ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
413


__ADS_3

Guru kelas gajinya sekitar 3 juta, guru pelajaran 1,8 juta sedangkan posisi Rita lumayan daripada guru pelajaran yaitu sekitar 2 juta. Seimbang lah dengan tugasnya yang menumpuk karena banyaknya karyawan yang sudah lelah.


Sampai di rumah dia langsung rebahan sambil menaruh kresek putih besar di samping kasurnya berisi makanan dan minuman. Ibunya sudah tentu melihat apa yang dia bawa.


"Kakak kamu habis belanja besar sepertinya," kata ibunya memberi kode ke adiknya.


Prita langsung tancap gas menuju kamar. Adiknya lalu membantu kakaknya memasukkan makanan ke dalam lemari. Dia sudah pasti diberi honor makanan terserah mau yang mana.


"Aku mau ini, ini, dan ini ya hehe," kata Prita tertawa dan langsung kabur dari kamar Rita.


Ibunya lalu gabung dengan Prita dan ikut makan. Prita melihat ibunya yang sumringah.


"Bu, nanti lagi jangan begitu sama kak Rita. Ibu yang aku lihat sering sekali bicara sesuatu yang tidak ibu ketahui tapi ibu juga memakan makanan yang kak Rita beli. Kan tidak enak," kata Prita.


Ibunya hanya terdiam sambil memakan cemilan. Memang ada rasa sangat kecewa dengan Rita yang tidak sesuai keinginan ibunya, tapi kan tidak dengan cara terus memojokkannya. Apalagi sekarang juga Rita sama sekali tidak pernah lagi menceritakan masalah pada ibunya. Toh sama sekali tidak pernah didengar.


"Kakak kamu itu tidak pernah cerita soal apapun sama ibu," kata ibunya.


"Hah? Hanya karena itu saja? Prita rasa bukan deh. Ibu yakin hanya karen kak Rita jarang banyak cerita?" Tanya Prita penasaran.


"Ya karena hanya dia seorang yang berani memberontak. Padahal kan ibu ingin memberikan yang terbaik sama dia," kata ibunya yang marah.


"Ya tidak bisa memaksakan kehendak. Lagipula ibu lebih percaya sama teteh juga kan. Dari Rita SMP sampai sekarang, Prita merasa begitu. Kalau Rita bicara apa, ibu sama sekali tidak mau percaya tapi kalau teteh sekalipun berbohong, ibu percaya saja. Yang seperti itu sebenarnya tanpa sadar melukai hati anak sendiri," kata Prita meninggalkan ibunya makan sendirian.


Rita lalu membuka ponselnya benar saja sudah penuh saja isi WA nya itu sebenarnya malas sekali kalau sudah harus gabung lagi grup dengan mereka berdua. Mau dirinya yang memang terlalu sensitif atau mereka yang merasa paling benar, sudah terlalu over load bagi Rita.


"Maaf aku baru selesai kerja," balas Rita dalam grup.


"Nah akhirnya datang juga lama sekali sih kamu bekerjanya. Setelah lulus langsung bekerja ternyata," kata Ney.


"Aku juga tidak menyangka akan secepat ini dipanggilnya mana langsung bekerja juga," kata Rita.


"Darimana sih kamu dapatnya? Kok lebih cepat ya aku saja lamaaa dapatnya setelah lamar 40 perusahaan," kata Ney.


"Dari kampusku, aku tinggal kirim saja. Kamu sendiri bagaimana sudah dapat pekerjaan lagi?" Tanya Rita.


"Kamu masih kontak dengan Alex?" Tanya Ney yang tidak menggubris apa yang Rita tanyakan.


"Itu jawab dulu pertanyaan aku," kata Rita. Ini nih dia memang selalu begitu dirinya ingin selalu lebih diutamakan.


"Aku kan bertanya juga tapi kamu tidak menjawab," kata Ney tidak mau kalah.


"Dimana-mana ya tata Krama ya kalau ada yang bertanya jawab duku yang pertama. Baru dia akan menjawab yang kedua," kata Rita.


Arnila hanya memperhatikan isi chat mereka yang sudah mulai menguras emosi lagi. Ya Ney memang sengaja itulah pekerjaannya.


"Tapi kan pertanyaan kamu itu tidak penting. Yang paling utama aku ingin tahu hubungan kamu masih lancar sama Alex atau tidak," kata Ney.


Rita mendengus kesal dan tidak menjawab chatnya sama sekali. Ney lama menunggu lalu memeriksa pada Arnila. Dia juga tidak ada chat sama sekali. Dirasa memang dirinya sudah keterlaluan, akhirnya Ney membalas.


"Aku masih belum dapat pekerjaan. Puas?" Tanyanya kesal. Tetap saja Rita tidak menjawab apapun, dia tertidur sekejap karena kelelahan.

