ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(147)


__ADS_3

"Ada dong aku juga sudah menyiapkannya. Aku buat kue yang kalau dijual itu sangat mahal. Dia kan anak pengusaha terkaya masa sih diberi kue yang rendahan?" Kata Ney sambil agak - agak genit gitu lho pokoknya nyebelin banget mending kalau buat sendiri tapi beli di toko Hmmmm... Arnila memandangi Rita yang berwajah datar.


"Meskipun makanannya rendah dan sederhana, tapi dibuat dengan hati yang tulus dan mulia dan bukan Plagiat, ya. Buatan sendiri lho bukan barang BELI," balas Rita sambil mengacak makanan mereka bertiga. Yang dibalas malah sebal mendengarnya huhuhu dikiranya Rita lemah apa ya? Cape deh!


Ney membuka tasnya dan meletakkan tupperware yang dia satukan isinya dengan kue macaron Termahal. Warnanya berwarna warni dan isinya krim keju, sama sekali tidak menggugah selera Rita dan Arnila setelah mendengar ucapan Ney. Masalahnya dia mencampurkan kue Mahal dengan kentang yang tidak beraturan. Alamak!! Rasanya pasti jadi permen nano - nano.


"Kamu gila apa itu kue masa kamu satukan dengan kentang goreng. Pakai tempat lain kek!" Jerit Arnila yang melihat isi tempat kentangnya. Dan berantakan Ney memang bukan orang yang bisa rapih orangnya, kamarnya juga berantakan dengan bertebaran buku komik. Rita juga penggemar buku komik tapi dia membuat lemari khusus komiknya. Tukang yang bikin ya bukan Rita hehe...


"Halah, mana sempat! Aku kan buru - buru ke sini!" Kata Ney yang sama sekali tidak perduli dengan hal sepele.


"Terlihat kalau kamu memang berantakan orangnya sih," kata Ney yang menyindir secara tajam pada Ney.


"Memangnya kenapa kalau aku berantakan?" Tanya Ney sambil mengangkat kepala dan dagunya ke atas. Model khorang khayah yang songongin hartanya itu lho.


"Hidup kamu kalau menikah juga tidak jauh - jauh dari ketidakrapihan kamu ini. Aku jamin!" Kata Rita yang membalas dengan model yang sama. Arnila hanya menghela nafas melihatnya.


"Ini kita mau mulai makan tidak sih?" Tanya Arnila yang berusaha memisahkan mereka.


"Belum jam 12," Rita menjawab melihat jam di tangannya. Ney kaget melihat jam tangan yang Rita pakai. Tapi dia terdiam saja dan melanjutkan melihat semua makanan dan mengeluarkan sisa tupperware yang ada di dalam tasnya.


Siasat Arnila berhasil keduanya berhenti berseteru dalam hatinya sudah yakin kalau mereka tidak mungkin bisa sangat akrab. Ney dan Rita seperti Air dan Api ketika mereka berargumen, harus ada yang bisa menjadi Tanah alias penengah. Rita sebenarnya orangnya kalem tapi kalau lawannya beringas, dia bisa berubah langsung jadi tergantung lawannya sih.


"Kamu beli apa buat? Seperti bukan buatan tangan kamu deh," kata Rita yang melihat perbedaan potongan pada kentang dan semua makanan buatannya dengan kue Macarons yang super rapih.


"Ini? Aku sendiri lho yang buat. Masa beli?" Katanya sambil menyibakkan rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Aku ragu berat deh kalau ini buatan kamu. Kalau buatan Arnila sih aku percaya," Rita memperlihatkan perbedaan semuanya dengan Macaron. Ney gelagapan salah tingkah melihat potongannya dan bentuk makanan yang dia buat dengan kue yang baru dibelinya.


"Kamu susah banget ya bicara jujur," Kata Arnila yang juga memperhatikan dengan seksama.


"Bisa tidak jangan bohong? Buat apa sih kamu gengsi sampai bilang kue yang kamu beli itu buatan kamu sendiri? Aneh aku mah heran ya orang lebih banyak ngaku - ngaku," kata Rita. Ney hanya cemberut mendengarnya.


"Ini sih terlalu kentara banget bedanya," kata Arnila.


Ney kemudian semakin gelisah saat duduk, kalau orang ya sudah gelisah begitu biasanya ya mengaku saja. Ini susah banget! Mana terus saja beranggapan dia yang buat? "Serius! Ini memang buatan aku yah aku jujur sih dibantu juga buatnya sama mama. Kamu kan tahu, Nil mama aku pintar buat kue apapun!"


"Iya sih memang tahu tapi bukannya paling jagonya di kue tradisional ya? Bukannya yang agak kebaratan tidak bisa?" Tanya Arnila bertanya - tanya. "Memang enak banget lho, Rita kalau ibunya Ney buat kue,"


"Hmmm.. kalau tidak begitu pintar buat kue barat, lalu kenapa berani ya buat macaron?" Tanya Rita berkata ke dirinya sendiri namun Arnila tahu sebenarnya itu sindiran untuk Ney. "Lagipula kalau kamu membuatnya pertama kali ini bentuknya terlalu sempurna seperti yang ada di toko - toko deh,"


Ney tidak menjawab lagi, dia kemudian kembali ke kebiasaannya bila gelisah yaitu menggigiti kukunya yang langsung diselentik oleh Rita. Sudah terlambat, salah menduga eeh macaron yang dia beli dibilang buatannya. Hadeuh! Arnila tahu kalau itu barang belian karena dia hafal macaron yang sering dia beli sama bibinya, apalagi... Ney tidak teliti saat memasukkan macaronnya ke dalam tupperware. Arnila melihat semacam kertas Logo dari toko.


