ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
425


__ADS_3

Minggu terlewati setelah pertengkaran kesekian kalinya lagi dengan Ney, membuatnya semakin bete dan mengalami banyak kejadian dalam rumahnya. Bukan dari kiriman Ney, tapi ada sesuatu yang lain memang sudah ada dalam rumahnya.


Rita banyak bermimpi buruk dia bertemu seekor ular kobra bermata satu dan terus menatapnya lalu mengejarnya. Warna ular itu hitam gelap matanya mirip mata di Lord Of The Ring dan terus mengikutinya kemanapun dia pergi. Lalu anak-anak ular yang mengejarnya bermaksud ingin menggigit.


Tidurnya tidak pernah nyenyak kadang juga dia lemas saat bangun tidur, seperti baru berlari atau melakukan aktifitas. Saat dia sedang mengerjakan tugas sekolah, ada bayangan anak kecil berambut lurus satu ke atas, agak mirip Upin Ipin.


Kadang berdiri di sampingnya kadang berlari akhirnya karena sudah sebal Rita melemparkan banyak buku ke dinding kamar atau kemana saja. Badannya sering merasa lelah dan berkeringat berlebihan.


Rita juga jadi sering marah meledak setiap hari membuatnya stres. Di sekolah pun Rita hanya sering berdiam diri bila ada pengajian dia ikuti sampai selesai.


Saat adiknya berbuat kesalahan, Rita selalu marah seedannya. Membuat Prita merasa Jin jun yang menempel di badan kakaknya kembali berulah.


Di tempat lain Ney berusaha mencoba lagi mengirimkan teluh namun selalu gagal. Ke Arnila pun gagal karena dipasang pelindung, akhirnya Ney stres sendiri.


"Si Rita kan sama sekali tidak punya khodam, terus kemampuan sixth sense juga dibawah aku tapi kok dia bisa komunikasi dengan khodam ya? Kenapa setiap aku mau kirim teluh, malah mental semua? Dia itu punya apa sih?" Tanya Ney ke dirinya sendiri. Meu sampai ratusan kali pun teluh kirimannya sama sekali tidak akan terkirim.


Di kediaman tantenya Rita, adik dari ibunya yaitu Tante Winan kedatangan seorang pemuda ganteng dan tinggi. Dengan paras yang menyejukkan hati hawa yang memandanginya. Kulitnya seputih susu kental manis, memang manis juga dengan senyuman yang membuat melayang. Kedua matanya sipit karena keturunan Chinese.


"Assalamualaikum, spada!" Ucap pemuda tampan itu sambil tertawa.


"Iya, spada walaikumsalam. Eh, Koko! Masuk, Ko," kata Ratih membuka pintu.


"Iya terima kasih. Aku datang sama beberapa teman," kata Koko mengajak ketiga temannya masuk.


"Ada apa ya, Ko? Bi, bikinkan minuman," kata Ratih agak teriak.


"Iya, Neng," jawab Bibi dibelakang langsung masuk dapur.


"Kan nanti katanya ada acara. Aku disuruh bantu dekorasi. Acara arisan kan ya, terus ada yang mau Koko tanya juga mungkin Mama Ratih tahu" kata Koko senyum.


"Ohhh iya aku lupa! Sebentar, Ko aku panggil mama dulu," kata Ratih bergegas masuk ke dalam ruangan lain.


"Oke," kata Koko lalu mereka mengobrol dengan temannya.


Ratih adalah anak dari Tante Winan, adiknya Ibu Rita. Sambil menunggu, Koko menyalakan rokok dan melihat-lihat foto keluarga besar lalu terhenti saat melihat salah seorang dari penglihatannya.


"Kenapa, Ko?" Tanya salah seorang temannya.


"Aku lihat yang ini dalam mimpi sepertinya dia butuh bantuan," tunjuk Koko.


Temannya berdiri lalu melihat. "Widih! Si Teteh itu harus di ruqyah ey, yang nempel nya besar. Kok bisa sih ketempelan sama yang begituan?" Tanya temannya ternyata bisa melihat hal lain.


"Tuh, Tante Winan," kata yang lain.


Tante Wina datang sambil sedikit berdandan dan memakai hijab berwarna biru cerah. "Ehh ada Koko. Kumaha daramang? ( Bagaimana sehat )?" Tanyanya.


