
Aki Kasena menceritakan asal mulanya dia berada di tempat ini, hal itu tidak lain karena dulu laki-laki tua itu bersama dengan saudara-saudaranya mengadu nasib untuk mencari pusaka tersebut. Malang tidak dapat diraih, mereka tidak berhasil untuk mendatangi tempat tersebut, bahkan semua keluarganya menjadi korban. Hanya dia sendiri yang bisa bertahan dan akhirnya memutuskan untuk menetap disitu. Seiring perjalanan waktu, Ki Kasena dijadikan sebagai sesepuh di tempat itu, dan tidak jauh dari tempatnya tinggal, ternyata ada sebuah perguruan yang memiliki beberapa murid. Merasakan kedamaian dan ketenangan tinggal di hutan itu, menjadikannya bersama orang-orang yang sudah memutuskan menetap, tidak mau lagi berhubungan dengan dunia luar.
"Hmmm.., ternyata seperti iu ceritanya. Jika saya Aki.., kedatangan saya disini tidak ada hubungannya dengan keberadaan pusaka itu. Saya malah baru saja mendengar ceritanyanya dari Aki. Tetapi, saya memiliki kepentingan untuk melakukan meditasi selama 40 hari di puncak gunung Aki. Itupun saya belum tahu, di puncak gunung mana, saya memutuskan untuk melakukan meditasi." mendengar perkataan Wisanggeni, Ki Kasena menatap wajah laki-laki muda itu dengan lekat. Tetapi tidak lama kemudian, laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya.
"Esensi energi murni, setahuku disiapkan untuk menyiapkan kelahiran seorang janin. Bagi janin yang berhasil menyerap energi itu, akan memberinya kekuatan sejak lahir, dan akan memperlancar penyerapan ilmu-ilmu selanjutnya. Sejak jaman dulu.., biasanya manusia keturunan ular, yang akan memanfaatkan energi esensi murni. Hal itu mengingat mereka bisa hidup di dua tempat. Di air dan di daratan. Jika aki yang tua ini diijinkan untuk bertanya, apakah nak Wisang memiliki keterkaitan dengan manusia ular..?" dengan hati-hati, Kasena bertanya pada Wisanggeni.
Wisanggeni diam sebentar, kemudian setelah menghela nafas..
"Iya Aki.., saya adalah putra menantu dari manusia ular. Istri saya adalah Nimas Maharani, ratu ular." sambil tersenyum, Wisanggeni menjawab pertanyaan lali-laki tua itu dengan tegas. Dia sudah tidak malu lagi mengakui identitasnya di muka umum, karena memang keadaannya begitu.
"Bisa jadi memang keberadaan pusaka itu memang diperuntukkan untuk manusia keturunan ular. Berdasarkan cerita, setiap menjelang orang-orang penting di kerajaan ular menyiapkan keturunannya, akan banyak utusan dari manusia ular yang mencoba peruntungan itu. Saat ini kedatanganmu bisa jadi akan berjodoh nak Wisang.. Cobalah.., karena setelah pusaka itu memberikan kekuatannya padamu, gunung yang akan kamu cari akan muncul dengan sendirinya." tanpa diminta, Aki Kasena menambahkan penjelasan untuk Wisanggeni. Laki-laki muda itu menganggukkan kepala, dia sangat bersyukur atas informasi yang baru saja dia peroleh.
Tanpa disadari, Wisanggeni dan Ki Kasena terlibat dalam pembicaraan tentang banyak hal sampai menjelang malam. Mengingat tidak banyak pemukiman di sekitar situ, Ki Kasena meminta Wisanggeni untuk menginap di rumahnya.
"Marilah kita makan dulu nak Wisang.., Aki hanya menyiapkan makanan ini." laki-laki tua itu mengambil potong-potongan umbi rebus dan meletakkannya di atas daun pisang. Bau harum wedang serai jahe, disajikan dalam gelas yang terbuat dari batang kayu, menambah kehangatan dan kesegaran badan setelah mengkonsumsinya.
__ADS_1
"Makanan ini nikmat sekali Aki.., apalagi dengan dipadu dengan minuman hangat seperti ini." Wisanggeni memuji makanan dan minuman yang disajikan laki-laki tua itu.