"Memangnya bibi lu beli di mana?" Tanya Ney yang agak keheranan karena Arnila seperti yang sengaja ingin menjebaknya atau mempermalukannya di hadapan Rita. Tapi Rita sama sekali lurus alias tidak sadar.


"Itu di Jl. Surapati kan ada toko kue besar dan mereka punya kue andalan yaitu Macaron. Enak banget! Ini sama persis dengan yang mereka punya. Kok bisa sama ya? Kamu hebat ya selain bisa duplikat tugas kuliah, kue juga bisa,"


Mendengar alamat toko yang diucapkan Arnila membuat Ney merasa lemas. Yahhh kue yang dia beli memang disitu sih toko mewah dengan kue andalannya yaitu Macaron. Ney memukulkan dahinya berpikir Arnila sudah tahu tentang kuenya itu tapi Rita benar - benar masih belum sadar. Ya Allah!


Arnila menahan tawa dan menghela nafas melihat Rita yang masih belum sadar dengan penjelasannya. Dia bingung bagaimana caranya agar Rita langsung ngeh kalau dia sedang membuka kebohongan yang dibuat Ney.


"Ya mana aku tahu kalau sampai mirip banget," jawab Ney seenak hatinya padahal jantungnya sudah berdetak kebat kebit.

__ADS_1


"Memangnya mirip?" Tanya Rita melihat ke Arnila.


Arnila mengangguk dan berharap Rita sadaaaaaarrrrrr....


"Kalau begitu...." kata Rita yang memotong dugaannya. Arnila berharap Rita langsung bisa tahu maksudnya dan Ney yang sudah gelisah pun menunggu akhir kata dari Rita.


"Jadi?" Tanya Arnila.


"Ya memang aneh!" GUBRAK!!!! ( adegan dalam anime yang semuanya dengan posisi kepala di bawah tanah dan kaki di atas ).


Mereka berdua pun tertawa keras bersama - sama, banyak orang yang sebenarnya duduk tidak cukup jauh dengan mereka yang mendengar obrolan mereka dan jawaban santuy Rita pun ... jadi ikut tertawa bersama - sama meski sambil menutup mulut mereka. Yah mungkin merasa tidak sopan ya karena mendengar obrolan mereka bertiga. Karena ternyata Rita sulit menyadari pada saat Ney tengah tertawa sambil kepalanya masih tersungkur di karpet rumput, Arnila memukul kepala Rita dengan tutup tupperwarenya.


PLAK!! Lumayan keras berharap Rita mengalami amnesia yang tentunya tidak akan terjadi kecuali Author membuat Rita kecelakaan. Rita langsung melirik Arnila dengan tatapan yang akan memulai pertarungan lalu Arnila mengangkat hpnya. Rita melihat tapi tidak mengerti dan mengeluarkan bahasa kalbu dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara. ( kalian imajinasi kan saja ya )..


'Hp? Ya aku bawa hp. Kenapa?' Tanya Rita yang membuat Arnila kembali memukul kepalanya lagi. PLAK!


Wajah Arnila menjadi datar dan mengulanginya lagi dia mengangkat hpnya lalu menggoyangkannya. Hal itu juga yang diperhatikan oleh orang - orang yang berada sedikit dekat dengan mereka. Alhasil mereka pun sadar kalau Rita TI.DA.K PE.KA.. Walah walah... pantas Arnila terus memukul kepalanya dengan tutup tupperware. Dan beberapa kelompok pun tertawa melihat usaha Arnila yang memberitahukan Rita.


'Kamu mau apa sih? Hp aku bawa terus apa!?' Seru Rita yang masih tidak mengerti.


Arnila menghela nafas dan berkata, 'Ya dibuka hpnya! Bodoh!'


Barulah dari situ, Rita mengerti. Arnila akhirnya lega Rita mengerti. Ya salah dia juga sih ngapain juga angkat hp terus digoyangkan?Seperti game Shopee saja goyang - goyang hp dapat koin kan. Rita lalu membaca isinya, Ney kembali ke posisi duduknya semula yang masih berusaha menahan tawa.


'Dari tadi tuh aku menyindir Ney karena kue macaron yang dia bawa, aku yakin banget itu beli bukan buatan dia. Aku lihat semua makanannya potongannya sembarangan. Bandingkan dengan makanan yang kita berdua buat.'

__ADS_1


Rita lalu mengangguk tidak membalasnya lagi ataupun dengan obrolan. Rita juga tahu itu pasti barang belian karena alasannya sederhana sih. Kalau memang buatan dia tidak mungkin serapih itu, memang Neynya juga tidak sadar diri sih. Padahal orangnya berantakan, mau barang atau apapun dia bukan orang yang senang kerapihan apalagi soal kue atau makanan yang dia bawa.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2