
Maharani mendatangi tempat penangkapan beberapa orang yang sudah memasuki wilayah perbatasan kerajaan ular. Luka lebam dan memar terlihat di tubuh orang-orang itu, yang belum dapat diketahui asal dari luka-luka tersebut. Tetapi ketika melihat pada para prajuritnya, tidak ada tatapan rasa bersalah, Maharani merasa sedikit lega. Perlahan perempuan muda itu berjalan lebih dekat ke arah orang-orang itu, kemudian..
"Apakah kalian sudah menjelaskan asal dari keberadaan kalian di kerajaan ini?" dengan tatapan menghunus, Maharani mempertanyakan pada orang-orang tersebut.
"Ampuni kami ratu.., kami terpaksa melakukannya. Kami sudah tidak tahan lagi, dengan perlakuan orang-orang jahat yang ada di wilayah kami. Akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari mereka, meskipun beberapa diantara kami, ada yang kembali tertangkap dan dihakimi dengan sangat kejam." dengan muka pucat, orang-orang tersebut menghiba pada Maharani.
"Hmm.., untuk luka-luka di tubuh kalian, siapa yang menyebabkannya?" dengan penuh selidik, Maharani juga menanyakan asal dari luka-luka di tubuh mereka. Mendengar pertanyaan tersebut, prajurit Maharani tidak membuat respon apapun.
"Ini hanya sebagian kecil dari perlakuan kasar orang-orang jahat itu kepada kami Gusti Ratu.., bahkan beberapa dari kami terpaksa harus kehilangan anggota tubuh mereka. Lihatlah.., kondisi bagian dalam dari tubuh kami Gusti Ratu.." salah satu dari orang tersebut, membuka pakaian atasnya. Telihat bekas-bekas luka bakar dan luka terkena goresan parang yang belum sepenuhnya sembuh.
Melihat penderitaan luka luar di dalam tubuh beberapa orang tersebut, menimbulkan rasa welas asih di hati Maharani perlahan muncul. Perempuan itu membalikkan badan, kemudian memanggil salah satu prajurit untuk datang mendekat padanya.
"Baik Gusti ratu.., hal apa yang bisa kami lakukan?? Kami siap untuk mengemban tugas, dan juga siap untuk menerima hukuman atas kekeliruan dari tindakan kami." sambil menghaturkan sembah, prajurit itu menghadap pada Maharani.
"Tampung orang-orang ini di kerajaan kita, sediakan tempat tinggal untuk sementara. Jika mereka sudah sembuh, tanyakan lagi lebih detail, siapa yang menjadi pelaku dan penyebabnya. Jangan main hakim sendiri.." sambil melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut, Maharani meninggalkan beberapa hal penting.
__ADS_1
"Terima kasih Gusti Ratu.., atas kebaikan hati Gusti ratu. Kami berjanji untuk mengabdi dan setia pada Gusti Ratu dan kerajaan ini. Jika Gusti ratu mau menerima kami, terimalah kami untuk menjadi penduduk dari kerajaan ini, kami akan sangat bersenang hati." orang-orang tersebut menjatuhkan badannya di atas tanah, mereka bersujud memberi sembah pada Maharani. Tetapi perempuan muda itu, sudah berjalan meninggalkan mereka.
"Bangun.., jangan bertindak seperti seorang pecundang. Kalian sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Gusti Ratu. Bersiaplah untuk mengikuti kami.., untuk beberapa waktu kami akan menanggung kehidupan kalian di negara ini. Tetapi selanjutnya, kalian harus berpikir sendiri bagaimana untuk bisa bertahan hidup di kerajaaan ular." dengan nada tinggi, prajurit kerajaan ular berbicara pada orang-orang itu.
"Ampuni kami Ki Sanak.., ini hanya sebagai bentuk penghormatan kami kepada Gusti ratu Maharani. Ternyata perkataan di luaran sana, semuanya merupakan berita bohong. Ternyata Gusti Ratu Maharani merupakan orang yang memiliki sikap welas asih dan bijaksana, Sangat berbeda dengan yang berhembus di luaran sana. Kami akan segera bersiap Ki Sanak." orang-orang tersebut segera berdiri kembali, kemudian mengikuti langkah prajurit di depannya.
