
Ua Mori mengangguk. "Karena Ua sekarang membuka semua yang tertutup dan soal melihat aura ini, hanya segelintir orang yang bisa. Teteh sih iya memang paling mudah bisa melihat tapi karena tidak minat ya hanya selintas saja," kata Ua membetulkan kacamatanya.
"Memang ada caranya kalau orang ingin bisa melihat aura?" Tanya Ratih yang jelas memang tidak bisa. Dia agak iri pada Rita yang ternyata menurutnya pendiam memiliki kekuatan sangat dahsyat.
"Ada dong, kamu mau mencoba? Mudah kok," kata Ua melihat Ratih.
Ratih mengangguk semangat.
"Caranya sederhana hanya harus penuh konsentrasi dan banyak kesabaran. Kamu tidak perlu penasaran, Ratih kamu tidak punya kemampuan itu," kata Ua membuat mereka semua tertawa. Ratih sebal.
"Aku mau coba. Bagaimana caranya?" Tanya Tyas semangat.
Ua mengangguk ya kalau Tyas pasti bisa. "Oke, tapi di saat kamu sehat wal afiat ya. Kalau mau ditemani teman sebagai pemancing, bisa kamu suruh dia berdiri di depan tembok yang warnanya putih lalu konsentrasi memandangi teman kamu. Contoh melihat dia dengan fokus di satu titik misal wajahnya, di bagian dahi. Fokus selama 60 detik tidak boleh mengalihkan pandangan dari tengah dahi," kata Ua Mori.
Tyas menghafalkan semua itu lalu dilanjutkan oleh Koko.
"Setelah 60 menit kamu telusuri tepi bagian luar kepala, bahu dan lengan teman kamu. Kalau muncul warna, itulah yang dinamakan aura. Warnanya bisa berubah-ubah tergantung dari mood teman kamu," kata Koko sambil menjentikkan jarinya.
"Oooh begitu," kata Rita mengerti.
"Kalau Teteh Rita sih tidak perlu latihan juga langsung terhubung. Lebih enak sebenarnya asal ada niat saja," kata Koko memandangi Rita agak iri.
"Tidak minat," kata Rita menggelengkan kepalanya.
"Yah meski kamu tidak minat juga kalau penasaran, itu langsung muncul," kata Ua menghela nafas. Dirinya saja butuh latihan selama 3 tahun, memang pantas membuat banyak orang iri.
"Karena penasaran saja bisa begitu?" Tanya Koko bengong.
"Iya, Teh Rita yang paling beda sendiri. Kita mah perlu banyak latihan, dia kalau penasaran ya keluar satu-satu. Sangat mudah kalau ada yang membuatnya penasaran," kata Ua berpikir kalau Rita menjadi dirinya, mereka tidak akan mungkin punya pendapatan. Untungnya Rita sama sekali tidak berminat soal kekuatan.
"Benar tidak kalau aura manusia bisa dilihat dari foto?" Tanya Ratih.
"Bisa tapi kamera tertentu ya yang buatan Inggris tapi tentunya orangnya harus punya kemampuan melihat aura juga," kata Ua Mori lalu meminum kopi hitamnya.
"Pantas saja anak toxic itu begitu iri dengki kepada Teteh ini. Meskipun kepekaannya sedikit, tapi kekuatannya kalau sampai meledak habis semua orang. Apalagi kalau ucapannya sudah nyelekit ke orang, bisa terkabul semua. Haduuuh," pikir Ua Mori menggelengkan kepalanya.
"Aura itu memangnya berbeda warna ya, Ua?" Tanya Wean yang penasaran.
"Ada sebelas dengan warna dasar seperti yang Ua miliki. Yang Teteh lihat itu warnanya memang merah punya Ua," kata Ua Mori.
"Wow, Teteh benar lihat auranya Ua Mori," kata Tyas kagum dan kaget.
"Kebetulan," jawab Rita dengan datar.
"Wahahaha bisa lihat aura kamu langsung. Yah, memang merah itu persis dengan sifat kamu. Kemauannya keras, to the point pula, pekerja keras, mudah diajak bekerja sama, realistis dan cukup kompetitif. Tapi minusnya kamu sulit menghadapi perubahan," kata ibunya Ryan sambil tertawa.
Ua Mori hanya diam saja menurut Rita, lucu sekali melihat Ua Mori salah tingkah.
"Lalu ada warna jingga, kuning, hijau, biru, ungu tua, ungu, putih, emas dan perak. Nah aura emas ini yang paling sulit dimiliki orang yah jenis yang super langka," kata ibunya Ryan.
__ADS_1
"Kalau begitu bude, Teh Rita warna auranya apa?" Tanya Ratih dan Ryan penasaran.
Mereka semua memandangi Rita. Rita agak tegang karena semua matanya memandanginya.
"Hmmm tidak terlihat. Harus diusir dulu si jin Jun nya nanti baru keluar," kata Ua memegangi tangan Rita.
"Kamu masih bisa lihat aura Ua?"Tanya Ibunya Ryan.
Ruta memandangi Ua dan menggeleng. "Tidak. Hanya tadi saja," katanya.
"Hmmm itu karena kamu nya sedang semangat jadi keceplosan keluar," kata ibunya Ryan berpendapat.
"Coba sekarang tebak. Ada tidak?" Tanya Ua yang membuka telapak tangannya.
Rita memegang telapak Ua hanya terasa hangat. "Hanya panas hangat saja," kata Rita.
"Hmmm apa itu kebetulan saja ya? Ternyata tidak muncul lagi kalau Teteh tidak mau. Sepertinya hanya penasaran sekali saja," kata Paman yang lainnya.
