembali untuk menanyakan sesuatu. Ney dan Rita akhirnya mengikutinya lagi.
Kedua petugas itu lalu tertawa dengan pelan. "Karena sudah biasa. Banyak sekali perempuan muda seperti kalian yang menanyakan soal Tuan Syakieb bahkan ada juga lho yang sampai mengikuti mereka ke Malaysia. Tuan Syakieb banyak penggemarnya jadi kamo semua sudah terbiasa,"
Mereka kaget dan bengong mendengar jawabannya. Ada satu hal yang ingin Rita pastikan. Jadi dia juga menuju tempat tiket lagi, bersama dengan Ney dan Arnila yang bergantian mengekornya. "Apa kalian kenal siapa Alex Alfarizki?"
Kedua petugas itu tersenyum, "Oh, itu anaknya Tuan Alfarizki, Bos besar yang tinggal bersama keluarganya di Malaysia. Kabarnya setiap 3 bulan sekali, mereka akan pulang ke Jepang dimana itu adalah tempat kampung ayahnya. Apa Nona temannya Tuan Alex?"
Tampaknya mereka juga kenal sekali dengan anaknya. Tampak kedua wajah mereka berseri - seri. "Apa Alex itu playboy?" Tanya Rita dengan hati - hati.
"Tidak. Anaknya sangat baik disini juga banyak yang menyukainya sebagian perempuan yang bekerja disini ada juga yang sampai kelewatan menggodanya. Tapi dia tidak playboy memang mungkin karena wajahnya yang super ganteng. Tapi dia sangat baik, tenang saja kalau dia berbuat kurang ajar, jewer saja kupingnya," bisik petugas itu sambil tertawa.
Rita terkejut mendengarnya lalu tertawa juga. Akhirnya mereka keluar dari gedung itu. Mereka bernafas lega setelah mendengar penjelasannya.
"Kan? Benar kan dia memang pamannya Alex," kata Rita. Ney banyak berpikir mendengar penjelasan petugas tadi dan memandangi Rita dengan wajah yang iri. Dia tampak menyesal soal dia yang menyerah akan Alex dan tetap saja Rita lagi yang dekat dengannya.
"Alex playboy sepertinya ada penyebabnya deh," kata Arnila.
__ADS_1
"Iya karena mereka bilang banyak yang suka dan orangnya baik," sambung Rita. Ney tidak banyak berkomentar dari situ juga dia dapat info kalau lelaki yang tadi memang banyak penggemarnya tapi dia berpikir sangat beruntung bisa mengobrol dekat dengannya apalagi dia punya nomornya.
"Menurutku aku beruntung ya bisa ngobrol dengan Tuan Syakieb. Jadi itu namanya hehehe," Ney tertawa penuh arti.
"Ya ya ya dapat namanya juga kan. Semangat ya kalau nanti kamu kecewa atau apa - apa jangan ngomel," kata Arnila.
"Sepertinya aku jatuh cinta deh sama pamannya Alex," Ney kemudian memegang kedua pipinya dengan semangat. Pemandangan yang tak biasa menurut mereka.
"Nanti kamu kecewa," kata Arnila.
"Terus nangis - nangis," sambung Rita.
Mendengar itu, Ney bete banget tapi karena sudah dapat nomor dia tidak peduli. "Siapa tahu dia jodoh gue,"
"Kamu berkali - kali bilang begitu tetap saja balik lagi ke Dins," kata Rita mengingatkan. Memang iya sih berkali - kali Ney jatuh cinta dengan siapapun tetap saja cintanya jatuh lagi sama Dins.
"Tapi kali ini aku serius! Cintaku yang terakhir akan berlabuh di sini. Kalau jadi kan enak Rita, kamu sama Alex, aku dengan pamannya kan jadi saudara nanti kita. Kalau Arnila mau sih mending kamu cari yang relasi sama Alex tapi sepertinya sih tidak mungkin," kata Ney. Rita kembali memelototkan kedua matanya ke arah Ney namun dia sama sekali tidak peduli. Arnila hanya menundukkan wajahnya dengan sedih.
"Loh kenapa bisa saja kalau Arnila tidak jadi dengan Imron," kata Rita yang berusaha membela Arnila.
"Pasti sama Imron, Ri sudah kepalang cinta mati kan. Toh Imron tidak sekaya pamannya Alex pasti apalagi dengan Alex sendiri. Jadi lebih baik dia cari teman lain saja. Aku sudah pasti sih dekat sama kamu. Oh iya kamu kembali lagi saja sama teman - teman kamu yang norak itu!" Ney lalu menari - nari sendiri di depan.
Rita menatap Arnila yang kedua matanya sudah berkaca - kaca. Hampir mau menangis dan Rita kebingungan. "Kalau kamu sudah tidak mau berteman dengan Arnila, sama aku saja. Aku tidak akan melempar teman yang sebaik seperti kamu,"
Arnila tersenyum meski dirinya sudah hampir menangis. Suatu saat nanti, Ney akan memakan omongannya sendiri dan dia akan ditinggalkan oleh banyak teman.
"Ya ya ya terserah kamu saja deh. Aku sih sudah pasti tidak akan setara sama kamu, Nil. Maaf ya," kata Ney yang langsung jalan dengan genit.
"Belum pasti toh, dia kan tidak tahu kenyataannya makanya kamu tidak berhak memberitahukannya. Biar dia tahu dengan kedua matanya sendiri," kata Rita menenangkan Arnila.
"Tidak apa - apa, Ri sudah biasa. Kamu tidak tahu sesakit apa aku berteman sama dia. Seperti yang selalu kamu bilang, dia memang tidak punya hati dan perasaan. Kayanya aku juga mau mulai menjaga jarak deg sama dia. Dulu aku lebih sering diinjak - injak sama dia, dia tidak sadar saja selama ini siapa yang selalu ikhlas bersama dia." kata Arnila sambil tersedu - sedu.
"Aku amit - amit banget deh kalau bersaudara sama dia. Semoga itu tidak terjadi," kata Rita yang enggan membayangkannya.
"Aamiin!" Jawab Arnila yang tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...