************
Maharani merentangkan tangannya menghirup udara sore hari di atas puncak sebuah bukit. Matanya memandang ke arah perbukitan luas di depannya, dengan pikiran yang menerawang jauh. Udara segar memenuhi paru-parunya, dengan cepat perempuan itu menghembuskan kembali ke luar. Beberapa kali, Maharani melakukan hal yang sama,
"Suatu saat aku akan menyusulmu.., aku akan membawa anak kita untuk bertemu denganmu. Dan jika kamu ijinkan, aku akan selalu berada di dekatmu." Maharani terus berbicara sendiri, sambil memejamkan matanya. Perlahan, perempuan itu bisa memaknai kata-kata yang sudah disampaikan para sesepuh kepadanya. Dalam keadaan bagaimanapun, sebagai seorang istri, dia harus berada di dekat suaminya.
Maharani juga teringat dengan perlakuan yang diberikan Wisanggeni kepadanya, di akhir-akhir perpisahan mereka Perempuan ini bisa merasakan jika sikap Wisanggeni kepadanya sudah berubah, sudah tidak lagi seperti awal-awal mereka bertemu. Perhatian sudah ditunjukkan oleh laki-laki itu kepadanya, dan juga sikap bersahabat yang ditunjukkan Rengganis istri pertama dari suaminya. Mengingat hal tersebut, menambah kekuatan pada diri Maharani untuk menyusul suaminya.
Perlahan tangan Maharani membentuk sebuah simbol, dengan menggenggam tangan dan mengangkat satu jari telunjuk, perempuan muda itu memompa kekuatan ke arah simbol tangan tersebut. Setelah beberapa saat, gumpalan aura muncul dan berada di atas genggaman tangannya.
__ADS_1
"Clap..., cetarrr..." terdengar bunyi ledakan di tebing yang ada di bawahnya, ketika jari telunjuknya diarahkan ke pinggiran tebing tersebut. Satu kaki kanannya ditekuk ke belakang, kemudian dengan cepat perempuan muda itu berputar.
"Cetar.., cetar..., bluarr.." pukulan beruntun dikeluarkan oleh Maharani ke arah tebing yang ada di seberang tempatnya berdiri. Beberapa bebatuan di tebing tersebut tampak hancur, dan berjatuhan ke arah jurang yang ada di bawahnya.
Setelah beberapa saat, Maharani berlatih mengeluarkan sedikit kekuatannya, akhirnya perempuan itu mengakhiri latihannya, Sudut bibirnya berkembang naik ke atas, melihat tebing yang longsor di bawah sana.
"Sudah puaskah hatimu, menimbulkan kekacauan disini?? Suara runtuhnya tebing itu sampai terdengar ke dalam kota, apakah kamu tidak memikirkan terlebih dahulu." tiba-tiba Maharani dikejutkan dengan suara sesepuh yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Perempuan itu membalikkan badan, dan dengan tersenyum malu menatap perempuan tua di depannya.
"Ampuni Maharani nek... karena sudah menimbulkan keributan. Maharani hanya ingin melemaskan tulang dan otot yang sudah mulai kaku-kaku, dan sedikit sudah melemaskannya kembali. Nenek kesini untuk menjemput Maharani?" dengan senyum malu, Maharani mendatangi dan merangkul sesepuh di depannya itu,
"Kedatanganku ke tempat ini untuk menangkap biang pembuat kerusuhan, dan ternyata tidak tahunya kamu sendiri yang melakukannya. Pikirkan sebelum berbuat sesuatu, sebelum melakukan tindakan Maharani. Kamu itu pemimpin di tempat ini, dimana tindakanmu akan dianggap memberi contoh bagi warga yang lain. Jangan ulangi lagi, dan jika kamu memang ingin berlatih. Pergilah ke ruang latihan, atau masuk ke dalam hutan agar suara serangan yang kamu keluarkan tidak mengganggu." perempuan tua itu terus menasehati Maharani.
"Baik nek.., junior ini siap untuk melaksanakan sesuai apa yang sudah nenek katakan. Hari sudah akan menjelang malam nek.., ada baiknya kita segera menuju ke istana." Maharani segera membawa sesepuh itu. Keduanya segera melompat dan menghilang dari tempat tersebut.
***********
__ADS_1