__ADS_1


"Sepertinya Rita kelelahan bekerja deh. Kamu bisa tidak sih berhenti menanyakan soal hubungan mereka?" Tanya Arnila di grup.


"Memangnya kamu tidak penasaran?" Tanya Ney.


"Tidak. Mau mereka putus, menyambung lagi ya urusan mereka," kata Arnila membuat Ney kesal.


"Huwaa maaf aku ketiduran. Capek berat, pekerjaanku masih menumpuk total. Iya aku masih dengan Alex. Kamu masih penasaran sama penampakan dia?" Tanya Rita lalu sholat dan berganti baju bebas.


Ney semangat meski dia kesal ternyata Rita tertidur. "Iya laaah jadi mana aku mau lihat," pinta Ney.


"Tidak mau! Aku tidak mau lagi memperlihatkan foto lelaki ke kamu," kata Rita.


"Ih, kenapa sih? Kamu tidak percaya dengan penilaian aku?" Tanya Ney kesal sekali.


"Iya. Penilaian kamu kebanyakan menyerang ketidakcocokan dengan aku. Kamu beri solusi juga yang membuat aku sama dia menjauh, eeeh malah kamu add akunnya. Gila tidak itu ya?" Tanya Rita.


"Hah? Kapan? Aku tidak tahu kok akun Alex, siapa juga yang memfollow dia," kata Ney marah.


"Nih," tunjuk Rita. Ney ternyata berteman dengan Alex lalu yang menyesalkannya dia juga mengirimkan ucapan selamat pada Alex dengan kekasih barunya yang dulu. Yang ternyata saudara sepupunya.


Ney kaget dia tidak tahu bagaimana bisa Rita punya bukti itu. "Kok? Kamu tahu darimana?" Tanya Ney gugup.


"Alex yang beritahukan. Jangan macam-macam ya kamu dengan aku. Kebohongan apapun akan aku buka dihadapan kamu!" kata Rita puas sekali.


"Widih teman macam apa ya Rita memberi ucapan sama orang yang jelas-jelas buat kamu menderita. Kok bisa sih kamu beri ucapan selamat sama orang lain? Memangnya kamu kenal dengan perempuan itu?" Tanya Arnila menggelengkan kepala.


"Siapa suruh kamu pisah sama dia, ya siapapun yang jadi sama dia aku beri selamat memangnya salah?" Tanya Ney yang sudah tidak punya pertahanan lagi.


"Teman Palsu namanya juga. Kalau teman asli buat apa juga kasih ucapan selamat sama perempuan lain, mana tidak dikenal juga. Mau dapat pamor ya, ih kasihan deh. Jeblok yang kamu dapat," kata Rita.


Ney diam tidak bisa membalas apapun, semua langkahnya salah dan malah membuatnya terjebak sendiri. "Kamu sendiri tidak kenal dia kan. Kasihan ya si Alex lebih milih perempuan sekali daripada kamu yang norak," kata Ney.


Lalu Rita menunjukkan chat yang masuk dari perempuan tersebut. Berisikan bahwa dia mendukung dirinya dengan Alex dan mendoakan agar bisa lama langgeng. Tentu saja Rita hilangkan nama saudaranya itu agar Ney tidak mencarinya.


Arnila dan Ney kaget bukan main. Apalagi Ney yang benar-benar membeku di tempat.


"Gilaaa dia chat kamu?" Tanya Arnila antusias.


"Iya dan dia sudah menikah dengan kekasihnya," kata Rita menunjukkan foto pernikahannya.


"Tapi tapi tidak mungkin. Dia itu justru akan menikah dengan Alex karena mereka sama-sama suka lho. Itu editan kali," kata Ney tidak percaya. Dalam kepalanya jelas melihat yang menjadi suaminya adalah Alex. Tapi...


Rita lalu mengirimkan lagi status dari perempuan itu yang mengisyaratkan dirinya memang sempat menyukai Alex.


"Pertama kenalmu, aku yakin kau lah takdirku setelah kita dekat dan merasakan rasa hangat dan cinta. Tapi aku tersadar saat kamu terus memandangi foto seseorang yang jauh dari gapaianmu. Aku melihat rasa sedih dan rindu padanya, mungkinkah... kau terpaksa denganku selama ini? Dirinya berbeda denganku.


Saat kutanyakan, kamu senyum perih dan berkata, "Saya ingin bertemu dengannya," saya rasa kamu sudah mencintainya lebih dalam dariku. Lalu aku tiba-tiba terpikat pada seseorang yang mampu memenuhi kebutuhanku, itu bukan kamu tapi dia. Alex berbahagialah kamu dengan seseorang itu, jangan menyerah. Allah senantiasa bersamamu sama dengannya juga. Saya senang kamu bersamanya karena dia tampak wanita yang sangat baik." Ameera.


"WOOOW kamu sudah dapat lampu hijau juga dari sepupunya," kata Arnila kagum.


