Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 351 Apakah Kamu Merindukanku


__ADS_3

Wisanggeni dan Parvati akhirnya mengajak Sudiro menaiki Singa Ulung untuk menuju kota Laksa. Tanpa istirahat lagi, ketiga orang itu berada di atas punggung Singa Ulung secara bersama-sama. Pertama kali melihat keindahan alam dari atas punggung Singa Ulung, Sudiro mengagumi pemandangan yang terlihat di bawahnya.


"Ternyata sangat menyenangkan melihat pemandangan dari atas sini Wisanggeni.. semua tampak beda dengan ketika kita melihatnya secara langsung. Aku sangat menyukai bisa mendapat kesempatan berada di atas punggung binatang ini." sambil matanya terus menatap ke arah bawah, Sudiro menyampaikan kekagumannya pada ayahnda Parvati.


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu memaklumi perkataan yang diucap oleh Sudiro. Memang tidak semua orang dapat menyaksikan keindahan ciptaan Hyang Widhi dari atas langit. Beruntunglah, dia dan keluarganya mendapatkan karomah tersebut.


"Iya Sudiro.., aku turut merasakan kebahagiaanmu. Kebetulan aku dan keluargaku, mendapat kehormatan untuk memiliki binatang yang bisa membawa keluargaku terbang.." Wisanggeni menanggapi perkataan Sudiro.


Sambil berbincang dengan Sudiro, tangan Wisanggeni menahan kepala Parvati. Sejak SInga Ulung mulai terbang ke atas, gadis kecil itu sudah terlelap terkena semilir angin. Dalam keadaan perut kenyang, dan belum terlatih melakukan perjalanan jauh, Parvati memang belum bisa mengendalikan keinginannya. Dengan penuh kasih sayang, Wisanggeni menahan kepala putrinya agar tidak terjatuh, dengan menggunakan lengannya. Satu tangannya memberikan usapan di kening gadis kecil itu.


"Keluargamu memang layak untuk mendapatkan keberuntungan ini Wisang. Aku tahu dan melihat sendiri bagaimana tangguhnya dirimu dan Rengganis, selalu bersatu padu untuk menumpas kejahatan, dan memberi pertolongan pada kaum lemah yang membutuhkan bantuan. Tidak semua orang bisa meniru sikap kalian berdua. Sehingga menjadi layak, kalian mendapatkan karahayon dengan dua binatang sakral menjadi tunggangan keluarga kalian." Sudiro mengomentari keluarga Wisanggeni.


"Sudahlah Sudiro.., tidak akan habis jika kita terus membicarakan hal ini. Istirahatlah dulu, perjalanan kita masih lumayan jauh. Aku akan menjagamu dan putriku, kalian berdua bisa segera tidur memejamkan mata." Wisanggeni memberi saran agar Sudiro segera beristirahat.


"Tidak Wisang.., akan sangat disayangkan aku melewatkan pemandangan di bawah sana. Tidak akan dapat dua kali, aku dapat menikmati perjalanan menggunakan binatang Singa Ulung. Aku akan menikmatinya, karena belum tentu aku akan dapat mengulanginya kembali." dengan tegas, Sudiro menolak ajakan yang ditawarkan Wisanggeni.

__ADS_1


Mendengar jawaban Sudiro, Wisanggeni tersenyum. Laki-laki itu memaklumi sikap yang ditunjukkan Sudiro, karena memang apa yang diucapkannya itu benar adanya. Perlahan Wisanggeni menepuk pelan punggung Singa Ulang, dan memberikan usapan lembut di leher binatang itu. Komunikasi itu sering dilakukan oleh Wisanggeni, sebagai bentuk isyarat jika dia menghargai jerih payah binatang itu. Hal itu juga menjadikan kedekatannya dengan Singa Ulung semakin erat, dan tidak memberikan batasan antara majikan dengan pelayan.


"Sepertinya kota Laksa ada di balik gunung yang terlihat di depan sana ya Wisang.." Sudiro menunjuk gunung yang tampak berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


"Benar yang kamu katakan Sudiro.., di balik gunung itulah, kota Laksa berada. Kita nanti tidak akan turun di kota Laksa, namun kita akan mencari desa yang paling luar di kota Laksa. Aku tidak mau kedatangan Singa Ulung, akan menarik orang-orang untuk datang melihat, dan akhirnya berita kedatanganku sampai ke telinga perangkat di kerajaan Laksa." Wisanggeni menjawab perkataan Sudiro.


