
Saat mereka berdua mencari sampai ke semua pojokan, yang menyentuh Rita hanya Ua sedangkan Koko menjaga. Koko membuka mata ketiganya namun nihil.
"Coba di tangan, tidak ada juga. Kemana dia?" Tanya Ua garuk kepala. Yang Ua lakukan semacam alat intra merah. Beliau memeriksa dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.
Ibunya Ryan pun merasa aneh karena tidak merasakan lagi aura kehadirannya.
"Apa dia pundung ya?" Gumam Koko.
"Oya, soalnya dia tidak mengira aman dibentak majikannya jadi dia pundung dengan menghilangkan auranya," kata Ua lalu berhenti dan duduk semula.
"Bagaimana ini? Takutnya ini taktik dia supaya ruqyah selesai," kata Koko dengan marahnya.
"Bisa jadi," jawab Ua berpikir.
Di luar ruangan, adik-adiknya ibu Ryan keheranan.
"Kenapa, Mbak?" Tanya adiknya.
"Kehadiran nini sama sekali tidak ada," katanya. Mereka semua kaget.
"Kok bisa? Sembunyi?" Tanya Ratih heran.
"Mungkin. Tapi dicari kemanapun tidak ada. Hmm mungkin Teh Rita bisa tahu," kata ibunya Ryan.
"Memangnya Teh Rita bisa?" tanya Tyas melongo.
"Bisa. Pasti bisa," kata ibunya Ryan lalu mengirimkan pesan singkat lewat telepati.
Ua menerimanya dan menatap Rita yang juga kebingungan. "Sekarang, kita serahkan pada Teteh,"
"Saya? Duh, saya tidak punya kemampuan begitu, Ua," kata Rita menolak.
"Teteh bisa kok. Dicoba saja dulu dia bisa bersembunyi dalam jantung, saraf-saraf, semua yang ada dalam tubuh kita," jelas Ua.
"Fokus saja dulu Teh. Soalnya kita tidak bisa lihat," kata Koko.
"Lho? Kok aneh? Bisa baca pikiran, bisa lihat aura sampai hantu. Keberadaan si nini kok tidak bisa terlihat?" Tanya Rita ternyata mereka berdua masih manusia yang tidak sempurna.
"Kemampuan kami memang bisa me ruqyah tapi kembali lagi, kekuatan kami terbatas tidak seperti yang Teteh punya. Sok coba saja dulu," kata Koko mewakilkan.
"Tutup mata? Tapi hanya sekali ini ya," kata Rita yang sebenarnya tidak mau.
"Iya, Teh. Hanya sekali kok. Kalau ada sekilas cahaya atau apapun, ikuti dan tunjukkan," kata Ua bersiap.
__ADS_1
Sesuai arahan Ua dan Koko, Rita menutup kedua matanya dan terus mendengarkan arahan mereka berdua.
"Rasakan bagian tubuh Teteh yang agak sakit dimana. Lalu tunjukkan," kata Ua.
Rita menutup mata dan fokus memeriksa tubuhnya. Koko dan Ua melihat kesadaran Rita mulai memasuki area kehilangan kesadaran dan itu sangat cepat.
Alex sangat cemas, begitu juga Koko yang hendak bangun untuk membangunkan Rita tapi Ua menahannya dengan berbisik.
"Mungkin ini adalah cara Rita untuk mengetahui posisi Nini," katanya.
"Tapi kalau tidak sadar lagi bagaimana?" Tanya Koko.
"Percaya saja," jawab Ua.
Alex gelisah, dia tahu apa yang Rita lakukan. Menurutnya terlalu beresiko.
Mereka berempat menyaksikan sendiri Rita yang semakin lama tenggelam ya, Rita pikir dia harus tidak sadar dulu agar bisa merasakan dimana nini berada. Rita tidak tahu dimana fatalnya.
Lalu tiba-tiba tangan kanannya menunjuk ke arah sebelah kiri.
"Komunikasi terdengar?" Tanya Koko agak tidak sabaran.
Saat Ua akan menjawab, Rita mengangguk. Mereka berempat bengong menatap Rita, kemampuan itu mereka juga punya tapi berbeda dengan yang dilakukan Rita dalam waktu yang singkat.
"Nini masih ada?" Tanya Ua.
*) Suatu keadaan dimana seseorang fokus atau berkonsentrasi penuh sehingga meningkatkan kemampuan menerima sugesti.
