
"Eh, Rita kemana?" Tanya Annisa melihat ke kanan dan kiri.
Kemudian mereka pun terhenti, dan benar saja Rita tidak ada. Lalu Siti berusaha mencari dan dia menemukannya. Siti lalu melambaikan tangan pada semuanya dan menunjukkan ke arah lain. Mereka semua berdatangan dan melihat ternyata Rita sedang bertengkar dengan Ney.
"Sepertinya sudah biasa ya Rita bertengkar sama temannya," kata Linda yang mengintip sedikit.
"Tapi kalau teman sering bertengkar itu tidak baik memang tidak cocok juga chemistry mereka berdua," kata Komariah.
"Bagaimana? Mau kita susul?" Tanya Tamada. Tampaknya Rita juga sudah stres menghadapi kekebalan Ney.
"Jangan deh kita tunggu saja. Aku percaya Rita bisa mengatasinya. Hanya memang aneh ya tuh orangnya muka tebal, daripada punya malu ini lebih tidak ada malunya sama sekali!" Kata Diana keheranan.
"Iya memang aneh yang aku rasa juga. Kenapa ya? Tidak suka Rita tapi masih bertahan," kata Siti mikir.
"Soalnya menurutku sih, dia ingin sesuatu dan hanya Rita yang bisa membantunya. Soal lelaki saja kan kelihatan banget kalau dia itu kepanasan," kata Annisa.
"Irinya parah banget. Lihat kan bagaimana nada bicaranya ke kita. Sombong banget! Disangkanya dia istimewa banget di hadapan Rita," kata Diana yang bete habis!
"Iya benar! Kita tunggu saja ya biar barengan ke tempat kedainya. Untung Rita kenal kita semua kalau sama nasibnya seperti temannya jadi gila dia," kata Komariah melihat ke mereka semua.
Beberapa menit kemudian munculah Rita dengan wajah yang marah banget! Sudah pasti siapapun yang berhadapan dengan Ney akan merah wajahnya. Komariah dan Diana menyambutnya sambil memegang tangannya.
"Capek ih!" Kata Rita yang memijat kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Diana.
"Biasa. Yuk, makan. Habis berhadapan dengan perempuan muka tebal!" Kata Rita yang kelaparan juga.
"Dia pulang?" Tanya Linda melihat ke belakang.
"Tuh masih ada. Aku nanya langsung maksud dia apa kasih tahu ke kalian jeleknya aku, dia tidak bisa jawab apa - apa. Padahal ya tidak perlu diberitahu juga aku yakin kalian sudah tahu kan. Aneh banget apa - apa harus kasih tahu," kata Rita yang langsung memeluk sebelah tangan Komariah dan Diana.
"Kamu saja bilang aneh kita yang baru bertemu apalagi, Ri. Ya sudahlah biarkan saja jangan ada yang susul dia bagus saja kalau dia pulang nanti." Kata Linda mengajak semuanya menuju kedai ramen di lantai bawah.
Di tempat Ney, dia kesal sekesalnya ternyata secara tidak langsung dia membuka aibnya sendiri apalagi pada salah satu sahabat Alex. Mau dijelaskan pun sudah terlambat apalagi Alex juga sudah baca. Kemudian Alex dan Ion pun makan siang bersama, Alex banyak menceritakan soal Ney dan juga Rita.
__ADS_1
"Kamu harus berhati - hati dengan karakter Ney ini, aku merasa dia masih bergantung pada Rita karena Rita kenal kamu. Bisa jadi kenapa dia masih belum bisa move on dari Rita karena ada kamu," kata Ion yang menyuap supnya.
"Ya aku pun berpikiran seperti itu. Aku jadi merasa bersalah pada Rita. Selama ini aku selalu berkata kasar sama dia," kata Alex menundukkan kepalanya. Hatinya bergemuruh kalau Rita memang perempuan baik - baik.
"Haaa harus mengalami sendiri dulu baru sadar. Selama kalian berkenalan lalu berteman apa pernah Rita bertanya soal rumah, gaji pekerjaan kamu, mobil, apapun yang kamu miliki? Jelas kan perbedaan dia dengan temannya itu? Aku yang membaca chatnya saja sudah jijik," kata Ion.
"Yah mau bagaimana lagi tapi aku sudah memberi saran padanya, aku harap dia lebih hati - hati lagi nanti," kata Alex yang menenggak minuman air putihnya.