"Iya aku juga memahaminya Wisang.. Jika pangeran kerajaan Laksa tahu, jika kamu berada di Trah Bhirawa, aku yakin maka pangeran akan memintamu untuk datang ke kerajaan. Niatmu untuk berkunjung pada keluarga Mahesa akan banyak terkesampingkan." Sudiro menanggapi keberatan Wisanggeni.


***********


Di pegunungan Gunung Jambu


Di tapal batas, terlihat Sekar Ratih berlari menyambut kedatangan Chakra Ashanka. Anak muda itu tersenyum melihat tubuh gadis kecil yang sudah mulai berisi, sangat jauh berbeda jika dibandingkan pada saat pertama kali mereka bertemu. Gadis yang terlihat kekurangan nutrisi ketika baru pertama kali berjumpa dengan Chakra Ashanka, saat ini sudah mulai mengalami pertumbuhan wajar, dan layaknya seorang gadis kecil.


"Kang Ashan... Raden Bhadra.. kalian berdua akhirnya datang juga. Ratih akan memiliki teman lagi di perguruan ini, karena Nimas Parvati juga belum kembali." terdengar perkataan dari mulut Sekar ratih saat sudah berhadapan dengan kedua anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Iya Ratih.., kenapa kamu bisa berada di tempat ini. Di mana keberadaan ibunda Rengganis..?" mata Chakra Ashanka menengok ke kanan dan kiri, tetapi anak muda itu tidak dapat menemukan keberadaan ibundanya.


"Ratih memang meminta ijin sama Den Ayu Bibi Rengganis kang Ashan.. Kebetulan bibi juga membutuhkan pengawas, untuk mengawasi pembangunan kembali tapal batas. Jadi Ratih menawarkan diri untuk berjaga disini, sembari menunggu kembalinya kang Ashan." dengan jujurnya, Sekar ratih berbicara apa adanya.


"Apakah kamu merindukan aku Ratih..?" tiba-tiba tanpa sadar, Chakra Ashanka bertanya pada gadis kecil itu. Dan dengan polosnya, pipi Sekar ratih bersemburat marah. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.


"Ha.., ha.., ha.. ratih.., Ratih.. ternyata kamu itu sangat lucu. Sudahlah Ratih.., aku dan Raden Bhadra harus segera masuk ke perguruan bagian dalam. Kami harus segera beristirahat, dan nanti malam akan bertemu dengan ibunda Rengganis." akhirnya Chakra Ashanka mengalihkan kecanggungan di antara mereka.


"Baik kang Ashan.., tunggu Ratih. Aku akan pamitan dulu dengan penjaga di luar, untuk memberi tahu mereka jika Ratih akan membersamai kang Ashan dan Raden Bhadra untuk kembali ke padhepokan. Mereka agar menggantikan tugas Ratih untuk berjaga.," tidak mau mengecewakan gadis kecil yang dibawanya masuk ke perguruan ini, Chakra Ashanka tidak menanggapi perkataannya. Anak muda itu mengajak Bhadra Arsyanendra untuk menunggu Sekar ratih membereskan urusannya.


"Kang Ashan..., hmmm... sepertinya kalian berdua itu mulai ada suka ya..?" tiba-tiba tidak diduga, Raden Bhadra bertanya pada anak muda itu.


"Jangan berbicara sembarangan Raden.., jaga ucapanmu. Aku dan Sekar ratih tanpa sengaja bertemu. Kedua orang tua gadis kecil itu, dan kakak-kakaknya menitipkan adiknya padaku. Wajar kan, jika aku memberi perhatian padanya, sama dengan aku memberi perhatian pada Nimas Parvati.." dengan gelagapan, Chakra Ashanka menanggapi perkataan Bhadra Arsyanendra.


"Tidak perlu dijawab kang Ashan.. Kita lihat saja nanti, sepertinya waktu yang akan membuktikan semuanya. Berdasarkan firasatku, sepertinya gadis kecil itu Sekar ratih, dia memang terlahir untuk kang Ashan.." Bhadra Arsyanendra terus menggoda anak muda itu.

__ADS_1


Chakra Ashanka hanya geleng-geleng kepala, melihat bagaimana Bhadra Arsyanendra terus berusaha untuk mendesaknya.


***********


__ADS_2