Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 390 Hindarkan Kekerasan


__ADS_3

Mendengar perkataan pedas yang diucapkan oleh Chakra Ashanka, mata ke empat orang itu menjadi terbelalak keluar,. Dengan tatapan sengit, ke empat orang itu segera mengambil sikap kuda-kuda. Namun.. sedikitpun Chakra Ashanka dan kedua gadis di sampingnya tidak merasa gentar. Dengan tatapan berani, mereka beradu pandang dengan para laki-laki itu.


"Ternyata kalian memang tidak bisa untuk diajak bicara baik-baik. Sudah bertingkah lebih, dengan menundukkan anak buahku, saat ini malah terang-terangan kalian datang kesini dan membuat tantangan kepada kami. Tunjukkan semua kekuatanmu.. janganlah kalian berpikir jika kami adalah katak dalam tempurung.." seorang laki-laki yang mungkin memiliki jabatan sebagai kepala desa berbicara dengan nada kasar pada Chakra Ashanka.


Tidak mau menanggapi dengan kata-kata, Chakra Ashanka tidak ragu lagi langsung menunjukkan kekuatannya. Anak muda itu mengeluarkan aura melimpah dari dalam tubuhnya, yang langsung mendesak kekuatan orang-orang itu. Dengan satu tangan kanan, Chakra Ashanka menarik Ayodya putri dan Sekar ratih untuk melompat di atas halaman pendhopo balai desa.


Ke empat orang itu segera melompat ke halaman, mengikuti ketiga anak muda itu. Meskipun ke empat orang itu mengakui jika aura batin anak muda itu menindas dan menekan kekuatan mereka, tetapi mereka meremehkan aura itu-. Dengan berani dan tatapan sengit, ke empat orang itu mengelilingi Chakra Ashanka dan kedua gadis yang bersamanya,


"Ha.. ha.. ha.. saudaraku semuanya. Desa kita kali ini sedikit mendapatkan kehormatan untuk didatangi oleh anak-anak muda yang sombong. Ayo kita kalahkan mereka, dan kedua gadis cantik itu akan menjadi penghangat ranjang kita. Kita akan menjadikan kedua gadis itu secara bergiliran.. ha.. ha.. ha.." salah satu dari orang itu kembali berbicara dengan nada sombong.


"Pletak.. clang... clang..." tanpa berbicara dengan cepat Sekar Ratih dan Ayodya Putri mengirimkan serangan pada orang-orang itu, tanpa sedikitpun mengendalikan kekuatan mereka.


Pusaran pisau yang cepat tampak menari-nari di depan  ke empat orang-orang itu. Dari samping, Chakra Ashanka kembali mengangkat satu sudut bibirnya, kemudian laki-laki itu mengarahkan tenaga dalamnya ke pisau yang sudah menari-nari seperti kipas itu. Tanpa menggunakan senjatanya sendiri, ketiga anak muda itu saling mendukung kekuatan satu dengan yang lain.


Angin besar terasa menderu di sekitar lokasi pertarungan, bahkan barang-barang yang ada di pendhopo ikut beterbangan. Namun.. hanya tempat dimana ke tujuh orang itu berada dan sedang beradu kekuatan, sedangkan di sekitar tempat mereka bertarung tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Tatapan ke empat pamong desa memindai tajam ke arah lawan, namun mereka sedikitpun tidak bisa melihat dengan jelas wajah ketiga anak muda itu. Kekuatan pusaran mata pisau yang berputar-putar cepat terus merangsek ke arah mereka, dan semakin lama semakin cepat. Mereka sedikitpun tidak bisa menembus ke dalam...


"Siuuww... siuwww.. tap.. tap.." suara desingan mata pisau menimbulkan gesekan-gesekan suara yang menyayat di hati.


"Aaakh.. aawww... kurang ajar...'' tiba-tiba terdengar teriak kesakitan dari dua orang punggawa desa. Darah segar mengalir, dan seketika tempat itu menjadi bau amis yang menyengat.


"Bumi berguncang... datanglah... jueglarrr..." tanpa diduga, begitu teriakan kepala desa terdengar, bumi tempat mereka berpijak menjadi berguncang hebat. Ketiga anak muda itu menjadi kehilangan keseimbangan, namun Chakra Ashanka kemudian melompat mundur ke belakang. Dengan senyuman terkulum, anak muda itu mengangkat tangannya ke atas, kemudian dengan gerakan seperti membanting sesuatu ke atas tanah.