"Kok bisa ya dia punya teman seperti itu? Dia tidak sadar orangnya bagaimana? Sampai selama itu? Bertahun - tahun juga? Dia berkali - kali makan hati?" Tanya Ion berturut - turut. Rasa - rasanya tidak percaya ada orang yang memiliki teman seminus sahabatnya sendiri. Meskipun minus tapi Alex aslinya memang baik hati.
"Dia sudah tahu lama tapi dia kasihan sama Ney ini karena yang dia lihat, dari waktu ke waktu, hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun, teman yang dia punya sama sekali tidak ada selain Arnila. Seperti kita, kita setiap bulan selalu bertemu orang yang berbeda kan, kita juga mendapatkan banyak teman dari yang bertemu kita tapi kalau Ney, itu berbeda. Dengan sifatnya yang seperti itu apa menurutmu ada yang mau?" Tanya Alex pada sahabatnya.
"Bukannya kamu senang mengoleksi perempuan murahan? Seperti kakak lu, kalau bosan bisa datang ke tempatnya HAHAHA!" Seru Ion sambil tertawa terbahak - bahak.
"Curse you!" Kata Alex yang kemudian memukul wajahnya tapi dengan main - main. "No laaa aku sudah punya wanita terbaik, dia bisa membuatku nyaman,"
"Just remember. Do not do the same things as before if you don't want to lose the same thing again ( Hanya ingat saja. Jangan lakukan hal yang sama seperti sebelumnya bila kamu tidak ingin kehilangan hal yang sama lagi )," peringat Ion pada Alex. Dia tahu kalau Alex terlalu posesif itulah yang membuat Kayla lolos dari genggamannya.
Kasihan sekali padahal Alex sudah menyiapkan banyak kejutan untuknya, liburan ke 4 negara, bulan madu, mobil mewah, rumah, apapun semua yang dia sudah siapkan harus luluh lantak saat mengetahui Kayla berselingkuh dengan beberapa pacarnya. Dan juga langsung kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya tanpa ada jeda.
"I just... scared," katanya dengan suara yang pelan tapi lembut.
"Kehilangan Rita?" Tanya Ion. Alex mengangguk. "Rita akan hilang kalau kamu terlalu over, kalau kamu terlalu meremehkan & hilang kepercayaan. Aku yakin banget Rita orangnya biasa dia tidak pernah menyombongkan diri meskipun sekarang dia kenal kamu, yah pastinya menganggap kamu teman halu," kata Ion. Alex memandang sahabatnya dengan manyun.
"What you mean? I'm here. Exist! ( Apa maksudmu? Aku disini. Ada! )" Kata Alex menunjukkan dirinya.
Ion tertawa. "Ya memang ada maksudku, sampai sekarang kalian masih belum bertemu kan. Kalau iya, kamu hanya dianggap angin karena belum ada penampakan berbeda kalau sudah bertemu. Jangan berharap terlalu banyak kalau kamu belum pernah bertemu dengannya. Bertemu saja dulu kalau sudah yakin, jangan terlalu lama," kata sahabatnya yang lalu berdiri mau memesan makanan lain.
Alex terdiam dia berpikir, 'Memangnya kenapa kalau kelamaan?' "Apa maksud kamu sebenarnya?" Tanya Alex yang membalikkan badannya ke belakang.
Ion menghentikan Alex karena akan memesan makanan penutup dulu lalu menghampiri Alex. Lalu duduk setelah makanan penutupnya dia pesan tadi. "Maksudku kalau nanti kami bertemu Rita lalu kamu merasa nyaman sekali jangan terlalu lama kamu menyiakan waktu. Mengerti tidak?"
"Heh?" Tanya Alex. Ion lalu memukul kepala belakangnya membuat Alex kesakitan dan hampir dibalas.
"MARRIED HER, STUPID!" Teriak Ion. Kadang Alex juga tidak peka bisa - bisanya malah bilang Rita sama sekali tidak peka.
__ADS_1
Alex lalu tertawa, wajahnya memerah saat tahu maksudnya Ion. "Perempuan tidak akan bisa terlalu lama menunggu. Kalau kamu ragu - ragu terus, aku yakin Rita akan direbut oleh orang lain dan mungkin langsung melamarnya," kata Ion yang langsung ke topik utamanya.
