ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
433


__ADS_3

"Jadi dengan kata lain Teh Rita sudah mencapai..." kata Tante tidak melanjutkan.


Ua Mori menghela nafas. "Teteh ini sudah mendekati tempat dimana seharusnya manusia biasa tidak bisa capai. Alam yang mendekati Maha Pencipta berada. Teteh memang tidak ada keinginan untuk itu apalagi tempat tersebut yang paling tertinggi, hanya dengan kehendakNya saja manusia bisa mencapai kesana," katanya.


"Ua bisa kan?" Tanya Wean duduk.


"Yah, bagaimana ya kekuatan yang kami miliki tidak sebanding dengan yang Teteh punya. Lebih besar, lebih luas kalau Teteh dibuat menjadi seperti kami, tidak ada tandingannya. Karena kedudukannya jauuuuh apalagi... sudah bisa dibawa ke tempat Pencipta berada. Itu lebih mengerikan," kata Omnya yang lain.


Mereka semua terdiam. Pertemuan khusus sekali dengan Rita yang memiliki kemampuan khusus.


"Tapi Teh Rita tidak sadar, Om?" Tanya Ratih.


"Sadar mungkin tidak sadar mungkin. Yang pasti, Teteh ini tidak berminat dengan kekuatan. Untunglah," jawab Ua yang lainnya meminum teh.


"Kok bisa ya? Turunan dari Nenek?" Tanya Ratih.


"Ada yang turunan, ada yang memang Teteh dapat murni dari Allahnya. Tapi ya orangnya cuek, kesannya lebih bodo amat. Kalau di jadikan sebagai sumber penghasilan, bisa lebih dari Bilion," jelas Pamannya.


"Kalau tidak salah Teh Rita tidak tertarik begituan," kata Ratih menyediakan makanan.


"Iya memang mungkin alasannya Teteh ini diberi kepercayaan kekuatan alam semesta karena dia tidak peduli. Jadi kekuatannya tersimpan rapih saja, mau dia gunakan pasti On, mau tidak digunakan ya tidak apa-apa. Asal jangan meremehkan saja," kara Omnya memakan kue.


"Kenapa?" Tanya Ayah Ratih.


"Dia akan balas sepuluh kali lipat. Dan omongannya pasti terkabul. Anggaplah dia sama seperti yang lainnya jangan banyak merepotkan," kata Om memandang keluarga Ratih.


"Teh Rita akan sombong tidak sih kalau misalkan jodohnya itu si Malay," kata Tante Winan.


"Yang aku lihat sih jauh dari sombong. Cuek orangnya, kalau sudah malas mau ada orang toxic juga dia tidak akan didengar. Yang toxic nya ya bete saja," lanjut Om Ryan.


"Memangnya Teh Rita ada temannya yang toxic?" Tanya Ratih melongo.


"Ada tuh yang merundung dia dengan Malay ini. Mereka akan terkena getahnya nanti," kata Ua yang lainnya sambil seperti membaca tasbih.


"Wah, aku kira teman-temannya ya biasa saja ternyata..." kata Ratih dan Wean.


"Toxic karena dia tidak kenal Rita. Mengaku-aku sahabat tapi kelakuan parah. Heran juga Ua tuh sama orang, bukannya berbuat lebih baik malah kelakuan begitu. Ritanya sih terlalu baik, kasihan katanya sama tuh anak," kata Ua A menggelengkan kepala.


"Tapi anehnya anak itu bilang terpaksa temenan sama Rita karena Rita sendirian tidak punya teman padahal banyak," kata Om.


"Iya memang Teh Rita kan banyak teman, waktu itu juga Ratih pernah lihat Teh Rita jalan-jalan dengan dua orang teman kuliah," kata Ratih.


"Iya makanya justru yang tidak punya teman itu sebenarnya orang yang merundung Rita. Rita benar memang kasihan sama anak ini karena dari dia kenal dia bahkan sampai kerja, teman yang selalu dia lihat ya hanya satu itu saja. Kalau Rita kan kemana-sahabatnya beda," kata Om B tertawa.