"Alhamdulillah, Bu. Bagaimana acaranya? Mau kapan?" Tanya Koko menyalami Tante Winan.


"Acaranya 3 hari lagi. Kalian tidak sedang sibuk kan? Sekalian syukuran rumah baru," kata Tante Winan senyum dan mempersilakan semuanya duduk.


Ratih juga ada bersama suaminya lalu Bibi datang mengantarkan minuman juga kue.


"Bu, mau tanya ini siapa?" Tanya teman Koko menunjukkan ke arah foto.


"Yang mana? Ryan, coba turunkan fotonya," kata Tante Winan.


Ryan lalu menurunkan foto dan memberikannya pada ibu mertuanya. "Ini," katanya.


"Yang ini, Bu," tunjuk Koko ke foto Rita yang sedang duduk sambil berpose.


"Oh, itu keponakan Ibu namanya Rita. Kenapa?" Tanya Tante Winan penasaran.


"Katanya si Koko dapat penglihatan Teteh ini butuh bantuan. Ya kan?" Tanya temannya sambil mencolek.

__ADS_1


"Oh, begitu. Kenapa memangnya?" Tanya Tante Winan kaget.


Koko hanya terdiam sambil melafalkan doa. "Teteh ini butuh bantuan darurat. Ada yang menempel sama dia jodohnya jadi terhalang. Kasihan," kata Koko dengan mantap.


"Ya Allah! Serius, Ko? Aduh, bagaimana ya alasannya?" Tanya Tante Winan agak panik.


"Hmmm Koko yakin?" Tanya Ratih. Koko adalah teman dan sahabat suaminya yang paling terpercaya, mereka kenal sejak TK sampai sekarang. Soal keanehannya pun dia dapatkan saat koma dan hampir meninggal sebanyak 3 kali.


Koko memejamkan kedua matanya, kemampuannya itu bukan ngadi-ngadi alias pura-pura tapi Koko memang memiliki kekuatan spiritual asli dari Yang Maha Kuasa bukan dari meditasi. Banyak membantu orang menghilangkan Jin sesat dari badan, sekarang Rita lah pasiennya.


"Dia sedang mencari orang yang bisa meruqyah, Teteh itu juga sadar kalau selama ini ada yang salah sama dia. Beberapa bukan yang menempelnya sempat diam karena tampaknya kena usir tapi kembali lagi dan mulai berulah. In sha allah Koko bisa mencabutnya, kasihan soalnya ada yang dekat sama dia malah tidak bisa dekat," jelas Koko.


"Wah! Ada yang mendekati Rita? Niatnya menikah?" Tanya Ratih dan mamanya terkejut.


"Hmmm bisa jadi sih karena lelakinya sudah ada hati sama Teh Rita. Suruh main saja atuh ke sini," kata Koko ingin segera hajar itu Jin kampret.


"Kalau suruh main gratis dong jatuhnya. Hayoo bagaimana?" Tanya Tante Winan ketawa.


Koko garuk-garuk kepala. Dia memang memanfaatkan ilmu yang dimiliki menjadi pekerjaannya, sebenarnya menjadi seorang ruqyah adalah pekerjaan sampingannya. Pekerja utamanya adalah seorang Wedding Organizer dan Event Organizer.


"Soalnya kalau lebih lama lagi kasihan dianya. Sekarang saja sudah stres lagi orangnya. Bagaimana ya bilangnya," Koko meletakkan fotonya dengan sedih.


"Tidak mungkin tiba-tiba kita bilang "Kamu lagi cari ruqyah kan?" Bisa-bisa bukannya datang malah menjauh dari Tante," kata Tante Winan ikut berpikir.


"Udah deh nanti Ratih yang bilang ke Tante Laya kali Teh Rita sedang butuh bantuan," kata Ratih semuanya setuju.


"Kalau bisa secepatnya ya," kata Koko memandangi Ratih.


"Diusahakan, Ko. Sok minum dulu," kata suaminya Ratih, Ryan.


Mereka minum lalu mengobrol soal rencana arisan. Sedangkan Ratih berdiskusi dengan suaminya harus bagaimana.


Di sisi lain, Rita yang sedang mengerjakan persiapan materi kaligrafi anak, seketika Rita memejamkan kedua matanya tidur sebentar dan tampak wajah nenek yang mengerikan. Rita bangun lalu kaget.


