ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(61)


__ADS_3

"Dia bisa kerjakan sendiri kok! Buat apa aku bantu? Kamu juga buat apa bantu Rita? Dia kan bisa urus urusannya sendiri!" Kata Ney sambil terus memperhatikan Anggara yang tidak menatap dirinya saat mengobrol.


"Aku selalu dibantu oleh Rita saat SMA, dia yang memperkenalkan aku pada teman - teman agar aku bisa memiliki teman juga lalu Rita jugalah yang selalu memberiku support. Jadi aku sebisa mungkin ingin membantunya. Itu gunanya teman, tapi kalau kamu sepertinya agak kurang pas... disebut teman," tapi Ney sama sekali tidak mendengar apa yang Anggara katakan karena dia sibuk memperhatikan setiap pojok badan Anggara yang atletis. Ney tahu meski Anggara memakai baju kemeja, didalamnya pasti sangat menggairahkan dan Ney masih saja terus mendekati.


"Aku tahu tempat yang asik," teman - temannya bertatapan dengan Rita yang penasaran apa maksud kata - katanya.


"Tidak perlu bagiku perpustakaan dan kampus tempat yang asyik. Kamu sudah mencari buku di sebelah sana?" Tanya Anggara menunjukkan ke arah rak yang pojok.


"Aku tidak mau membantu. Kamu dengar info aku dari Rita ya? Dengar apa saja kata dia?" Tantang Ney pada Anggara.


"Aku yang meminta pada Rita agar kamu kemari. Yah, tentang kamu, aku lebih banyak tahu dari teman - teman disini," kata Anggara yang menyimpan lagi dan menarik lagi buku yang lain.


"Kamu pura - pura tidak tertarik sama aku ya. Aku yakin sebenarnya kamu tertarik," Anggara lalu mendorong buku yang diambilnya dengan kasar ke dalam rak buku, kalau sudah begitu artinya Anggara sudah kesal. Rita melihat hpnya dan Merlin membalas, "Aku sudah di tempat parkir. Menuju perpustakaan?" Rita memperlihatkan isinya pada semua temannya dan mereka menggelengkan kepala.


"Jangan kita bertemu di depan saja. Aku sudah selesai meminjam buku, kamu masih tertarik melihat Ney?" Tanya Rita menunggu jawaban Merlin.


"Tentu! Sudah ada ya? Apa lebih cantik dari aku?" Rita memperlihatkan lagi pada mereka dan meteka menahan tawa.


"Lihat saja sendiri," kata Rita mengetikkan balasannya. Setelahnya, mereka berpencar dan Rita pura - pura selesai mencari buku. "Ga, aku sudah dapat beberapa nih. Kamu bagaimana?" Langsung Ney gelagapan tapi tidak menjauh dari Anggara.


"Oh sudah? Kok cepat banget sih. Masih banyak buku kamu tidak periksa lagi?" Tanya Anggara. Ney tersenyum nakal pikirnya Anggara mencari alasan agar dirinya bisa lebih lama berbicara dengan Ney. Padahal memang banyak buku yang bagus yang pas dengan tugas Rita.


"Sudah ah. Kalau terlalu banyak bagaimana cara membawanya?"


"Merlin kan pasti bawa mobil, dia pasti mau mengantar kamu pulang," Anggara sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Ney meski dia bermaksud menggoda hanya saja, tujuan paling utamanya adalah mencarikan buku psikologi untuk Rita.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan!" Tolak Rita sambil mendekap beberapa buku yang dia dapatkan.


"Kamu katanya mau cari banyak referensi, ini banyak kan jadi lebih baik cari lagi saja sana!" Suruh Ney yang mendorong Rita ke arah pojok. Anggara yang melihatnya tampak geram dengan perilaku Ney yang seenaknya dan Rita juga tidak suka.


"Ga, bantu aku ya pokoknya cari buku tentang Bagaimana Menghadapi Anak Tantrum," ajak Rita pada Anggara.


"Oke. Yuk!" Mereka berdua meninggalkan Ney yang kesal karena ternyata malah tidak bisa berduaan dengan Anggara. Dia menyadari kesalahannya tapi mau begini atau begitu, sama saja Anggara terus menempel dengan Rita.


15 menit kemudian, terkumpul sebanyak 15 buku. Dibantu membawakan, semuanya dapat bagian masing - masing namun Ney enggan membantu meski 1 buku pun. Dan mereka semua tidak ada yang betah berlama - lama dengan Ney. Saat berjalan menuju gerbang, Ney bertanya pada Rita, "Kamu bisa tidak lebih lama lagi disini?"


"Buat apa? Kamu kan tidak suka berdekatan dengan buku," bisik Rita.

__ADS_1


"Ya aku mau mengobrol lebih lama dengan Anggara," kata Ney.


"Ingat ya kamu punya Dins jangan mulai lagi deh berpaling ke yang lain,"


"Aku tidak berpaling kok," bela Ney.


"Jangan bohong deh. Kamu pasti tadi mengajak dia ke suatu tempat kan. Ingat ya kamu sudah berjanji setia pada Dins, siapapun orangnya yang aku ajak bertemu dengan kamu, segera lupakan!" Ney tidak membalas melainkan menunjukkan wajah yang sebal pada Rita dan Anggara memperhatikan itu.