"Kurang ajar kamu anak muda... berani sekali kamu mengajakku untuk bermain-main." kepala desa melompat ke arah Chakra Ashanka.


"Swuitt... crash..." sebuah pedang panjang tiba-tiba sudah berada di tangan laki-laki itu. Dengan cepat kepala desa mengayunkan pedang, dan..


"Krekk..." Chakra Ashanka menggeser tubuhnya ke samping. Namun naas... baju di sebelah pinggang kiri anak muda itu robek tersangkut pada pedang di tangan kepala desa. Untungnya daging pinggang kirinya tetap utuh, tidak tergores oleh mata pedang itu,.


Melihat laki-laki di depannya sudah tidak bisa untuk diajak bicara baik-baik.. Chakra Ashanka mulai menyipitkan matanya. Satu tangan anak muda itu diangkat ke atas, kemudian sebuah selendang milik Rengganis yang masih ada di tangannya, diayunkan ke arah laki-laki itu...

__ADS_1


Kepala desa kaget, selendang lembut yang diayunkan kepadanya, saat ini berubah menjadi sebuah pedang besar yang sedang mencari mangsa. Laki-laki itu menggunakan pedangnya untuk menghadang serangan dari selendang di tangan Chakra Ashanka.. namun tidak diduga..


"Klang... klek..." kepala desa kaget, dan langsung memundurkan langkah kakinya ke belakang. Pedang yang sejak tadi ada di tangannya, saat ini sudah patah dan terjatuh ke atas tanah. Masih terpukau dengan kejadian yang ada di depannya, tiba-tiba..


"Huk... hoek..." sebuah pukulan dengan tenaga dalam mendarat di tengkuk kepala desa. Cairan darah segar terburai keluar, dan dimuntahkan oleh kepala desa. Sambil mengangkat jari telunjuk, dan menunjuk ke arah Chakra Ashanka, kepala desa itu terjatuh ke depan, dan tidak lama jatuh pingsan. Melihat kepala desa mereka terjatuh di tangan anak muda itu, ketiga laki-laki yang sedang menghadapi Sekar Ratih dan Ayodya Putri kehilangan fokus dan konsentrasi.


"Bukk... clap.. aaaww..." pisau kecil di tangan Sekar ratih terlontar ke depan, dan menancap di perut salah satu dari tiga orang tersebut.


Kedua laki-laki lainnya terdiam, mereka kemudian mengangkat kedua tangan mereka di depan dadanya. Mereka memutuskan untuk menyerah, tetapi tatapan Ayodya Putri terus menghunus ke arah laki-laki itu. Chakra Ashanka berjalan pelan dan berdiri di belakang para gadis itu. Tangan kanan anak muda itu menepuk pelan pundak Ayodya Putri dan Sekar Ratih.


"Hentikan serangan kalian, ke empat orang itu sudah tidak berdaya. Kita akan melihat dan mengajak mereka untuk berbicara." dengan suara pelan, Chakra Ashanka menenangkan kedua gadis yang bersamanya itu. Ayodya Putri dan Sekar Ratih akhirnya menahan serangan mereka, dan dengan cepat Sekar Ratih menarik pisau kecil kemudian menyimpannya kembali di dalam kepis.


"Kang Ashan ingin mengampuni mereka, orang-orang jahat itu?" dengan nada tinggi, Ayodya Putri bertanya pada anak muda itu. Chakra Ashanka tersenyum, dan menatap mata gadis itu.


"Tahanlah emosimu Nimas.., tidak selamanya kekerasan akan menyelesaikan setiap masalah. Bagaimanapun desa ini masih menjadi tlatah dari kerajaan Laksa, tempat paman Abhiseka menyelenggarakan pemerintahannya. Untuk itu, aku akan mengajak mereka untuk berbicara dan merubah sikap serta perilaku mereka. Jika memang mereka sudah tidak mampu lagi untuk merubahnya, maka satu-satunya jalan adalah dengan menghilangkan nyawa mereka dari dunia ini." dengan nada tegas, sekaligus untuk memberi peringatan pada ke empat laki-laki itu, Chakra Ashanka memberi tanggapan atas ketidak senangan kedua gadis itu.

__ADS_1


**********


__ADS_2