Kemudian terdengar suara yang menyeramkan seperti cakaran di dindingnya lagi. "BERISIK!!" Teriak Rita melemparkan botol minim ke arah bunyi cakaran itu. Dan tidak ada lagi suara itu.


Ibu Rita tentu mendengarnya dan agak cemas.


"Bu, sepertinya penyakit Rita kumat lagi sama sekali tidak ada yang bisa menghilangkan Jinnya? Kadang kalau Prita masuk kamarnya suka dengar ada cakaran," kata Prita yang penakut.


"Rita kan sudah sampai 10x mencari tempat ruqyah tapi mereka semua tidak mampu mengusir. Ibu juga bingung apalagi dia setiap hari setiap maghrib marah terus kan," kata Ibunya.


Alex pun kena kemarahannya setiap Maghrib pasti saja Alex diajak berantem sampai dia kena serangan jantung. Sebenarnya sih agak lebay juga padahal kan hanya sekedar ketikan ya bukan omongan. Sensitif juga si Alex.


"Kamu kenapa sih setiap Maghrib ajak saya berantem?" Tanya Alex yang stres.


"Terserah gue dong. Lu siapa!? Takut?" Tanya Rita yang keseringan menantang Alex. Dia sendiri juga bertanya-tanya kenapa setiap Maghrib emosinya naik?


"Aku ini habis kerja masa disuruh berantem? Beda kalau kamu suruh ehem ehem," kata Alex mengajak bercanda.


"NGACA LO!" Teriak Rita dalam ketikannya membuat Alex kembali emosi juga.


Akhirnya ya berantem lagi, ya Alex kena serangan jantung lagi. Setiap maghrib Rita merasa bukan dirinya saat Alex mengatakan sesuatu, Rita membacanya dan dia menangis. Alex tahu itu permainan Jin kampret yang menempel.


Dia ingin menunjukkan kalau Alex itu orang berandalan. Sosok jin itu ingin Rita putus dengannya, beranggapan kalau semua lelaki itu sama berandalan. Saat Alex emosi dan mengatakan hal yang jahat, jin itu sembunyi membiarkan Rita yang asli keluar.


"Kamu jahat!" Kata Rita yang asli. Membuat Alex bingung dan pusing, dia juga butuh bantuan agar jin itu lepas dari Rita. Karena dia Alex sulit mendekati Rita dan sulit mendapatkan hatinya.


"Hahahahaha kasihan sekali kamu. Ditolak ya? Pergi jauh sana kamu tidak pantas untuk Teteh ini. Dia milik saya, selamanya!" Teriak Jin berbentuk Nenek mendatangi Alex.


Alex yang marah membuat khodamnya yaitu Tengku keluar dan menendang Nenek itu. Terjadi kejar mengejar si Nenek dengan langkah yang panjang terbirit-birit tahu khodam Alex bersiap meninjunya.


Kebayang ya nenek-nenek lari dikejar Khodam besar yang ganteng. 🤣🤣🤣

__ADS_1


"Tuan, sudahlah untuk apa sih masih terus menyukai perempuan itu? Itu peliharaannya nenek-nenek peyot! Nanti Tuan kena serang terus," komentar Tengku protes.


Alex menghela nafas. "Ya kamu jangan kemana-mana. Tadi baru habis darimana? Pasti nongkrong cari pacar kan. Sini dulu selama Rita belum bisa terusir jinnya, dia akan terus mendatangi saya," kata Alex bergumam sendiri.


Ya benar saja setiap seminggu 4x itu nenek peyot datang mengajak berkelahi Alex. Khodamnya kadang ada, kadang tidak ada tapi bisa diatasi. Tengku kalau ada langsung tendang jauh si nenek, Tengku juga kadang datang menjenguk Rita yang sibuk makan.


Membelai Rita yang kasihan harus ditempeli nenek peyot, kalau tidak ada semua keluarga biasa saja. Beberapa hari nenek peyot datang lagi untuk melancarkan serangan, selama itu maghrib tiba Rita biasa saja.


Rita juga sadar ada yang tidak biasanya jadi dia redam emosi aneh itu dengan menonton acara Runningman kesukaannya. Dan menghindari mengobrol dengan Alex. Rita jadi sering menjadwalkan obrolan dari pagi sampai Ashar.