"Menurutmu begitu?" Tanya Alex dengan wajah polosnya.
"Hadeuuuuh menurut kamu, aku sudah berapa kali gagal melamar? Itu karena aku terlalu lama berpikir dan menyiakan kesempatan yang ada. Nah makanya aku dengan Lory memutuskan untuk menikah. Kamu sudah punya segalanya, karir melejit, otak juga sudah mumpuni, hanya sifat ego kamu saja yang perlu direndahkan. Berlatihlah untuk lebih sabar, tenang, kalem aku yakin Rita juga begitu. Dia galak dan beringas ke kamu, karena kamunya yang terlalu mengedepankan ego kamu. Kalau sudah dapat Rita, jangan pernah kamu naikkan ego tapi jaga dia. Percaya. Itu!" Ion lalu melanjutkan makannya lagi.
Alex bangga sekali pada sahabatnya itu, dia memang selalu bisa menenangkan dirinya selama Kayla berkhianat pun, dialah yang terus ada di sampingnya. Seperti adiknya yang sudah lama pergi, dia jadi teringat dengan kata - kata terakhir dari adiknya. Apa maksudnya sifat Rita sama dengan adik kesayangannya itu? Entah kenapa dia tiba - tiba menjadi merindukan adik tersayangnya itu.
"Sudah ini antar aku ya ke tempat adikku tidur." Kata Alex bersandar pada sahabatnya.
Ion memandangi Alex yang tumben sudah lama dia tidak mengatakan apapun soal adiknya malah sekarang, dia minta ditemani datang ke tempat peristirahatannya yang terakhir. "Ok!"
Setelah itu saat Rita dan teman - temannya sedang berjalan, sekilas Linda melihat Ney menyusul mereka. Ternyata eh ternyata dia masih bertahan. Formasi mereka pun berbeda, Rita berjalan bertiga dengan Komariah dan Diana, mereka juga masih berpegangan tangan satu sama lainnya. Linda dengan Annisa, melihat Ney sendirian di belakang Siti lalu bergabung dengan Tamada dan memberi kode kalau Ney menyusul. Alhasil Ney sendirian lagi, Ney melihat Rita, Diana dan Komariah seru bercandanya dan dia tidak suka.
Ney lalu berjalan cepat merasa tidak mau kalah, dia berusaha menyalip Rita tapi tidak bisa. Akhirnya dia di samping Diana dan berusaha memeluk tangannya juga. Diana yang kaget langsung menepis tangannya, Rita dan Komariah tidak memperhatikan karena mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Sontak saja Diana menggenggam tangan Rita sebelahnya lagi, dan menatap Ney dengan kesal. Ney pun menghentikan aksinya melihat Diana yang enggan dipegang olehnya.
"Wah, parasitnya datang lagi tuh!" Kata Annisa yang menahan tawa melihat kelakuan Ney dan Diana.
Rita dan Komariah lalu melirik ke samping, Ya Ney sudah berada di samping Diana dengan wajah yang polos. "Oh, masih ada ternyata,"
"Mbak Diana terkenal ya, tapi kok cemberut sih?" Goda Tamada yang cekikikan.
Diana memang sudah terlihat malas banget dan sudah tidak perduli lagi berbeda dengan tadi. Karena kelakuannya pada Rita yang sama sekali tidak memperdulikan omongan Rita. Ney tidak peduli apa kata mereka, dia tersenyum pada Diana dan mengajaknya berbicara.
"Kalian obrolin apa sih? Seru banget! Aku juga mau ikutan," kata Ney yang mendekati Diana.
"Yakin bisa mengikuti?" Tanya Komariah.
"Bukan bicarakan soal kamu sih yang penting," kata Diana jutek.
"Oh, aku kira kamu bicarakan soal aku karena mau membalas," kata Ney pelan.
"Itu sih biar Allah yang atur soalnya balasannya pasti lebih menohok hati. Seperti sebebasnya kamu lah membuat banyak orang membenci aku atau tidak menyukai aku toh mereka punya mata yang bisa melihat, membedakan siapa yang error," kata Rita sambil tersenyum datar pada Ney.
"Berasa orang penting ya!" Kata Annisa yang teriak dari arah depan. Disusul tawa pelan dari teman - temannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...