"Parah orangnya, Ti. Senang memutarbalikkan fakta. Heran Ua sama pemikirannya, kalau kamu cerita tentang kucing misalkan nanti dia jadikan cerita kamu itu sebagai diri dia sendiri. Padahal buktinya, dia tidak punya kucing. Tidak malu juga kalau kebohongannya ketahuan," jelas Ua C.


"Lah, aneh sekali, Ua," kata Ratih bengong.


"Kamu pernah lihat foto teman toxic nya?" Tanya Om.


"Belum. Ua sudah ya," kata Ratih.


"Kapan saudaramu beritahu? Om tahu dan semua adik kakak Om juga meski belum diperlihatkan fotonya, ya sudah tahu kalau anak itu memang senang berbuat ulah," kata Om.


"Kok Ratih jadi merinding ya," kata Ratih gemetaran.


"Kenapa?" Tanya Ibunya Ryan.

__ADS_1


"Kemampuan Ua dan Ibu mengerikan," kata Ratih merinding disko.


"Hahaha ya jangan banyak nanya. Kekuatan kami bisa kami matikan kok. Kalau Rita, harus banyak belajar lagi untuk mengendalikan kekuatannya," kata ibunya Ryan.


Kembali pada obrolan Ua Mori, Koko serta Rita yang masih pada tema konsultasi sebelum memasuki Ruqyah.


"Teteh berdoa?" Tanya Ua Mori yang mendengar suara Aamiin dari Rita.


Rita mengangguk. "Soalnya semua tiba-tiba berdoa jadi ya ikut saja," kata Rita.


"Ih ya baguslah Teh, Teteh tahu malaikat yang bertudung itu tugasnya apa?" Tanya Ratih kembali mendengarkan.


"Ratih jangan! Nanti Rita syok berat. Biarkan saja seiring waktu Rita pasti tahu siapa itu," kata Ibunya Ryan menutup mulutnya.


"Iya," kara Ratih.


Wean dan yang lain terdiam, sama sekali tidak menduga kalau Rita sudah bertemu dengan malaikat Izrail secara langsung apalagi diantarkan menuju jembatan Siratal Mustaqim.


"Teteh masih belum sadar, biarkan saja. Dalam pikirannya tertukar informasi mengenai kedua malaikat itu. Yang bawa senjata Malaikat Malik sedangkan satunya lagi adalah Izrail. Teteh masih belum sadar kalau tahu kebenarannya sekarang, Teteh pasti sedih sekali," kata Omnya menghela nafas.


"Teh Rita akan berakhir sama tidak ya dengan mantan Malaysia? Usianya masih muda masa sudah bertemu Malaikat maut? Teh Rita punya penyakit, Bu?" Tanya Ua yang lain.


"Ada itu yang bronkhitis tapi kan sudah sembuh apa kambuh lagi?" Tanya Ibunya heran.


"Bukan paru-paru itu memang sudah sembuh. Jantung. Teh Rita punya keturunan sakit jantung tapi kita doakan semoga ada pertanda lain. Ada kok pertanda baik dan buruk bila bertemu malaikat maut dalam mimpi," lanjut Ua yang lainnya.


"Mudah-mudahan begitu pertanda sajalah," kata Tante berdoa.


"Teteh lupa ya tugas mereka berdua apa?" Tanya Ua Mori menebak.


"Iya santuy saja carinya, Teh. Lalu waktu Teteh melihat kedua malaikat itu bagaimana?" Tanya Ua Mori penasaran. Bisa-bisanya ada orang yang terus penasaran membuat malaikat Malik juga turun.


Tapi kenapa Malaikat Izrail ikut menemani Rita memperlihatkan Neraka? Apalagi pengalaman dengan semua orang di rumah ini berbeda dengan yang dialami oleh Rita.


"Masih di depan pintu itu sih belum masuk sekali. Menatap mereka aneh awal hanya ada satu yang senjata kenapa sekarang menjadi dua? Tapi mereka mempersilahkan aku masuk. Aku ragu untuk masuk, ada perasaan takut tiba-tiba. Jadi hanya menatap mereka," jelas Rita mengingat kembali.


