Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 100 Ikatan Wijanarko dan Kinara


__ADS_3

Karena kedua adiknya sudah memiliki ikatan dengan gadis pilihannya masing-masing, akhirnya Wijanarko dan Kinara diikatkan di puncak gunung Jambu. Tampak kebahagiaan bersinar di mata Ki Mahesa, yang turut menyaksikan putra sulungnya mengucap janji setia pada pasangan hidupnya. Meskipun laki-laki tua itu tidak ikut menyaksikan pernikahan kedua putranya yang lain, tetapi melihat pasangan hidupnya, Ki Mahesa sudah merasa puas.


"Apakah kalian berdua bisa berjanji untuk bersama, bersatu dalam suka maupun duka?" terdengar suara Ki Mahesa memastikan kembali perasaan kedua orang itu.


Wijanarko memandang mata Kinara, demikian juga dengan perempuan itu. Setelah saling mengedipkan mata, pasangan itu secara bersama-sama menganggukkan kepalanya. Akhirnya dengan disaksikan seluruh kerabat, teman yang hadir di perbukitan Gunung Jambu, Wijanarko dan Kinara secara resmi sudah dibuat ikatan janji untuk menyatu. Suasana haru melingkupi pasangan itu, karena mereka tidak tahu apakah mereka masih akan diberikan umur panjang, ataukah salah satu dari mereka akan gugur dalam pertempuran nantinya.


"Selamat Kang Janar.., akhirnya kami tidak lagi merasa berdosa karena sudah meninggalkan Akang untuk memiliki pasangan terlebih dahulu." ucap Wisanggeni dengan Rengganis mendatangi pasangan pengatntin baru untuk mengucapkan selamat.


Wijanarko dan Kinara tersenyum, kemudian mereka berdua menyentuh kepala Rengganis dan Wisanggeni.


"Tidak perlu kalian sungkan seperti itu Nimas dan Rayi. Aku sebagai kakak, juga turut mengucapkan kabar bahagia yang selalu membersamai kalian. Kakak sangat bahagia kali ini, karena ikatan kami disaksikan oleh semua anggota keluarga." Wijanarko menanggapi ucapan yang disampaikan Wisanggeni dan Rengganis.


"Kita bertemu lagi rayi.." Kinara menyapa Wisanggeni.


"Iya mbakyu.., akhirnya kita memang ditakdirkan berjodoh untuk menjadi satu keluarga." Wisanggeni menanggapi perkataan Kinara, kemudian sambil menggandeng Rengganis segera bergeser dari tempat itu.


Lindhuaji dan Larasati mengikuti langkah Wisanggeni memberi ucapan selamat untuk Wijanarko, dan dilanjutkan dengan semua orang yang hadir disitu. Pesta sederhana diadakan di pesanggrahan itu, sekaligus sebagai tanda awal bersatunya Aliansi mereka.


***********

__ADS_1


Sudiro melirik Wisanggeni, saat laki-laki lajang itu tertarik untuk mendekati Maharani, perempuan dari suku ular yang sangat dingin untuk didekati. Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala, karena laki-laki itu berpikir jika Maharani mendapatkan pendamping hidup, maka kecemburuan Rengganis akan sedikit berkurang padanya. Melihat dia sudah mendapatkan ijin dari pemimpinnya, Sudiro pura-pura berjalan mendekat ke arah Maharani yang hanya duduk sendiri melihat ke arah lembah.


"Ehem.., apakah yang kamu lihat Nimas?" dengan berdeham, Sudiro mengawali percakapan awalnya dengan Maharani.


Perempuan itu seperti biasa menatap laki-laki yang berdiri di belakangnya itu dengan tatapan bengis. Tetapi hal itu tidak menghalangi niat Sudiro untuk mengenalnya. Laki-laki itu malah melakukan hal yang nekat, dia duduk di samping gadis itu. Meskipun kekuatan gadis itu sangat besar, tetapi Sudiro yakin jika Maharani tidak akan berani menyakitinya di depan para tokoh-tokoh dari dunia persilatan.


"Untuk apa kamu dekat-dekat padaku Ki Sanak? Kita tidak saling kenal sebelumnya, jadi aku harap kamu bisa tahu diri, dan menempatkan siapa dirimu." dengan suara galak, Maharani berusaha mengusir Sudiro. Tetapi laki-laki itu memang sudah bertekat kuat, dia tidak akan gentar mendengar gertakan kasar dari Maharani.