"Ya pasti nikmatlah nak Wisang.., apalagi tidak ada pilihan menu lainnya untuk kita makan, selain makanan ini." tanpa bermaksud menyindir, Ki Kasena menanggapi perkataan Wisanggeni.
*******
Tidak menunggu lama, setelah menjelaskan penjelasan dari Ki Kasena, pagi hari Wisanggeni berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan laki-laki itu saat ini berubah, tidak lagi ingin mencari puncak gunung sebagai tempat melakukan meditasi, melainkan akan mendaki bukit dan mengadu nasib untuk mendapatkan tempat yang dipilih oleh pusaka lempeng itu. Aki Kasena melihat perginya Wisanggeni, dan memandangnya sampai punggung Wisanggeni hilang dari pandangannya.
"Aku sepertinya harus menyusuri jalanan ini dulu, baru bisa mencari arah jalan naik untuk sampai ke pinggir bukit." Wisanggeni berhenti sebentar, tatapan matanya mengamati jalanan di depan yang akan dia lalui. Setelah memastikan arah jalan mana yang akan dia ambil, perlahan laki-laki itu segera berjalan ke arahnya.
"Aaauuuuuuuumm...." setelah berubah bentuk menjadi seekor singa besar, Singa Ulung mengaum menunjukkan kekuasaannya. Binatang-binatang buas yang semula mengintai keberadaan Wisanggeni, perlahan mereka menjauh karena merasakan tindasan kekuatan dari Singa Ulung. Wisanggeni dan binatang itu berjalan berdampingan, dalam diam mereka mengamati jalanan terjal berliku yang mulai terlihat di depannya.
"Siuuuww.. clap..." tanpa diduga sedikitpun, tiba-tiba sebuah pisau bumerang mengarah pada Wisanggeni. Laki-laki itu sontak berhenti, matanya mengitari ke sekitar hutan tempatnya berdiri. Pandangan matanya menatap ke arah gerumbulan yang ada di depan, dan melihat sekelebat bayangan sedang berlari.
"Kita akan lihat dulu saja Ulung.., sejauh apa keberanian orang itu main belakang kepada kita?" tangan Wisanggeni mengusap pelan kepala binatang itu, kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali.
__ADS_1
Baru sekitar satu mil mereka berjalan, tiba-tiba di depan mereka terdapat tiga orang yang menghadang. Wisanggeni tersenyum licik, tanpa diminta, tangan Wisanggeni menahan Singa Ulung untuk berhenti. Laki-laki itu menatap tiga orang yang berdiri di depannya.
"Mau kemana kamu..? Apakah kamu berpikir, dengan seenaknya orang asing akan melewati tempat ini dengan langkah bebas?" satu dari mereka bertanya pada Wisanggeni dengan nada penuh peringatan.
"Begitu ya..., apa yang harus aku lakukan, agar Ki Sanak bertiga mengijinkanku untuk melewati tempat ini?" tanpa rasa takut, sambil tersenyum Wisanggeni bertanya pada mereka.
"Serahkan semua barang yang kamu bawa, termasuk binatang yang ada di sampingmu? Jika tidak mau.., kamu tidak akan dapat melintasi tempat ini dengan selamat." dengan berteriak, teman satunya menimpali.
"Untuk barang bawaan.., sepertinya aku tidak membawa apapun. Hanya sebilah pisau ini.." Wisanggeni menunjukkan sebilau pisau pendek, senjata andalannya pada mereka.
"Jika kamu menginginkan temanku untuk kamu bawa, aku tidak akan dapat menjawabnya. Karena binatang ini bukan milikku, dia mengikutiku karena keinginan dia sendiri. Bukan aku yang menundukkannya, tetapi dengan keinginannya sendiri, Singa Ulung mengikutiku." sambil tersenyum, Wisanggeni melanjutkan jawabannya. Tangannya mengusap lembut, bulu-bulu halus di punggung binatang singa itu.
"Blarr.., blaarr.." tanpa diduga salah satu dari orang tersebut, mengirimkan serangan pada Wisanggeni. Tidak ada satupun dari mereka yang mengira, Singa Ulung tiba-tiba maju menghalau serangan tersebut. Dengan mudah kiriman serangan mereka dimentahkan oleh binatang itu. Wisanggeni memundurkan tubuhnya ke belakang, dia mengamati bagaimana binatang kesayangannya itu melawan tiga orang tersebut.
***********
__ADS_1