Mereka semua hening, perasaan itu pun ada kemungkinan tertukar tempat. Atau mungkin juga karena sosok bertudung bertambah menjadi dua takutnya nanti saat datang lagi malah bertambah lebih banyak semacam tawuran.


"Takut bagaimana?" Tanya Ua Mori dengan suara super lembutnya. Rasa ketakutan itulah yang dirasakan oleh semua orang termasuk Koko saat bertemu dengan Izrail.


"Ya takut saja meski mereka mempersilahkan aku masuk tidak seperti awalnya. Ada perasaan aneh lalu muncul kilatan bahwa tempat uang aku datangi adalah Neraka. Mereka ada tanya, "Kenapa? Ayo masuk," saat aku hendak melangkah masuk lagi dengan situasi yang berbeda itu, tiba-tiba ada suara berteriak "JANGAN!" Jadi kaki kananku kembali ke pintu," jelas Rita. Menurutnya itu aneh sekali.


Pengalaman itu dia rasakan sebelum dirinya bertemu dengan Alex. Sekitar dirinya kuliah semester tiga dan memang banyak tugas dan praktek, membuatnya turun drastis.


"Siapa tuh? Kamu lihat sosoknya?" Tanya Ibunya Ryan melegakan.


"Ada tapi berbeda dengan mereka yang ada di depanku," kata Rita ingat sekali.


"Oh? Seperti apa? Bersinar?" Tanya Ua Mori menebak.


"Iya! Bentuknya bulat tapi tidak bulat entahlah pokoknya aneh. Tiba-tiba berpendar di sisi kiri seakan menghalangi saya masuk kesana. Sebelah kanan saya ada seseorang tapi entah siapa karena tidak terlalu fokus juga. Kok Ua tahu itu bersinar?" Tanya Rita.


"Ah, menebak saja Teh. Terus? Ada pembicaraan?" Tanya Ua Mori wajahnya kelihatan cerah.


"Oh iya," kata Rita.


"Suara yang bersinar itu laki-laki atau perempuan. Menurut Teteh bagaimana?" Tanya Om Ryan.

__ADS_1


"Laki-laki, lembuuuuut sekali. Saat bola itu mengeluarkan suara yang saya lihat, dua malaikat itu seakan beku, menunggu lalu sepertinya tudungnya turun. Semacam menundukkan kepala bingung juga sih, yang sebelah saya siapa ya?" Tanya Rita menatap Koko dan Ua Mori.


"Ya itu... aduh si Teteh masa tidak tahu? Pokoknya itu sangat baik sekali sesuatu yang bersinar itu sangaaaaatttt baik. Teteh nya terlalu bandel sih terlalu penasaran itu berbahaya Teh, untung diselamatkan. Ua jadi lega," kata Ua Mori memegang dadanya.


"Kamu tidak ada perasaan bertanya ke sosok sinar itu, siapa," kata Koko.


"Tidak ada. Ya lurus saja sih melihatnya takjub sih. Dipegang seperti memegang angin seperti topi yang bisa melayang tanpa ada benang atau apapun," kata Rita.


"Hah? Di pegang? Tidak ada kemarahan atau apa?" Wean heran. "Rasanya bagaimana, Teh?"


"Bagaimana ya? Ya begitu seperti balon tapi saat dipegang ya tidak ada rasa. Pokoknya bedalah. Jadi ingat mirip bulatan bola yang ada di dalam cerita Nabi Muhammad. Kan perawakan Nabi tidak pernah diperlihatkan sebagai sosok manusia kan, hanya digambarkan dalam bentuk bola yang bersinar," jelas Rita.


"Oohhh..." kata semua orang.


"Ada namanya tidak dalam bulatan itu?" Tanya Ayahnya Ratih.


"Tidak ada, Om. Bulatan bersinar saja sih jadi memang beda," kata Rita berpikir.


Om dan Tante terdiam, entah apa yang mereka pikirkan. Keluarga Ryan sepertinya tahu bahwa mereka berdua selalu meremehkan Rita.