Meskipun sangat mustahil dilakukan sendiri tanpa ada persiapan. Sedangkan Rita hanya dengan melakukan sedikit arahan, dia bisa! Itulah kenapa mereka semua terpana melihatnya.
"Di mana?" Tanya Koko berhati-hati.
Tangan Rita bergerak lagi di sisi kiri, Koko menuju sisi itu tapi tidak ada apapun. Koko menggelengkan kepalanya pada Ua.
"Dia di kiri?" Tanya Ua kebingungan.
Rita mengangguk.
"Nihil," kata Koko merasa aneh. Tidak mungkin Rita berbohong karena sekarang yang berkomunikasi dengan mereka adalah alam bawah Rita.
Rita lalu menghela nafas, dia tidak dapat berbicara hanya bisa menunjuk. Tangan kanannya terus menunjuk arah kiri.
"Anu, Koko, Ua mungkin maksudnya..." kata salah seorang temannya yang terus diam.
__ADS_1
"Ssst bisikkan saja," kata Ua. Lalu saksi itu memberitahukan membuat Ua kaget.
"Begitu," kata saksinya.
Lalu tangan kanan Rita berpindah dan menunjuk belakang. Terus begitu tapi tidak pernah menunjuk ke arah depan.
Koko duduk kembali dan berpikir, lalu Ua memberikan arahan pada Koko lewat pikiran.
"Samping. Bukan di tangan kiri tapi dimana Rita duduk. Sebelah kirinya," kata Ua dalam pikiran Koko. Akhirnya Koko tersadarkan petunjuknya memang jari Rita yang terus bergerak memberitahukan.
Lagi, Jari kanan Rita menunjuk ke sebelah kiri. Koko menepuk dahinya.
"Oke, kita mengerti. Kamu bisa sadar sendiri, kan?" Tanya Ua memastikan.
Tidak ada Jawaban. Alex semakin panik tahu Rita tidak bisa bangun sendiri. Ua dan Koko langsung bergerak membangunkan Rita yang tergeletak lemas.
Kalau terlalu tenggelam bisa gawat, Rita akan koma. "Teh, Teteh! Bangun!!" Kata Ua menepuk pipi Rita. Koko memeriksa nadi dan jantung Rita yang semakin pelan, dan panik.
Tapi lambat laun, detak nya kembali normal dan Rita bangun dalam keadaan pusing. "HOAAAAAM sudah selesai? Mengantuk nih," kata Rita mengucek2 kedua matanya. Kacamatanya hampir terlepas.
Mereka semua bernafas lega.
"Syukurlah," ucap mereka bersamaan.
Dengan tangan gemetaran, Ua dan Koko berusaha menenangkan diri. "Kamu tidur ya. Sudah ketemu. Siap?" Tanya Ua.
"Sedikit lagi Teh," kata Koko hampir pingsan karena kaget
"Oke," jawab Rita.
Kemudian mereka akhirnya memblok semua saluran jalan yang bisa memungkinkan nini peyot itu sembunyi. Ternyata itu jin bersembunyi di antara urat leher pantas tidak ketemu. Awal berada di sisi Rita tapi kemudian masuk karena ketahuan dan menyelip di sana.
Koko senang sekali kini matilah jin menyusahkan itu. "Sok mau apa? Mati kamu sekarang," kata Koko puas sekali.
"Memalukan ya ternyata malah kabur tadi menantang. Siapa yang berbuat keonaran? Ingat umur dong, sudah tua lebih baik biarkan Teteh hidup bahagia," ucap Ua yang juga senang.
Rita hanya terus mengucapkan istigfar berkali-kali membuat nini menjadi sangat gerah.
"Teh, terus. Koko akan membacakan surat terakhir. Kalau nini melawan, Teteh bisa membalas," kata Ua.
"Iya," kata Rita kemudian pita suaranya tidak keluar lagi.
"Sudah dong Nin, tidak malu sekali ya. Mengganggu pita suara Rita yang berada di tenggorok kan. Kalau mau bicara sudah di luar saja. Teteh bisa bicara kok," kata Ua yang memberikan energi panas di leher Rita.
__ADS_1
"Keluarlah nek, memalukan bisanya di dalam doang. Coba tantang secara nyata tuh Koko kalau memang berani, malah sembunyi. Salah saya apa sih hah? Saya mah tidak pernah mau didekati sama nenek tua," kata Rita mengomel.
Bersambung ...