"Sudah deh! Kamu kan disini hanya untuk meminjam buku, aku kesini mau bertemu Anggara! Kamu bisa pulang setelah ini!"


"Tahu begini aku tidak ajak kamu ya," kata Rita yang sudah sangat bete. Dibawah, tampak Merlin yang sudah menunggu sambil mengobrol dengan beberapa temannya.


"Hai!!" Sambut Merlin dengan senang dan tentunya disambut heboh juga oleh yang lainnya. Tampaknya ada sesuatu antara Anggara dan Merlin, biasanya mereka kalau bertemu saling manja satu sama lain, tapi ini tidak terjadi. Jangan - jangan ....


"Hai, Mer!" Sambut Rita yang akhirnya saling cium pipi kiri dan kanan.


"Sudah selesai? Banyak juga ya," katanya sambil melihat semua orang yang membawa buku.


"Bagaimana kalau nanti kamu antar Rita ke rumahnya? Dia pinjam 15 buku,"


ke rumah kamu," kata Merlin dengan suara yang senang.


"Benar nih? Tidak merepotkan?"


"Tidak apa - apa. Mobilku sepi tuh," Ney memperhatikan Merlin dengan takjub. Yah, penampilan Merlin sangat ... sangat bling-bling meskipun pakaiannya biasa saja. Tapi dengan rambut panjang yang dibuatnya keriting, sangat cantik. Lalu dandanannya simple tapi terlihat mewah, kuku - kukunya dipakaikan nya kuku palsu berwarna cokelat emas serta Glitter dan juga sepatu high heels. WOW!


"Ri, siapa nih cewek?" Tanya Ney yang tampak terkesima.


"Oh, dia itu..." sebelum Rita sempat menjawab, Merlin memotong pembicaraan mereka.


"Kamu sudah makan? Kita makan bareng yuk, ada cafe yang kue cheesecake nya uenaaak banget!" Kata Merlin sambil menarik Rita.


"Aku sih oke saja tapi Ney, bukannya kamu ada keperluan ya ke Gramedia. Kamu kesana saja sendiri atau mau kita antar?" Tanya Rita yang membuat Ney bengong dan pura - pura tidak ingat.


"Oh, aku lupa tadi harusnya janjian sama temanku tapi sudah jam segini, jadi aku ikut kamu saja!"


"Wah, kurang pintar buat alasannya!" Celetuk salah seorang teman Anggara yang dibalas tawaan yang lain.

__ADS_1


"Ya sudah ayok! Kamu semobil saja dengan Anggara ya," kedip Merlin pada Anggara yang dibalas anggukkan. Rita memperhatikan keduanya dengan aneh tapi lalu Merlin menariknya dengan cepat menuju mobil.


Rita hanya terbengong melihat Ney yang mengekor Anggara dekat - dekat dan tampak manja padanya. Teman - teman Merlin pun nampak aneh Anggara nampak biasa saja saat tahu Ney banyak bicara padanya. Dalam mobil Merlin, Rita ingin bertanya tapi tampak Merlin yang memukulkan tangannya ke arah setir. Rita dan yang lain nampak ketakutan tapi Merlin meyakinkan Rita kalau permainan sebenarnya baru saja dimulai.


"Jangan cemas, Rita. Aku tidak apa - apa meski aku sama sekali tidak sabar ingin menjambak rambutnya,"


"Terus kenapa tidak?" Tanya temannya.


"Aku dan Anggara punya rencana ingin melihat seberapa liarnya sesuai kabar yang terdengar. Kamu tidak tahu kan, Ri?" Merlin memandangi Rita yang masih bengong. Kedua mata Merlin yang bulat sempurna dengan dihiasi Glitter pada alis matanya membuatnya semakin manis.


"Kalian punya rencana apa? Jangan lama - lama nanti keenakan dia," kata Rita yang khawatir.


"Tenang saja hanya sebentar kok," balas Merlin.


"Kamu tidak tahu kabar tentang teman kamu?" Tanya Merlin meyakinkan pendapatnya mengenai Ney.


"Mana kutahu kan beda tempat kuliah. Memangnya ada apa sih?"


"Yang aku tahu, dia itu ganjen alias genit dengan lelaki. Semua perempuan di fakultas ini tidak ada satupun yang suka dia,"


"Kalau dengan perempuan sih mana ada yang suka," kata Rita.


"Lelaki juga banyak yang tidak suka, Ri. Mereka tahu membedakan perempuan yang baik - baik dengan yang main - main," kata Merlin memutarkan mobilnya dan memastikan mobil belakang mengikutinya.


"Aku dengar nafsu tuh anak tinggi banget," sontak Rita melotot ke arah salah satu temannya bernama Rina.


"HAH!?" teriak Rita yang membuat Merlin dan mereka semua tertawa.


"Serius! Ada yang pernah dia ajak main dibelakang gudang, parah banget!" teriak Rina dengan parah.


"Terus?" Tanya Rita yang tidak menduga kabar itu.


"Waktu janjian, lelakinya kabur dia sendirian saja di gudang," Merlin dan Rita tertawa terbahak - bahak.


"Jangan cemas deh Anggara bisa jaga diri dia kan sudah tahu banyak," kata Merlin.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2