"Lalu?" Tanya Koko.


"Bola itu tanya, "Kenapa kamu mau masuk kesana sedangkan sisi lain lebih indah?" ya Tita jawab saja, "Karena dosaku mungkin lebih banyak dari kebaikan. Sadar diri jeleknya hina nya diri ini dan lebih baik aku menerima sisi ini dari yang indah," kata Rita masih teringat pertanyaan itu.


Antara percaya dan tidak tapi Ua Mori dan Koko tahu kalau memang begitu adanya cerita pengalaman Rita. Dan tentu saja dipercaya oleh Rita sendiri sebagai mimpi.


Alex juga ada, dia kembali ke tempat Rita dan mendengarkan segalanya. Karena baginya sangat penting sekali apa yang diceritakan oleh Rita. Alex memandangi wajah Rita tidak ada kesedihan, ketakutan. Hanya kesan mengagumi apa yang dia alami.


Kedua matanya masih sedih dan takut bahwa Rita juga akan dibawa pergi. Dalam hati dan pikiran Rita yang ada bukan soal kematian, kekaguman dunia sana yang benar adanya menurut Al Qur'an. Kalau malaikat itu memang ada benarnya.


Yang baru dia temui 2 sosok yang tugasnya dia salah pikirkan, semoga kedua malaikat itu memaklumi kesalahannya. Sejak itu juga Rita tidak pernah lagi mengalaminya memasuki Neraka.


Sosok Izrail pun sama sekali tidak muncul lalu kenapa dia bisa menemaninya? Masih dalam pertanyaan di sisi setiap orang, apalagi dalam cerita Rita tidak ada kesan mengerikan dari sosok malaikat maut itu.


"Teh Rita tampaknya tidak terlalu takut dengan sosok malaikat itu, Ua," kata Tante Winan ke Ua yang lain.


"Mungkin karena Teteh mengidolakan semua penciptaan alam. Bukannya takut malah kagum dengan ciptaan. Mungkin itu yang menyebabkannya ditemani malaikat maut. Wallahu alam Ua saja tidak tahu kenapa sosoknya itu tidak sama seperti yang kita semua lihat," katanya mengangkat bahu.


"Apa karena... Teh Rita memiliki setengah kekuatan Maha Kuasa?" Tanya Wean.


"Wallahu alam, Nak. Yang bisa menundukkan malaikat maut hanya Allah. Nabi Ibrahim berani protes, Nabi Musa berani menampar, manusia biasa mana bisa berbuat begitu," jawab Ibunya Ryan.


"Apa Bola bercahaya itu bertanya lagi?" Tanya Koko wajahnya agak simpati apa yang Rita alami.


"Katanya, "Kalau saya bilang kamu masuk sisi indah ini bagaimana?" Tanyanya begitu. Rita sih pikirnya bukannya dosa harus dibersihkan dulu di neraka sebelum masuk surga? Lalu kata bola itu, "Saya ingin kamu datang ke sisi ini saja, saya akan temani kamu di dalamnya," begitu jawabnya," kata Rita meminum tehnya lagi.


Mereka berdua lega mendengarnya.


"Aduh, Teh, jangan masuk kesana lagi ya jangan deh. Kasihan atuh Aa nya dia sedih sekali lho berpikir hidupnya di dunia memang sial kalau sampai Teteh juga diambil. Jangan ya Teh, kalau nanti ketemu yang bersinar lagi pilih sisi yang indah dan pulang," kata Ua Mori memegang tangannya Rita.


Rita keheranan dan tidak mengerti tapi mengangguk. "Iya lagipula tempat itu tidak ada cahaya juga sih. Memang dari situ pasti masuk ke sebelahnya karena terang. Memangnya Izrail itu adanya di Neraka juga ya?" Tanya Rita dengan polos.


"Ya Allaaah, Teh!" Kata Koko menghela nafas.


Benar saja apa kata semua Ua dan Om, tugas kedua malaikat itu tertukar. Ratih dan keluarga tertawa.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2