"Hahhhhh tetap saja rumit menghadapi dia tuh. Kok mereka yang jadi mantannya banyak yang menyesal ya sudah pisah?" Tanya Rita merasa aneh.

__ADS_1


"Ya lah pasti, dia itu kan begajulan sama kamu saja perilakunya super jelek makanya mereka banyak yang putus," kata Ney asal jawab.


"Apa sih kamu tidak menyambung sekali deh komennya," kata Rita keheranan.


"Duh ya coba deh kamu baca baik-baik sebelum berkomentar. Dan lihat apa yang Rita tanyakan. Menurut aku nih Alex itu kekasih yang diidamkan hanya saja mantan-mantannya selalu merasa kurang. Padahal menurut aku sih Alex jeleknya hanya posesif terus tukang kerja," kata Arnila.


"Iya ya kalau menyesal kenapa dulu dia sibuk ya tinggal menunggu saja. Kenapa juga harus punya kekasih lain?" Tanya Rita.


"Ya namanya juga manusia Rita. Sudah diberi sesuai keinginan eh masih saja kurang. Contohnya juga kanu tahu sendiri," kata Arnila bermaksud menyindir.


"Siapa sih?" Tanya Ney.


"Ya kamu Ney, pura-pura tidak tahu. Kamu tuh seperti itu, dulu kan kamu yang doa mati-matian ingin mendapatkan Dins karena dia pintar, kuliah di ITB, gajinya nampol. Eh sekarang aku kenal Alex, kegenitan," terang Rita langsung.


Arnila cekikikan pasti Ney sebal sekali sekarang ini. "Kok gue sih?" Tanyanya marah.


"Iyalah lu, jangan pura-pura bego deh. Kita kan tahu kamu tuh suka lelaki yang seperti apa. Kamu suka Alex sayangnya Alex sukanya sama Rita hahahaa kasihan. Doa kamu itu kan ke Dins bukan Alex," tawa Arnila yang memang puas sekali.


"Jodoh kan siapa yang tahu memang doa aku ke arah Dins tapi kalau ternyata itu adalah Alex bagaimana? Doa kan bisa dibelokkan," kata Ney mengubah haluan.


"Ya sekarang kamu mulai menjelekan dia soal dia tidak real. Suatu hari nanti kamu akan menyesal kalau kenyataan yang ada Rita dengan Alex yang tidak ada wujudnya," kata Arnila.


Ney bengong masa sih benar kalau Rita jadi dengan Alex? Mana sampai menikah juga. Lah ini novel tamat dong?


"Terus ini novel akan tamat?" Tanya Ney.


"Tamat tapi mungkin akan ada babak baru. Tampaknya lebih banyak tawa. Terserah Author," kata Rita mengedipkan matanya.


"Akhirnyaaa kita bisa rehat. Susah benar gaes jadi karakter Ney yang pastinya dikeselin banyak pembaca," kata Ney selonjoran di lantai.


"Kamu mah mending hanya pemain figuran. Tuh Rita yang harus tahan emosi sama Alex sampai dia harus rela dicaci maki seenaknya. Ayo lanjut nanti ada bagian kita istirahat panjang," kata Arnila yang mengipaskan kipasnya.


"Aku hanya ingin lihat apa dia itu memang pantas buat kamu atau tidak. Kenapa aku mengucapkan selamat ya sebenarnya sih kamu tidak akan ada harapan sama Alex, jadi lebih baik menyerah saja deh," kata Ney melanjutkan syutingnya.


"Kamu juga tidak ada gunanya menikah dengan Dins. Lebih baik menyerah saja kamu tidak pantas untuk dia," kata Rita membalas.


Arnila tertawa tampaknya Rita sudah cukup stres dan lelah menghadapi Ney.


"Aku kana tetap menikah sama dia! Kali ini pasti terus kamu? Menikah dengan Alex Hohohoho mana mungkin," kata Ney senang.


"Bagus kamu akhirnya meyakinkan diri menikah dengan Dins. Urusan Alex bukan urusan kamu, selama ini membantu aku pun, aku yakin kamu ingin dibalas dengan pamor kan. No thanks," kata Rita mengirimkan emoji menjulurkan lidah.


"Iya sudahlah Ney, apa urusan kamu sih?" Tanya Arnila.


"Penilaian kamu semuanya sudah pasti jelek. Karena Alex tidak bisa kamu dapatkan sudah pasti kamu akan menjelekan dia di hadapanku," kata Rita.


"Artinya?" Tanya Arnila.


"Apa yang kamu tidak bisa dapatkan, orang lain tidak boleh dapatkan. I know you so well," kata Rita.


Ney langsung menggebrak mejanya karena kesal dan melemparkan berbagai buku ke lantai. "****!" Teriaknya.

__ADS_1


Arnila bersorak akhirnya Rita lah yang mengeluarkan kalimat itu.


Bersambung ...


__ADS_2