"Nimas.., tidak ada larangan bagi siapapun untuk duduk disini. Kita bisa tidak saling mengganggu, kan batu yang kita duduki ini masih luas. Biarkan aku ikut memandangi apa yang sedang kamu pandang di bawah sana Nimas.., siapa tahu kita bisa berbagi cerita sesudahnya." ucap Sudiro menanggapi sikap tidak mengenakkan yang ditunjukkan gadis dari suku ular tersebut.


Maharani diam, dia malas berdebat dengan laki-laki yang menurutnya menyebalkan itu. Perempuan itu menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dari laki-laki itu, dia juga malas berpindah tempat. Melihat Wisanggeni yang selalu menunjukkan perilaku intim terhadap Rengganis tanpa melihat tempat, menimbulkan rasa sakit dan nyeri di ulu hatinya. Maka lebih baik dia menahan diri dari laki-laki yang menyebalkan, yang saat ini duduk di sampingnya itu.


"Bolehkah aku mengenalmu Nimas? Namaku Sudiro.., ke depan panggil saja dengan nama panggilan Diro. Namamu Maharani kan, bolehkan aku memanggilmu Rani Nimas?" dengan berani, Sudiro mencoba mengajak Maharani berkenalan.


Maharani diam tidak merespon ucapan Sudiro.


"Kita saat ini tinggal dalam satu pesanggrahan yang sama, makan di tempat sama. Bahkan semua aktivitas juga dilakukan secara bersama-sama, apakah hanya sekedar berbagi panggilan saja, kamu tidak mengijinkan aku Nimas. Apalagi menurut jadwal yang sudah disusun, minggu depan kita sudah harus mulai bertempur. Bisakah untuk beberapa hari ini, kita bisa menikmatinya dengan bersama?" Sudiro terus berusaha untuk mengenal lebih dekat dengan Maharani.


Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sudiro, Maharani menoleh ke arah laki-laki itu. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Sudiro menatap Maharani sambil menggeserkan tubuhnya lebih mendekat pada Maharani.

__ADS_1


"Kamu pasti sedang mentertawakan nasibku kan.., yang sudah berikhlas diri untuk mendatangi laki-laki yang dicintainya. Tetapi sedikitpun laki-laki tersebut tidak melihatnya." tiba-tiba Maharani mengajak bicar Sudiro.


"Nimas Maharani.., tidak ada siapapun di pesanggrahan ini yang mengolok-olokmu Nimas. Kamulah yang selalu menyendiri dan menutup diri bagi siapapun yang akan mengenal lebih dekat denganmu. Hanya Wisanggeni yang membuatmu tunduk dan mendekat padanya, tanpa laki-laki itu meminta." Sudiro menyampaikan kekeliruan yang dilakukan gadis itu.


Maharani menundukkan kepala, kalimat Sudiro mengingatkan padanya tentang apa yang sudah dia upayakan untuk Wisanggeni. Dengan tersenyum kecut, gadis itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah lembah yang ada di depan matanya.


"Ijinkan aku mengenal dirimu Nimas.., aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." kembali Sudiro tanpa merasa bosan, menyampaikan niatnya untuk mengenal Maharani.


"Aku berasalĀ  dari suku Ular.., dimana dalam darahku mengalir darah ular. Suatu waktu aku bisa berbentuk manusia sepertimu, tapi suatu waktu aku bisa berubah wujud menjadi seekor ular. Apakah kamu tidak akan takut untuk mengenalku?" Maharani berusaha menakuti Sudiro.


Tapi ketertarikan Sudiro pada Maharani bukan hanya di bibirĀ  saja. Laki-laki itu mengulurkan tangannya, dia mengajak Maharani untuk berjabat tangan.


"Aku tidak akan takut padamu Nimas.., percayalah padaku!" dengan nada meyakinkan, Sudiro tersenyum pada Maharani. Setelah beberapa saat, akhirnya Maharani menerima uluran tangan Sudiro.


"Kita hanya saling mengenal saja, bukan untuk yang lain." dengan ucapan pedas, Maharani mengingatkan Sudiro.


Dari kejauhan Atmojo tersenyum melihat saudaranya satu padhepokan berhasil mengenal gadis yang diincarnya.


******************

__ADS_1


__ADS_2