Lewat Maghrib juga aman. Aneh sekali.


"Rita, mumpung kamu masih normal. Aku sarankan kamu secepatnya cari orang yang bisa ruqyah kamu. Nenek peyot itu kamu lihat tidak?" Tanya Alex suatu hari.


"Iya tahu, waktu itu aku mengerjakan tugas dan ketiduran. Itu ada wajah nenek-nenek jelek lagi marah-marah," kata Rita yang ada di sekolah.


Kalau sedang bekerja di luar rumah, tidak akan ada efek apapun. Hanya Maghrib saja.


"Haaaa aku lelah! Pulang kerja nenek peyot datang kalau tidak ada Tengku, kumat jantung aku," kata Alex lega.


"Makanya setiap Maghrib sudah solat aku tidak ajak kamu mengobrol lagi kan. Aku merasa aneh saja semua keluarga aku marahin padahal tidak ada sebab. Capek!" Kata Rita yang agak sedih.


"Sebisa mungkin kamu cari terus orang yang bisa membantu kamu. Kalau sampai tidak ada bagaimana nasibku?" Tanya Alex yang cemberut tidak bisa dekat intim dengan Rita.


"Iya nanti aku coba tanya deh sama Ibu kali ada kenalan tukang ruqyah," kata Rita.


Kembali lagi ke tempat ibunya berada. Hari itu ibunya libur karena ada kegiatan di sekolahnya. Ratih lalu menelepon berharap dapat ide agar Rita mau datang ke rumahnya. Tapi Ibunya justru sedang menelepon juga jadi nadanya tidak tersambung.


"Sepertinya Ua lagi ada telepon, Ma tidak bisa dihubungi," kata Ratih menutup ponselnya.


"Coba lagi nanti saja. Ko, sini untuk tirainya dipasang di sekitar sini saja," kata Tante Winan memberikan arahan.


Kemudian dering ponsel Ryan berbunyi dan diangkatlah. "Assalamualaikum, Ya Bi, ada apa? Tumben menelepon," kata Ryan.


"Walaikumsalam. Kamu ada di rumah? Ua hari ini mau menginap di sana sama saudara yang lain," kata Bibinya dengan tiba-tiba.


"Hah? Kok tumben? One deh Bi, nanti aku siapkan kamarnya. Kita ada di rumah kok," kata Ryan agak aneh memandangi istrinya.


Ratih merasa aneh dengan wajah suaminya. "Siapa, yank? Kok wajahnya aneh begitu," kata Ratih menaruh minum.


"Bibi mau datang terus menginap," katanya menyimpan ponselnya.


"Hah? Bibi yang ada di Surabaya? Mau datang? Tumben, ada apa?" Tanya Ratih beruntun.


"Mana kutahu juga, kalau ada rencana pasti tiba-tiba tapi kalau kita yang cari susaaaah nyaaa minta ampun," kata Ryan garuk pinggang.


"Iya aneh sekali apa jangan-jangan berhubungan sama dengan Koko? Kan Keluarga kamu semuanya paranormal kecuali kamu sendiri yang polos," kata Ratih.


"Bisa jadi. Sepertinya Bibi penasaran deh sama Teh Rita, yank. Bagaimana? Sudah bisa tersambung?" Tanya Ryan duduk.


"Belum. Ua kelihatannya lagi menelepon. Nanti sore deh dicoba lagi," kata Ratih lalu menyiapkan untuk makan siang.


"Siapa tadi yang menelepon?" Tanya Ayahnya Ratih.


"Bibinya Ryan, Pah. Katanya mau menginap disini hari ini," kata Ratih membagikan piring.


"Tumben," kata Papannya Ratih memiringkan alis mata.


"Kita berdua bilang begitu. Kalau dicari kan susah sekali. Kok aku kadi penasaran ya sama jodohnya Teh Rita? Sampai Koko dan Bibi kamu datang bersamaan," kata Ratih.


Bibi Ryan juga memiliki kekuatan spiritualis tapi lebih tinggi dari Koko. Tentunya penglihatan itu pun tertampak pada Bibinya, melihat Rita yang sering menangis sedih akan sesuatu yang terus mengganggunya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2