Lalu Ua berpindah ke tangan kiri Rita, kemudian Rita merasa pegal. Ua lalu memusatkan lagi tiba-tiba Rita melihat sesuatu. Pancaran listrik yang berwarna hijau lalu semakin gelap.
"OWWW! PEGAAAL," Kata Rita menahan.
"Berhenti berhenti, dik!" Cegah ibunya Ryan dibantu oleh Paman lainnya.
"Sebentar, sedikit lagi. Tahan ya Neng," kata Ua Mori yang terpaksa mengeluarkan pancaran kehijauan lagi.
"Eh?" Tanya yang lainnya.
"Aura Ua warnanya hijau jadi gelap," kata Rita memejamkan kedua mata menahan rasa pegal.
Ibunya Ryan dan paman lainnya menahan Rita yang kesakitan. Akhirnya... Rita juga berkeringat deras dan tangannya menjadi sangat dingin.
"Sudah!" Kata Ua Mori lalu terduduk rebahan di lantai. Mereka mengipasi Ua Mori yang terengah-engah lalu Koko seperti menyalurkan sesuatu pada Ua.
Ibunya Ryan memeriksa Rita, tangan Rita dingin dan menghangatkannya. Wean, Ratih dan Tyas agak ngeri, tante Winan dan Nina juga hanya bisa saling berpegangan tangan.
"Duh, sakit ya. Kamu terlalu fokus sampai lupa kalau energi kamu itu bisa membuat Teteh sakit," kata ibunya Ryan agak marah.
"Hijau agak gelap. Artinya agak lumayan jelek. Tidak sabaran dan perfeksionis, adik memang begitu kan kalau sudah menemukan masalahnya, langsung dihajar," kata Paman kedua mengipasi Ua Mori.
Rita masih kesakitan, yang lainnya ikut memijat bahu dan tangan Rita.
"Maaf ya Teh apa boleh buat sudah ketemu rumahnya tadi sekalian saja alu hancurkan dan menghilangkan jejak. Parah sekali sudah setengah badan dia kuasai teteh," kata Ua lalu duduk bersila di lantai.
"Mau saya salurkan sebagian energi?" Tanya Koko.
"Besok ya ruqyahnya? Ya bolehlah. Sedikit saja," kara Ua Mori menerima transferan energi penyembuh.
"Tadi Teteh lihat auranya hijau?" Tanya Ryan.
__ADS_1
"Hijau terang keluar seperti listrik tapi berubah agak gelap," jelas Rita yang menikmati pijatan.
Beberapa menit Rita berdiri dan memutarkan punggungnya sampai berbunyi lalu menggerakkan tangannya juga.
"Teh, nih ada kue," kata Ibunya Ryan memberikan kue cokelat. Beliau tahu energi Rita berkurang tapi dengan makan,energinya menjadi penuh lagi.
"Wah," sambut Rita lalu memakannya.
Mereka semua melihat Rita yang makan, energinya kembali 1000% dan mereka menggelengkan kepala.
"Ua, Ambil energi aku saja. Bisa sembuh kilat lho," kata Rita sambil makan.
Ua Mori dan yang lainnya bengong mendengar apa kata Rita. Memang energinya sudah penuh saja sambil makan.
"Hahahaha boleh nih? Ua ambil deh ya," kata Ua Mori memegang bahu Rita.
Rita hanya terus makan dan minum energinya terambil 30% tapi lalu penuh kembali. Ua Mori terkesan dengan kemampuan Rita, Ua juga kembali segar.
Rita kemudian membuat jari-jarinya bunyi dan kembali segar lagi.
"Jeleknya kamu tuh begitu kalau sudah tahu dimana gawatnya tahan! Setiap orang berbeda ketahanannya. Makanya saya tidak setuju kalau kamu terlalu dalam," kata ibunya Ryan membawakan banyak makanan.
Ua Mori menunduk tapi berkat energi dari Rita, energinya kilat penuh.
"Sudah tidak pegal?" Tanya ibunya Ryan dengan penuh perhatian.
"Sudah tidak apa-apa kok asalkan ada makanan," kata Rita lalu menghabiskan minumnya.
"Lalu bagaimana?" Tanya suami ibunya Ryan.
"Ya hampir menguasai Teteh kenapa saya terus memaksa supaya jejaknya bisa saya hapus. Saya mengerti efeknya tapi Teteh bisa menahannya kok. Maaf ya Teh kalau ditunda nanti efeknya dia bisa serang lebih gawat lagi," kata Ua Mori sendu.
"Iya Ua," jawab Rita kebingungan. Hanya mereka yang mengerti.
"Rumahnya sudah hancur sekarang Neng sudah bisa merasakan kehangatan orang-orang termasuk si Akang. Jin peyot itu sekarang sedang marah-marah hati-hati ya Ko, dia pasti menyerang. Nanti Ua juga akan membantu," kata Ua Mori yang sudah sehat lagi.
"Lho? Ikut ruqyah juga? Saya bisa sendiri kok," kata Koko.
"Kamu tipenya logika sih, ucapan kamu lebih terkesan sama dengan si toxic. Bisa buat si Teteh kabur daripada di ruqyah sama kamu," kata Ua membuat Koko menggarukkan kepalanya.
"Oh begitu," kata Rita bengong.
"Kalau Tyas, dia datar kok," kata Koko.
"Iya, dia itu nol simpatinya jadi oke oke saja kalau Koko berhadapan sama dia. Hanya pusingnya pasti dia berpikir secara ilmiah, kalau Teteh kebalikan. Simpatinya 1000% bisa nangis dia kalau kamu mengucapkan kalimat nyablak. Ruqyah nya jadi hancur nanti," kata Ua Mori.
"Waduh!" Kata Koko menepuk dahinya.
Bersambung ...
__ADS_1